Good Bye My Honey

Good Bye My Honey
18. Bunga Asmara


__ADS_3

Ketika Rahmat hendak memanggil Dinda, segera saja Dinda menaruh jari telunjuknya di depan bibir sebagai isyarat supaya diam. Rahmat pun mengangguk pelan dan berusaha mengalihkan perhatian Fandi yang mulai curiga.


"Lagu lawas yang terlalu melodis buat anak seumuran kita. Tapi ternyata bagus juga kalo eluh yang nyanyi." Rahmat berkomentar sembari meatap serius kearah Fandi.


"Itu lagu kenangan gue sewaktu merantau. Dulu ayah gue sering banget puter lagu malaysia era 90-an jadi ya sedikit banyak gue tau."


"Ehm Fan eluh sadar ga kalo ada yang menkmati lagu eluh selain gue ?" tanya Rahmat tiba-tiba.


"Ehh? emangnya siapa?"


Dinda yang berdiri mematung di belakang Fandi segera menepuk pundaknya dengan lembut. Sontak Fandi terkejut atas kedatangan tamu tiba-tiba itu.


"Dinda?! ngapain lo kesini?!" Fandi yang terkejut tak dapat lagi menahan emosinya yang meluap akibat melihat Dinda yang berjalan dengan lelaki lain tadi siang. " Mana pacar lo itu?!"


"Ehh jangan salah paham dulu ... gue bisa jelasin kok," kata Dinda yang dengan segera menggapai tangan Fandi.


"Jelaskan sekarang!".


"A ... aku tadi cuma ...."


"Cuma apa? bergandengan tangan - eh bukan merangkul dengan mesra lengan cowok kamu kan?" potong Fandi sebelum Dinda menyelesaikan kalimatnya.


"B ... bukan aku tadi cuma mau cari hadiah buat ...."


"Buat pacar kamu kan? udah lah jangan bohong sama gue. Gue tau kok eluh cuma mempermainkan perasaan setiap cowok yang berhasil deket sama eluh," kata Fandi cepat sembari berusaha menahan gejolak amarah didadanya.


"Aku mau cari hadiah buat kamu!" kata Dinda dengan air mata yang perlahan mengalir deras di pipinya. Tak kuasa menahan emosinya, Dinda pun jatuh berlutut di hadapan Fandi.


"Terus itu cowok siapa? gue tau gue bukan siapa-siapa, tapi tolong jangan bikin gue bimbang. Di banding cowok eluh itu gue bukan apa-apa, gue cuma anak cupu yang beruntung bisa kenal deket sama eluh. Gue rasa emang gue yang terlalu berharap bisa di terima sama ratu." Ketika Fandi hendak beranjak dari tempatnya, Dinda segera mendekap kakinya.


"Tolong dengerin penjelasan gue dulu Fan," kata Dinda dengan bersimpuh dan air mata yang kian deras mengalir akibat perkataan Fandi.


Fandi pun hanya diam sembari menahan sesak di dadanya. Tak terasa air mata jatuh di pipinya. Membayangkan kejadian tadi siang membuat hatinya seakan terkoyak.


"Cowok tadi itu adek aku ... aku sengaja ajak dia buat jalan-jalan karena besok pagi sekali dia pergi ke jerman untuk sekolah. Aku cuma berusaha membuat kesan terbaik buat dia."


"Terus?" kata Fandi dingin.


"Karena hari ultah kamu juga udah deket makanya aku sekalian mau cari hadiah buat kamu. Tolong mengerti perasaan aku. Aku cinta sama kamu meskipun kita baru aja ketemu." Dinda mengusap air mata dan berusaha berdiri. Tanpa aba-aba Dinda memeluk Fandi dari belakang dengan sangat erat.


Fandi yang terkejut hanya bisa diam seribu bahasa, Air matanya semakin deras mengalir hingga jatuh ke tanah. Entah kenapa dia merasa begitu bersalah atas perkataannya tadi.

__ADS_1


Setiap kata yang keluar dari mulut Dinda terasa sangat tulus dan menyayat hati. Rahmat yang dari tadi hanya menyimak kejadian ikut menangis di pojok bawah pohon besar itu.


Mentari senja menebarkan cahaya jingga kemerahan. Angin sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan kering di sekitar mereka yang membuat suasana menjadi hening.


Fandi pun berbalik dan balas memeluk Dinda dengan erat, sangat erat seolah-olah ini adalah pertemuan terakhir mereka. Dalam pelukan itu mereka berdua menangis meluapkan emosinya.


Ketika suaaan sudah mulai tenang, Fandi melepaskan pelukannya dan menatap tajam mata Dinda yang merah san sembab.


"Kamu nggak bohong kan? kamu serius kan?"


"Aku serius. Aku cinta sama kamu, aku ga mau kehilangan kamu lagi. Sudah cukup satu bulan hidup tanpa kamu."


"Makasih Dinda, aku percaya sama kamu. Love you to," bisik Fandi yang mulai mendekat.


"Eitss jangan dulu. Kalian belum sah oke?"


Rahmat tiba-tiba menutup mulut Fandi dan Dinda dari sisi kanan.


**


' *WOOIII MERUSAK SUASANA AJE LUH ...'


'Iye juga sih ... tapi eluh merusak suasana. tunggu yee gue hukum luh abis ini.


' hmmm punya author di bilangin baek malah di hukum'


'eluh ngomong apa barusan ? agak kenceng kalo ngomong!'


'kagak kagak ... balik ke cerita'


*kembali ke cerita**


Malam tiba dengan sangat cepat. Tak terasa sudah pukul delapan malam dan mereka masih di bukit mini itu menikmati hembusan angin malam yang sejuk tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.


Tak lama Fandi berdiri dari tempat duduknya dan disusul oleh Dinda.


"Kenapa Fan?" tanya Dinda.


"Udah malem. Aku antar pulang ya, takut Tante kamu khawatir."


"Boleh. Tapi Rahmat gimana?"

__ADS_1


"Kita bawa motor sendiri. Ayuk ah keburu malam." Fandi segera menarik tangan Dinda dan berlari kecil menuruni bukit.


"Wooii! Bisa-bisanya gue ditinggal sendirian. Gue kan takut ...WOOIII TUNGGUIN!" teriak Rahmat.


"Hahaha buruan ... ehh awas ada pocong di belakang eluh!" Teriak Fandi masih berlari.


"WAAAAAAAAAA POCONG!!! TUNGGUIN GUE KUNYUK ...."


Fandi dan Dinda tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Rahmat yang berlari sambil teriak tidak jelas.


Akhirnya setelah perjuangan panjang, mereka pun sampai di bawah bukit dan menyalakan motor masing-masing. Terlihat nafas Rahmat masih ngos-ngiosan akibat berlari dari atas sampai kebawah dengan sangat cepat. Segera mereka melaju pelan meninggalkan bukit itu untuk pulang.


Perjalanan dari bukit ke kota mereka membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit dengan kecepatan sedang. Karena jalan tidak terlalu ramai, jadi mereka bisa mamacu kendaraannya sedikit lwbih cepat tanpa hambatan.


○○○○○○


Pagi ini Fandi datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Dia segera memarkirkan motornya di parkiran khusus siswa sebelah pojok kiri tepat di bawah pohon besar.


"Tumben udah dateng." Tiba-tiba Rahmat sudah berdiri di belakang Fandi.


"OOPOROCOPOT ...." Fandi yang terkejut langsung neloleh kebelakang hingga hampir saja motornya jatuh.


"Biasa aje dong, eluh kira gue setan?!"


"Emang eluh setan," kata Fandi dingin. Dia segera membetulkan posisi motornya yang hampir jatuh dengan susah payah. "Bukannya bantuin malah diem aje luh!"


"Yee siapa suruh kaget," Balas Rahmat santai.


Setelah memarkirkan motornya dengan benar dan meletakkan helmnya dikaca spion, Fandi langsung pergi tanpa sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya.


AUTHOR NOTE :


Bagi temen-temen yang mau bantu author menentukan jalan cerita buat kedepannya kalian bisa tulis di kolom komentar ya.


jangan lupa buat like, komen, vote, dan jadikan novel ini sebagai favorit ya.


okelah sekian dulu novel dan author note kali ini see you guys again in my next episode....


IG: ADHEK K_CHIL


FB: Sam Fandi

__ADS_1


__ADS_2