
‘Alaah repot amat
sih! Ntar juga kalua si mayat itu udah bosen keluyuran bakalan come back ke
sini.” Obeng menjawab dengan cuek sambal sekarang mengipasi ketiaknya.
“Tapi bang kalo kita nemuin tuh mayat, cewek yang kemarin ke
sini.. hmm.. siapa namanya?”
“ Anita”
“Iya. Si Anita pasti bakalan seneng banget, abang bakalan di
puja – puja.” Ujar Odjie memanas – manasi si Obeng.
Secercah cahaya berbinar dimata Obeng. Kata-kata sahabatnya
yang lugu ini telah memberikan harapan putusnya rekor jomblo yang telah dipegangnya
selama lebih dari 10 tahun. “Oh yessss, you bener juga ….” Obeng pun mulai
berkhayal, disebuah taman luas, seperti di film-film india, lengkap dengan
pohon dan semak-semak bunga, Obeng sedang berdirimenanti sang kekasih, Anita.
Lalu dari balik salah satu pohon, Anita muncul.
“Obeng!”
“Anita!”
Anita berlari ke arahnya dengan gerak lambat sambal terus
berteriak memanggil namanya. Ketika sudah dekat, Anita langsung melompat kea
rah Obeng, yang menangkap Anita dalam pelukannya dan mereka pun terjatuh ke
atas rumput hijau yang lembut lalu berguling-gulingan untuk beberapa saat dan
berhenti dengan posisi tubuh Obeng berada di atas Anita.
“Aduh Bang Obeng terimakasih yah, Bang Obeng hebatdeh.” Ucap
Anita malu-malu dengan pipi yang bersemburat jingga.
Lalu ia memonyongkan bibrnya hendak mencium pipi Obeng, yang
langsung menutup matanya bersiap menerima bibir lembut itu di pipinya. Seraya
bibir Anita semakin mendekat, bukannya wangi yang di ciumnya, tapi hawa panas
dan bau busuk menusuk hidungnya.
__ADS_1
“Waduh Anita, mulut you sedep amat ya baunya…” goda Obeng
sambal senyum-senyum eneg masih menutup matanya.
“yak arena ini mulut gue!” sebuah suara berat merusak
indahnya khayalan Obeng.
Ia pun langsung segera mambuka matanya dan menemukan wajah
sukun berada di dekat dengan wajahnya, sedangkan tangannya memeluk erat tubuh
Sukun.
“Plaaakkk!” kepala Obeng di
tepuk supaya ia benar-benar sadar dari khayalannya. “melamun melulu kerjaan
lu!” bental Sukun kepada Obeng yang sedang mengusap-usap kepalanya. “Ayo cabut!
Kita kudu ngambil mayat, ada tukang ojek kesamber kereta di rel”.
Menunggu sendirian di jalan yang gelap membuat siibu cantic
merasa tidak tenang. Ia mencoba untuk tidur, tapi setiap kali ia memejamkan
mata, ia merasa ada seseuatu yang pelan-pelan mendekati wajahnya. Tapi ketika
ia membuka mata, di depannya tidak ada apa-apa. Suasana gelap di sekitarnya
maka si ibu cantic mengambil dongkrak dari bagasi dan mencoba untuk mengganti
sendiri ban mobilnya. Berkali-kali ia mencoba memasang dongkrak namun selalu
gagal. Akhirnya ia sampai ke puncak frustasi dan melemparkan dongkrak itu ke
jalanan.
“heran, kok nggak ada orang yang lewat sini?” dalam hati ia
merasa kejanggalan yang tak ia mengerti.
Akhirnya ia kembali ke dalam mobil, mengambil kotak rokok
dari dashboard dan menyulut sebuah. Ia menarik asapnya dalam-dalam lalu
membuangnya perlahan. Seketika detak jantungnya melambat, kekeselannya pun
mulai melemah.
Suasana begitu hening, bahkan bunyi angina pun tak
terdengar. Si ibu cantic menekan tombol on pada tapenya dan suara music sopran
__ADS_1
kesukaannya mengaun dari speaker. Suara music membuatnya semakin tenang hingga
ia bersandar dibangku sambal terus menikmati sebatan rokokyang mengepul di tangannya.
Tanpa maksud si ibu cantic melihat ke kaca tengah mobilnya dan di sana, di
bangku belakang sebelah kiri, ia melihat sesosok perempuan berbaju putih dan
berkulit pucat sedang menatapnya dengan mata merah dari sela-sela rambut
panjang yang menutupi wajahnya.
“Akhhhhh!” ibu cantic melonjak dari dalam mobilnya keluar.
Lalu melalui jendela kaca belakang ia melihat ke bangku belakang, kosong.
Tiba-tiba suasana menjadi hening. Lagu dari tapenya tak lagi terdengar.
“kok mati radionya?” si ibu cantic tampak bingung lalu
kembali duduk di dalam mobil. Ia memeriksa power pada tapenya, “ aneh? Nyala
kok powerny! tapi kenapa nggak ada suaranya ya?”.
Tiba-tiba sebuah keanehan terjadi padanya. Sejenak ia bisa
mendengar suara music dari tapenya, namun beberapa detik kemudian hilang,
kembali hening. Kejadian ini terjadi beruang-ulang.
“Aduh kenapa sih kuping gua? Bentar denger! Bentar budeg!
Bentar dengar! Bentar budeg…”
Si ibu cantic berpaling kea rah spion mobilnya dan melihat
dengan jelas tepat di belakangnya sesosok setan perempuan yang tadi menatapnya,
sedang membuka dan menutup kupingnya berkali-kali. Kali ini wajah setan
perempuan itu terlihat jelas sedang menatap ke bawah. Setengah wajahnya yang
tidak tertutup rambut tampak hancur. Menyadari si ibu cantic sedang mengawasinya,
setan itu menyetakan matanya tiba-tiba, melihat kea rah si ibu lalu tersenyum
tajam sambal terus memainkan telinganya.
“Ahhhh!” si ibu cantic langsung melompat keluar dari
mobilnya dan berlari ketakutan dalam gelap. Sambal berlari tangannya terus
memukul-mukul kupingnya dengan kasar, seperti ketika seorang ingin mematikan
__ADS_1
api yang terbakar di tubuhnya.