
...Guys mohon supportnya ya, semoga karya ini bisa menghibur kalian....
...****************...
Wirmi yang menunggangi kuda menuju bukit dengan keadaan emosi sehingga membuatnya salah jalan. Yang niatnya menuju bukit malah berjalan mengarah ke hutan.
"Ishh gara gara cewek sialan itu sama Liam aku jadi salah jalan. Ya sudahlah aku akan mencari sesuatu di hutan saja" putus Wirmi pada akhrinya yang tetap memasuki hutan dengan kuda dan gerobaknya.
"Hm... Aku belom pernah masuk lebih dalam ke hutan ini, aku akan mencoba menelurusinya ah" ucap Wirmi yang mempunyai tujuan baru dan mulai melupakan kekesalnnya.
"Hm... Hutan ini hanya penuh dengan pohon pohon besar.... Tidak ada yang menarik" gumam Wirmi yang saat lebih masuk ke dalam hutan hanya melihat sebuah pohon pohon besar.
"Fafa apakah pohon ini ada manfaatnya?" tanya Wirmi yang merasa sedikit mengenali pohon yang ada di sekitarnya.
'Ada nona, pohon ini adalah pohon karet yang biasanya di ambil getahnya'
"Hm... Bagus juga tapi aku gak tau cara mengolahnya, aku hanya tau membuat aliran getah seperti di film 'udin idin'.
'Nona bisa mempelajarinya di buku tata cara sistem kehidupan, disana ada informasi tentang getah karet ini.'
"Baiklah Fafa makasih, lebih baik aku mencoba untuk mengumpulkan getah dulu" ucap Wirmi yang mulai turun dari kereta dan mengambil arit dan batok kelapa yang ia bawa.
"Sule kamu makan dan minum dulu ya, isi tenaga mu" ucap Wirmi pada kudanya sambil mengelus kepala kuda yang bernama sule itu dengan lembut.
Wirmi yang sudah menurunkan alat alat yang di perlukan lantas mengambil se ember air dan setumpuk rumput yang akan di berikan pada kudanya.
Wirmi yang sudah selesai mengurus kuda berpindah fokusnya ke pepohonan.
"Hm... sepertinya aku harus membuat lebih tinggi garisnya" gumam Wirmi karena di pikir pikir goresan yang akan di buat akan terus menyebar sehingga jika ingin mendapatkan banyak harus lebih tinggi menurut Wirmi.
"Nah untung ada ini" gumam Wirmi yang menemukan batang batang pohon yang sudah kecil untuk di gunakan menjadi tatakan agar Wirmi lebih tinggi dan karena beratnya yang ringan sehingga ia bisa mengangkatnya ke dekat pohon.
"Lumayan lah, nambah tinggi walaupun dikit" ucap Wirmi langsung membuat sayatan berbentuk L di kulit pohon itu.
Wirmi yang sudah berhasil membuat sayatan berbentuk L langsung memberi batok kelapa yang sudah terbelah dua itu di bawah goresan dan Wirmi juga memberi potongan bambu yang seperti perosotan kecil sehingga getah yang akan turun bisa masuk semua ke batok kelapa.
Setalah menyelesaikan satu, Wirmi berlanjut melakukan ke beberapa pohon di sekitarnya, Wirmi yang mengerjakannya sendiri sangat kelelahan karena memerlukan tenaga untuk menyayat kulit pohon itu. saat baru menyelesaikan 2 pohon, Wirmi melihat ke sekitar dan merasa tak kuat karena ada banyak pohon yang menunggu giliran.
"Huh menyayat 2 pohon aja udah lelah begini bagaiman menyayat semuanya, kalau kayak gini mending aku angkat tangan" gumam Wirmi yang kelelahan dan tengah terduduk di atas tanah dan menyender pada pohon.
"Sepertinya cukup 5 pohon yang aku gitukan dahulu sebagai awalan, sisanya biar para pekerja yang melakukan kalau aku sudah mengetahui cara menggunakannya" ucap Wirmi yang mulai bangkit kembali dari duduknya dan melanjutkan aktivitasnya menyayat kulit pohon yang kurang lagi 3 untuk mencapai 5.
Ya iyalah untuk mencapai 5 kalo 1 itu kamu, satu satunya di hati ku.
(hehe maaf gaje, biar santai aja bacanya. Rileks ya)
Wirmi yang membutuhkan waktu ber jam jam akhrinya menyelesaikan pekerjaannya.
"Hm.... Getahnya sudah mulai keluar, apakah seperti ini Fafa?" ucap Wirmi yang melihat adanya cairan yang keluar dari sayatan yang telah Wirmi buat dan mengalir menuju batok kelapa yang sudah Wirmi taruh.
'Benar nona, ini sudah benar'
"Fafa kira kira membutuhkan waktu berapa lama agar getah ini terkumpul?" tanya Wirmi yang bingung dan berdiri dengan gaya sok mikir.
'Untuk itu sendiri kemungkinan penuhnya 1 hari nona'
"Kenapa kamu mengira ngira, bukannya kamu seorang jin?" tanya Wirmi bingung karena jawaban Fafa yang hanya mengira ngira.
'Mohon maaf nona, saya bukan jin yang perlu nona tahu. Saya hanya sebuah roh penjaga cincin yag nona kenakan dan saya mengetahui banyak informasi karena mengikuti tuan tuan saya'
__ADS_1
"Ya jangan ngegas dong, mana aku tahu kalau kamu bukan jin, tubuh aja gak ada cuma suara lagian dari awal jelasin kalau kamu gak tau apa apa".
Ucapan Wirmi yang seperti itu malah membuat seseorang, Eh bukan seseorang tapi sebuah roh mengambek.
'Tau ah, males'.
"Eh jangan ngambek dong, utututu ganteng jangan ngambek ya".
'Aku bukan seorang pria nona, jadi jangan memanggil aku ganteng'.
"Ya sudah, maafkan aku cantik".
'Nona BERHENTI, aku bukan seorang pria dan aku juga bukan seorang wanita jadi gak usah memanggil aku dengan gender'
"Baiklah maafkan aku Fafa, jangan ngambek. Temani aku mengeksplor hutan ini, ya?" tanya Wirmi dan akhrinya mendapat respon baik dari Fafa.
"Sepertinya sudah Fafa, kita masuk lebih dalam ya ke hutan" ucap Wirmi yang merasa sudah beres urusannya dengan pohon karet itu dan mereka menunggangi kuda untuk berjalan lebih dalam.
Wirmi yang masuk lebih dalam ke hutan tersebut merasakan perubahan suhu dan hawa yang sangat berbeda, Wirmi merasakan bulu kuduknya tiba tiba berdiri.
"Fa-fa, apakah kita dalam bahaya?" tanya Wirmi yang merasa bukan hanya mereka disini.
Wirmi yang berhenti sejenak karena merasa takut karena merasa ada yang sedang menatapnyam
'Benar nona, nona harus segera pergi dari tempat ini, karena ada hewan buas tengah menargetkan nona'.
Mendengar ucapan Fafa membuat Wirmi panik dan buru buru menjalankan kudanya dengan cepat.
"Fafa apakah hewan itu masih mengikuti kita?" tanya Wirmi sambil terus melajukan kudanya dan membuat barang yang ada di gerobak berantakan.
'Tidak nona, hewan itu sudah tidak ada di sekitar kita'
"Kenapa hewan itu bisa mengincar kita dan hewan apa itu?" tanya Wirmi denga hati lebih tenang dan mulai memelankan laju kudanya.
"Tapi kenapa hewan itu tidak mengejar kita?" taya Wirmi bingung karena saat kabur tidak merasakan ada yang mengejar.
'Karena serigala itu ingin istirahat sebenarnya nona, siklus hidup serigala berbanding terbalik dengan kita yang dimana mereka aktif di malam hari namun, jika ada mangsa dia akan menangkapnya walau itu siang hari'.
Wirmi yang mendapat penjelasan dari Fafa membuatnya perlahan lahan mengerti.
"Eh Fafa kita dimana sekarang?, bagaimana cara kita pulang" ucap Wirmi panik karena baru sadar bahwa ia terlau dalam masuk ke dalam hutan.
'Tenang nona, saya bisa mengarahkan nona untuk pulang. Apakah nona ingin pulang sekarang?'.
"Oh untung aja, kalau begitu aku ingin mencari sesuatu dulu yang bisa menjadi uang" Wirmi yang sudah benar benar tenang dengan ke adaan ini mulai turun dari kudanya dan menatap ke dedaunan maupun rumput rumputan, kali aja nemu sesuatu.
Tak butuh waktu lama Wirmi menemukan sebuah bunga matahari yang membuatnya gembira.
"Uhh kayaknya enak nih kalo lagi santai minum teh di temenin kuaci" ucap Wirmi yang mulai mencabut bunga matahari se akar akarnya karena Wirmi kurang tau cara menanamnya.
Nana... Nana.....naNa....
Wirmi mencabut bunga matahari sambil bersenandung ringan dan tiba tiba.
Jeng....
Hayolo kenapa?.
Tiba tiba Wirmi medengar suara sesuatu yang kecil namun karena hutan ini sunyi dan tenang membuat suara itu terdengar jelas.
__ADS_1
"Fafa itu suara apa?" tanya Wirmi yang mulai mencari arah suara itu datang.
'Sepertinya suara itu bukan ancaman bagi nona'
"Apakah aku perlu mencari sumber suara?".
'Terserah nona, saya hanya bisa menemani dan nona yang mengambil keputusan'
Wirmi yang penasaran dan mendengar jawaban Fafa lantas mencoba mencari sumber suara itu. Suara itu bersumber dari arah kanan Wirmi berada.
Wirmi bergegas menunggangi kudanya lagi dan menjalankan ke arah suara.
Hiks.... hiks....
"Fafa, apakah disini ada hantu?" ucap Wirmi yang mulai mendengar jelas suara itu yang merupakan suara tangisan.
'Ada nona, dimanapun kita berada pasti ada sesuatu yang tidak bisa kita lihat'
Wirmi yang mendengar suara itu seketika takut dan memberhentikan kudanya dengan mendadak.
"Apakah itu suara hantu Fafa?" tanya Wirmi yang bulu kuduknya sudah berdiri dan kakinya sudah bergemetar takut.
'Saya rasa bukan nona, saya tidak merasakan ada hawa hawa itu'.
"Oh baiklah kalau begitu kita balik aja, kita harus pulang sepertinya hari sudah mulai gelap" ucap Wirmi yang mencoba menahan rasa takutnya dan buru buru ingin pulang dan tidak jadi mengecek sumber suara.
'Apakah nona serius tidak mau mengecek dulu sumber suaranya?'.
hiks.... Hiks....
"Huh, aku ingin mengeceknya tapi aku takut Fafa, tapi aku juga penasaran" ucap Wirmi yang bingung.
'Saya akan menemani keputusan nona apapun itu'
"Ishh geli dengernya Fafa kayak lagi dalam ujung pilihan hidup. Ya sudah aku akan mengecek sumber suara itu" ucap Wirmi yang tadinya merinding karena takut berubah menjadi merinding karena ucapan Fafa yang menggelikan.
Wirmi mulai menjakankan kudanya melewati dedaunan dan pohon pohon kecil sehingga harus pelan pelan agar tidak terjadi luka pada kudanya.
Hiks.... Hiks.....
"Fafa sepertinya suara itu dari Goa yang disini?, apakah berbahaya kala aku memasuki Goa ini?" tanya Wirmi yang sudah berada tepat di depan gua.
'Saya rasakan tidak akan terjadi hal buruk yang akan menyakiti nona'
"Baiklah aku akan masuk" ucap Wirmi yang menuruni kudanya.
Wirmi yang ingin mencegah terjadi sesuatu dengan tetap membawa sebuah celurit walau Fafa mengatakan aman. Wirmi melangkah memasuki Goa dengan perlahan lahan dan berusaha tidak membuat keributan.
Hiks.....
Mendengar suara tangisan terus menerus membuat Wirmi merinding setengah mati.
Shuftt
Wirmi yang melangkah masuk di buat kaget dengan kaburnya kelelawar.
"Huft, kagetin aja kelelawar ini" ucap Wirmi yang menguatkan tekadnya dan masuk perlahan lahan dan saat memasuki gua itu semakin dalam Wirmi....
"Astaga....
__ADS_1
...****************...
...Terima kasih yang udah baca sampai ini, mohon bantuannya untuk komen dan juga beri tanda suka untuk setiap babnya untuk mensupport saya. saya mohon maaf kalau cerita ini banyak kurangnya....