
Suasana duka masih menyelimuti kediaman Dinda. Tampak beberapa orang tengah sibuk memnindahkan barang ke area belakang rumah untuk kegiatan kirim doa nanti malam.
Rumah Dinda kini di penuhi oleh saudara dan kerabat dekat yang datang untuk membantu menyiapkan segalanya termasuk urusan konsumsi untuk para tamu dan anggota keluarga yang lain.
Teras belakang rumah memang sengaja di buat untuk dapur sementara karena tempatnya lebih luas dari dapur di dalam rumah.
Tampak Dinda dan Tante Rini sedang mengupas bawang di teras belakang. Tante Rini sengaja membiarkan Dinda melakukan sesuatu supaya bisa sejenak melupakan kesedihannya.
"Neng ini taroh di mana ??? "
Kata seorang tetangga yang sedang membantu memindahkan sesuatu.
"Taroh di sana aja bang biar lebih rapi"
Jawab Dinda sembari mengupas bawang.
Entahlah dari mana Dinda bisa belajar mengupas bawang tanpa melihat ke bawangnya.
"Dinda, teman-teman mu sudah kamu kasih tau ??"
Tanya Tante Rini yang duduk di sebelah Dinda.
"Sudah Tante palingan bentar lagi juga dateng. Makasih ya Tante udah mau bantu Dinda sampe kaya gini. Sampe mau tinggal di sini lagi. Makasih ya Tante.."
"Itu kan udah tugas Tante sebagai adik dari Mamah kamu. Ngga mungkin kan Tante biarkan kamu ngurus ini semua sendiri ?? dan Tante juga ngga mungkin biarin kamu tinggal sendirian di sini."
Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak dari luar pagar depan rumah Dinda.
"SAMLEKOMM.....DINDA GUE DATENG..."
Rahmat bersama Rayhan dan Fandi sudah berada di depan rumah Dinda. Tanpa menunggu lama, Rahmat berteriak sekeras-kerasnya hingga orang di sekeliling menatap Rahmat denga tatapan aneh.
"EHH Upil onta jigong lo muncrat ke muka gue!!!"
Rayhan kesal karena beberapa kali dia terkena tetesan air surga dari mulut Rahmat.
"Sembarangan aje lu... Jigong gue udah gue apgret jadi aer surga...."
Sahut Rahmat yang tidak terima akan ejekan Rayhan.
"Lu berdua bisa diem kagak !!!!"
Fandi yang diam saja kini mulai angkat bicara karena kesal.
“Diem lu upil koala”
Serempak Rahmat dan Rayhan berteriak ke arah Fandi.
Setelah mendengar perkataan Rahmat dan Rayhan, Fandi menjadi naik pitam dan langsung menghajar kedua temannya itu.
__ADS_1
Bruuakk .... daakkhhqqkkll.... tuuaangg....bsssssshhhhhhbb.
ceritanya mereka di hajar sama Fandi.
“Mau lagi ???”
Kata Fandi dengan santainya.
"Ampun bang..."
Kata Rahmat Dan Rayhan bersamaan sembark mengelus bagian kepalanya yang benjol.
"Permisi... Dinda..... "
Panggil Fandi di depan rumah Dinda.
Tak lama, Tante Rini pun keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Eh kalian... Mari masuk Dinda ada di belakang".
Tante Rini mempersilahkan Fandi, Rahmat, dan Rahyan masuk ke dalam rumah.
Fandi dan kawan-kawan duduk di sorfa ruang tamu sambil menunggu Dinda datang.
"Buset dah..... Ni rumah besar amat yaakk..."
Kata Rahmat sembari memperhatikan seluruh penjuru rumah dengan kagum.
Rayhan yang tidak kalah kagum dengan rumah Dinda juga mulai berbicara.
"Ehh curud lo kenapa sih ??? Kaya kaga pernah liat rumah."
Kata Fandi dengan keheranan.
"Hai kalian"
Dinda muncul di hadapan mereka bertiga dengan membawa beberapa cangkir minuman dan sebuah teko besar berisi air lemon dingin.
"Hai Dinda"
Tanpa aba-aba mereka bertiga menjawab Dinda serempak.
Dinda meletakkan nampan itu di meja dan duduk di samping Fandi.
"Makasih ya kalian udah dateng. Kalian pasti laper."
Dinda menebak karena mereka bertiga masih mengenalan seragam lengkap yang artinya mereka masih belum pulang ke rumah masing-masing.
"Gausah repot-repot. Gimana keadaan mu ??"
__ADS_1
Tanya Fandi yang tidak sabar akan kondisi Dinda.
"Seperti yang kalian lihat. Gue baik aja kok, gaada yang di khawatirkan."
"Syukur deh kalo gitu. Terus Lo tinggal di rumah ini sendirian ???"
"Kalo gitu sama gue aja ya..."
Tiba-tiba Rahmat memotong pembicaraan.
"Elo nylonong aje lo kek metro mini."
Ketus Fandi.
"Engga kok, Gue sekarang di sini ama Tante Rini"
Setelah berbincang cukup lama dan menghabiskan sepiring nasi soto bikinan Dinda, mereka pamit untuk pulang karena hari sudah mulai petang.
ººººººººººººº
Setibanya Fandi di rumah, ia pun memarkirkan motornya di garasi rumah dan segera masuk ke kamarnya.
Suasana di rumah Fandi memang sering sekali sepi karena Papa dan Mama Fandi sangat sibuk di kantor mereka masing-masing.
Setelah mandi, Fandi mendapati adanya peasan pribadi dari X KING. Pesan itu berisi permintaan anggota geng untuk berkumpul untuk membicarakan sesuatu.
Tanpa menunggu lama lagi, Fandi segera mamakai kaos dan celana Jeans dengan jaket Hoodie berwarna hijau gelap dan segera turun ke garasi untuk mengambil motor kesayangannya.
X KING merupakan sekelompok berandal kota yang terkenal akan ke ganasannya.
Geng ini memang terkenal ganas tetapi hanya sedikit catatan kejahatan termasuk pembunuhan di kantor polisi.
Perwakilan X KING tersebar rata di seluruh kota besar termasuk Fandi yang merupakan satu-satunya perwakilan di kota ini. Tidak biasanya ketua X KING memberi pesan pribadi ke Fandi seperti ini. Biasanya, ketua X KING mengirim pesan ke Fandi hanya dalam keadaan yang benar-benar darurat.
Fandi dengan cepat melesat ke kota sebelumnya yang ia tinggali. Di kota yang sekarang masih belum ada anggota X KING yang lain, jadi Fandi harus ke kota itu untuk menghadiri pertemuan.
******Author Note
Makasih buat temen-temen yang udah nyimak dan like novel ku sampai di sini.
Mungkin untuk ke depannya akan di usahakan setiap hari up nya supaya lebih enak bacanya
Jangan lupa like dan jadikan Favorit ya supaya ngga ketinggalan wpisode ku yang terbaru.
Ekkhhmm... jangan lupa vote ya ..
kalo kalian mau :-D
Fb : Sam Fandi
__ADS_1
Ig : AdhekK_chil***
***.