
...Guys mohon supportnya ya, semoga karya ini bisa menghibur kalian....
...****************...
'Alin anak angkat gue tapi dia manggil gue kakak hm... Harus di ubah sepertinya'.
"Alin sekarang jangan panggil kakak lagi ya, Alin ganti panggil kakak bisa dengan bunda, mama, mami atau momo? tanya wirmi memberi banyak opsi saat mereka tengah mengeringkan badan.
Alin yang mendengar permintaan Wirmi lantas langsung berfikir dengan tangan memegang dagunya.
"Ishh kamu ya... Kayak orang gede aja mikirnya" ucap Wirmi gemas melihat tingkah Alin.
"Hm... Apakah Alin boleh memanggil kakak dengan ibu" tanya Alin yang berbeda dari pilihan.
'Aduh... masak masih muda udah di panggil ibu.. Ya udahlah pasrah aja yang penting Alin senang' batin Wirmi.
Wirmi yang sebenarnya tidak ingin di panggil ibu hanya bisa mengiyakan keinginan Alin.
"Iya terserah kamu, sekarang kita pakai baju tidur dulu" ucap Wirmi yang mengambilkan pakaian untuk mereka berdua.
.
.
"KAKAK... Kenapa?".
"Eghh.... sepertinya kaki ku terkilir".
Mereka yang sedang berbicara adalah Dewi dan Liam yang tengah ada di ruang belakang, Dewi berteriak kaget karena melihat Liam berjalan dengan terseok seok.
"Bagaimana bisa seperti ini kak, aku akan obati dulu sebelum kakak jelaskan" ucap Dewi yang membantu Liam untuk berjalan menuju kursi makan.
"Terima kasih Dewi" itu saja yang bisa di ucapkan Liam setelah duduk dari kursi karena merasakan kaki sebelah kanannya sangat sakit.
"Tunggu sebentar ya, aku akan ambilkan minyak kelapa" ucap Dewi yang pergi meninggalkan Liam sendiri menuju kamarnya dan Liam yang sendiri di ruang makan mengeluh sakit.
"Bagaian mana yang sakit kak?" tanya Dewi yang sudah datang kembali dengan membawa minyak.
"Bagian sini, seperti di tarik uratku dan bagian sini sakit kalau di gerakan" ucap Liam yang menunjuk bagian paha bawah dan bagian engkel kaki kanannya.
"Bagaimana ini bisa terjadi kak, sampai 2 bagian sakit" tanya Dewi bingung, panik dan takut dalam hatinya karena jika tidak di tangani takut malah tambah buruk namun jika di tangani namun salah langkah akan juga berakibat buruk.
"Aku juga tidak tau, saat aku turun dari tangga dapur tiba tiba pijakan kaki ku kurang tepat dan bagian sini terkena ujung tangga".
Liam menjelaskan kronologinya dan Dewi hanya menghela nafas.
"Huft.. Baiklah kakak sabar dulu dan tahan jika sakit" ucap Dewi yang mulai mengurut bagian engkel Liam dengan pelan pelan.
Dewi yang fokus memijatkan Liam tidak sadar bahwa Liam bukan tengah menahan sakitnya tapi memandang wajahnya dan kejadian itu malah di liat oleh Wirmi dan di salah artikan.
Ya, Wirmi berada di situ berniat menemui Liam untuk membahas rencananya untuk pergi ke kota dan saat baru turun ia malah melihat kejadian yang membuat hatinya sakit. awalnya Wirmi panik karena melihat Dewi memijat kaki Liam yang bertanda Liam tengah kesakitan dan saat melihat wajah Liam langsung membuat panik di wajah Wirmi hilang seketika karena pandangan Liam yang Wirmi tau maknanya.
'Huft baiklah sepertinya kamu sudah masuk dalam pikatnya'.
Wirmi dengan wajah yang tidak bisa di artikan lagi dan hanya diam membisu namun batinnya yang tidak bisa tenang. Wirmi melihat itu tidak mau lama lama berada disana dan memilih pergi dari tempat itu.
Akhhh
"Tahan kak, ini sudah selesai sekarang coba kakak gerakan bagian ini" ucap Dewi setelah selesai memijat kaki Liam bagian engkel.
Liam mulai mencoba menggerakan kakinya dan rasa sakit yang sedari tadi ia rasakan sudah lebih berkurang dan bisa di katakan membaik.
__ADS_1
"Kaki ku sudah baikan Dewi, terima kasih karena kamu sudah menolong ku, untung ada kamu kalau tidak mungki kakak akan kesusahan berjalan selama berhari hari" ucap Liam dengan wajah lirihnya.
"Tidak apa apa kak, aku juga berterima kasih karena kakak selalu baik dengan ku" ucap Dewi yang memperliatkan senyum manisnya.
Dewi dan Liam sAling tersenyum dalam heningnya malam.
.
.
"Adi apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Wirmi yang pagi hari ini sudah berada di halaman belakang untuk melihat aktivitas para pekerja.
Para pekerja yang biasanya mengerjakan aktivitas seperti biasa kali ini sebagian besar tengah berkumpul di tanah kosong samping rumah.
"Eh nona, kami sedang mengerjakan pembangunan ruangan yang nona inginkan" ucap Adi dengan kaget karena tiba tiba Wirmi berada di sana.
"Eh kok secepat ini?".
kini gantian, Wirmi yang di buat kaget mendengar ucapan Adi karena baru kemaren ia memberi tahu rancangan, ide dan uang untuk membeli tambahan barang dan pagi harinya sudah mau di kerjakan.
"Iya nona, kebetulan kemarin saya langsung pergi ke kota dan mendapatkan bahannya dengan mudah jadi saya ingin menyegerakan rencana ini" jelas Adi yang membuat senyuman terbit di wajah Wirmi.
"Baiklah mari kita buat dan untuk setiap ruangan sendiri aku......."
Wirmi yang semangat untuk membangun ruangannya dengan segera mungkin mulai memberi gambaran bangunan seperti apa yang di inginkannya.
"Baiklah nona akan kami buat ruangan ini sesuai keinginan nona" ucap Adi yang mulai terjun langsung ke pembuatan ruangan itu.
Wirmi memandang para pekerja yang semangat dalam mengerjakan itu semua membuat senyuman yang sedari tadi menghiasi wajahnya tambah lebar namun senyuman itu seketika hilang saat tiba tiba Wirmi melihat sesuatu yang tidak mengenakan hati.
Wirmi memandang ke arah jalan depan, mata dan hati Wirmi sudah tidak normal lagi melihat 2 orang yang tengah tersenyum bahagia seperti sepasang kekasih sedang berkencan.
'Liam...?'
"Liam aku ingin berbicara dengan kamu" ucap Wirmi yang sudah berada di belakang Liam dan langsung menggenggam tangannya.
"Istriku. Baiklah kamu ingin berbicara apa?".
"Ayo ikut aku, aku tidak ingin pembicaraan kita di dengar orang lain yang hanya menjadi beban dan sumber masalah di kehidupan kita".
"Istriku jaga ucapan mu itu kurang baik di dengar orang lain dan aku akan menemui mu setelah aku menemani Dewi karena aku sudah berjanji" ucap Liam yang mulai berubah cara berbicaranya yang tadinya santai dan lembut berubah menjadi spiderman canda canda, menjadi tegas.
"Aku tidak suka kamu dekat dekat dengan dia walaupun kamu mau bilang dia adik mu lah, saudara mu, tante mu, nenek mu pokoknya aku tidak suka dengan dia bisakah kamu jangan dekat dekat lagi dengannya aku sudah cukup baik memperbolehkan dia tinggal dengan kita. Tidak bisakah kamu menghargai perasaan ku hiks...".
Wirmi yang sudah tidak tahan lagi dengan keadaan ini langsung mengungkapkan isi hatinya dan berakhir dengan tangisan. Sedari awal Wirmi hanya berusaha kuat dan tidak mempermasalahkan keberadaan si ular dekat dengan Liam namun makin hari Wirmi juga merasa jengah sebagai istri melihat suaminya terang terangan dekat dengan wanita lain dan tidak berusaha lebih keras memperbaiki masalah dengan istrinya.
Liam yang melihat istrinya seperti itu tidak tahan juga dan langsung memeluk istrinya.
"Maaf bukan maksud ku seperti itu, aku hanya..."
Liam yang berusaha menenangkan Wirmi juga bingung harus berbicara apa, di satu sisi apa yang ia lakukan hanya sekedar akrab sebagai teman dan adik-kakak dengan Dewi dan di satu sisi ia juga harus menghargai perasaan dan keberadaan istrinya.
"Maaf tapi ijinkan aku menemani Dewi sementara ya, Dewi hari ini akan pulang dan ia ingin membawa oleh oleh buat keluarganya".
Wirmi yang melihat dan mendengar balasan Liam yang seperti itu tidak kuat. Suami yang ia mulai cintai malah memilih orang lain di saat dirinya sudah mengungkapkan perasaannya dan itu sangat merendahkan harga dirinya.
'Itu yang kamu mau, baiklah'
Wirmi memandang wajah Liam dengan membisu. Karena merasa tidak ada perubahan pikiran yang akan dilakukan Liam Wirmi memilih pergi dan meninggalkan tempat itu.
"Sial, hiks... dasar laki laki semuanya sama, gak ada yang bener".
__ADS_1
Wirmi yang ingin menuju kamar melewati halaman depat karena tidak ingin di liat sedang menangis.
"IBU, ibu kenapa?" tanya Alin kaget karena kedatangan Wirmi yang tiba tiba dan dalam keadaan uang kurang baik.
"Tidak sayang, sudahlah lanjutkan saja kegiatan mu, ibu mau mandi dulu" ucap Wirmi yang melihat Alin masih nyaman sama rajutannya.
"Huft... Sepertinya hubungan ini sudah toxic" gumam Wirmi yang merasa makin hari hubungan dirinya dan Liam tambah jauh dan memburuk.
.
Tok tok tok
"Siapa?" tanya Wirmi yang saat ini masih berada di kamarnya yang sedang asik menemani Alin merajut.
"Saya nona".
"Oh Ajeng, silahkan masuk" ucap Wirmi setelah membukakan pintu kamarnya
"Tidak nona, saya hanya ingin menyampaikan berita baik dan buruk" ucap Ajeng yang membuat raut wajah Wirmi berubah bingung .
"Berita baik dan buruk?, kataka lah".
"Berita baiknya pembangunan para pekerja telah menyelesaikan 3 ruangan sehingga nona bisa memulai rencana nona namun kabar buruknya".
Ajeng mengambil ancang ancang terlebih dahulu sebelum mengatakan kabar buruknya.
"Kita mendapat gangguan dan masalah nona, perijinan yang di lakukan Adi kepada kepala desa di tolak dan juragan sawah di desa menuntut kita nona".
Wirmi yang mendengar penjelasan Ajeng di buat bingung karena kepala desa biasanya selalu mensupport kegiatannya dan di tambah ada orang yang menuntut? Menuntut untuk apa itu yang di pikirkan oleh Wirmi.
"Maksudnya gimana, berita ini sangat aneh?".
"Saya kurang tau juga nona tetapi saat para pedagang sedang berjualan datang segerombolan orang yang mengganggu mereka dan menitip pesan pada nona bahwa tidak menerima keberadaan kita di dekat mereka dan meminta usaha nona di tutup juga kepala desa tiba tiba menolak perijinan kita" jelas ajemg yang lebih mendetail membuat Wirmi pusing.
"Baiklah kamu bisa pergi, aku akan menyelesaikan sebentar lagi" ucap Wirmi yang masuk kedalam setelah Ajeng pergi.
'Aduh kenapa lagi ini...ada aja masalah mana lagi kesel sama Liam lagi' batin Wirmi bingung
"Alin, kamu diam di rumah dulu ya sama nenek, ibu ada urusan dan jangan tunggu ibu" ucap Wirmi yang di jawab oleh Alin dengan anggukan, Wirmi yang ingin segera cepat menyelesaikan ini secepatnya langsung pergi menuju halaman belakang untuk menemui Adi.
.
"Adi maksudnya apa yang di sampaikan Ajeng?" tanya Wirmi langsung to the point ketika menemui Adi.
"Eh nona, iya kepala desa memgaku bahwa atasanya melarang adanya warga desa yang membangun banyak usaha karena dapat mendominasi suatu wilayah" jelas Adi yang membuat itu tambah gak masuk akal.
"Itu sangat tidak jelas Adi, apakah di pemerintahan atau kerajaan ada permainan seperti itu karena takut penghasilannya mengurang atau kekuasaanya merenggang" ucap Wirmi asal ngomong tapi malah mendapat tatapan kaget dari beberapa pekerja yang berada di sana.
"Shutt... Nona jangan ucapkan itu di sembarang tempat" ucap Adi yang panik mendengar ucapan Wirmi sedangkan Wirmi bingung dengan kepanikan Adi.
"Sudahlah ayo temani aku mengurus semua masalah ini dulu, kita ke juragan juraganan itu yang tidak suka dengan keberadaan kita" ucap Wirmi mengajak Adi untuk menyelesaikan masalahnya.
"Baiklah nona ayo" ucap Adi yag langsung berjalan terlebih dahulu untuk menyiapkan kereta.
"Baiklah nona silahkan duduk" ucap Adi yang membuka pintu kereta namun Wirmi malah berjalan duduk di dekat pakusir dan mau tak mau Adi hanya menurut dan diam.
"Adi kenapa kamu begitu panik saat aku mengucapkan itu?" tanya Wirmi bingung dan ingin mengetahui alasannya.
Huuuiiiftt
"Apakah nona tidak tau pangeran A....
__ADS_1
...****************...
...Terima kasih yang udah baca sampai ini, mohon bantuannya untuk komen dan juga beri tanda suka untuk setiap babnya untuk mensupport saya. saya mohon maaf kalau cerita ini banyak kurangnya....