Hantu Dara

Hantu Dara
Empat Belas


__ADS_3

Malam itu, malam dimana ia tertabrak kereta, si tukang ojek


ini tidak mau membantunya lari dari kejaran sip ria berponco. Ia malah meracau


tak jelas tentang saudaranya yang juga bisu. Sekarang si tukang ojek sudah


mendapatkan balasannya, merasakan sakit yang di rasakan si gadis bisu, jauh


sebelum ia menjadi seperti sekarang. Satu luka sudah di balas luka, namun


sakitnya belum juga pergi, karena masih ada luka – luka lain yang perlu di


bayar.


Di tempat lain, sebuah mobil mewah Eropa melaju di jalan di


pinggir rel kereta api. Jalanan di depannya gelap sepekat bubuk kopi, hanya


cahaya dari lampu mobilnya satu – satunya terang yang menyinari. Alunan music


sopran terdengar keras dari dalam mobil di mana seorang ibu cantic berambut


besar sedang mengemudi sambal ikut bernyanyi. Ia, ibu ini nasibnya pernah


bersinggungan dengan si gadis bisu, ketika di malam naas itu dia dan suaminya


baru saja pulang dari sebuah pesta jamuan besar.


“Dhuuaarrrr!” tiba – tiba salah satu ban depan mobilnya


pecah. Si wanita sempat kehilangan kendali, tapi ia langsung memegang erat


kemudi dan menepikan mobilnya. Si ibu canti itu turun untuk memeriksa apa yang

__ADS_1


terjadi. Bahkan dalam gelap, berlian – berlian yang menempel di dirinya


berkilap memantul cahaya bulan.


“Brengseekkk!” maki ibu cantik sambal menendang ban mobilnya


yang kempes. Dia merogoh ke dalam tasgucci yang di belinya di milan untuk


mengambil HP. Seraya menunggu suaminya mengangkat telepon, ia memperhatikan


semua yang ada di sekelilingnya. Ternyata ia berhenti tepat di sebuah rumah tua


tak berpenghuni. Dindingnya yang retak di tumbuhi tumbuhan menjalar, sedangkan


jendelanya yang tak berkorden memperhatikan samar -  samar isi rumah kosong itu. Suasana jalan ini


sungguh sepi, taka da seorang pun atau satu kendaraan pun melintas. Dalam hati


“Halo mami.” Suara sang suami terdengar dari dalam telepon.


“Papi! Ban mobil mami pecah!” si ibu cantik ini mulai mengomel


panic dengan suara yang melengking.


“kok bisa?”


“Nggak tahu, tiba – tiba aja!” lalu ia terdiam. “ Nggak ada


pi, mana ada tukang tambal deket sini. Papi sih aku minta anterin aja nggak


mau, jadinya gini deh.” Ia terdiam lagi berharap suaminya bisa memberikan


solusi. “Halo!” tiba – tiba suasana menjadi sunyi, sangat sunyi sampai – sampai

__ADS_1


si ibu cantic tidak bisa mendengar suara suaminya lagi.


“Ha;o papi! Kok gak ada suaranya sih?” padahal dari balik


telepon, suara suaminya terdengar keras,” Hallo mami! Mami! Mami! Mami dimana?”


Si ibu cantic menekan tombol redial dan menunggu suaminya


mengangkat telepon.


“Mami! Ya udah papi susul deh ke tempat mami ya sekarang.” Terdengar


suara suaminya setengah berteriak.


“Aneh, kok gak ada suaranya?” si ibu cantic itu bahkan tidak


mengethui kalua teleponnya udah tersambung. Lalu ia mematikan HP-nya dan


memasukannya kembali ke dalam tasnya. Dengan kesal, ibu cantic itu kembali


masuk ke dalam mobil.


Gelap malam turun semakin suram. Tiba – tiba tengkuknya


merinding. Dalam hati ia mengutuk suaminya yang tak mau pergi menemaninya. Sebuah


perasaan halus muncul bersama intuisinya, ia merasakan ada sesuatu yang sedang


mengawasinya. Ia sama sekali tidak sadar kalua sebenarnya ia tidak sendiri. Dari


kaca spion tengah, terlihat setan budeg berada di kursi  di belakangnya, dengan sepasang tangannya


menjulur menutupi telinganya.

__ADS_1


__ADS_2