Good Bye My Honey

Good Bye My Honey
15. Fandi Siuman


__ADS_3

Setelah mendapatkan penanganan darurat, Fandi pun di pindahkan untuk mendapatkan perawatan biasa di ruangan pasien sembari menunggu keadaannya membaik.


Om Faisal, Tante Mei dan Dinda dengan sabar menunggu Fandi siuman di salah satu ruangan Paviliun rumah sakit umum kota ini. Mereka selalu berdoa yang terbaik untuk Fandi yang masih belum sadarkan diri.


tuk tuk tuk ....


" Permisi bu mau membersihkan ruangan."


Petugas kebersihan tiba-tiba masuk untuk membersihkan ruangan dan kamar mandi.


" Oh silahkan mbak. Mbak nya sudah lama kerja di sini ?"


Tanya Tante Mei sekedar untuk mengusir rasa khawatirnya.


" Saya masih baru bu bekerja di sini."


"Baru lulus ya mbak ?"


"Iya bu saya baru lulus tahun ini."


Jawab petugas itu dengan tetap membersihkan ruangan.


Tak lama, Petugas pria datang dengan membawa pel.


"Permisi ya bu."


"Iya mas silahkan."


"Maaf bu apa pasien bernama Fandi ?"


Tanya petugaa itu tiba-tiba.


"Lhoh mas nya kok tau ? teman Fandi ya ?"


"Hehe iya bu saya teman tongkrongan Fandi."


"Ohh jadi enak ya mas kalo saya butuh bantuan tinggal panggil mas nya. namanya siapa mas ?"


"Saya Ridwan bu. Kalo boleh tau Fandi kenapa ya bu? kok bisa sampai seperti ini ?"


Ridwan masih tetap berfokus untuk meng-ngepel ruangan ini yang terbilang cukup luas.


"Biasa mas anak muda ya seperti ini."


Jawab Om Faisal dengan senyuman ramah.


"Sudah selesai pembersihan ruangannya. Saya permisi dulu, mari."


Ridwan pun keluar dan menutup pintu ruangan dengan hati-hati.


Hari sudah malam tapi masih belum ada tanda-tanda dari Fandi. Dinda yang semula duduk di sofa berdiri dan menuju ke bed sebelah kiri Fandi dan di sisi sebelah kanan ada tante Mei yang mengusap lembut kepala Fandi. Tampak luka memar di pelipis sebelah kiri dan pipinya. Fandi mendapat dua luka jahitan di kepala bagian belakang atas dan beberapa luka lecet di siku dan lututnya serta kehilangan satu gigi geraham belakangnya.

__ADS_1


Tak lama, Dinda melihat mata Fandi berkedut. Seakan tak percaya Dinda mencoba melihat lebih serius.


"Tante tadi Dinda lihat mata Fandi berkedut."


"Eh iya. Fan ... Fandi bangun nak, ini emak."


Tante Mei yang sekilas nampak jari-jari Fandi bergerak mulai berusaha membangunkan Fandi.


Perlahan Fandi membuka matanya. Buram. Silau. Putih. 'oh jadi ini yang namanya surga ?' Batin Fandi yang kemudian mencium bau khas obat-obatan Rumah sakit.


Dalam pandangan buramnya, Dia tampak seseorang mengarahkan senter kecil yang menyala ke arah matanya. 'Heii itu silau ... uhh pusing juga nih kepala.'


Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter itu menerangkan bahwa Fandi sudah siuman tetapi masih belum bisa sadar sepenuhnya.


Heii heii ... kenapa aku tidak bisa bergerak ? mamah .... mah, kenapa aku ga bisa bergerak ?


Batin Fandi yang hanya bisa melihat dalam pandangan yang buram. Suara terdengar di telinga Fandi hanya seperti gumam tak jelas.


"Fandi ... Kamu sudah sadar nak ?"


Panggil Tante Mei yang melihat Fandi akhirnya membuka seluruh Matanya.


"uhm ... aduhh ...."


"Kamu berbaring aja nak. Gausah si paksa duduk."


Dinda yang saking senangnya meremas tangan kiri Fandi yang masih menancap selang infuse.


"Aw aw ... sakit ...."


Celetuk Dinda.


"Diinda ... SIUMAN ... SI.UM.AAAN. SIUMAN"


Celetuk om Faisal dan tante Mei bersama-sama.


"Hai Dinda. Kamu nungguin aku ya ?"


Tanya Fandi dengan nada menggoda dan senyuman khasnya yang membuat semua orang meleleh. Senyumannya itu lho manis banget.


"Ih apaan sih."


Sahut Dinda sinis dan segera membuang tangan Fandi yang sedari tadi di genggam. Tampak muka merah padam Dinda karena malu. ohh kenapa sih senyuman mu manis banget ?. Batin Dinda.


"Mak kira-kira aku kapan pulang ?"


"Kata dokter sih kamu harus nunggu sampe luka jahitan kamu bener-bener sembuh."


"Hah ? aku punya luka jahit ?"


Tanya Fandi tak percaya.

__ADS_1


"Iya. Sudah gausah di pikir lagi, mama akan usaha buat kamu cepet pulang."


Hari berganti hari, minggu berganti minggu hingga akhirnya Fandi pulang dari rumah sakit itu. Kondisinya sudah sangat baik meskipun belum semua lukanya sembuh. Ya kalik nunggu kering semua ... kuat berapa duit luh ?.


Dalam insiden itu Fandi kehilangan kaca matanya sehingga membuat om dan tante harus membelikan yang baru sebagai gantinya dengan di tambah uang ganti rugi dari pihak sekolah.


Sebenarnya Fandi punya kontak lensa di kamarnya. Karena dia tidak tahu cara memakainya, jadi ya tidak pernah di pakai dan masih dalam keadaan di segel seperti baru meskipun sudah sekitar satu bulan dia membeli kontak lensa itu.


Sesampainya di rumah, Fandi segera masuk ke dalam kamarnya untuk mandi. Sebenarnya dia masih belum boleh mandi karena lukanya masih belum kering sempurna. Tapi karena selama dia di rawat di rumah sakit, dia tidak sama sekali tidak mandi. Ya pasti menjijikan, tapi tenang pemirsa Fandi memakai baju dari rumah sakit itu dan di ganti setiap harinya.


Segar terasa tatkala air mengalir di sekujur tubuh Fandi. Sesekali dia memincing karena lukanya kemasukkan cairan sabun mandi. Setelah selesai, dia pun segera mengeringkan badannya dengan sangat hati-hati karena takut lukanya terbuka kembali.


Setelah berganti pakaian, Fandi mengoleskan salep dari dokter supaya lukanya segera kering dan sembuh. Sembari tidurab di kasurnya, Fandi membuka Wastapp di ponselnya. haaiisshh berapa lama nih kaga pegang hape ?.


Setelah mengakrifkan sambungan datanya, semua chat pribadi atau pun grup masuk ke ponselnya. Setelah sekian lama menunggu, akirnya berhenti juga. Fandi terkejut karena jumlah chat masuk sekitar 1000 chat lebih.


"Aiishh kurang banyak !! ini lagi ... apaan coba iklan pembesar alat vital masuk ?"


Gumamnya kesal karena melihat jumlah chat sekian banyak yang masuk ke ponselnya.


○○○○○○○


Tengah malam di perbatasan kota. Tampak seseorang dengan jaket hoodie melangkah santai dengan earphone di telinganya. Wajahnya tertutup tudung hoodie hijau gelap. Langkahnya terhenti karena mendapati seekor anak anjing terluka.


Nafasnya tersengal-sengal menahan sakit di kakinya yang patah berdarah-darah.


Anak anjing itu hanya pasrah menanti datangnya maut. Namun takdir berkata lain. Sosok itu menghampiri ana anjing yang terkulai tak berdaya itu. Mengarahkan tangannya ke arah kaki yang patah itu. Seketika keluarlah cahaya hijau terang. Hangat dan nyaman di rasakan anak anjing itu. Seketika kakinya pulih sehingga anak anjing itu bisa bangkit dan berlarian mengitari sosok itu.


Sebenarnya siapakah sosok itu ?


A. Fandi


B. Rahmat


C. Rizal


D. Tokoh baru


***AUTHOR NOTE


Hai gaes balik lagi nih di novel ini. kali ini author memberikan sesuatu yang berbeda.


yapp ... bener kali ini author kasih pertanyaan nih ....


Bagi temen-temen yang merasa tau ato mau coba jawab silahkan tulis di kolom komentar yak..


bagi kalian yang mau bantu author menentukan jalan cerita buat kedepannya kalian bisa tulis di kolom komentar.


jangan lupa buat like, komen, vote, dan jadikan novel ini sebagai favorit ya.


okelah sekian dulu novel dan author note kali ini see you guys again in my next episode....

__ADS_1


FB : Adhek k_chil


IG : Sam Fandi***


__ADS_2