Hantu Dara

Hantu Dara
Empat


__ADS_3

Sendirian di kamar mayat, Odjie merasa ada yang sedang


mengawasigerak- geriknya. Ruangan itu kecil dan sumpek. Di sekelilingnya mayat-


mayat terbaring berjejer dalam kain putih. Sesekali imajinasinya membangkitkan


salah satu dari jejeran mayat- mayat itu. Odjie mengambil bolpen dari saku


bajunya lalu menunduk ingin menuliskan nama Tag yang tergantung di kaku mayat


si gadis korban gantung diri. Tiba- tiba dia merasa ada melintas di


belakangnya. Odjie menoleh tapi di beakangnya taka da siapa- siapa. Seketika


perasaannya semakin tidak enak.


“santai ji, itu Cuma bayangan lo aja, gimana lo mau jadi


pemburu mayat yang bener kalo elo takut ngeliat setan?” Odjie sengaja berbicara


sendiri, berharap suaranya bias mengusir sunyi yang mengerikan dan menyuntikan


sedekit keberanian.


Ketika ia ingin menlajutkan menulis nama pada Tag tersebut


di kaki mayat si gadis yang gantung diri tangannya gemeteran dan berkeringat,


menyebabkan bolpen yang di pegangnya terlepas dan jatuh menggelinding ke kolong


ranjang jenazah. Odjie pun segera berjongkok berniat untuk mengambil bolpen


yang jatuh tadi, tapi sebuah tangan kecil pucat tibag- tiba muncul dari salah


satu celah kolong ranjang jenazah dan mengulurkan bolpen yang di carinya.


“Terimakasih” Jawab Odjie polos, dalam otak pikirannya belum


menyadari sepenuhnya.


Seperti tersengat listrik, Odjie terpaku. Otaknya berputar-


putar ketika menyadari ada hal yang aneh, berusaha mencari kejelasan yang masuk


akal, kenapa seorang anak kecil bias berada di kolong ranjang jenazah. Ketika


ia tidak bisa sampai pada kesimpulan yang tepat, wajahnya langsung berubah


ketakutan. Ia berbalik dan melihat ranjang jenazah di belakangnya yng dari


ukurannya menyimpan mayat seorang anak kecil.odjie menarik kain putih yang


menutupi ranjang itu. KOSONG!


Dada Odjie langsung terasa sesak, ketakuttanya sudah


memuncak. Merasa ada sesuatu di belakngnya, ia segera berbalik dan melihat kea


rah kolong ranjang dimana bolpennya tadi terjatuh. Seorang anak kecil tanpa


alis dan berwajah pucat sedang menyeringai lebar memandang Odjie “ Tu…..


TUYULLLL!”


Odjie langsung berdiri dan berlari tak karuan keluar dari


kamar mayat. Dia menerobos pintu lalu langsung melompat dan memeluk Obeng yang


sedang berjalan sambal mengucek matanya akibat kantuk.


“Hei apa- apaan sih lo?” Hardik Obeng sembari mendorong


Odjie lepas dari memeluknya.


“Setan bang, ada tuyul di dalam.” Suara Odjie bergetar


hebat.


“Setan kecil? Kepalanya botak?” Selidik Obeng.


“Iya.”

__ADS_1


“Aduh itu sih kagak usah ditakutin, namanya Temon, tuh anak


gebel. Mati kelaparan… dia Cuma nyari temen main aja, lo kagak usah takut… ayo


kita tugas lagi. Ada mayat di rel kereta.” Obeng berbalik dan pergi begitu


saja. Odjie tertegun kaget tak menyangka reaksi Obeng akan secuek itu. Lalu ia


mencoba melihat ke arah belakang, ke arah pintu kamar mayat yang sekarang


sedang terbuka lebar, dan melihat si temon, tuyul kecil iseng itu berdiri di


tengah- tengah pintu masuk sambal sedang melambai-lambaikan tangannya dan


tersenyum lebar.


“Hiiiiii.” Odjie pun langsung lari mengejar si Obeng.


*****


Di depan rumah sakit malam itu, mobil tim pemburu mayat


lagi-lagi tak mau hidup. Suara rengekannya memecah kesunyian malam.


“Djie, dorong.” Perintah sukun singkat dan tajam.


“gua tadikan udah, sekarang gentian Obeng dong.” Rengek


Odjie seperti anak kecil yang disuruh cuci piring berkali-kali.


Sukun memalingkan wajahnya kepada Odjie dengan ekspresi


sebal yang seolah-olah mengatakan “Please deh Djie…”


Sedangkan Obeng juga memalingkan wajahnya ke Odjie, tapi


dengan ekspresi senang yang seolah-olah mengatakan “Selamat mendorong ya Djie.”


Odjie menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya sekaligus


dengan lunglai ia turun dan mulai mendorong mobil. Ketika mesin sudah menyala,


Odjie langsung saja melompat masuk ke dalam. Dan mereka pun pergi menuju Manggarai.


diri sedang berdiri diam. Tapi si tim pemburu mayat melewatinya tanpa ada yang


sadar. Merasa usahanya menakut-nakuti gagal, si setan cewek gantung diri


terlihat BETE.


“Bisanya setan merasa BETE, hehehe” ada-ada aja ulah penulis ini….


Keep smile yaaa para setia pembaca Fizzo


*****


Di ruang kantornya Pak Joko sedang duduk sambal


memincingkanmataya berusaha melihat apa yang salah dengan kaca matanya. Di


belakangnya setan cewek gantung diri sedang berdiri mengawasinya dengan wajah


pucat yang dingin, matanya merah melotot. Terlihat jejak kebiruan tali gantung


melingkar dilehernya. Pelan-pelan ia mendekati Pak Joko, seringai sadis terukir


di wajahnya ketika ia mengangkat tangannya dalam posisi hendak mencekik leher.


Pak Joko yang masih serius mengamati kaca matanya tiba-tiba merasakan ada


sesuatu di belakangnya. Seketika ia langsungberbalik dan berhadapan dengan


wajah setan cewek gantung diri. Pak Joko tampak terkejut dan menahan nafasnya


sementara si setan cewek gantung diri semakin mendekatkan tangannya ke leher


Pak Joko. Lalu dalam suasana mencekam itu, tiba-tiba Pak Joko berkata….


“Sukun!Ngapain sih lo masih disini? Kan dari tadi lo gur


suruh perhi!”

__ADS_1


Ternyata tanpa kaca matanya, Pak Joko jadi setengah buta.


Semua yang dilihatnya menjadi bayangan kabur seperti lukisan yang abstrak. Si


setan cewek gantung diri malah terlihat jadi bingung, kenapa orang ini bukannya


takut tapi malah marah-marah. ( SETAN KOK BISA BERBICARA DALAM HATI YA).


“Jangan mentang-mentang mat ague suture, jadi lu piker gue


kagak tau! Gini-gni mata batin gue masih tajem!... cepat pergi!!! Ntar mayatnya


keburu busuk!” amuk Pak Joko lebih galak dari yang tadi.


Frustasi karena usahnya menakut-nakuti Pak Joko gagal, setan


cewek gantung diri itu menyerah. Wajahnya menyeringai kesal menunjukan sederet


gigi yang kekuningan, lalu ia pun ngeloyor pergi putus asa.


*****


Tak jauh dari rmah sakit itu, tim pemburu mayat kembali


beraksi. Jam menunjukan pukul 02.00 dini hari ketika mereka tiba di rel kereta


api Manggarai. Menurut laporan seorang pria aneh yang tadi menelepon Pak Joko,


mayat itu berada di pinggir rel kereta api. Tapi rel kereta api itu


panjaaaannggggg dan berkelok, mayat itu bisa berada di mana saja di sepanjang


rel kereta api ini. Akhirnya mau tak mau, mereka harus jalan kaki menyusuri


jalur kereta api yang gelap hanya diterangi sebuah lampu senter yang baterainya


sudah sekarat.


Mereka berjalan berderetan memanjang ke samping , Sukun,


Obeng dan Odjie. Setelah beberpa saat berjalan, kaki kanan Odjie menginjak


sesuatu yang empuk. Spontan ia berhenti. Angina dingin bertiup pelan membawa


bau busuk ke dalam rongga hidung Odjie. Pelan-pelan ia mengarahkan senternya


kea rah kaki kanannya. Terlihat sandal jepit, dan…. Kotoran manusia dengan


bekas sandal jepit diatasnya.


“Sialan!” Keluh Odjie.


Sukun dan Obeng yang berada di sebelahnya menahan tawa


melihat kejadian itu.


“Gak lucu tahu.” Denga kesal Odjie mengangkat senter dari


bawah. Sehingga membuat sinarnya berkelebat menyinari sekilas seonggok tubuh


tergeletak di samping rel kereta api.


“Eh, tunggu!” Sukun mengambil senter dari tangan Odjie dan


menjatuhkan sinarnya kira-kira satu meter dari tempat mereka berdiri. Akhirnya


mereka menemukan mayat gadis yang mereka cari.


Sukun berdiri sambil memegang senter menyinari mayat gadis


itu, sedangkan Odjie dan Obeng mengangkat mayat itu ke atas tandu jenazah.


“lengkap badanya?” Tanya sukun sambal memperhatikan kedua


temanya menutupi mayat itu dengan kain putih.


“lengkap bang. Pery complete.”


“yakin lo kagak ada yang copot?”.


“pery complete bang…. Tangan, kaki, semua ada.”

__ADS_1


“untung deh kita, kagak repot.” Sukun berkata dengan ekpresi


lega.


__ADS_2