
Bell masuk telah berbunyi.
Kami segera berlari menuju kelas masing-masing karena takut akan surat cinta atau lebih tepatnya surat peringatan dari guru BP yang teramat sangat killer yaitu Pak Ferdi.
Tak sengaja aku berpapasan dengan seorang gadis yang cantik.
Rambutnya panjang dan lebat kulitnya kuning langsat khas orang jawa.
Tak sengaja tampak dirinya tersenyum ke arahku. Meski hanya sepintas, senyuman cantiknya tersirat memesona dalam pandangan. Walaupun dalam kondisi terburu-buru tetapi kejadian itu cukup membekas dalam memori ini.
Senyumannya begitu sempurna dibingkai wajah cantik memesonanya menenangkan hati siapapun yang melihatnya. Sepasang matanya yang hitam dan besar terlihat sangat memikat.
"Lo liatin siapa?" kata Rahmat memecah lamunanku.
"Ehh ... itu siapa sih?" kata ku sembari menunjuk ke arah cewek itu.
"Ohh Dinda maksud lo?" celetuk Rahmat.
"Cantik juga ya ternyata."
"Ya iya lahh ... Kalo dia jelek nggak mungkin kan jadi primadona di sekolah ini ?"
●●●●●●●●
Waktu pulang yang kami tunggu akhirnya tiba.
Rahmat mengajak ku untuk mampir sebentar ke warung depan sekolah hanya untuk sekedar nongkrong santai.
"Ehh Mat, ternyata Dinda cantik juga ya,"
kata ku membuka pembicaraan.
"Yaa begitu lah. Banyak cowok-cowok dari sekolah kita yang udah kenal lama sama Dinda mencoba buat mendjadikan dia sebagai pacar dan beberapa nekat nembak dia walau pun belum pernah kenalan, pasti lo bakalan tau selanjutnya kayk gimana. Yang pasti mereka di tolak mentah-mentah. Menurut sebagian besar cowok yang pernah deket sama Dinda katanya dia itu cewek yang dingin, judes, cuek." Rahmat menjelaskan dengan santai sembari sesekali menghisap tembakaunya.
"Ehmm gitu ya. Emang kamu pernah?"
"Enggak sihh kan gue bilang itu katanya cowok laen. Tapi dari cara dia ngomong ke gue, kayaknya dia nggak suka sama gue. Mungkin aja dia suka sama lo." Sahut Rahmat meyakinkan.
__ADS_1
"Apaan sih ... nggak lah. Kenal aja belum
nggak mungkin lah langsung suka. "
"Dari cara dia senyum ke lo, gue yakin banget kalo kalian itu bakalan cocok.
Dinda tuh ya jarang banget senyum ke murid lain jangankan cowok, ke sesamanya aja jarang. Tapi lo berhasil buat dia senyum itu pertanda bagus broo."
"Tapi aku kan nggak pernah caper ke dia udahlah aku mau balik dulu udah sore."
"Buru-banget sih lo !" katanya sedikit kesal.
Aku pun segera melangkah pergi meninggalkan Rahmat yang sedang asik mengobrol dengan temannya yang lain.
**********
Dalam perjalan pulang, tampak Dinda yang sedang menunggu angkutan umum di sebuah halte dekat sekolahan.
"Hai ... Kamu nunggu siapa?"
"Ini lagi nungguin angkot. Lo anak baru kan?" katanya sembari mengulurkan tangan dan senyuman merekah di wajah cantiknya yang sempurna.
"Gue Dinda Salam kenal." Senyumannya semakin melebar setelah aku memperkrenalkan diri.
"Aku anter mau nggak?"
"Hmmm boleh tapi jangan nakal ya." Tanpa aba-aba dia langsung naik di belakangku dengan posisi menyamping.
Langit yang semula cerah perlahan di tutup oleh awan gelap. Langit menjadi mendung ditambah hawa dingin semakin membuat kesan perkenalan pertama kita terasa begitu spesial. Suasana romantis tercipta tatkala lengan Dinda melingkar di punggungku.
Udara sejuk terasa semakin menusuk tulang ketikaku pacu kendaraanku melaju lebih cepat karena khawatir hujan turun. Aku merasa tangannya memelukku semakin erat dari belakang mungkin dia sedikit kedinginan. Memang terasa aneh bagiku karena jujur ini baru pertama kali aku membonceng cewek cantik pula.
"Dingin ya ?" tanyaku sedikit ragu.
"Iya ... Lanjut aja gapapa keburu hujan nih!" katanya sedikit berteriak sebab laju kendaraanku berhasil membuat suaranya terbang dihempas angin.
"Terus ini kemana nih?"
__ADS_1
"Itu ada pertigaan belok kiri terus lurus aja."
"Ehh udah gerimis gimana dong?"
"Nggak apa-apa terus aja sudah deket kok."
Tak lama hujan pun turun dengan sangat lebat hingga tersasa sakit saat mengenai kulit. Dalam waktu sekejap saja hujan ini mampu membuat kami berdua basah kuyup.
"Sebentar lagi sampai kok," kataku yang berharap bisa menenangkan dia.
"Iya ... Pelan-pelan aja jalanannya licin."
"Iya yang mana rumah mu?"
"Itu di ujung jalan yang gerbangnya warna kuning." Setelah sampai di depan gerbang rumahnya, Dinda langsung turun dan berteduh di teras rumahnya.
"Ayo mampir dulu sekalian gue buatin teh."
"Ehh terima kasih nggak usah repot-repot. Aku langsung pulang aja ya." kataku sedikit kedinginan.
"Beneran? hujannya lebat lhoh?"
"Iya keburu sore aku pulang dulu ya."
"Iya deh terimakasih hati-hati ya"
"Dahh"
Aku segera menyalakan motorku dan meninggalkan rumah Dinda
Perjalanan menuju ke rumahku berlawanan arah dari rumah Dinda oleh sebab itu aku harus kembali lagi ke arah sekolah untuk bisa pulang ke rumah karena rumah ku melewati sekolah.
***TOLONG TINGGALKAN KRITIK DAN SARANNYA YA..
MAAF KALAU MASIH MONOTON KARENA BARU PERTAMA KALI DI BUAT.
TRIMAKASIH SUDAH MAMPIR***
__ADS_1
FACEBOOK : SAM FANDI
IG :ADHEKK_CHIL