Hahh? Aku Bertransmigrasi

Hahh? Aku Bertransmigrasi
Bab 29


__ADS_3

...Guys mohon supportnya ya, semoga karya ini bisa menghibur kalian....


...****************...


"Huft, kagetin aja kelelawar ini" ucap Wirmi yang menguatkan tekadnya dan masuk perlahan lahan ke dalam gua saat memasuki gua itu semakin dalam Wirmi di buat terkejut dengan apa saja yang baru dia lihat...


"Astaga.... I-ni"


Wirmi yang sudah tidak bisa berkata kata lagi, Wirmi langsing mendekat kepada sumber suara yang merupakan seorang anak kecil yang sedang menangis dalam keadaan mengenaskan. Anak kecil itu meringkuk di tanah di dekat bebantuan dengan tangan yang terikat dan tanpa berpakaian.


Tes


Hiks.... Hiks...


"A-dek... Sini kakak tolong".


Wirmi yang sedari tadi sudah tidak bisa menahan air matanya perlahan lahan juga ikut menangis. Wirmi segera menolong anak itu dengan menggendongnya dan membawa ke gerobak dengan susah payah karena tubuh Wirmi juga termasuk kecil.


"Aku harus bagaimana.... Aku bersihkan dulu luka luka ini" ucap Wirmi yang bingung dan panik setelah membawa anak itu tiduran di spons yang ada di dalam gerobak tertutup.


"Apa yang terjadi dengan kamu dek?" tanya Wirmi bingung dan sedih saat membersihkan luka luka yang ada di tubuh anak itu. Sang anak yang terluka hanya menangis dan tak mengucapkan apapun membuat hati Wirmi seperti tersentil.


Wirmi yang sudah membersihkan seluruh luka di tubuh anak itu langsung menutup tubuhnya dengan kain yag ada di dalam ember.


"Biadap, bang***, memang anji** yang melakukan ini" maki Wirmi dalam hati karena tau apa yang telah terjadi pada anak itu dan Wirmi menyumpah serapahi orang yang telah melakukan hal itu pada anak sekecil ini.


Hiks... Hiks....


"Adek minum dulu ya, habis itu makan" ucap Wirmi yang sudah mengambilkan persediaan makanan yang di bawa. Wirmi mencoba memberi minum namun mendapat penolakan dan anak itu terus menangis membuat Wirmi tak kuasa menahan tangisannya lagi untuk kedua kAlinya.


Grep


"Adek jangan menangis lagi ya, ada kakak disini" ucap Wirmi yang menarik anak itu untuk masuk ke dalam pelukanya. Setelah memeluk anak itu Wirmi malah tambah menjatuhkan air matanya dengan banyak karena merasakan tangisan anak itu mereda, malah anak itu membalas pelukan Wirmi dan dalam pelukan itu Wirmi dapat merasakan rasa sakit dan ketakutan yang sanga besar.


"Adek manis, jangan menangis lagi ya, ada kakak disini" ucap Wirmi yang sudah melepaskan pelukan mereka dan menangkup wajah anak itu yang terdapat banyak luka.


"Hiks... Hiks... to...lo...ng...a..ku" ucap anak perempuan itu lirih dengan terbata bata.


Wirmi yang mendengar suara anak itu tersenyum penuh arti dan mengecup puncak kepala anak itu.


"Kakak akan tolong kamu jadi kamu tenang saja dan siapa nama mu adek manis?" tanya Wirmi.


"A...ku A..lin kak?" ucap anak itu yang sudah mulai lancar walau masih sedikit terbata bata.


"Nama yang cantik, Alin kamu makan dulu ya setelah itu kamu akan ikut dengan kakak, ya?" tanya Wirmi dan anak itu mengangguk sebagai tanda menyetujui ucapan Wirmi.


Wirmi dengan telaten menyuapi Alin yang kelaparan. Wirmi yang untungnya membawa makanan banyak sehingga mereka bisa makan bersama dan sebenarnya kalau Wirmi gak bawa makanan banyak juga bisa ke ruang rahasia untuk mengambil makanan.


.

__ADS_1


"Apakah kakak boleh menanyakan sesuatu kepada kamu?" taya Wirmi yang saat ini mereka masih berada di gerobak dan mereka juga sudah menyelesaikan acara mengisi makanan di perut masing masing.


"Boleh kak" ucap Alin dengan pelan dan masih saja menunduk.


"Alin umur berapa sekarang?".


"Alin tidak tau kak..., ta...tapi Alin pernah di beri hadiah saat berumur 5 tahun" ucap Alin yang lama kelamaan menjadi lirih dan perkaraan itu Wirmi bisa tebak umur Wirmi di atas lima tahun dan di bawwh 10 tahun.


Hiks.... Hiks...


"Hei jangan menangis cantik, gak masalah kalau Alin tidak tahu umurnya, kakak tahu umur Alin kok" ucap Wirmi yang berusaha menenangkan Alin dengan mengelus kepalanya.


"Umur Alin itu 7 tahun".


"Benarkah kak umur Alin 7 tahun?" tanya Alin mulai membaik lagi dan ia menanyakan itu dengan wajah polosnya yang membuat Wirmi makin sakit hatinya.


"Iya sayang, sekarang kakak mau nanya lagi. Alin kenapa bisa ada disini, ibu dan ayah Alin kemana?" tanya Wirmi yang mulai memancing agar Alin mau menceritakan kejAdian atau kehidupannya.


"Hiks... Hiks... Alin gak boleh cerita kak, Alin takut" ucap Alin yang tiba tiba menangis lagi sehingga Wirmi harus sabar untuk mengetahui apa yang terjadi walau ia sudah mengetahui sedikit.


Ya, Alin adalah korban dari pelecehan dan kekerasan bahkan pembunuhan karena Wirmi bisa di lihat bahwa orang yang baji**an itu ingin Alin mati perlahan dan tidak ada yang mengetahui maka dari itu Alin di tinggal di dalam hutan yang jarang orang lewati.


"Shuttt, sudah sudah jangan menangis lagi. Alin harus ingat, jangan pernah takut lagi karena ada kakak disini, sudah ya. Alin harus cepet sembuh dan sehat karena orang tua Alin pasti merindukan Alin" ucap Wirmi yang mencoba agar Alin lebih baik dan tidak takut lagi.


"Hiks... A..Alin gak punya ayah dan ibu lagi, ayah dan ibu sudah pergi menemui tuhan" ucap Alin yang mencoba menahan tangisannya.


'Kasihannya anak ini, tenang Alin kamu aman sama kakak, dan yang ngelakuin ini gue sumpahin lo gak bisa punya anak lagi eh bukan bukan tapi 'itu' lo gak berguna lagi'.


Wirmi yang lagi menyumpahi orang bejat itu bertepatan dengan petir yang bergeruduk sehingga Wirmi merasakan seperti di sinetron azab azab.


"Sudah jangan bersedih lagi ya, Alin sekarang akan menjadi anak kakak dan kakak akan selalu menjaga kamu, jadi sekarang kita ke rumah kakak ya" ucap Wirmi dan Alin mengamgguk senang dan perlahan lahan senyuman Alin mulai muncul di wajahnya.


Setelah berbincang bincang dengan Alin Wirmi lantas turun dari gerobak dan menuju ke arah kuda untuk menungganginya.


'Fafa apakah tak masalah aku membawanya pulang?' tanya Wirmi dalam hati saat menjalankan kudanya kembali ke rumah.


'Menurut saya tidak apa apa nona'.


"Baiklah, sekarang tunjukan jalan pulang fafa" ucap Wirmi dan mereka menuju rumah dengan di arahkan oleh fafa.


Wirmi yang menunggangi kuda menuju rumah di buat sakit leher karena harus mengecek keadaan Alin untuk memastikan anak itu baik baik saja.


"Huft, somoga kamu selalu di lindungi, Alin" gumam wirni yang setiap melihat wajah Alin, Wirmi merasakan sakit dan selalu melapalkan doa untuk Alin.


"Fafa, apakah dengan aku membawa Alin ke rumah dan tinggal bersama ku akan ada masalah baru?" tanya Wirmi yang iseng saja karena merasakan hatinya tidak enak.


'Saya kurang tahu nona, tapi kalau hidup, kita harus menjalaninya dan berusaha dengan baik agar masa depan kita cerah begitu pula dengan nona lakukan, saya tidak bisa memastikan nona akan selalu bahagia begitupun sebaliknya'


"Kamu benar fafa, aku terlalu takut salah mengambil jalan dan mengulang kematian yang memalukan itu" ucap Wirmi dan kembali lagi fokus menunggangi kudanya.

__ADS_1


.


.


Saat sampai di dekat rumah, Wirmi langsung masuk karena bertepatan ada Adi Yang sedang membuka gerbang.


"Makasih Adi, dan tolong panggilkan Endang untuk menemui ku".


"Baiklah nona akan segera saya panggilkan" ucap Adi yang langsung bergegas pergi setelah menutup gerbang.


"Huft akhrinya sampai juga, encoknya pinggangku" ucap Wirmi yang pegal karena terus menunggangi sule. Wirmi yang baru turun langsung meregangkan badannya.


Kretek


Kretek


Wirmi yang merasa badannya sudah baikan langsung bergegas ke gerobak dan membukanya. Saat mau membuka gerobak itu Wirmi terkejut karena ada Endang yang tiba tiba muncul.


"AKHH!, Endang kamu ngagetin saya aja" ucap Wirmi manyun karena merasa kesel.


"Hehe maaf nona, dan ada apa nona memanggil saya?" tanya Endang bingung.


"Aku mempunyai masalah berat tapi sebelum aku jelasin kamu jangan banyak tanya, cukup bantu aku" ucap Wirmi memperingati Endang untuk tidak banyak bicara.


"Baiklah nona".


Srett


"NONA?....i...ini"


"Shuuttt.... kamu diam endamg, ingat perintahku. Sekarang kamu bantu aku membawa anak ini ke kamar dan setelah itu kamu panggil para pekerja untuk menanam bunga ini kembali" ucap Wirmi yang setelah itu mencoba memindahkan kepala Alin ke lengannya dan mebgangkat pinggangnya.


Endang yang tau dan melihat Wirmi kesusahan lantas menolongnya dengan memegang bagian kaki dan pinggang. Wirmi dan Endang membawa Alin dengan hati hati karena takut jatuh.


"Pelan pelan neng jalannya" ucap Wirmi saat merasa Endang terlalu cepat menaiki tangganya sehingga keseimbangan mereka sedikit oleng. (neng itu panggilannya Endang).


"Istriku apa yang terjadi?" tanya Liam yan kaget dan bingung saat melihat istrinya membawa seseorang masuk ke dalam kamar. Liam yang baru selesai mandi bingung dengan apa yang dia lihat.


"Jangan banyak tanya, sekarang kamu keluar dan jangan ganggu aku" ucap Wirmi yang sudah menaruh alin di kasur mereka.


"Istriku, kamu masih belum memaafkan ku?" tanya Liam lirih saat mengetahui mood istrinya belom membaik.


"Liam berhenti bicara, aku sedang pusing dan banyak pikiran jadi jangan menambah beban pikiran ku. biarkan aku sendiri dulu dan aku akan menjelaskannya semua setelah keadaan lebih baik dan kamu tidur dulu di kamar lain" ucap Wirmi yang sudah bulat dan tidak mau di tentang lagi sehingga Liam hanya bisa menerima.


Cup


"Baiklah istriku, walau aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan tapi aku pasti selalu berada di sisi mu. semoga kamu terus tersenyum" ucap Liam yang lagi lagi mengalah dan mengabulkan keinginan istrinya, sebelum Liam keluar dari kamar tidak lupa ia mencium kening Wirmi


"Nona.....

__ADS_1


...****************...


...Terima kasih yang udah baca sampai ini, mohon bantuannya untuk komen dan juga beri tanda suka untuk setiap babnya untuk mensupport saya. saya mohon maaf kalau cerita ini banyak kurangnya....


__ADS_2