Hantu Dara

Hantu Dara
Enam Belas


__ADS_3

 ‘Alaah repot amat


sih! Ntar juga kalua si mayat itu udah bosen keluyuran bakalan come back ke


sini.” Obeng menjawab dengan cuek sambal sekarang mengipasi ketiaknya.


“Tapi bang kalo kita nemuin tuh mayat, cewek yang kemarin ke


sini.. hmm.. siapa namanya?”


“ Anita”


“Iya. Si Anita pasti bakalan seneng banget, abang bakalan di


puja – puja.” Ujar Odjie memanas – manasi si Obeng.


Secercah cahaya berbinar dimata Obeng. Kata-kata sahabatnya


yang lugu ini telah memberikan harapan putusnya rekor jomblo yang telah dipegangnya


selama lebih dari 10 tahun. “Oh yessss, you bener juga ….” Obeng pun mulai


berkhayal, disebuah taman luas, seperti di film-film india, lengkap dengan


pohon dan semak-semak bunga, Obeng sedang berdirimenanti sang kekasih, Anita.


Lalu dari balik salah satu pohon, Anita muncul.


“Obeng!”


“Anita!”


Anita berlari ke arahnya dengan gerak lambat sambal terus


berteriak memanggil namanya. Ketika sudah dekat, Anita langsung melompat kea


rah Obeng, yang menangkap Anita dalam pelukannya dan mereka pun terjatuh ke


atas rumput hijau yang lembut lalu berguling-gulingan untuk beberapa saat dan


berhenti dengan posisi tubuh Obeng berada di atas Anita.


“Aduh Bang Obeng terimakasih yah, Bang Obeng hebatdeh.” Ucap


Anita malu-malu dengan pipi yang bersemburat jingga.


Lalu ia memonyongkan bibrnya hendak mencium pipi Obeng, yang


langsung menutup matanya bersiap menerima bibir lembut itu di pipinya. Seraya


bibir Anita semakin mendekat, bukannya wangi yang di ciumnya, tapi hawa panas


dan bau busuk menusuk hidungnya.

__ADS_1


“Waduh Anita, mulut you sedep amat ya baunya…” goda Obeng


sambal senyum-senyum eneg masih menutup matanya.


“yak arena ini mulut gue!” sebuah suara berat merusak


indahnya khayalan Obeng.


Ia pun langsung segera mambuka matanya dan menemukan wajah


sukun berada di dekat dengan wajahnya, sedangkan tangannya memeluk erat tubuh


Sukun.


“Plaaakkk!” kepala Obeng di


tepuk supaya ia benar-benar sadar dari khayalannya. “melamun melulu kerjaan


lu!” bental Sukun kepada Obeng yang sedang mengusap-usap kepalanya. “Ayo cabut!


Kita kudu ngambil mayat, ada tukang ojek kesamber kereta di rel”.


Menunggu sendirian di jalan yang gelap membuat siibu cantic


merasa tidak tenang. Ia mencoba untuk tidur, tapi setiap kali ia memejamkan


mata, ia merasa ada seseuatu yang pelan-pelan mendekati wajahnya. Tapi ketika


ia membuka mata, di depannya tidak ada apa-apa. Suasana gelap di sekitarnya


maka si ibu cantic mengambil dongkrak dari bagasi dan mencoba untuk mengganti


sendiri ban mobilnya. Berkali-kali ia mencoba memasang dongkrak namun selalu


gagal. Akhirnya ia sampai ke puncak frustasi dan melemparkan dongkrak itu ke


jalanan.


“heran, kok nggak ada orang yang lewat sini?” dalam hati ia


merasa kejanggalan yang tak ia mengerti.


Akhirnya ia kembali ke dalam mobil, mengambil kotak rokok


dari dashboard dan menyulut sebuah. Ia menarik asapnya dalam-dalam lalu


membuangnya perlahan. Seketika detak jantungnya melambat, kekeselannya pun


mulai melemah.


Suasana begitu hening, bahkan bunyi angina pun tak


terdengar. Si ibu cantic menekan tombol on pada tapenya dan suara music sopran

__ADS_1


kesukaannya mengaun dari speaker. Suara music membuatnya semakin tenang hingga


ia bersandar dibangku sambal terus menikmati sebatan rokokyang mengepul di tangannya.


Tanpa maksud si ibu cantic melihat ke kaca tengah mobilnya dan di sana, di


bangku belakang sebelah kiri, ia melihat sesosok perempuan berbaju putih dan


berkulit pucat sedang menatapnya dengan mata merah dari sela-sela rambut


panjang yang menutupi wajahnya.


“Akhhhhh!” ibu cantic melonjak dari dalam mobilnya keluar.


Lalu melalui jendela kaca belakang ia melihat ke bangku belakang, kosong.


Tiba-tiba suasana menjadi hening. Lagu dari tapenya tak lagi terdengar.


“kok mati radionya?” si ibu cantic tampak bingung lalu


kembali duduk di dalam mobil. Ia memeriksa power pada tapenya, “ aneh? Nyala


kok powerny! tapi kenapa nggak ada suaranya ya?”.


Tiba-tiba sebuah keanehan terjadi padanya. Sejenak ia bisa


mendengar suara music dari tapenya, namun beberapa detik kemudian hilang,


kembali hening. Kejadian ini terjadi beruang-ulang.


“Aduh kenapa sih kuping gua? Bentar denger! Bentar budeg!


Bentar dengar! Bentar budeg…”


Si ibu cantic berpaling kea rah spion mobilnya dan melihat


dengan jelas tepat di belakangnya sesosok setan perempuan yang tadi menatapnya,


sedang membuka dan menutup kupingnya berkali-kali. Kali ini wajah setan


perempuan itu terlihat jelas sedang menatap ke bawah. Setengah wajahnya yang


tidak tertutup rambut tampak hancur. Menyadari si ibu cantic sedang mengawasinya,


setan itu menyetakan matanya tiba-tiba, melihat kea rah si ibu lalu tersenyum


tajam sambal terus memainkan telinganya.


“Ahhhh!” si ibu cantic langsung melompat keluar dari


mobilnya dan berlari ketakutan dalam gelap. Sambal berlari tangannya terus


memukul-mukul kupingnya dengan kasar, seperti ketika seorang ingin mematikan

__ADS_1


api yang terbakar di tubuhnya.


__ADS_2