
“Maaf dik… permisi ya dik”. Sapa Odjie berusaha setengah
mati untuk tetap tenang. Perlahan Odjie merangkak keluar dari kolong ranjang
yang sempit itu. Gerakannya yang panic membuat kain putih di atasnya tertarik
dan menutupi dirinya. Kini ia terlihat seperti sesosok pocong yang kabur
sebelum kainnya sempat diikat.
Anita yang sedang berjalan kea rah ranjang jenazah Obeng,
terkejut ketika melihat sebuah sosok muncul dari kolong ranjang dan menarik
kain putih dari ranjang diatasnya. Obeng yang tak sadar kainnya terbuka, masih
terus berbaring di sana berpura-pura jadi mayat.
“Seeeeeeettttaaaannnnnnnnnnnnnnnnn!!!!!!!!” Odjie berteriak
dalam bungkusan kain putih lalu berlari keluar setelah sebelumnya menabrak
beberapa meja jenazah.
Mendengar keributan yang di sebabkan Odjie, Obeng membuka
matanya dan mendapati Anita sedang memandangnya dengan wajah bingung.
“Hehehe halo mbk….” Sapa Obeng sambal tersenyum kikuk.
“Lu orang apa mayat?” Tanya Anita heran.
“orang …. Mbak siapa?”
“Saya Anita, saya mau nyari sepupu saya mas… Lala namanya.”
“Waahhh it’s not simple mbk!” jawab Obeng sambal mendudukan
dirinya. “Kebanyakan mayat di sini kagak ada namanya mbk.”
“Dia mati kemarin, ditabrak kereta.”
“Oh yang mati ketabrak kereta..” Obeng menggaruk kepalanya
yang tidak gatal itu.
“Aduh mbk I’m pery pery pery sorry mbak, mayatnya gone,
alias ilang mbk.”
“ilang??” Tanya anita merasa mungin ia salah dengar.
“Iya ilang mbk mayatnya.”
“ilang kemana?” terdengar nada tinggi dalam suaranya.
__ADS_1
“Kagak tahu, curiganya sih kabur mbak” jawab Obeng ringan.
“Mayat bisa kabur?”
Obeng menjawab dengan sekali anggukan. Jidat anita
mengkerut, merasa bingung. Apakah dia harus percaya atau tidak.
Sore hanrinya, setelah kembali dari rumah sakit, anita dan
siska kembali kerumah kontraknnya. Di sebuah ruang tamu sederhana yang dinding
putihnya terlihat kusam, mereka sedang duduk di atas sebuah sofa kulit warna
hijau sambal membahas tentang hilangnya mayat Lala.
Siska yang memakai baju putih plos dengan celana pendek
sedang memegang segelas the hangat ketika ia menyampaikan teorinya. “Ini pasti
permainannya orang-orang pemburu mayat itu deh… mereka tuh pengen minta duit ke
kita, kalo lu bayar, baru deh tuh mayat kembaran lu di keluarin.” Ujar siska
dengan nada kesal.
“Tapi mayatnya memang kagak ada sis, …” jawab Anita sambal
menatap kosong meja tamu yang ada di depannya. “Katanya mas yang jaga sih,
kalua mayat masih punya dendam, dia bakalan hidup lagi dan mengentanyangin
Siska diam seketika, mengingat-ingat apakah semasa hidupnya
ia pernah menyakiti hati Lala. Ia pun bergidik membayangkan arwah Lala
bergentayangan untuk membalas dendam.
“Hii serem banget sih, .. udah gue tidur dulu, tiba-tiba
pusing kepala gue”. Siska bangun dari duduknya masih sambal membawa gelas the panasnya
dan berjalan menuju ke kamarnya.
Sekarang Anita tinggal sendiri di ruang tamu. Kesunyian yang
mengambang membuat ia semakin teringat dengan Lala. Anita mengambil HPnya dari
meja lalu mendorong ke atas slidenya untuk melihat wallpaper yang berisi foto
dirinya dan Lala sedang berpose norak dan sok manis di sebuah tempat liburan di
daerah Bandung. Tanpa sadar Anita tersenyum menginta nasa-masa itu. Kembarannya
tampak sangat cantic dan kelihatan ceria di foto ini. Diam-diam di dalam hati
__ADS_1
ia bertanya-tanya, apa yang sudah Lalu lakukan di rel kereta api itu di malam
hari di malam kematiannya itu. Apak memang dia bermaksud untuk bunuh diri??
“Lala…” Anita menggumamkan nama saudara kembarnya. Sementara
itu air matanya melele setetes demi setetes mambasahi kedua pipinya.
Anita membuka phonebook di Hpnya lalu memilih salah satu
nomor daftar itu. Ia meletakkan Hpnya di telinga kirinya lalu terdiam sambal
menunggu jawaban dari dalam telepon.
“Halo Ndre…” suara Anita terdengar lemah dan putus asa.
Disebuah ruangan yang besar yang bernuansa kayu, beberapa
orang berpakaian rapi duduk mengelilingi sebuah meja lonjong yang panjang,
seorang laki-laki berambut tipis dan berkaca mata tebal sedang mempresentasikan
sesuatu dengan berapi-api ke semua peserta rapat, terutama kepada Andre yang
mendengarkan dengan serius. Tiba-tiba Hp Andre bergetar. Ia melihat ke layar HP
yang sedang bergerak-gerak di atsnya. Nama “Anita saying” muncul di layar.
“Halo.” Jawab Andre berbisik. “Loh kenapa nangis nit?”
“Lala ketabrak kereta Ndre.”
“Lala?” jawab Andre dengan nada sedikit resah.
“saudara kembar gue yang bisu tuli, Ndre, yang di Bandung.
Yang rencananya mau tinggal bersama di Jakarta.”
“Oh iya dia, sorry kenapa Nit?” jawab Andre sambal
memindahkan Hpnya dari telingan sebelah kiri ke telinga sebelah kanan.
“Dua hari yang lalu kan dia udah janji mau kesini. Aku
tungguin kok kagak nongol-nongol, aku piker dia nggak jadi datang, eh nggak
taunya tadi pagi aku di telepon Ndre, aku di kasih tau kalua dia udah mati
ketabrak kereta Ndre”
Anita sudah tidak dapat lagi menahan kepedihannya, maka ia
pun menangis.
Di dalam ruang rapat, jauh di Medan, Andre hanya bisa
__ADS_1
terdiam mendengar suara tangis Anita. Sementara itu di depannya pria berambut
tipis dan berkacamata tebal itu masih terus berbicara dengan semangat.