Hantu Dara

Hantu Dara
Lima


__ADS_3

“lengkap bang. Pery complete.”


“yakin lo kagak ada yang copot?”.


“pery complete bang…. Tangan, kaki, semua ada.”


“untung deh kita, kagak repot.” Sukun berkata dengan ekpresi


lega.


Odjie yang sedari tadi bingung mencerna pembicaran kedua


seniornya, bertanya “Kagak repot gimana?”


“Obeng. Lo jelasin tuh sama anak baru.”


“heh, Djie, por yor impormasion, biasanya kalo mati ketabrak


kereta, badannya tuh terpisah-pisah, kadang ada yang badannya di Manggarai


kepalanya di jatinegara, tangannya di gambir, jempolnyadi kota.” Jelas Obeng


dengan tampang menakut-nakuti.


“hiii serem amat.” Odjie bergidik geli.


“udah angkat bawa ke mobil, kita pulang.” Perintah Sukun


yang emang dari tadi bisanya Cuma merintah doing.


Sembari menunggu kedua temannya mengangkat tandu jenazah,


sukun memperhatikan sekeliling dengan cahaya senter di tangannya. Terlihat tak


jauh dari tempat kepala mayat itu tadi berada, genangan darah menetes dari rel


kereta api ke batu-batu kerikil di tengah rel kereta api. Aroma amis darah


tercium sesekali bersama angina malam yang bertiup. Tak jauh dari genangan


darah itu, seorang nenek berambut putih berdiri sambil melambai-lambaikan


tangan memanggil Sukun.


“aye?” Tanya Sukun memastikan.


Nenek itu mengangguk dan Sukun pun berjalan ke arahnya.


“Nih domper perempuan yang mati disini?” seraya mengeluarkan


sebuah dompet hitam dengan bercak darah di ujungnya dari dalam sebuah kantong


plastic hitam yang berkeriput seperti tangannya.


“kenapa dikasih ke aye? Kenapa kagak dikasih ke polisi aja


sih nek?”


“ribet urusannya! Udah lu aja yang bawa, ntar lu yang kasih


ke polisi.”


Sukun mengangguk, menerima dompet itu, lalu kembali berjalan


kearah Odjie dan Obeng yang sudah menunggu sambal mengangkat tandu jenazah.


Setelah ketiga pemuda pengangkut mayat itu pergi, si nenek


berjalan pincang sambal menenteng kantong plastiknya, menuju genangan darah di


atas rel kereta api. Lalu ia berjongkok di dekatnya. Ia mengeluarkan sebuah


jeruk dari dalam kantong plastiknya lalu memerasnya kedalam atas genangan darah


gadis korban tabrak kereta api tadi.


“ayo nak, bangkitlah arwahmu, balas dendammu pada


orang-orang yang telah menyakitimu nak.” Desis si nenek.


Sebuah asap putih mengepul dari genangan darah itu, dan


melayang ke atas menuju langit kelam.

__ADS_1


Jakarta sepi pada jam-jam sekarang. Hanya gelandangan dan


para pemburu mistis saja yang masih berkeliaran. Sukun sedang serius menyetir


mobil, disebelahnya Odjie dan Obeng sedang tertidur saling menumpuk. Tiba-tiba


kebelet menyerang Sukun. Ia langsung menghentikan mobilnya disamping sebuah


jalan yang penuh jejeran pohon-pohon bambu. Sukun segera keluar dari mobil dan


tergesa-gesa menuju ke salah satu pohon bambu yang agak jauh dari penglihatan


teman-temannya.


Tiba-tiba mobil jenazah, dimana Odjie dan Obeng sedang


tertidur lelap seperti sapi, bergoyang dan berdentum keras.


“Braaakkkk!”


Odjie langsung terbangun. “ suara apaan tuh bang? Keras


banget!”


“suara ngorok lu sendiri setan!” jawab Obeng kesal dengan


mata yang masih tertutup. Tak peduli dengan Odjie yang sedang ketakutan, Obeng


kembali tertidur. Tapi beberapa detik kemudian mobil kembali berdentum keras.


“Braaakkk!!!”


“bang.” Rengek Odjie sambal menggoyang-goyangkan badan Obeng


yang sedang bersandar disebelahnya.


“Ahh ganggu you! ngantuk gue!” lalu Obeng membalikan


tubuhnya dari Odjie kea rah kursi kemudi, dan kembali tidur.


“Aduhhh buyi apaan tuh yah? Bang Sukun kemana lagi?”


sekarang ketakutan sudah hamper menguasai Odjie sepenuhnya.


“Braakkk!” sekali lagi mobil itu bergoyang dan berdentum,


memutuskan untuk turun dari mobil.


Pintu mobil jenazah terbuka lebar dan tiba-tiba mayat gadis


yang baru saja diangkutnya perlahan-lahan terduduk tegap masih berselimutkan


kain putih. Tak lama kemudian, tandu jenazah pun langsung merosot cepat keluar


dari dalam mobil ke atas jalan.


Odjie yang sedang mencari Sukun melihat pintu mobil jenazah


bagian belakang terbuka. Bingung akan apa yang sedang terjadi, Odjie memeriksa


ke belakang. Betapa terkejutnya dia ketika melihat mobil itu kini telah kosong.


Mayat gadis korban kecelakaan kereta api telah lenyap entah kemana.


“loh kemana mayatnya?” dengan panic ia langsung berteriak


memanggil Obeng. “bang! Bang! Bang Obeng! Mayatnya ilang! Aduh gawat ini! Bang


Obeng!.”


Tak jauh dari sana, dibalik pepohonan bamboo, Sukun sedang


nikmat melepaskan kencingnya yang dari tadi ia tahan dan nyaris tak terbendung.


Dari samping gadis korban kereta api itu muncul dan mendekatinya. Sukun masih


tidak sadar kalua ada yang sedang mendekat, ia hanya merasakan hawa dingin tak


nyaman yang membangkikan setiap bulu-bulu halus di tubuhnya. Tiba-tiba Odjie


muncul di belakangnya dengan wajah pucat dan nafas terengah-engah.


“bang Sukun! Mayat kita hilang!”

__ADS_1


Sukun tidak bergeming, lalu ia menutup resletingnya


seakan-akan tidak mendengar apapun.


“Bang Sukun!” sekali lagi dan lebih keras Odjie memanggil


Sukun. Namun Sukun tetap tak bisa mendengarnya.


“buset deh di panggil-panggil kagak jawab juga… Bang Sukun!”


Sukun berbalik tapi bukan karena mendengar suara Odjie. “hei


ngapain lu disini?” Sukun terkejut karena Odjie tiba-tiba sudah berada di


depannya.


“Abang di panggil dari tadi kagak dengar juga! Mayat cewek


yang tertabrak kereta tadi ilang bang.” Jawab Odjie setengah berteriak.


Sukun tidak bisa mendengar suara Odjie. Ia seperti berada di


dunia lain. Yang juga tidak di sadarinya sekelilingnya menjadi sangat sunyi.


“Lu ngomong apa? Gue kagak dengar! Lebih keras ngomongnya!”


teriak Sukun.


“Busyeett, ini udah keras ngomongnya!”


“Apa?”


“Mayat Ilang!”


Sukun melihat Odjie berbicara tanpa suara. Hanya


gerak-gerakan mulut dan tubuh yang tidak ia mengerti.


“Aduh apaan sih lo Djie? Udah kita balik aja ke mobil.”


Sukun mengajak Odjie pergi kembali kea rah mobil.


“Aneh bang Sukun! Kok tiba-tiba budge gitu! Perasaan udah


teriak-teriak gue, masih kagak denger juga!” ujar Odjie dalam hati, merasa


bingung.


Tepat di belakang Sukun, sesosok gadis berambut panjang dan


berwajah hancur menempel di punggungnya sedang menutup telingan Sukun dengan


kedua telapak tangan pucatnya.


HALO GUYS, PARA


PENGGEMAR PEMBACA SETIA NOVEL DI MANGATOON AYO BANYAK-BANYAK BERI CORET-CORET YANG


DAPAT MEMBANGUN MENJADI LEBIH BAIK DI KOLOM KOMENTAR YAA!!!


MOHON MAAF MASIH


PEMULA, MOHON BANTUANNYA UNTUK PARA PENULIS YANG SUDAH JADI MASTERNYA PENULIS


NOVEL DI SEMUA SOSIAL MEDIA DAN NON SOSIAL MEDIA.


SANGAT DIHARAPKAN


KRITIKAN YANG MEMBANGUN,  AGAR SAMA-SAMA


SUKSES DAN BERJAYA BERSAMA. DAN JANGAN SUNGKAN-SUNGKAN UNTUK BERBAGI PENGALAMAN


DALAM MENULIS SEBUAH NOVEL DAN TIPS-TIPS DALAM MERANGKAI KATA DEMI KATA UNTUK


SEBUAH NOVEL.


SEMOGA YANG MAU


BERBAGI TIPS-TIPS DAN KRITIKAN YANG MEMBANGUN MENDAPAT AMAL JAHIRIYAH SAMPAI


JANNAH DAN MENJADI LAMPU PENERANG DI ALAM BARZAH NANTINYA. AAMIIN AAMIIN YA


ROBAL ALAMIN.

__ADS_1


SALAM SEHAT DAN


BAHAGIA SEMUA UNTUK PARA PEMBACA SETIA MANGATOON DIMANAPUN KALIAN SEMUA BERADA,


__ADS_2