
...Guys mohon supportnya ya, semoga karya ini bisa menghibur kalian....
...****************...
"Sini Alin, bobok disini dulu ya" ucap Wirmi yang menarik Alin untuk tidur di kasur. Alin yang sudah berhenti menangis mulai melangkah untuk tiduran di tempat yang di tunjuk Wirmi dan Wirmi juga ikut tiduran di samping Alin dan mulai memeluknya.
"Alin kenapa menangis?" tanya Wirmi yang mulai membuka percakapan dan berusa membangun hubungan baik dengan Alin secara halus.
"A...Alin takut" ucap Alin yang masih ragu ragu untuk berbicara.
"Sekarang satukan tangan kamu dengan kakak dan kakak ingin mulai dari sekarang kita adalah teman, saudara, ibu dan anak jadi kamu jangan takut lagi sama kakak ya. Kakak akan melindungi kamu dan kita akan bahagia bersama bagaimana?" tanya Wirmi setelah mengucapkan kesepakatan bersama Alin, Wirmi yang menggenggam erat tangan Alin menandakan keseriusan ucapannya dan Alin yang mendengar ucapan dan tindakan dari Wirmi hanya mengangguk malu bahkan pipinya memerah.
"Sekarang kakak mau nanya kenapa kamu menangis dan jelaskan apa yang kamu rasakan ya" ucap Wirmi yang ingin mengetahui isi hati Alin dan agar Alin mau bercerita denganya.
"A...Alin takut kak, Alin pikir kakak telah meninggalkan Alin di tempat yang jahat hiks..." ucap Alin yang lama kelamaan suaranya mulai lirih dan akhrinya menangis setelah air yang berada di matanya sudah tak dapat di bendung.
"Sudah-sudah... Cup...cup..cup sayang, sekarang kamu enggak perlu takut lagi, sekarang Alin makan dulu ya, pasti udah lapar kan?" tanya Wirmi yang di balas anggukan malu malu oleh Alin.
"Ya udah ayo kita ke meja makan, kita makan disana sambil cerita cerita" ucap Wirmi yang menggenggam tangan Alin setelah dirinya bangkit dari kasur.
Wirmi yang menggenggam tangan Alin langsung mengajaknya keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Wirmi yang masih bingung dengan tempat dan suasana yang berbeda ini membuatnya sedikit aneh dan langkahnya juga lebih lambat (maklum di lantai 2 redup pencahayaannya karena masih pake lentera ya guys, jangan lupa).
Wirmi yang mengetahui keraguan dan perasaan Alin yang pastinya aneh dan kurang familiar mempercepat langkahnya sehingga mau tak mau Alin juga berjalan dengan cepat.
Wirmi dan Alin yang sudah berada di ruang makan. Wirmi menuangkan nasi dan soto ayam ke dalam piring Alin dan Alin yang melihat hidangan makanan begitu banyak merasa terkejut.
'Apakah kakak ini orang kaya?'
"Kakak... Apakah kakak orang kaya?" tanya Alin yang sedari tadi melihat begitu banyak ruangan dan pakaian Wirmi terbilang indah meski tidak pernah di liatnya.
"Iya dan tidak, kakak bukan orang kayak tapi kakak orang cerdas sehingga bisa punya ini semua" ucap Wirmi yang membuat Alin bingung.
'Apakah memiliki ini semua bukan orang kaya namanya?'
Namun karena Wirmi tidak enak menanyakan terlalu dalam sehingga ia hanya mengangguk mengerti.
"Dengan berjalannya waktu kamu akan tau maksud ucapan kakak"
Wirmi dan Alin yang sudah lumayan lapar langsung menyantap makanan itu dengan lahap, mereka makan dengan hening sampai suara seseorang memecahkan keheningan itu
"Istriku apakah ini anak yang kamu bilang akan menjadi anak kita?" ucap Liam yang tiba tiba mengejutkan Wirmi dan Alin.
"Iya Liam, Alin kenalkan ini adalah suami kakak" ucap Wirmi memperkenalkan Liam dengan semangat namun Alin malah memberi respon sebaliknya.
Hiks.....hiks....
Grep
"Eh Alin kenapa menangis" ucap Wirmi yag langsung mendekat ke arah Alin dan memeluknya.
__ADS_1
"Alin takut kak"
Alin yang menangis karena takut langsung membalas pelukan Wirmi dengan kencang dan beberapa saat tangisan Alin mulai reda dan dia mulai memberi tahu kenapa ia menangis setelah Wirmi menanyakannya.
"Liam bisakah kamu jangan dekat dekat dengan Alin dahulu, dia takut pada mu".
"Huft baiklah, dan Alin ingatlah ayah angkat mu yang sekarang tidak jahat seperti orang itu" ucap Liam yang lagi, lagi dan lagi harus mengalah dan menjauh dari mereka.
Liam yang pergi menjauh dari wirmi dan Alin mulai merasa belakangan ini hubungannya dengan Wirmi seperti jauh, bahkan untuk mengobrol santai aja sudah tidak pernah lagi.
"Huft apakah aku sudah menyakiti perasaanya?" tanya Liam dalam bingungnya dan berjalan menuju teras depan rumahnya untuk merileks kan pikirannya. Liam berjalan ke depan melihat ada Dewi yang tengah kesusahan membawa sebuah kotak yang berukuran kecil.
"Apakah perlu bantuan?" tanya Liam yang menghampiri Dewi di teras rumah.
"Kalau tidak merepotkan boleh kak" ucap Dewi dan Liam mengambil alih kotak yang di bawa oleh Dewi dan membantunya membawakan ke kamarnya.
.
"Ini kotak apa Dewi?" tanya Liam yang berada di kamar Dewi.
Liam yang setelah membawa kotak itu duduk di depannya, tepat di karpet karena Dewi yang akan membuatkan minuman dan cemilan sebagai ucapan terima kasih.
"Ini kota yang berisi kerang kak" ucap Dewi.
Dewi yang juga ikut duduk di depan Liam langsung membuka kotak itu dan menunjukan pada Liam.
"Untuk apa kerang ini, bukannya ini hanya sampah?"
"Kamu membuat apa itu Dewi?" tanya Liam bingung dan beberapa saat Dewi tiba tiba berdiri dan mendekat padanya.
"Kakak tutup mata dan tidak boleh membuka mata sebelum aku bilang boleh".
"Untuk apa aku menutup mata?".
"Pokoknya tutup saja" ucap Dewi maksa dan pada akhirnya Liam hanya pasrah menutup matanya. Liam merasakan ada sesuatu yang berada di lehernya tapi Liam hanya diam menunggu Dewi memperbolehkannya membuka mata.
"Sudah bukalah matanya kak dan langsung lihatlah di kaca" ucap Dewi semangat dan penuh gembira sehingga tanpa sadar menarik tangan Liam dan membawanya ke depan kaca.
"Wow ini cantik sekali, aku terlihat makin tampan" ucap Liam yang terpukau dengan kalung yang di buat Dewi, ya dari tadi pasti udah banyak yang mengira Dewi akan membuat kalung dan kalian benar.
"Terima kasih ya Dewi, sebagai tanda terima kasih aku akan mengajak mu jalan jalan besok pagi hari sambil jalan santai" ucap Liam dan di setujui dengan semangat oleh Dewi.
"Ya sudah kakak ke belakang dulu ya, terima kasih kalungnya" ucap Liam yang pergi ke belakang untuk menunggu para pekerja yang berjualan gerobak karena hari sudah malam dan seharusnya sudah kembali.
.
.
"Kakak, apakah air kakak gak akan habis sehingga aku boleh berendam seperti ini?" tanya Alin bingung.
__ADS_1
Ya, Alin dan Wirmi saat ini tengah mandi bersama setelah acara makan makannya, mereka bukan hanya sekedar mandi juga Wirmi ingin anak angkatnya, Alin memiliki tubuh yang bersih dan segar sehingga Wirmi menyuruh Alin berendam dan ia membersihkan tubuhnya.
"Tidak apa apa, sekarang kamu duduk seperti itu, kakak akan bersihkan tangan mu terlebih dahulu" ucap Wirmi yang mulai menggosok tubuh Alin dengan batu halus dan karena tubuh Alin banyak luka dan memar jadi Wirmi sangat hati hati menggosoknya karena takut membuat Alin kesakitan.
"Alin sebelum ini mandi berapa hari sekali?".
"Alin jarang mandi, Alin mandi hanya saat hujan turun"
"Terus Alin tinggal sama siapa?"
"Alin tinggal sama bibi dan paman tapi Alin takut dengan mereka, bibi sering memukul Alin kalau Alin gak nurut sama dia, terus Alin juga sering di hukum karena tidak berguna dan tidak boleh makan" ucap Alin yang kali ini menceritakan kehidupannya dengan tegar.
"Terus apakah paman baik dengan Alin?" tanya Wirmi mencoba mengulik kehidupan Alin lebih detail.
"Iya paman baik tapi akhir akhir itu saat Alin masih disana paman jadi aneh, dia suka pegang pegang Alin dan Alin diajak sama paman ke hutan... Dan paman melakukan itu pada Alin".
Alin yang mulai terbawa suasana langsung ingin menangis namun kali ini Wirmi biarkan Alin untuk menangis karena Wirmi ingin agar Alin menumpahkan rasa sakit, takut yang ada di hatinya.
"Kamu nangis aja kalo mau nangis, gak apa apa kakak tau itu pasti sakit dan sangat menakutkan bagi mu sekarang kakak mau nanya, apakah saat itu paman mu meninggalkan kamu di hutan agar kamu meninggal?" tanya Wirmi yang ingin memastikan pemikirannya saat melihat keadaan Alin untuk pertama kali.
"iya, hiks.... Paman bilang hiks... Karena aku bibi tidak hiks... Mau melayaninya" ucap Alin yang berusia 8 tahun itu membuat Alin tiba tiba emosi.
'Baji**an, dia melampiasi hasratnya ke anak seusia Alin memang gak punya otak' batin Wirmi sudah penuh dengan hawa panas karena emosi yang sedari tadi ia pendam.
"Sudah lupakan semua itu, sekarang kamu mulai hudup bahagia dengan kakak ya" ucap Wirmi yang kali ini mulai menenangi Alin yang tangisannya tidak berhenti.
Hiks... Hiks...
"Alin kenapa nangis terus?" Tanya Wirmi bingung karena Alin tidak mau berhenti nangis.
"A... Alin hiks.... Takut kalo Alin hiks... Hamil, kata paman di hutan kalau Alin akan hamil" ucap Alin yang membuat pikiran Wirmi juga takut.
'Kenapa aku baru inget ya, walaupun Alin masih kecil tapi masih besar kemungkinan dia sudah bisa hamil,... Aduh apa ya, buat gak hamil?... Eh NANAS MUDA'.
"Sudah Alin gak usah takut, kakak akan bantu" ucap Wirmi.
Mendengar ucapan Wirmi itu tangisan Alin mulai berhenti walau masih sesengguan.
"Sekarang kita selesaikan mandi kita ini, Alin bilas badan Alin seperti ini".
Wirmi mulai memperaktekan cara menyiram tubuhnya dengan menggosok tubuhnya.
"Seperti ini kak?" tanya Alin yang juga mulai memperaktekan apa yang di lakukam oleh Wirmi.
"Nah benar, hebatnya anak kakak" ucap Wirmi yang mulai merasa janggal dengan panggilannya.
'Alin anak angkat gue tapi dia manggil gue kakak hm... Harus di ubah sepertinya'
"Alin mau manggil kakak apa, kakak, ibu, atau mama, mami atau momo? tanya Wirmi memberi banyak opsi saat mereka tengah mengeringkan badan.
__ADS_1
...****************...
...Terima kasih yang udah baca sampai ini, mohon bantuannya untuk komen dan juga beri tanda suka untuk setiap babnya untuk mensupport saya. saya mohon maaf kalau cerita ini banyak kurangnya....