
Pagi ini matahari terbit dengan cerah, memancarkan sinarnya
terhangat bagi semua yang ada di bawahnya. Termasuk rumah kontrakan yang
sederhana yang terletak di smping rel kereta api Manggarat. Di dalamnya Anita
sedang tertidur dengan lelap sambal memeluk bantal gulingnya dengan erat.
Seperti sedang bermimpi memeluk kekasihnya. Handphonenya bordering dengan suara
nyaring mengeluarkan suara music dangdut tentang jatuh cinta milik penyanyi
terkenal Titik Puspa. Pada layar Handphonnya tertera caller id ‘Andre Sayang’
dengan foto wajahnya close up memenuhi layar dengan senyum khas seorang playboy
berkelas. Anita terbangun dan mengambil Hpnya dari meja kecil di sebelahnya.
“Pagi Andre-ku sayang.” Sapanya antara mesra dan mengantuk.
“pagi Anita-ku saying, baru bangun ya?” jawab lelaki itu tak
kalah mesra sambil terus memacu mobil sedan mewahnya.
“Iya . kamu dimana sekarang?”
“On the way ke bandara sayang.”
“Berapa lama sih kamu ke Medan?” Tanya Anita masih dengan
suara manjanya sambil terus memeluk gulingnya.
“Tiga sampai empat hari sayang.” Andre berhenti disebuah
lampu merah, lalu memindahkan teleponnya dari telinga sebelah kiri ke telinga
sebelah kanannya. “Kamu nggak kuliah hari ini?”
“Kuliah sayang, ya sudah yah. Aku mau mandi dulu mau
siap-siap berangkat kuliah. Kamu hati-hati ya sayang.” Jawab Anita sambal
merenggangkan tubuh seksinya diatas kasur.
“Okey anita ku sayang.”
“ I Love you so muccchhhh”
“ I Love you too. Bye!” Anita menutup HP dengan senyum
bahagia menghiasi wajah cantiknya yang mampu menaklukan berjuta laki-laki. Lalu
ia melompat turun dari kasurnya dan menyambar handuk yang bertengger di bangku
di sebelahnya.
Sesampinya di kamar mandi, Anita melepas satu persatu
piyamanya lalu pakaian dalamnya. Ia menyalakan air pancuran yang langsung
berhamburan membasahi kulitnya yang halus kecoklatan. Bulir-bulir air mengalir berkejar-kejaran
di setiap lekuk tubuhnya yang berkelok sempurna. Ketika ia mulai menyabuni
__ADS_1
tubuhnya, tiba-tiba air pancuran mati.
“Siska! pipanya bocor lagi deh kayaknya? Airnya mati lagi
sis! Siska!”
Tidak ada jawaban yang terdengar. Seketika suasana menjadi
hening, terlalu hening. Angina angina dingin bertiup di dalam kamar mandi yang
terttutp rapat itu, seketika tubuhnya menggigil kedinginan. Anita mengambil
handuk yang tergantung di belakang pintu lalu melilitkannya di tubuhnya.
Tiba-tiba air pancuran kembali menyala denga keras membasahi Anita yang sudah
di balut handuk. Anita langsung berusaha mematikan air pancurannya dan
berhasil. Air itu langsung berhenti.
Samar-samar di belakangnya, Anita mendengar dengan jelas ada
suara kereta api yang seakan-akan melintas tepat di belakangnya. Spontan Anita
langsung menoleh dan tercengang melihat tembok kamar mandinya hilang dan
berganti dengan rel kereta api. Belum sempat ia mencerna apa yang sebenarnya
sedang terjadi, sekejap dia sudah berada di tengah-tengah rel kereta api masih
dengan handuk melilit ditubuhnya. Di kejauhan sebuah kereta mendekat dengan
cepat ke arahnya. Anita bisa melihat ada orang-orang di sekitarnya berusaha
memperingatinya. Tapi dia tidak bisa mendengar suara mereka seolah-olah mereka
menabrak. Ia berusaha melarikan diri, tapi kainya seperti terpancang atas rel
kereta api. Lalu di antara kerumunan orang-orang disekitarnya, Anita melihat
seorang gadissedang tersenyum ke arahnya.
“Lala” Anita menggumamkan nama wanita itu.
Kereta semakin dekat, tanah tempatnya berpijak bergetar
hebat seakan- akan kereta itu sangat besar, jauh lebih besar dari kereta pada
umumnya. Ketika kereta itu sudah berada tepat di hadapannya. Anita berteriak
sambal mengangkat tangannya menutupi wajahnya.
“Akkkkhhhhhhhh”
“Anita! Anita!” terdengar sayup- sayup suara siska memanggil
dirinya.
Ketika ia membuka matanya, ia sudah berada kembali di kamar
mandi, sedang berjonkok sambal memegang bahunya. “Siska … apa yang terjadi sama
gue?” Tanya Anita dengan wajah pucat.
__ADS_1
“Elo teriak-teriak kalo airnya mati, begitu gue kesini, elo
udah tiduran di lantai, kenapa sih lu?”
“gue nggak tau, tiba-tiba gue pindah ke rel kereta.”
“Aneh! Ketduran kali lu, terus mimpi!” jawab Siska sambal
membantu Anita berdiri. Dari luar kamar mandi terdengar HP Anita berbunyi.
“Tolong sis angkatain Hp gue!” mohon Anita sambal masij
mengumpulkan kesadarannya. Siska mengangguk, lalu ia keluar dari kamar mandi
mengambil Hp di atas meja kecil di sebelah Kasur anita dan meletakannya di
telinga kanannya.
“Hallo…” siska mendengar suara seorang laki-laki bertanya
tentang Anita. “Anita sedang mandi pak, saya temannya. Ada apa ya?” siska
kembali mendengarkan suara laki-laki di telepon itu dengan serius. “Iya betul…
iya pak, dia sepupunya Anita. Memang kenapa apk?” ketika pria yang di ujung
telepon menjelaskan maksud ia menghubungi Anita, wajah siska langsung menjadi
tegang dan shock.
Di dalam kamar mandi, Anita meraba tembok yang tadi hilang,
dan membawa dia sampai ke rel kereta api. Kepalanya menjadi pusing, seperti
akibat terbentur tembok ketika tadi ia tak sadarkan diri. Lalu pintu kamar
mandi terbuka perlahan, Siska muncul dengan wajah shock.
“Kenapa Sis?... Andre nggak apa-apa kan?”
“Kenapa Andre…” suaranya tercekat sampai di sini. Hamper
saja ia tak mampu meneruskan berita duku ini.
“BUkan Andre, tapi Lala Nit.”
“Lala? Kenapa Lala?”
“Lala … tewas tertabrak kereta, Anita.”
Seperti ada yang menghamtam kakinya dengan godam, tiba-tiba
ia merasakan lututnya lemas dan pandangannya kabur. Ia bersandar di dinding
kamar mandi. Sepupunya, yang begitu disayangnya, yang berjanji untuk tinggal
bersamanya di Jakarta, sekarang sudah tiada. Lalu sekelibat memori merasuki
pikirannya, Anita teringat tentang mimpinya tadi ketika Lala berada di antara
kerumunan orang-orang di stasiun kereta api. Ketika itu Lala tidak seperti
orang lain yang berusaha menyelamatkan dia. Tidak. Ia hanya diam di antara
__ADS_1
mereka, memandang dan tersenyum tajam, seakan-akan menikmati apa yang
dilihatnya.