
Odjie dan Obeng yang sedang memasukan mayat si cewek yang
bunuh diri itu kedalam bagian belakang mobil, mendengar suara tawas yang
mengerikan. Mereka berdua pun kembali merinding. Mereka berdua pun kembali
merinding. Lalu Odjie menutup pintu mobil jenazah, tapi sepertinya pintu itu
macet.
“yang keras nutupnya! Dibanting Djie!” Bentak Obeng
ketakutan sambal menarik gagang pintu mobil jenazah. “BRAAKKKK!” Obeng
membanting keras pintu itu hingga tertutup.
Dari balik semak- semak Sukun muncul sambal berlari
ketakutan. Wajahnya pucat dan nafasnya ngos- ngosa.
“kenapa bang?” Tanya Odjie pura- pura bego.
“iya, ada apa bang! Kenapa lari- lari? Ketemu setan ya?”
Sahut Obeng menimpali.
“Setan? Setan apaan? Gua mana takut sama setan.” Sangkal
Sukun menjaga harga dirinya.
“cewek tadi bukannya arwah nih cewek yang bunuh diri bang?”
Sergap Odjie.
“Kok lo tahun?”
“mukanya mirip.” Sergap Odjie lagi.
Sukun terdiam, ingin rasanya ia menceritakan apa yang
terjadi yang dialaminya barusan. Tapi kalau sampai kedua temannya tahu, dia
pasti akan hanya diledeki setengah mati. Setelah itu ia akan turun kasta
menjadi sama dengan mereka yang pengecut. Daripada dipermalukan, lebih baik
Sukun menderita memendam cerita horo itu untuk dirinya sendiri.
“ah, lu emang sirik ama gue!” jawab Sukun sambal berjalan
masuk ke dalam mobil, ia tk berani memandang Odjie. Kedua temannya mengikuti
Sukun masuk ke dalam mobil juga. Sekarang mereka bertiga duduk berjejer di
depan/ “itu cewek beneran, nafsu banget am ague tadi. Abis gue diciumi, kayak
udah kagak ada hari esok gitu…” obeng dan Odjie hanya memandang Sukun tak
percaya. Sukun menstater mobil jenzah itu. Bunyi mesin merengek- rengek tak mau
menyala.
“Eh, Djie, turun! Lu dorong nih mobil, mogok lagi!”
“Turun Djie!” Sukun setengah membentak.
Dengan terpaksa Odjie turun dari mobil. Ia berjalan menuju
bagian belakang mobil. Sebelum mulai mendorong ia mengecek sekelilingnya. Gelap
dimana- mana, hanya terlihat barisan pohon- pohon besar yang melambai –lambai
__ADS_1
ditiup angina. Ketika Odjie baru akan mendorong mbil jenazah itu, dari kaca
belakang, sekolas ia melihat mayat si cewek korban gantung diri sedang
terbaring pucat. Odjie langsung sekuat tenaga mendorong mobil jenazah tersebut.
Sukun, Odjir dan Obeng pun sudah tiba di markas pemburu
mayat. Saat itu mala sudah semkain tua. Gedung itu yang terlihat keropos
dimana- mana, menegeluarkan hawa angker yang kental. Bermeter- meter tanah
kosong di samping gedung itu menambah nuansa angker gedung ini.
Kali ini, Odjie dan Obeng, yang mendapatkan tugas
mengantarkan mayat si cewek ke kamar mayat. Mereka berdua berjalan sambal
mendorong mayat si cewek di atas meja dorong, menyusuri koridor panjang yang
diterangi oleh cahaya seadanya. Disebelah kanan dan kiri mereka terbentang
taman luas yang ditumbuhi beberapa pohon beringin.
Sesampainya di kamar mayat, Obeng merasa perutnya seperti
diaduk –aduk.
“Eh Odjie… perut gue mules, you aja yang naruh tuh mayat…”
“sendirian?” Tanya Odjie setengah memelas.
“ya iya lah! Eh, jangan lupa dikasih tanda pengenal biar kagak
ketuker mayatnya ama yang lain.” Obeng pun pergi sambal memegangi perutnya.
Odjie yang tinggal sendirian, tidak punya pilihan lain lagi.
ia terus berusaha meykinkan dirinya. “Katanya orang yang atinya baek, kagak
bakal diganggu sama setan… Aye, artinya baek, jadi jangan ganggu aye ya setan!”
Odjie menelan ludahnya, menyusun kembali keberaniannya yang sudah terlanjur
hancur berantakan, lalu dengan sekali tarikan nafas panjang, ia mendorong
ranjang mayat si cewek masuk ke dalam kamar mayat. Di tempat Odjie tadi
berdiri, sesosok setan anak kecil tak berbaju sedang diam Memandang Odjie dari
belakang.
Tak jauh dari kamar mayat, sebuah ruangan kantor kecil, tapi
nyaman menjadi tempat Pak Joko menghabiskan malam- malamnya, menunggu pesanan
pengangkutan mayat. Malam ini Pak Joko sedang lelap tertidur duduk di bangku
dan kepalanya bersandar di atas tangannya di atas meja. Air liur mulai
menggenangi daerah di samping mulutnya. Kaca mata bacanya berada tepat di
sebelah lengan yang menjadi sandaran kepalanya.
“Kring…..” “Kring….” Telepon berering nyaring mengagetkan
Pak Joko yang secara tidak sengaja menyapu kaca mata di sebelahnya hingga
terpental dan jatuh ke bawah. “ Mana lagi ini kaca mata gua?”
Telepon terus bordering tak peduli Pak Joko yang sedang
__ADS_1
panic meraba- raba meja berusaha menemukan kaca matanya. Akhirnya ia menyerah
dan mengganti tujuan merabanya dari mencari kaca mata jadi mencari telepon.
“Klik.” Pak Joko berhasil mengangkat telepon. “Kantor pemburu mayat!” sapanya
ramah. “Iya pak.” Ia terdiam mendengarkan suara laki- laki di balik telepon
yang terdengar panik. “Siap pak! Di rel kereta ya pak?” Baik, nanti saya akan
utus anak buah saya pak untuk kesana.
“Aduh… mana kaca mata gue sih?” Pak Joko menunduk, meraba-
raba lantai mencari kaca matanya yang hilang. Tiba- tiba pintu terbuka. Sukun
melangkah masuk dan menginjak kaca mata Pak Joko yang berada di depan pintu.
“Krak!” kedua kacanya terlepas pecah seketika.
“Waduh!” Sukun langsung mengambil kaca mata Pak Joko dari
bawah kakinya.
“Siapa itu!? Tanya Pak Joko masih dalam posisi menunduk di
lantai.
“aye Sukun Pak.”
“Eh, Sukun lu liat kaca mata gua kagak di sini?”
“E…liat Pak Joko, ini pak!” sukun mengulurkan kaca mata yang
tak sengaja ia pijak tadi yang kini sudah tak lagi berkaca dan sedikit penyok
kepada pak Joko. Pak joko berdiri dan mendekati Sukun dengan memincingkan
matanya agar dapat melihat dengan jelas kea rah tangan Sukun. Setelah
mendapatkan kaca matanya tersebut ia mengenakannya dengan lega.
“Loh, kok masih burem?”
“Udah tambah kali minusnya pak Joko!” Jawab Sukun sekenanya.
“Waduh… Tambah anggara pengeluaran duet lagi deh gue!” “Eh,
kun lo sama anak buah lo pergi ke rel kereta manggarai sekarang juga, ada yang mati
ketabrak kereta di sono, mayatnya nanti bawa kesini.” Perintah pak Joko kepada sukun
dan untuk disampaikan dengan anak buahnya Sukun.
“Iya pak., siap pak” Jawab sukun langsung dan memanfaatkan
kesempatan ini untuk kabur sebelum pak Joko sadar kalau kaca matanya sudah
pecah akibat tak sengaja di pijak kakinya tadi.
MOHON KOMEN YANG MENDUKUNG PARA SETIA PEMBACA MANGATOON. MASIH
PEMULA JUGA. DAN JUGA MOHON INFONYA AGAR DAPAT KONTRAKNYA DAN BERBAGI TIPS
SUPAYA SAMA- SAMA SUKSESNYA. AYOK KOMENTAR RAME- RAME SUPAYA JADI LEBIH BAIK
LAGI DAN BISA SEPERTI KALIAN SEMUA YANG SUDAH PADA JAGO MENULIS NOVEL.
AYOK BERI KOMENTAR POSITIF SEBANYAK- BANYAKNYA,
SALAM SEHAT DAN BAHAGIA SEMUA UNTUK PARA PEMBACA SETIA MANGATOON
__ADS_1
DIMANAPUN KALIAN SEMUA BERADA,