
Gugun terdiam sesaat, lalu setelah beberapa saat kemudian ia
bertanya kembali, “Kok diem aja sih neng?”sombong amat.”
“aye udah jawab bang, aye baru pulang dari tempat kerja.”
“Neng kok diam aja sih? Ngomong dong neng.”
“Loh saya sudah ngomong tadi.” Si cewek seksi mulai
terpancing emosinya.
“Neng! Jangan diam aja dong!”
“Aduh abang budeg deh ah! Udah dari tadi aye teriak – teriak
masih kagak dengar juga.!”
Lampu lalu lintas beruabh hijau, Gugun pun kembali memacu
montornya.
Tidak terlalu jauh di samping mereka, seorang bapak penjaga
pintu perbatasan kereta api berteriak memperingati si tukang ojek dan si cewek
seksi.
“Awas, kereta mau lewat!”
“Bang! Pelan – pelan, kereta mau lewat katanya, bang!”
Seperti tidak ada yang berbicara dengannya, Gugun terus
mengendarai montor. Sedangkan kedua motor yang tadi turut berhenti di lampu
__ADS_1
merah yang sama, sekarang sudag berhenti.
“Abang! Aduh budge amat sih ni orang! Bang! Pelan bang. Pelan…
si wanita tidk sanggup meneruskan kata – katanya. Ia melihat sepaasang tangan
pucat yang menjulur dari depan, sedang menutup kuping si tukang ojek. Penasaran,
si cewek seksi menengok ke depan dari balik punggung si tukang ojek, dengan
mata tajam yang memelototi si cewek seksi.
“Akkhhhhhh!” melengking teriakan si cewek seksi.
Setan budge tersenyum. Lalu si cewek melihat sebuah kereta
mendekat dari samping dengan cepat. Lampu sorotpada kereta itu seperti sebuah
mata yang sedang melotot. Sadar maut sdang menghampiri dengan cepat, si cewek
seksi langsung melompat turun dari belakang motor dan terjatuh di samping rel
Ketika itu, ia masih sempat melihat si setan budge dan si
tukang ojek melaju ke tengah rel kereta api. Pada saat si setan budge melepaskan
tangannya dari telinga Gugun, suara gemuruh roda kereta langsung merasuki
rongga telinganya, reflek ia menoleh ke samping dan melihat kereta itu sudah
berada di dekatnya, dan …wuuss… seperti ular besar yang melahap mangsanya,
kereta api itu menabrak si tukang ojek tanpa sisa.
Mayat si tukang ojek yang terpental beberapa meter dari
__ADS_1
tempat ia tertabrak kini terkulai di samping rel kereta api. Beberapa bagian
tubuhnya sudah terlepas entah kemana. Di samping mayat itu, setan budge berdiri
dengan dingin sambal menatap seonggok daging yang tak lagi bernyawa. Melihat jelas
wajah si tukang ojek, yang meski lebam di mana – mana, sekelibat kenangan
bangkit dari ingatan si setan budeg.
Malam itu, malam dimana ia tertabrak kereta, si tukang ojek
ini tidak mau membantunya lari dari kejaran sip ria berponco. Ia malah meracau
tak jelas tentang saudaranya yang juga bisu. Sekarang si tukang ojek sudah
mendapatkan balasannya, merasakan sakit yang di rasakan si gadis bisu, jauh
sebelum ia menjadi seperti sekarang. Satu luka sudah di balas luka, namun
sakitnya belum juga pergi, karena masih ada luka – luka lain yang perlu di
bayar.
***
Maaf ya untuk para setia pembaca novel ini telat update. Maklum
authornya lagi lumayan bersibuk ria dengan tugas- tugas mengajarnya di sekolahan.
Sebagai gantinya hari ini author usahakan untuk update beberapa
bab yaaa. berharap dengan updatenya hari ini bisa menghibur para pembaca.
Selamat membaca, semoga dengan membaca dapat menghibur hati
__ADS_1
para pembaca semua.
Salam sehat dan salam bahagia untuk kita semua. Aamiin aamiin