Hantu Dara

Hantu Dara
Delapan


__ADS_3

Pagi ini matahari terbit dengan cerah, memancarkan sinarnya


terhangat bagi semua yang ada di bawahnya. Termasuk rumah kontrakan yang


sederhana yang terletak di smping rel kereta api Manggarat. Di dalamnya Anita


sedang tertidur dengan lelap sambal memeluk bantal gulingnya dengan erat.


Seperti sedang bermimpi memeluk kekasihnya. Handphonenya bordering dengan suara


nyaring mengeluarkan suara music dangdut tentang jatuh cinta milik penyanyi


terkenal Titik Puspa. Pada layar Handphonnya tertera caller id ‘Andre Sayang’


dengan foto wajahnya close up memenuhi layar dengan senyum khas seorang playboy


berkelas. Anita terbangun dan mengambil Hpnya dari meja kecil di sebelahnya.


“Pagi Andre-ku sayang.” Sapanya antara mesra dan mengantuk.


“pagi Anita-ku saying, baru bangun ya?” jawab lelaki itu tak


kalah mesra sambil terus memacu mobil sedan mewahnya.


“Iya . kamu dimana sekarang?”


“On the way ke bandara sayang.”


“Berapa lama sih kamu ke Medan?” Tanya Anita masih dengan


suara manjanya sambil terus memeluk gulingnya.


“Tiga sampai empat hari sayang.” Andre berhenti disebuah


lampu merah, lalu memindahkan teleponnya dari telinga sebelah kiri ke telinga


sebelah kanannya. “Kamu nggak kuliah hari ini?”


“Kuliah sayang, ya sudah yah. Aku mau mandi dulu mau


siap-siap berangkat kuliah. Kamu hati-hati ya sayang.” Jawab Anita sambal


merenggangkan tubuh seksinya diatas kasur.


“Okey anita ku sayang.”


“ I Love you so muccchhhh”


“ I Love you too. Bye!” Anita menutup HP dengan senyum


bahagia menghiasi wajah cantiknya yang mampu menaklukan berjuta laki-laki. Lalu


ia melompat turun dari kasurnya dan menyambar handuk yang bertengger di bangku


di sebelahnya.


Sesampinya di kamar mandi, Anita melepas satu persatu


piyamanya lalu pakaian dalamnya. Ia menyalakan air pancuran yang langsung


berhamburan membasahi kulitnya yang halus kecoklatan. Bulir-bulir air mengalir berkejar-kejaran


di setiap lekuk tubuhnya yang berkelok sempurna. Ketika ia mulai menyabuni

__ADS_1


tubuhnya, tiba-tiba air pancuran mati.


“Siska! pipanya bocor lagi deh kayaknya? Airnya mati lagi


sis! Siska!”


Tidak ada jawaban yang terdengar. Seketika suasana menjadi


hening, terlalu hening. Angina angina dingin bertiup di dalam kamar mandi yang


terttutp rapat itu, seketika tubuhnya menggigil kedinginan. Anita mengambil


handuk yang tergantung di belakang pintu lalu melilitkannya di tubuhnya.


Tiba-tiba air pancuran kembali menyala denga keras membasahi Anita yang sudah


di balut handuk. Anita langsung berusaha mematikan air pancurannya dan


berhasil. Air itu langsung berhenti.


Samar-samar di belakangnya, Anita mendengar dengan jelas ada


suara kereta api yang seakan-akan melintas tepat di belakangnya. Spontan Anita


langsung menoleh dan tercengang melihat tembok kamar mandinya hilang dan


berganti dengan rel kereta api. Belum sempat ia mencerna apa yang sebenarnya


sedang terjadi, sekejap dia sudah berada di tengah-tengah rel kereta api masih


dengan handuk melilit ditubuhnya. Di kejauhan sebuah kereta mendekat dengan


cepat ke arahnya. Anita bisa melihat ada orang-orang di sekitarnya berusaha


memperingatinya. Tapi dia tidak bisa mendengar suara mereka seolah-olah mereka


menabrak. Ia berusaha melarikan diri, tapi kainya seperti terpancang atas rel


kereta api. Lalu di antara kerumunan orang-orang disekitarnya, Anita melihat


seorang gadissedang tersenyum ke arahnya.


“Lala” Anita menggumamkan nama wanita itu.


Kereta semakin dekat, tanah tempatnya berpijak bergetar


hebat seakan- akan kereta itu sangat besar, jauh lebih besar dari kereta pada


umumnya. Ketika kereta itu sudah berada tepat di hadapannya. Anita berteriak


sambal mengangkat tangannya menutupi wajahnya.


“Akkkkhhhhhhhh”


“Anita! Anita!” terdengar sayup- sayup suara siska memanggil


dirinya.


Ketika ia membuka matanya, ia sudah berada kembali di kamar


mandi, sedang berjonkok sambal memegang bahunya. “Siska … apa yang terjadi sama


gue?” Tanya Anita dengan wajah pucat.

__ADS_1


“Elo teriak-teriak kalo airnya mati, begitu gue kesini, elo


udah tiduran di lantai, kenapa sih lu?”


“gue nggak tau, tiba-tiba gue pindah ke rel kereta.”


“Aneh! Ketduran kali lu, terus mimpi!” jawab Siska sambal


membantu Anita berdiri. Dari luar kamar mandi terdengar HP Anita berbunyi.


“Tolong sis angkatain Hp gue!” mohon Anita sambal masij


mengumpulkan kesadarannya. Siska mengangguk, lalu ia keluar dari kamar mandi


mengambil Hp di atas meja kecil di sebelah Kasur anita dan meletakannya di


telinga kanannya.


“Hallo…” siska mendengar suara seorang laki-laki bertanya


tentang Anita. “Anita sedang mandi pak, saya temannya. Ada apa ya?” siska


kembali mendengarkan suara laki-laki di telepon itu dengan serius. “Iya betul…


iya pak, dia sepupunya Anita. Memang kenapa apk?” ketika pria yang di ujung


telepon menjelaskan maksud ia menghubungi Anita, wajah siska langsung menjadi


tegang dan shock.


Di dalam kamar mandi, Anita meraba tembok yang tadi hilang,


dan membawa dia sampai ke rel kereta api. Kepalanya menjadi pusing, seperti


akibat terbentur tembok ketika tadi ia tak sadarkan diri. Lalu pintu kamar


mandi terbuka perlahan, Siska muncul dengan wajah shock.


“Kenapa Sis?... Andre nggak apa-apa kan?”


“Kenapa Andre…” suaranya tercekat sampai di sini. Hamper


saja ia tak mampu meneruskan berita duku ini.


“BUkan Andre, tapi Lala Nit.”


“Lala? Kenapa Lala?”


“Lala … tewas tertabrak kereta, Anita.”


Seperti ada yang menghamtam kakinya dengan godam, tiba-tiba


ia merasakan lututnya lemas dan pandangannya kabur. Ia bersandar di dinding


kamar mandi. Sepupunya, yang begitu disayangnya, yang berjanji untuk tinggal


bersamanya di Jakarta, sekarang sudah tiada. Lalu sekelibat memori merasuki


pikirannya, Anita teringat tentang mimpinya tadi ketika Lala berada di antara


kerumunan orang-orang di stasiun kereta api. Ketika itu Lala tidak seperti


orang lain yang berusaha menyelamatkan dia. Tidak. Ia hanya diam di antara

__ADS_1


mereka, memandang dan tersenyum tajam, seakan-akan menikmati apa yang


dilihatnya.


__ADS_2