Hantu Dara

Hantu Dara
Sembilan


__ADS_3

Sebuah taksi tiba di depanmarkas pemburu mayat, di mana


jenazah Lala berada. Pintu taksi terbuka dan terlihat Anita turun dan berjalan


terburu-buru melewati pintu masuk utama rumah sakit itu. Wajahnya pucat tanpa


make up, dan rambut panjangnnya dijepit asal. Di belakangnya, siska baru saja


turun dari taksi dan masih sibuk membayar ketika ia melihat sahabatnya sudah


menghilang ke dalam gedung markas pemburu mayat.


 “Anita tunggu!”


Tapi Anita terus berjalan meninggalkan Siska melewati lorong


panjang yang sebelumnya dilalui oleh tim pemburu mayat. Kesedihan menaungi


wajahnya seperti awan mendung, kantung matanya hitam, dan matanya masih


berkaca-kaca. Bayangan sosok Lala di mimpinya sekali-kali melintas dalam


ingatannya.


Di sebuah persimpangan, ia berhenti kehilangan arah. Kemana


ia harus pergi untuk melihat jenazah sepupunya itu. Lalu sebuah plang yang


terbuat dari triplek seadanya, tergantung di plafon menunjukan arah menuju ke


ruang jenazah.


“Lala…” Anita menggumamkan nama sepupunya seolah-olah dia


sudah berada di depannya. Anita punlangsung berbelok ke kanan dan terus


berjalan sampai tiba di depan sebuah ruangan kecil berkaca gelap. Tanda di


pintunya mengatakan “Kamar Jenazah”.


Siang itu ketika Anita tiba di depan pintu kamar jenazah,

__ADS_1


Obeng dan Odjie sedang berada di dalam untuk menyelesaikan giliran mereka


bersih-bersih. Obeng yang sedang menghadap ke arah pintu kaca melihat Anita


mendekat dari balik pintu.


“ Wah, Djie ada cewek cakep kesini, kita kerjain yuk!” ajak


Obeng dengan ekspresi nakal.


“yuk.” Sambut Odjie berbagi ekspresi nakal yang sama. Obeng


naik ke atas ranjang jenazah dan menutupi dirinya dengan kain putih sedangkan


Odjie masuk ke dalam kolongnya yang tertutup kain putih panjang sampai ke


lantai.


Lalu Anita mendorong pintu berkaca gelap itu dan melangkah


masuk ke dalam. Beberapa buah mayat berselimutkan kain putih berbaring di atas


ranjang jenazah.


tengah berbaring di kamar ini tanpa nyawa.


Satu persatu anita membuka kain putih yang menutupi


mayat-mayat itu untuk mencari sepupunya. Berbagai wujud mayat terlihat olehnya,


seorang anak kecil yang mati akibat kelaparan, nenek yang wajah dan badanya


hancur akibat tertabrak sebuah truk, seorang pria muda dengan luka lima tusuk


di perutnya dan seorang wanita cantic dengan memar melingkar di sekitar


lehernya.


Tiba-tiba dari salah satu ranjang jenazah di belakangnya,


sebuah mayat berbungkus kain putih bangkit perlahan-lahan. Di dalamnya Obeng

__ADS_1


tersenyum iseng. Anita mendengar suara bunyi ranjang bergeser di belakangnnya


dan ia langsung menoleh ke belakang. Tapi Odjie sudah terlebih dahulu kembali


merebahkan diri.


Di bawah ranjang jenazah dimana Obeng berpura-pura jadi


mayat, Odjie bersembunyi sambal menahan tawa. Kolong ranjang itu sempit tak


banyak ruang bagi Odjie untuk bisa bergerak, jadi ia harus berusaha tetap


tenang atau Anita akan curiga. Dia tak menyadari, tepat di sbeleahnya ada


sesosok setan anak kecil sedang duduk memperhatikannya. Semerbak bau tidak


sedap terhirup oleh Odjie. Spontan ia mencari – cari dari mana asal bau busuk


itu. Ia menoleh ke samping dan menemukan setan anak kecil itu sedang tersenyum


kearahnya. Odjie pun membalas dengan sebuah anggukan dan senyum ramah, lalu


memalingkan wajahnya ke depan. Untuk beberapa saat ia tak menyadari apa yang


sedang duduk di sebelahnya, tapi beberapa detik kemudian logikanya berhasil


membunyikan alarm anti hantu di tubuhnya. Seketika Odjie langsung bergetar


hebat. Rasa penasarannya berusaha menenangkannya, mungkin ia salah lihat, sekali


lagi menoleh ke arah samping. Kali ini wajah si setan cilik sudah berada di


depan wajahnya. Seringai lebarnya menampilkan muka jenaka yang menyeramkan. Ia


bisa merasakan jelas hawa dingin yang menjalar dari tubuh si setan kecil.


 “Maaf dik… permisi ya dik”. Sapa Odjie berusaha setengah


mati untuk tetap tenang. Perlahan Odjie merangkak keluar dari kolong ranjang


yang sempit itu. Gerakannya yang panic membuat kain putih di atasnya tertarik

__ADS_1


dan menutupi dirinya. Kini ia terlihat seperti sesosok pocong yang kabur


sebelum kainnya sempat diikat.


__ADS_2