Hahh? Aku Bertransmigrasi

Hahh? Aku Bertransmigrasi
Bab 30


__ADS_3

...Guys mohon supportnya ya, semoga karya ini bisa menghibur kalian....


...****************...


Cup


"Baiklah istriku, walau aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan tapi aku pasti selalu berada di sisi mu. semoga kamu terus tersenyum" ucap Liam yang lagi lagi mengalah dan mengabulkan keinginan istrinya, sebelum Liam keluar dari kamar tidak lupa ia mencium kening Wirmi.


"Nona, ini anak siapa?" tanya Endang setelah memecahkan keheningan akibat adanya ketegangan antara suami istri ini.


'Fafa apakah aku harus jujur atau bagaimana?' batin Wirmi bingung karena takut salah mengambil tindakan.


'Saya serahkan kepada nona keputusannya dan saran saya untuk jujur saja karena akan susah kedepannya menyembunyikan sebuah ke bohongan'.


"Dia Alin, anak yang ku temui di dalam hutan" ucap Wirmi sambil mengelus kepala Alin dengan sayang dan Wirmi memberitahu Endang dengan jujur juga ingin menanyakan pendapatnya.


"AP......"


"Shuttt kamu jangan ribut, kau akan membuatnya bangun dengan suara menggelegar mu" ucap Wirmi kesal dengan Endang karena tidak bisa mengontrol suaranya.


"Hehe maaf nona, terus bagaimana dia bisa seperti ini, banyak luka yang ada di tubuhnya?" tanya Endang yang dapat melihat luka di tubuh Alin dengan jelas.


"Oh iya aku lupa" ucap Wirmi yang baru mengingat untuk memberi obat pada luka Alin. Wirmi lantas bangun dari kasur dan menuju meja rias yang ada beberapa obat obatan.


"Huft, lihat ini. Anak ini akan sangat susah untuk sembuh walau lukanya sudah membaik tapi psikisnya akan terganggu" gumam Wirmi dengan lirih tapi masih bisa di dengar oleh Endang.


'Hening'


'psikis itu apa?'


"Nona psikis itu apa?"


Puk


Wirmi yang mendengar pertanyaan Endang langsung tepuk jidat. 'Wirmi ini zaman nenek moyang mu, mana tau mereka istilah istilah itu'.


"Psikis itu seperti keadaan pikiran sehingga Alin bisa di perkirakan akan mengalami ketakutan dengan apa yang telah terjadi padanya" jelas Wirmi yang berusaha memakai bahasa yang di mengerti Endang dan Endang yang dari sananya kurang mengerti tentang hal itu hanya mengangguk ngangguk saja.


Wirmi yang sudah mengambil obat lantas duduk di dekat tubuh Alin dan mengobati seluruh tubuh alin, Wirmi membuka kain yang menutup tubuh Alin membuat Endang seketika terkejut dalam diamnya, bagaimana tidak terkejut tubuh Alin yang tampak kurus di penuhi memar memar biru dan ada banyak luka baru.


"No..nona sebenarnya apa yang terjadi pada anak ini".


"Aku kurang tau pasti, aku menemukan di sebuah goa dalam hutan dengan keadaan tak berdaya dan tangan, kakinya terikat".


"ASTAGA.... kasihannya anak ini" lirih Endang saat mendengar penjelasan Wirmi.


"Maka dari itu Endang, saya ingin menanyakan pada mu tentang ini, apa yang harus aku lakukan agar anak ini menjadi keluarga ku?" tanya Wirmi yang to the point kepada Endang.

__ADS_1


".... Nona mau menjadikan anak ini menjadi anak angkat?". Tanya Endang karena di zaman ini banyak istilah istilah anak angkat namun di jadikan seorang babu karena status anak angkat hanya unyuk mengikat mereka.


"Iya, orang tua anak ini sudah meninggal dan keluarganya pasti kurang bisa merawatnya maka dari itu aku ingin mengangkatnya menjadi anak ku".


"Oh.... kalau untuk mengangkat anak, nona bisa aja langsung tinggal bareng tapi jika nona ingin anak ini tidak akan lepas dengan nona, ajukan kepada kepala desa, seperti itu yang aku tahu nona" jelas Endang yang membuat otak pintar Wirmi bekerja dengan cepat.


"Baiklah, kamu suruh Adi untuk mengurus ini, aku mau secepatnya anak ini sudah menjadi anak angkat ku karena aku tidak mau hal buruk terjadi lagi".


"Baiklah nona, saya akan pergi memberi tahu Adi" ucap Endang yang pergi dari kamar Wirmi.


Cup


"Alin... Kamu aman sama kakak ya, jadi kamu tidak perlu gelisah seperti ini lagi" ucap Wirmi yang mengecup pelipis Alin dan pergi ke ruang pakaian.


"Untung aku sudah nyiapin baju untuk anak anak ku" gumam Wirmi yang memang semua baju hasil buatannya sudah habis di bagi ke para pekerja.


"Nah ini cocok untuknya" ucap Wirmi yang membawa pakaian yang sudah ia pilih dan memakaikannya pada Alin.


Enghh....


Hiks.... Hiks.....


"Cup..cup... Sayang, bobok ya, kakak tinggal dulu" ucap Wirmi saat Alin yang ngigau dan menangis sudah lebih tenang dan tidur kembali. Setelah selesai dengan Alin, Wirmi pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri


"Ahh segarnya, hm.... Enak nih kalau ada bathtup dan ada pewangi...? Eh kenapa aku gak buat sabun dan sampo secara banyak ya sehingga aku gak perku repot repot menyiapkan dan membuat sabun dan sampo lagi setiap ingin memkaiannya?" gumam Wirmi yang menemukan ide untuk menghasilkan peluang mendapatkan pundi pundi uang lagi.


"Liam aku ingin bicara" ucap Wirmi to the point saat melihat Liam yang berada di ruang makan sedang menikmati sebuah minuman.


"Iya istriku, kamu ingin bicara apa?"tanya Liam yang gembira saat Wirmi akhirnya mau bicara dengannya.


"Kita bicara di ruangan ku" ucap Wirmi yang meninggalkan Liam yang masih terduduk di meja makan, karena di tinggal Liam buru buru bangun dan menyusul istrinya.


"Ada apa istriku, sepertinya kamu serius sekali?" tanya Liam yang sudah menduduki kursi yang ada di depan Wirmi.


"Aku ingin memberi tahu mu bahwa aku telah mengangkat seorang anak menjadi anak kita dan aku memiliki beberapa rencana untuk kamu kerjakan" jelas Wirmi.


"Anak yang tadi?.. Dimana orang tuanya?" tanya Liam yang bingun dan Wirmi akhrinya mnceritakan lagi apa yang terjadi secara mendetail.


"Baiklah istriku, lebih baik kita menjaganya dari pada membiarkannya kembali. Istriku apakah kamu sudah memaafkan ku?" tanya Liam yang merasakan cara berbicara Wirmi tersimpan kekesalan dengannya.


"Belom, aku aka memaafkan mu jika wanita itu tidak ada di rumah ini lagi" ucap Wirmi yabg masih melihat ada dewi di rumahnya.


"Istriku dia adalah saudara ku, jadi kamu jangan seperti ini ya".


"Terserah mu lah dan untuk saat ini juga kamu tidak bisa tidur dengan ku karena ada Alin yang akan tidur dengan ku" ucap Wirmi dengan santai malah membuat Liam terdiam kaku.


"Istriku...."

__ADS_1


"Sudah, sekarang aku mempunyai rencana untuk membeli beberapa tanah di pemukiman dan juga aku ingin membangun sebuah ruangan yang steril di tanah yang masih tersisa di samping rumah" ucap Wirmi yang berencana membeli tanah untuk membangun sekolah dan membuat ruangan yang akan di jadikan tempat pembuatan pakaian, sampo dan sabun, juga pengolahan hasil ternak sehingga Wirmi bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar.


"Aku ikut kamu, dan kapan kamu memproses rencana itu?" tanya Liam yang setuju setuju saja dengan rencana Wirmi karena rencana Wirmi tidak pernah membuatnya menderita.


"Aku akan mengerjakannya setelah uang kita terkumpul cukup banyak" ucap Wirmi yang membuat Liam teringat sesuatu


"Oh iya, untung kamu ingatkan istriku, ini hasil untuk hari ini dan ada beberapa juga yang harus kita beli dan ini catatanya" ucap Liam yang juga menyerahkan kepingan perak dan kertas catatan.


"Baiklah, bolehkan kamu pergi, aku ingin sendiri" ucap Wirmi dan Liam akhirnya pergi setelah itu.


"Hm... Setiap hari aku hanya mendapat 15 perak, sepertinya aku harus menyalurkan hasil perkebunan dan peternakan ke toko toko dan membuka warung makan yang lebih besa di kota, dan... Sepertinya aku harus bekerja sama dengan istana atau pemerintahan" gumam Wirmi setelah melihat hasil pendapatannya yang kurang dari kata cukup untuk membangun sebuah sekolah atau tempat usahanya.


(Uang Wirmi tersisa 263 keping perak dan 410 keping perunggu)


"Sepertinya untuk uang segini aku bisa gunakan untuk menyiapkan alat alatnya, baiklah besok akan aku arahkan para pria untuk gotong royong membuat sebuah ruangan" gumam Wirmi yang sudah berencana mengerjakan pembuatan ruangan steril untuk membuat pakaian, sampo dan sabun juga ruangan untuk pembuatan keju".


Wirmi yang sudah mempunyai rencana itu langsung bergegas untuk menemui Adi.


.


"Adi bisakah kamu kesini sebentar" ucap Wirmi yang melihat Adi sedang memberi makan sapi.


"Iya nona, ada apa?" tanya Adi yang mendekat ke arah Wirmi setelah mencuci tangan dengan se ember air


"Besok suruh anak anak pria yang tugasnya di perkebunan dan di ternak untuk gotong royong membuat ruangan untuk lebih detailnya besok saya jelaskan."


"Baiklah nona, saya akan informasikan kepada mereka"


"Ini kamu beli dengan siapa aja bebas, saya ingin membuat ruangan yang steril jadi dalam ruangan harus bersih, kamu beli bahan bahan untuk mmbuat sekitar 5 ruangan dengan luas 25m², apakah kurang?" tanya Wirmi yang memberi 10 keping perak kepada Adi.


"Baiklah nona, ini sudah lebih dari cukup, apakah saya perlu juga meminta izin kepada kepala desa?" tanya Adi yang sudah bersiap untuk pergi.


"Boleh, saya minta juga untuk Alin, anak angkat saya juga kamu urus" ucap Wirmi dan Adi hormat sebagai tanda siap.


Wirmi yang sudah selesai urusannya dengan Adi ingin mencari Ajeng untuk meminta bantuannya namun dalam perjalanan bukang Ajeng yang dia lihat tapi seorang dewi jalangkung, Siapa lagi kalau bukan dewi.


Wirmi yang berpapasan di kebun dengan dewi acuh tak acuh namun berbeda dengan dewi


"Halo kakak ipar, salah kenal" ucap dewi menghentikan Wirmi yang ingin pergi namun tidak di respon oleh Wirmi.


"Kak, kamu ada masalah apa dengan aku sehingga kamu sangat tidak suka demgan ku?" ucap dewi lagi yang membuat Wirmi lama lama jengah.


"Aku tidak ada masalah dengan mu, tapi aku muak melihat mu jadi selama kamu hanya menumpang di ruamh ku jangan pernah ganggu aku. atau kamu bisa pergi dari rumah ini".


"WIRMI.....


...****************...

__ADS_1


...Terima kasih yang udah baca sampai ini, mohon bantuannya untuk komen dan juga beri tanda suka untuk setiap babnya untuk mensupport saya. saya mohon maaf kalau cerita ini banyak kurangnya....


__ADS_2