
Anita sudah tidak dapat lagi menahan kepedihannya, maka ia
pun menangis.
Di dalam ruang rapat, jauh di Medan, Andre hanya bisa
terdiam mendengar suara tangis Anita. Sementara itu di depannya pria berambut
tipis dan berkacamata tebal itu masih terus berbicara dengan semangat.
Kamar siska terletak di bagian paling belakang dari rumah
kontrakan yang di sewanya berdua dengan Anita. Ruangan kamar itu tidak besar
namun tertata rapi. Sebuah ranjang kecil di letakan rapat ke tembok, di
seberangnya ada sebuah kaca rias yang bundar sedang memantulkan bayangan Siska
yang sedang tertidur dengan pulas. Sepasang jendela yang menghadap langsung ke
rel kereta api tergantung tepat persis di atasnya, di sebelah meja rias.
Cahaya yang ada di kamar itu agak remang – remang hanya ada
sebuah lampu kaca yang menyala. Tepat di tembok di samping kepala Siska yang
sedang tertidur. Ada sebuah tangan bayangan yang kurus seperti tangan seorang
wanita dan kuku-kukunya yang panjang, menjukur dan terbuka seperti akan siap
mencengkram kepala Siska.
“Akkhhhh….!!!tiba-tiba saja Siska terbangun. Wajahnya yang
__ADS_1
basah oleh keringat dan ia langsung menoleh ke arah tembok dimana tadi ia
seperti ada bayangan tangan, tapi yang terlihat hanyalah bayangan dirinya.
Siska mengambil nafas legas lalu mengangkat gelas di sampingnya dan meminumnya.
Ia tidak sadar kalau bayangan dirinya bergerak sedikit terlambat dari
gerakannya.
“BRRAAKKK!!”” suara daun jendela di atas meja riasnya
tiba-tiba terbuka lebar dengan sendirinya. Angin dingin yang bertiup keras
memasuki kamarnya. Siska segera berdiri untuk menutup jendela kamarnya yang
sedang menganga bebas memperlihatkan kegelapan malam yang sunyi. Setelah menutup jendelanya Siska berbalik dan terkejut
minum terlihat dengan jelas di tembok kamarnya. Pada hal di ranjangnya tidak
ada siapa pun. Hanya sebuah teriakan histeris merupakan reaksi pertama yang
bisa Siska lakukan. Tiba-tiba bayangan di tembok kamarnya itu berpaling ke arahnya
lalu pelan-pelan bangkit dan berjalan menghampirinya. Siska berjalan mundur dengan
perasaan yang penuh ketakutan, sampai akhirnya punggungnya menyentuh tembok
kamar. Tapi bayangan itu terus saja bergerak berjalan maju sambil menyeret
kakinya dengan gerakan tubuh patah - patah yang sangat mengerikan.
“Jangan!!! Tidaaakkkk!!!!!” Siska berteriak sekuat - kuatnya
__ADS_1
dan menutup matanya. Bayangan itu semakin lama semakin membesar dan semakin mendekatinya.
Dan…. “BRAAAKKKK!” terdengar keras suara pintu kamar Siska di buka dengan paksa
dan lampu kamar menyala terang. Anita yang berdiri di depan pintu dengan nafas
yang tersengal - sengal.
“Lu kenapa Sis?” Tanya Anita masih prihatin melihat keadaan wajah
Siska yang pucat pasi. Siska menoleh ke arah sumber suara, ia melihat Anita
sedang berdiri di depan pintu kamarnya, Siska langsung berlari menghambur
memeluk Anita erat-erat. Dia pun langsung menangis sejadinya sambil berkata “
A-ada setan Nit, ada setan di kamar gue… gue takut banget Nit!”
Anita mengusap punggung dan kepala Siska, berusaha menenangkannya.
Lalu Anita melihat ke sekeliling kamar Siska dari balik punggung Siska dengan
masih memeluk Siska tidak ada apa-apa. Tidak ada setan seperti yang Siska
katakan. Anita menggandeng tangan Siska dengan sedikit memeluknya untuk di ajak
duduk di pinggir ranjang. Tangan Anita masih terus mengusap punggung Siska yang
badannya masih gemetar ketakutan.
***
KITA HARI INI UPDATE DUA BAB YAAA…..
__ADS_1