Hahh? Aku Bertransmigrasi

Hahh? Aku Bertransmigrasi
Bab 31


__ADS_3

...Guys mohon supportnya ya, semoga karya ini bisa menghibur kalian....


...****************...


"Aku tidak ada masalah dengan mu, tapi aku muak melihat mu jadi selama kamu hanya menumpang di rumah ku jangan pernah ganggu aku. atau kamu bisa pergi dari rumah ini".


"WIRMI.... Hentikan omongan mu yang kasar itu" ucap Liam secara tiba tiba yang langsung mendekat ke arah 2 wanita yang sedang berseteru.


Wirmi yang melihat Liam mendekat mulai malas mleanjutkan drama ini dan pergi tanpa pamit.


"Istriku... Wirmi..." panggil Liam yang melihat istrinya pergi tanpa pamit.


"Huft... Maafkan istriku Dewi, dia hanya terlalu cemburu dengan kamu" ucap Liam yang meminya maaf kepada Dewi.


"Iya tidak apa apa kak, aku juga yang salah, aku menyapanya duluan dan dia mungkin merasa twrganggu, seharunya aku tidak mengganggu kesibukannya" ucap Dewi yang penuh kesedihan dan membuat Liam yang polos ini jadi merasa tidak enak.


"Sudah bukan salah mu, entar aku akan nasehati istriku lagi" ucap Liam yang mendapat sanggahan dari Dewi.


"Tidak usah, itu akan membuat hubungan kakak dan kakak ipar akan memburuk, biar aku saja yang balik ke kampung kak, sudah cukup waktu untuk berkunjung ke sini dan terima kasih kak sudah memperbolehkan Dewi tingg disini".


"Kamu gak harus pergi Dewi, kamu bisa tinggal disini kalau kamu masih ingin disini tapi kakak tidak bisa memaksa, kalau kamu memang benar benar ingin pulang biar gio yang akan menemani kerja" ucap Liam dan setelah obrolan obrolan singkat itu Dewi pamit pergi ke kamarnya.


'Aku tidak akan pergi secepat ini kakak'.


Wirmi yang sebenarnya masih belom pergi dari tempat itu, Wirmi hanya bersembunyi di balik pohon dan berusaha mendengar percakapan Liam dan Dewi.


'Cih belaga sok mau pulang, awas besok aku masih melihat mu disini' gerutu Wirmi kesal melihat ucapan Dewi yang kelihatan benget kalau lagi membual. Dewi yang pergi ke kamarnya juga tak luput dari pandangan Wirmi.


'Aku tidak akan kalah dari mu' gumam Wirmi penuh tekad, Wirmi yang sudah tidak ada urusan lagi untuk bersembunyi langsung keluar dan pergi ke dapur untuk menemui Ajeng


"Ajeng aku ingin bicara dengan mu" ucap Wirmi yang sudah menemukan Ajeng di dapur.


"Iya, ada apa nona?" tanya Ajeng dengan raut wajah bingung melihat bosnya tiba tiba datang mencarinya.

__ADS_1


"Aku ingin mengobrol dengan mu di ruangan ku, jadi ayo kita ke ruang kerja ku" ucap Wirmi yang mengajak Ajeng untuk mengikutinya.


Wirmi yang ingin secepatnya menyelesaikan urusan ini membuat langkah yang Wirmi lakukan sangat cepat bagi Ajeng, sedangkan Ajeng sendiri bingung dan lelah yang harus ikut berjalan cepat agar nonanya tidak perlu menunggu untuk sampai.


"Ajeng aku ingin meminta bantuan mu" ucap Wirmi setelah melihat Ajeng yang sudah duduk.


"Nona ingin meminta bantuan apa?".


"Aku akan membuka usaha baru yang kita buat dari nol dimana aku ingin menjual pakaian yang kita buat, pewangi untuk mandi, dan aku ingin membuat olahan hasil ternak maupun kebun jadi aku minta kamu untuk membuatkan sebuah surat untuk kerajaan sehingga barang yang kita buat bisa langsung di salurkan ke mereka, juga kita bisa meminta dana lebih dahulu, apakah kamu bisa?".


"Maksud nona meminta saya untuk membuat surat kerja sama?" tanya Ajeng yang mendapat point dari ucapan Wirmi.


"Iya benar, apakah kita bisa mengajukan kerja sama dengan kerajaan?"


"Menurut saya bisa bisa aja nona, tapi janji yang nona buat harus pasti dan bisa sesuai ekspetasi mereka" ucap Ajeng yang membuat Wirmi mulai berpikir lagi


'Apakah aku perlu mendekatkan diri dengan kerajaan langsung' gumam Wirmi yang memikirkan dirinya harus pindah ke kota untuk bekerja sama langsung


"Benar nona, karena kerajaan bukan tempat untuk menyokong yang tidak pasti, mereka ingin yang jelas dan berguna bagi mereka sehingga jika nona ingin bekerja sama, saya sarankan nona langsung menemui gubernur pemasaran kerajaan (gubernur itu kayak manager)".


"Baiklah aku akan bicarakan dulu dengan Liam, dan jika aku benar benar akan pergi ke kota, aku minta kamu untuk tetap menjalankan dan mengawasi pekerjaan disini".


"Baiklah nona, apakah Adi juga ikut?"


"Pasti, kalau aku pergi kemungkinan besar aku akan mengajak Adi dan liam" ucap Wirmi.


Wirmi yang mulai memikirkan cara lain supaya ia bisa mendapatkan banyak uang dan dapat membangun sekolah bukan gimana nih, rumah penduduk dengan rumah Wirmi terbilang jauh apalagi hanya untuk sekolah yang mereka anggap tidak penting untuk mereka yang berjalan jauh ke sini, sudah pasti tidak ada peminatnya di tambah guru yang akan mengajarkan anak anak juga harus Wirmi datangkan.


Bukan Wirmi gak bisa mengajar tetapi sebenarnya orang yang pintar belom tentu bisa ngajar dsn keterbatasan pengetahuan Wirmi dalam dunia pendidikan sehingga Wirmi berencana memanggil guru supaya yang di ajarkan tidak 'masuk kuping kanan keluar kuping kiri'.


"Baiklah Ajeng, aku ingin tetap kamu menyiapkan surat kerja sama itu dan kemungkinan besar aku hanya akan mengirim surat terlebih dahulu" ucap Wirmi yang sudah memiliki keputusan bulat.


"Baiklah nona" ucap Ajeng dengn menangguk patuh

__ADS_1


"Ya sudah kamu pergilah, kalau membutuhkan sesuatu langsung temui aku" ucap Wirmi dan Ajeng yang memang juga sedang sibuk lantas langsung pergi ke luar dan kembali ke dapur .


'Huft, buat kerja sama dengan kerajaan susah amat dha' gumam Wirmi yang kesal dan memilih keluar dari ruang kerjanya.


Wirmi yang malas untuk mengerjakan sesuatu atau bereksperimen lantas pergi menuju ke kamarnya untuk melihat keadaan Alin.


Hiks... Hiks...


Pada saat menaiki tangga Wirmi dapat mendengar suara isak tangis anak kecil yang langsung membuat Wirmi berlari untuk masuk ke dalam kamar dan yang pertama Wirmi liat dari kamarnya tidak ada yang berubah namun Alin yang seharusnya berada di kasur tidak ada.


Alin?


Hiks... Hiks...


"Alin sayang, dimana kamu?" panggil Wirmi yang mencari Alin di tempat sekiranya ia bisa bersembunyi. Saat Wirmi berjalan ke arah lemati laci yang ada di dekat kamar ia melihat ujung jari kaki sehingga membuat Wirmi bisa bernafas lega


"Huft... hei, Alin" ucap Wirmi mendekat dan menyentuh tangan Alin yang mendapat respon kurang baik dari Alin, anak itu malah menangis makin kencang


Grep


"Alin sudah ya, ini kakak jangan menangis lagi" ucap Wirmi yang menarik Alin agar berada di pelukannya dan Alin yang dalam keadaan lemah langsung menubruk badan Wirmi.


Hiks... Hisk...


"Sudah sayang, ini kakak kamu jangan nangis lagi ya. ayo bangun, kamu aman sama kakak" ucap Wirmi yang berusaha membuat Alin tidak takut lagi dan cara itu berhasil dari yang tadinya Alin menangis sekarang sudah mulai berhenti.


"Sini Alin, bobok disini dulu ya" ucap Wirmi yang menarik Alin untuk tidur di kasur. Alin yang sudah berhenti menangis mulai melangkah untuk tiduran di tempat yang di tunjuk Wirmi dan Wirmi juga ikut tiduran di samping Alin dan mulai memeluknya .


"Alin kenapa....


...****************...


...Terima kasih yang udah baca sampai ini, mohon bantuannya untuk komen dan juga beri tanda suka untuk setiap babnya untuk mensupport saya. saya mohon maaf kalau cerita ini banyak kurangnya....

__ADS_1


__ADS_2