Hantu Dara

Hantu Dara
Tiga


__ADS_3

Odjie dan Obeng yang sedang memasukan mayat si cewek yang


bunuh diri itu kedalam bagian belakang mobil, mendengar suara tawas yang


mengerikan. Mereka berdua pun kembali merinding. Mereka berdua pun kembali


merinding. Lalu Odjie menutup pintu mobil jenazah, tapi sepertinya pintu itu


macet.


“yang keras nutupnya! Dibanting Djie!” Bentak Obeng


ketakutan sambal menarik gagang pintu mobil jenazah. “BRAAKKKK!” Obeng


membanting keras pintu itu hingga tertutup.


Dari balik semak- semak Sukun muncul sambal berlari


ketakutan. Wajahnya pucat dan nafasnya ngos- ngosa.


“kenapa bang?” Tanya Odjie pura- pura bego.


“iya, ada apa bang! Kenapa lari- lari? Ketemu setan ya?”


Sahut Obeng menimpali.


“Setan? Setan apaan? Gua mana takut sama setan.” Sangkal


Sukun menjaga harga dirinya.


“cewek tadi bukannya arwah nih cewek yang bunuh diri bang?”


Sergap Odjie.


“Kok lo tahun?”


“mukanya mirip.” Sergap Odjie lagi.


Sukun terdiam, ingin rasanya ia menceritakan apa yang


terjadi yang dialaminya barusan. Tapi kalau sampai kedua temannya tahu, dia


pasti akan hanya diledeki setengah mati. Setelah itu ia akan turun kasta


menjadi sama dengan mereka yang pengecut. Daripada dipermalukan, lebih baik


Sukun menderita memendam cerita horo itu untuk dirinya sendiri.


“ah, lu emang sirik ama gue!” jawab Sukun sambal berjalan


masuk ke dalam mobil, ia tk berani memandang Odjie. Kedua temannya mengikuti


Sukun masuk ke dalam mobil juga. Sekarang mereka bertiga duduk berjejer di


depan/ “itu cewek beneran, nafsu banget am ague tadi. Abis gue diciumi, kayak


udah kagak ada hari esok gitu…” obeng dan Odjie hanya memandang Sukun tak


percaya. Sukun menstater mobil jenzah itu. Bunyi mesin merengek- rengek tak mau


menyala.


“Eh, Djie, turun! Lu dorong nih mobil, mogok lagi!”


“Turun Djie!” Sukun setengah membentak.


Dengan terpaksa Odjie turun dari mobil. Ia berjalan menuju


bagian belakang mobil. Sebelum mulai mendorong ia mengecek sekelilingnya. Gelap


dimana- mana, hanya terlihat barisan pohon- pohon besar yang melambai –lambai

__ADS_1


ditiup angina. Ketika Odjie baru akan mendorong mbil jenazah itu, dari kaca


belakang, sekolas ia melihat mayat si cewek korban gantung diri sedang


terbaring pucat. Odjie langsung sekuat tenaga mendorong mobil jenazah tersebut.


Sukun, Odjir dan Obeng pun sudah tiba di markas pemburu


mayat. Saat itu mala sudah semkain tua. Gedung itu yang terlihat keropos


dimana- mana, menegeluarkan hawa angker yang kental. Bermeter- meter tanah


kosong di samping gedung itu menambah nuansa angker gedung ini.


Kali ini, Odjie dan Obeng, yang mendapatkan tugas


mengantarkan mayat si cewek ke kamar mayat. Mereka berdua berjalan sambal


mendorong mayat si cewek di atas meja dorong, menyusuri koridor panjang yang


diterangi oleh cahaya seadanya. Disebelah kanan dan kiri mereka terbentang


taman luas yang ditumbuhi beberapa pohon beringin.


Sesampainya di kamar mayat, Obeng merasa perutnya seperti


diaduk –aduk.


“Eh Odjie… perut gue mules, you aja yang naruh tuh mayat…”


“sendirian?” Tanya Odjie setengah memelas.


“ya iya lah! Eh, jangan lupa dikasih tanda pengenal biar kagak


ketuker mayatnya ama yang lain.” Obeng pun pergi sambal memegangi perutnya.


Odjie yang tinggal sendirian, tidak punya pilihan lain lagi.


ia terus berusaha meykinkan dirinya. “Katanya orang yang atinya baek, kagak


bakal diganggu sama setan… Aye, artinya baek, jadi jangan ganggu aye ya setan!”


Odjie menelan ludahnya, menyusun kembali keberaniannya yang sudah terlanjur


hancur berantakan, lalu dengan sekali tarikan nafas panjang, ia mendorong


ranjang mayat si cewek masuk ke dalam kamar mayat. Di tempat Odjie tadi


berdiri, sesosok setan anak kecil tak berbaju sedang diam Memandang Odjie dari


belakang.


Tak jauh dari kamar mayat, sebuah ruangan kantor kecil, tapi


nyaman menjadi tempat Pak Joko menghabiskan malam- malamnya, menunggu pesanan


pengangkutan mayat. Malam ini Pak Joko sedang lelap tertidur duduk di bangku


dan kepalanya bersandar di atas tangannya di atas meja. Air liur mulai


menggenangi daerah di samping mulutnya. Kaca mata bacanya berada tepat di


sebelah lengan yang menjadi sandaran kepalanya.


“Kring…..” “Kring….” Telepon berering nyaring mengagetkan


Pak Joko yang secara tidak sengaja menyapu kaca mata di sebelahnya hingga


terpental dan jatuh ke bawah. “ Mana lagi ini kaca mata gua?”


Telepon terus bordering tak peduli Pak Joko yang sedang

__ADS_1


panic meraba- raba meja berusaha menemukan kaca matanya. Akhirnya ia menyerah


dan mengganti tujuan merabanya dari mencari kaca mata jadi mencari telepon.


“Klik.” Pak Joko berhasil mengangkat telepon. “Kantor pemburu mayat!” sapanya


ramah. “Iya pak.” Ia terdiam mendengarkan suara laki- laki di balik telepon


yang terdengar panik. “Siap pak! Di rel kereta ya pak?” Baik, nanti saya akan


utus anak buah saya pak untuk kesana.


“Aduh… mana kaca mata gue sih?” Pak Joko menunduk, meraba-


raba lantai mencari kaca matanya yang hilang. Tiba- tiba pintu terbuka. Sukun


melangkah masuk dan menginjak kaca mata Pak Joko yang berada di depan pintu.


“Krak!” kedua kacanya terlepas pecah seketika.


“Waduh!” Sukun langsung mengambil kaca mata Pak Joko dari


bawah kakinya.


“Siapa itu!? Tanya Pak Joko masih dalam posisi menunduk di


lantai.


“aye Sukun Pak.”


“Eh, Sukun lu liat kaca mata gua kagak di sini?”


“E…liat Pak Joko, ini pak!” sukun mengulurkan kaca mata yang


tak sengaja ia pijak tadi yang kini sudah tak lagi berkaca dan sedikit penyok


kepada pak Joko. Pak joko berdiri dan mendekati Sukun dengan memincingkan


matanya agar dapat melihat dengan jelas kea rah tangan Sukun. Setelah


mendapatkan kaca matanya tersebut ia mengenakannya dengan lega.


“Loh, kok masih burem?”


“Udah tambah kali minusnya pak Joko!” Jawab Sukun sekenanya.


“Waduh… Tambah anggara pengeluaran duet lagi deh gue!” “Eh,


kun lo sama anak buah lo pergi ke rel kereta manggarai sekarang juga, ada yang mati


ketabrak kereta di sono, mayatnya nanti bawa kesini.” Perintah pak Joko kepada sukun


dan untuk disampaikan dengan anak buahnya Sukun.


“Iya pak., siap pak” Jawab sukun langsung dan memanfaatkan


kesempatan ini untuk kabur sebelum pak Joko sadar kalau kaca matanya sudah


pecah akibat tak sengaja di pijak kakinya tadi.


MOHON KOMEN YANG MENDUKUNG PARA SETIA PEMBACA MANGATOON. MASIH


PEMULA JUGA. DAN JUGA MOHON INFONYA AGAR DAPAT KONTRAKNYA DAN BERBAGI TIPS


SUPAYA SAMA- SAMA SUKSESNYA. AYOK KOMENTAR RAME- RAME SUPAYA JADI LEBIH BAIK


LAGI DAN BISA SEPERTI KALIAN SEMUA YANG SUDAH PADA JAGO MENULIS NOVEL.


AYOK BERI KOMENTAR POSITIF SEBANYAK- BANYAKNYA,


SALAM SEHAT DAN BAHAGIA SEMUA UNTUK PARA PEMBACA SETIA MANGATOON

__ADS_1


DIMANAPUN KALIAN SEMUA BERADA,


__ADS_2