
“Ahhhh!” si ibu cantik langsung melompat keluar dari
mobilnya dan berlari ketakutan dalam gelap. Sambal berlari tangannya terus
memukul-mukul kupingnya dengan kasar, seperti ketika seorang ingin mematikan
api yang terbakar di tubuhnya.
Kehabisan nafas, ibu cantic itu berhenti dari larinya dan
menoleh ke belakang. Jalanan kosong, tidak ada yang mengejarnya. Namun dari
belakang setang perempua itu mendekat dengan kedua tngan menjulur dan langsung
menutup kuping si ibu cantic, menekannya dengan keras-keras.
:Kuping saua….sakit!” si ibu cantic merintih perih. Pada moment
ini, si ibu cantic bisa melihat jelas kenangan pada beberapa malam yang telah
berlalu, ketika seorang gadis bisu mengetuk-ngetuk kaca mobilnya, memohon
pertolongan. Si ibu bisa melihat dirinya sendiri merendahkan si gadis bisu
dengan melempar receh dari sela kaca mobil. Lalu ketika dalam kenangannya ia
mencoba untuk melihat waha si gadis bisu, wajah gadis berubah menjadi wajah
setan perempuan yang menutup telingannya.
Kuku si setan budeg yang berwarna kekuningan tumbuh
memanjang dan masuk ke dalam telingan si ibu cantik.
“Akkhhhh! Sakit!!!” ibu itu merasakan sesuatu yang kasar
sedang berusaha mencungkil keluar gendang telinganya. Rasa ngilu yang di
__ADS_1
rasakannya menjalar langsung ke dalam kepalanya, menggigit setiap pembuluh
darah pada otaknya.
Tak jauh dari sana, sebuah mobil meluncur cepat. Di dalamnya
wajah suami sang ibu cantic tampak penuh dengan kerutan. Ia mengendarai
mobilnya sambal terus memperhatikan jalan di sekitarnya dengan seksama.
“mogoknya pasti di daerah sini, tapi dimana ya dia? Ia mengambil
Hp-nya lalu menekan tombol redial, caller id muncul dengan nama “mama” muncul
di layarnya. Beberapa saat ia menunggu teleponnya diangkat, tapi sampai nada
dering yang terakhir istrinya tidak juga mengangkat teleponnya.
“Aduh kok nggak di angkat sih?”
mendengar alunan music sopran kesukaan istrinya, dari arah depan, dan semakin
ia terus bergerak maju, bunyi music itu terdengar semakin keras. Hingga akhirnya
ia bisa melihat sebuah sedan mewah Eropa milik istrinya di bahu kiri jalan di
depannya. Pintu di bagian supirnya terbuka lebar dan suara alunan music sopran
terdengar nyaring dari dalam mobil itu. Tapi ia tidak bisa menemukan istrinya
disana. Maka ia terus memacu mobilnya sambal terus memperhatikan ke kiri dan
kanannya.
Di depannya, sang istrinya maish berdiri kesakitan di tengah
jalan, ia terus menjerit kesakitan, sampai akhirnya ia bisa merasakan hangat
__ADS_1
darah mengalir dari dalam telinganya turun ke pipi. Seketika suasana di
sekelilingnya menjadi diam, ia tak lagi bisa mendengar apapun bahkan suara
jeritannya sendiri. Ibu cantic itu langsung panic. Lalu ia melihat sorot cahaya
dari arah belakang, secara reflek ia langsung berbalik.
Dari belakang, mobil sang suami semakin mendekat dengan
cepat. Sang suami yang sedang berkonsentrasi melihat ke kiri dank e kanan, tak
sadar bila sang istri sedang berada di tengah jalan di depannya. Sekilas,
sebelum ujung mobilnya menghantam telak istrinya, sang suami sempat melihat
ekspresi kesakitan bercampur ketakutan pada wajahnya. Lalu tiba-tiba “Bruuugggg!”
si ibu cantic langsung terpental menghantam kaca depan mobil suaminya lalu
berguling melewati atap mobil dan jatuh menghantam aspal.
Suaminya langsung menginjak rem sekuat tenaga, seketika
mobil pun berhenti. Ia segera turun dan berlari kea rah tubuh istrinya yang
sudah tergeletak tak bernyawa di atas jalan.
“Mami! Mami!” sang suami berteriak putus asa.
Ketika tiba di samping istrinya, ia langsung membalikan
tubuhnya. Matanya merah melotot dan dari dalam hidung dan telingan darah segar
mengalir pelan. Keseluruhan wajahnya terlihat sangat menderita, tapi dari
matanya, ketakutan tersirat jelas.
__ADS_1