Good Bye My Honey

Good Bye My Honey
16. Penjelasan


__ADS_3

Setelah puas berlarian kesana kemari, anak anjing berbulu putih bersih itu lompat ke pangkuan Fandi. Ia pun merasakan beberapa lukanya kembali mengeluarkan darah di balik hoodie hijau gelap yang dia kenakan. Fandi meringis kesakitan akibat lukanya semakin banyak mengeluarkan darah.


"Ish sial ... Kenapa ini luka kebuka lagi sih ?"


Gerutunya sambil memraba-raba hoodienya yang tampak basah di beberapa bagian.


"Kau terlalu memaksa."


Sahut seseorang dengan jubah hitam panjang dengan tiba-tiba muncul entah dari mana di belakang Fandi.


Sontak Fandi langsung berbalik dan terjengkang dari posisinya yang semula jongkok.


"S... si... siapa kamu?"


Fandi terbata-bata setelah melihat sosok itu mengeluarkan aura hitam pekat yang melambai-lambai bagaikan api hitam di sekujur tubuhnya.


Seketika aura itu meledak tanpa suara dan menyebar kemana-mana. Sontak Fandi loncat dari tempatnya berpijak dan melayang di udara dalam beberapa saat. Sosok itu menghilang bersamaan dengan hilangnya aura hitam itu.


"Cih mau lo apa sih datang dan pergi sesuka hati ?"


Gerutunya sembari meletakkan anak anjing yang ketakutan dari balik saku hoodienya.


"Tenang sobat kecil, kau aman bersamaku."


○○○○○○○


Bunyi alarm di meja samping tempat tidur Fandi tidak pernah berhasil membangunkannya yang masih berkelana di alam mimpi.


Jam alarm itu berbunyi lagi yang ke sekian kalinya seakan telah menyerah untuk berusaha membangunkan majikannya yang masih terlelap dalam tidurnya.


Tak lama seseorang wanita paruh baya membuka pintu kamar Fandi dengan membawa sebuah baskom yang penuh berisi air dingin.


"Heii ayo bangun tuan tukang mimpi, ini sudah jam tujuh."


Tante Mei segera masuk ke dalam kamar setelah melihat bahwa Fandi tidak bereaksi.


Segera saja isi baskom itu di tumpahkan ke muka Fandi dengan posisi mulutnya yang sedang menganga lebar.


"WAAAA BANJIR .... !!"


"BANJIR BANJIR ... UDAH SIANG NOH MAU BERANGKAT SEKOLAH JAM BERAPA ?!"

__ADS_1


"Aduh mamih ... lima menit lagi,"


Keluh Fandi sembari berusaha merebahkan badannya kembali ke atas kasur yang basah.


"Gaada gaada gaada ... tuh liat jam tujuh kurang lima belas menit!"


Tante Mei segera menarik Fandi yang hanya memakai celana kolor berwarna jingga sehingga nampaklah beberapa lukanya sudah mengering.


" Sekalian bersihin kasur kamu !"


Fandi dengan malas segera masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan memakai seragam sekolahnya, Fandi segera mengambil gel rambut dan segera menuju ke depan kaca besar di pintu lemarinya.


Betapa terkejutnya dia melihat beberapa titik di rambutnya berubah warna menjadi abu-abu. Dengan segera dia menutupnya dengan rambut yang berwarna hitam. Seperti yang kalian ketahui pasti gaya rambut Fandi berubah setelah dia berhasil menutupi rambut yang berubah warna itu. Rambutnuya di buat kearah kiri dengan di buat sedikit berantakan demi menutupi bagian rambut yang berubah warna itu.


Setelah mencuci tangannya, Fandi pun keluar menuju dapur untuk sarapan sebuah roti lapis dan segelas susu hangat yang terhidang di meja makan. Roti lapis itu pun habis di lahap Fandi dalam waktu sekejap dan hanya menyisakan remahan kecil di piringnya.


Setelah selesai sarapan, Fandi pun pamit ubtuk berangkat ke sekolah dengan mengendarai motor kesayangannya.


'Haaiisshhh ... udara pagi seger juga ya


ternyata. Lama juga uy gue kaga kek gini'


Batin Fandi yang memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Setibanya di persimpangan jalan, Fandi menyulut sebatang tembakau dan menikmatinya sepanjang perjalanan menuju sekolah rencananya.


"Hai bro ... Apa kabar ?"


Sapa Rahmat sembari terus melaju.


"Oh jadi ternyata eluh yang ngikutin gue ?!"


Celetuk Fandi dengan wajah datar.


"Kagak lah ngapain juga ngikutin eluh. Ehh sejak kapan eluh ngerokok ?"


Tanya Rahmat heran karena semenjak mereka bertemu tak sekali pun melihat Fandi merokok.


"Udah lama lah, kenapa emang ?"


"Kaget aja gue kan ga pernah liat."


"Udah lah ayo udah mau telat nih kita."

__ADS_1


Fandi pun memacu motornya lebih cepat dari yang tadi supaya tidak terlambat dan seperti yang di duga, pasti pintu pagar tertutup.


Pelajaran jam pertama hari ini adalah mata pelajaran produktif yaitu kelas Desain Grafis. Semua berjalan lancar dan mengenangkan karena guru mapel ini terkenal cukup humoris sehingga membuat seluruh siswanya tidak bosan. Pelajaran berakhir dengan selesainya sebuah tugas ringan hanya untuk mengisi daftar nilai yang kosong. Setelah selesai, seluruh siswa di persilahkan kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran berikutnya.


Dalam perjalanan menuju kelas, tiba-tiba Rahmat bertanya kepada Fandi kenapa dia tidak trauma terhadap peristiwa pembullyan benerapa waktu lalu.


"Harusnya kan eluh trauma kek atau apa kek. Nah ini malah tampak santai banget kayak ngga pernah terjadi apa-apa."


"Hihi eluh pingin tau banget apa pingin tau aja ?"


Celetuk Fandi setelah mendengar konser solo dua oktaf Rahmat.


"Pingin tau banget lah kenapa bisa gitu. Kejadian itu aja bikin gue trauma meskipun gue ga di siksa sama para siluman itu nah gimana jadinya eluh yang di kroyok sampe ada luka ...."


"Stop stop oke stop ... Gue ceritain dari awal."


Fandi mulai menceritakan ada kejadian apa saja selama dia tidak sadarkan diri. Sebenarnya Fandi sudah sadar sebelum di bawa ke RSUD, tetapi belum sempat membuka mata, dia merasakan ada sensasi yang menarik kesadarannya kebelakang. Alhasil Fandi kembali pingsan.


Fandi kembali ke sebuah tempat yang gelap, sunyi dan tenang. Tiba-tiba sesosok pria bertubuh tinggi besar dan mengenakan pakaian seperti ninja assasin di daerah timur tengah muncul di hadapan Fandi. Dia menjelaskan di sini adalah tempat yang biasanya di gunakan para penjaga atau bisa juga di sebut the guardians untuk berlatih. Sang penjaga berlatih secara diam-diam dengan memasuki ruang ini dalam diri mereka masing-masing untuk berlatih dengan pikiran mereka sendiri.


"Nah di ruang itu gue di ajarin banyak hal. Mulai dari gimana nyembuhin rasa trauma gue dan cara mengatur Khi dalam tubuh dan mengekuarkannya menjadi bentuk lain. Misalnya Khi yang di gunakan untuk menyembuhkan seseorang biasannya berwarna hijau, dan untuk para guardian warna Khi nya sesuai dengan elemen mereka masing-masing


Terus ada juga Khi yang bisa mengendalikan elemen alam seperti yang udah gue singgung tadi. Eluh pernah liat Film Animasi pengendali elemen kan ? Nah itu ternyata bisa di pelajari. Tapi nggak semua orang bisa, dengan kata lain hanya orang terpilih atau keturunan langsung dari guardian lah yang bisa menguasai elemen alam itu dan ternyata hanya ada empat orang yang di ketahui dunia. Dari info yang gue terima, ternyata generasi terakhir itu tepat di atas kita atau bisa juga di katakan pada generasi ayah dan ibu kita. Paham ga ?"


Rahmat hanya diam memperhatikan setiap kata yang terucap dengan seksama dan beberapa kali terkejut atas penjelasan Fandi.


"Ehh tungu bentar, eluh kan cuma pingsan cuma beberapa jam doang terus giamana ceritanya ?"


Rahmat kembali bertanya. Tak terasa keduanya telah duduk di kursi kelas mereka.


"Sambung nanti yak udah masuk noh Bu Fitri."


Sahut Fandi sembari menunjuk arah pintu keluar dengan memasang ekspresi muka jahil.


"Mana ? belom dateng tuh ... buruan cerita."


Rahmat pun memaksa Fandi untuk bercerita karena dia penasaran bagaimana hal itu bisa terjadi.


"Satu ... Dua ...."


"Ngapain ngitung segala ? Ngitung apaan sih luh ? nyamuk ?"

__ADS_1


"Tiga ...."


Seketika Bu Fitri pun masuk ke ruang kelas dengan seragam khas berwarna merah-orange.


__ADS_2