
Malam itu, malam dimana ia tertabrak kereta, si tukang ojek
ini tidak mau membantunya lari dari kejaran sip ria berponco. Ia malah meracau
tak jelas tentang saudaranya yang juga bisu. Sekarang si tukang ojek sudah
mendapatkan balasannya, merasakan sakit yang di rasakan si gadis bisu, jauh
sebelum ia menjadi seperti sekarang. Satu luka sudah di balas luka, namun
sakitnya belum juga pergi, karena masih ada luka – luka lain yang perlu di
bayar.
Di tempat lain, sebuah mobil mewah Eropa melaju di jalan di
pinggir rel kereta api. Jalanan di depannya gelap sepekat bubuk kopi, hanya
cahaya dari lampu mobilnya satu – satunya terang yang menyinari. Alunan music
sopran terdengar keras dari dalam mobil di mana seorang ibu cantic berambut
besar sedang mengemudi sambal ikut bernyanyi. Ia, ibu ini nasibnya pernah
bersinggungan dengan si gadis bisu, ketika di malam naas itu dia dan suaminya
baru saja pulang dari sebuah pesta jamuan besar.
“Dhuuaarrrr!” tiba – tiba salah satu ban depan mobilnya
pecah. Si wanita sempat kehilangan kendali, tapi ia langsung memegang erat
kemudi dan menepikan mobilnya. Si ibu canti itu turun untuk memeriksa apa yang
__ADS_1
terjadi. Bahkan dalam gelap, berlian – berlian yang menempel di dirinya
berkilap memantul cahaya bulan.
“Brengseekkk!” maki ibu cantik sambal menendang ban mobilnya
yang kempes. Dia merogoh ke dalam tasgucci yang di belinya di milan untuk
mengambil HP. Seraya menunggu suaminya mengangkat telepon, ia memperhatikan
semua yang ada di sekelilingnya. Ternyata ia berhenti tepat di sebuah rumah tua
tak berpenghuni. Dindingnya yang retak di tumbuhi tumbuhan menjalar, sedangkan
jendelanya yang tak berkorden memperhatikan samar - samar isi rumah kosong itu. Suasana jalan ini
sungguh sepi, taka da seorang pun atau satu kendaraan pun melintas. Dalam hati
“Halo mami.” Suara sang suami terdengar dari dalam telepon.
“Papi! Ban mobil mami pecah!” si ibu cantik ini mulai mengomel
panic dengan suara yang melengking.
“kok bisa?”
“Nggak tahu, tiba – tiba aja!” lalu ia terdiam. “ Nggak ada
pi, mana ada tukang tambal deket sini. Papi sih aku minta anterin aja nggak
mau, jadinya gini deh.” Ia terdiam lagi berharap suaminya bisa memberikan
solusi. “Halo!” tiba – tiba suasana menjadi sunyi, sangat sunyi sampai – sampai
__ADS_1
si ibu cantic tidak bisa mendengar suara suaminya lagi.
“Ha;o papi! Kok gak ada suaranya sih?” padahal dari balik
telepon, suara suaminya terdengar keras,” Hallo mami! Mami! Mami! Mami dimana?”
Si ibu cantic menekan tombol redial dan menunggu suaminya
mengangkat telepon.
“Mami! Ya udah papi susul deh ke tempat mami ya sekarang.” Terdengar
suara suaminya setengah berteriak.
“Aneh, kok gak ada suaranya?” si ibu cantic itu bahkan tidak
mengethui kalua teleponnya udah tersambung. Lalu ia mematikan HP-nya dan
memasukannya kembali ke dalam tasnya. Dengan kesal, ibu cantic itu kembali
masuk ke dalam mobil.
Gelap malam turun semakin suram. Tiba – tiba tengkuknya
merinding. Dalam hati ia mengutuk suaminya yang tak mau pergi menemaninya. Sebuah
perasaan halus muncul bersama intuisinya, ia merasakan ada sesuatu yang sedang
mengawasinya. Ia sama sekali tidak sadar kalua sebenarnya ia tidak sendiri. Dari
kaca spion tengah, terlihat setan budeg berada di kursi di belakangnya, dengan sepasang tangannya
menjulur menutupi telinganya.
__ADS_1