
Sebuah taksi tiba di depanmarkas pemburu mayat, di mana
jenazah Lala berada. Pintu taksi terbuka dan terlihat Anita turun dan berjalan
terburu-buru melewati pintu masuk utama rumah sakit itu. Wajahnya pucat tanpa
make up, dan rambut panjangnnya dijepit asal. Di belakangnya, siska baru saja
turun dari taksi dan masih sibuk membayar ketika ia melihat sahabatnya sudah
menghilang ke dalam gedung markas pemburu mayat.
“Anita tunggu!”
Tapi Anita terus berjalan meninggalkan Siska melewati lorong
panjang yang sebelumnya dilalui oleh tim pemburu mayat. Kesedihan menaungi
wajahnya seperti awan mendung, kantung matanya hitam, dan matanya masih
berkaca-kaca. Bayangan sosok Lala di mimpinya sekali-kali melintas dalam
ingatannya.
Di sebuah persimpangan, ia berhenti kehilangan arah. Kemana
ia harus pergi untuk melihat jenazah sepupunya itu. Lalu sebuah plang yang
terbuat dari triplek seadanya, tergantung di plafon menunjukan arah menuju ke
ruang jenazah.
“Lala…” Anita menggumamkan nama sepupunya seolah-olah dia
sudah berada di depannya. Anita punlangsung berbelok ke kanan dan terus
berjalan sampai tiba di depan sebuah ruangan kecil berkaca gelap. Tanda di
pintunya mengatakan “Kamar Jenazah”.
Siang itu ketika Anita tiba di depan pintu kamar jenazah,
__ADS_1
Obeng dan Odjie sedang berada di dalam untuk menyelesaikan giliran mereka
bersih-bersih. Obeng yang sedang menghadap ke arah pintu kaca melihat Anita
mendekat dari balik pintu.
“ Wah, Djie ada cewek cakep kesini, kita kerjain yuk!” ajak
Obeng dengan ekspresi nakal.
“yuk.” Sambut Odjie berbagi ekspresi nakal yang sama. Obeng
naik ke atas ranjang jenazah dan menutupi dirinya dengan kain putih sedangkan
Odjie masuk ke dalam kolongnya yang tertutup kain putih panjang sampai ke
lantai.
Lalu Anita mendorong pintu berkaca gelap itu dan melangkah
masuk ke dalam. Beberapa buah mayat berselimutkan kain putih berbaring di atas
ranjang jenazah.
tengah berbaring di kamar ini tanpa nyawa.
Satu persatu anita membuka kain putih yang menutupi
mayat-mayat itu untuk mencari sepupunya. Berbagai wujud mayat terlihat olehnya,
seorang anak kecil yang mati akibat kelaparan, nenek yang wajah dan badanya
hancur akibat tertabrak sebuah truk, seorang pria muda dengan luka lima tusuk
di perutnya dan seorang wanita cantic dengan memar melingkar di sekitar
lehernya.
Tiba-tiba dari salah satu ranjang jenazah di belakangnya,
sebuah mayat berbungkus kain putih bangkit perlahan-lahan. Di dalamnya Obeng
__ADS_1
tersenyum iseng. Anita mendengar suara bunyi ranjang bergeser di belakangnnya
dan ia langsung menoleh ke belakang. Tapi Odjie sudah terlebih dahulu kembali
merebahkan diri.
Di bawah ranjang jenazah dimana Obeng berpura-pura jadi
mayat, Odjie bersembunyi sambal menahan tawa. Kolong ranjang itu sempit tak
banyak ruang bagi Odjie untuk bisa bergerak, jadi ia harus berusaha tetap
tenang atau Anita akan curiga. Dia tak menyadari, tepat di sbeleahnya ada
sesosok setan anak kecil sedang duduk memperhatikannya. Semerbak bau tidak
sedap terhirup oleh Odjie. Spontan ia mencari – cari dari mana asal bau busuk
itu. Ia menoleh ke samping dan menemukan setan anak kecil itu sedang tersenyum
kearahnya. Odjie pun membalas dengan sebuah anggukan dan senyum ramah, lalu
memalingkan wajahnya ke depan. Untuk beberapa saat ia tak menyadari apa yang
sedang duduk di sebelahnya, tapi beberapa detik kemudian logikanya berhasil
membunyikan alarm anti hantu di tubuhnya. Seketika Odjie langsung bergetar
hebat. Rasa penasarannya berusaha menenangkannya, mungkin ia salah lihat, sekali
lagi menoleh ke arah samping. Kali ini wajah si setan cilik sudah berada di
depan wajahnya. Seringai lebarnya menampilkan muka jenaka yang menyeramkan. Ia
bisa merasakan jelas hawa dingin yang menjalar dari tubuh si setan kecil.
“Maaf dik… permisi ya dik”. Sapa Odjie berusaha setengah
mati untuk tetap tenang. Perlahan Odjie merangkak keluar dari kolong ranjang
yang sempit itu. Gerakannya yang panic membuat kain putih di atasnya tertarik
__ADS_1
dan menutupi dirinya. Kini ia terlihat seperti sesosok pocong yang kabur
sebelum kainnya sempat diikat.