
Mayat si gadis bisu yang sudah terkoyak- koyak kini terkulai
tak bernyawa di pinggir rel kereta api. Sebagian isi perutnya tumpah berantakan
dari luka menganga di dekat lambungnya, dan bagian belakang kepalanya pecah
hingga mengeluarkan cairan kental berwarna putih, tempat memori kenangan
hidupnya tersimpan. Amis darah menguap di hirup malam. Si pria berponco itu
kini berada di samping mayat si gadis bisu. Apa yang dilihatnya sungguh
memuakkan. Nafasnya memburu, badannya gemeter. Jelas terlihat kalua ia
ketakutan. Secepat mungkin ia berbalik dan pergi, sebelum ada orang yang
melihatnya.
Tak lama setelah lelaki berponco itu pergi, dari balik
semak-semak seorang nenek berambut putih panjang berantakan dengan hidung
bengkok yang menyeramkan, muncul. Ia memandang sejenak tanpa ekspresi mayat
hancur si gadis bisu. Lalu ia memalingkan pandangannya pada si pria berponco
yang sedang berjalan menjauh dengan terburu- buru. Sebuah kegelapan bersinar
dari mata tuanya, sebuag kegelapan yang mampu membangkitkan sebuah kematian.
Dan malam pun bertambah sunyi, hanya tetes darah si gadis bisu yang terdengar
menetes dari bagian tubuhnya yang sobek.
Tiga orang mengendap- endap dalam sebuah kebun rimbun yang
luas. Semak- semak menghalangi langkah dan pandangan mereka, seakan-akan
berusaha untuk mencegah mereka masuk lebih dalam. Udara malam menggigit setiap
jengkal kulit, tapi demi beberapa lembar lembar uang rupiah dan juga keinginan
untuk sebuag petualangan baru, mereka bertiga terus maju. Mereka menyebut diri
mereka adalah pemburu mayat.
“ Mana yang gantung diri bang?” Tanya Odjie, seorang laki-
laki gemuk yang ketakutan.
“ Ya kagak tahu. Yang jelas kita kudu nyari tuh pohon
beringin, “ jawab Sukun, seorang pria kurus pemberani yang berjalan paling
depan.
“O… rumahnya deket situ ya bang?” Tanya Odjie lagi.
“ Bukan beleguk… stupid.\ pisan sih lo! Tuh cewek mau
gantung diri di pohon beringin!”
Odjie bergidik ketakutan mendengar jawaban Sukun. “ Hiii….
Serem, kata buku primbon setan pegangan aye…..” Odjie menunjuk buku primbon
yang di pegangnya. “ Orang yang gantung diri di pohon beringin bakalan
gentanyangan terus arwahnya.”
“ Kumaha sih you? Katanya you mau jadi pemburu mayat kok
malah ketakutan?” Celutuk Obeng, anggota pemburu mayat yang tergila-gila dengan
dunia barat.
Dari balik pohon manga besar tak jauh dari mereka, seorang
cewek berdaster bunga- bunga jalan sendirian. “ Hei, jangan berisik lo berdua!”
Sukun melihat kearah kedua temannya di belakang. “ tuh ada cewek, kita Tanya
aja sama dia!”
Ketika Sukun kembali melihat ke depan, si cewek yang yang
memakai baju daster bunga- bunga tadi itu sudah berdiri di depan mereka.
Spontan ia melompat sedikit ke belakang karna terkejut.
“ Eh neng, minta maaf mengganggu sebentar. Kita ini pemburu
mayat. Nama aye Sukun. “ Sulun memperkenalkan diri dengan gelapan entah karena
kaget atau tersihir kecantikan si cewek ini.
“ Me Obeng, neng.” Singkat ia memperkenalkan diri akibat
kagetnya masih tersisa.
__ADS_1
“ aye Odjie, aye masih baru….” Ia menelan ludah sebelum
melanjutkan kalimatnya, “ baru sebulan kerja jadi pemburu mayat.”
“ kita di suruh ngambil mayat cewek yang gantung diri di
pohon beringin, ada dimana ya lokasinya?” Tanya Sukun kemudian pada cewek yang
ada di hadapan mereka sekarang.
“ Oh kebutulan banget saya juga dari sana, ayo saya
anterin”. Jawab si cewek tersebut tanpa ekspresi, ringan. Lalu ia berjalan
berbalik dan mulai melangkah, sedangkan ketiga pemburu mayat itu mengikutinya
dari belakang.
Mereka berjalan semakin dalam di kebun itu, melewati semak-
semak rimbun. Malam begitu hitam, hanya sedikitsinar rembulan yang menerangi
langkah mereka. Udara malam bertiup dingin bersama kabut yang menebal. Melewati
tengkuk mereka. Odjie meraba lehernya, bulu kuduknya berdiri tegak. Tak jauh
dari sana, lolongan anjing terdengar mengaung, menyiutkan nyali orang yang
paling berani sekalipun.
Setelah beberpa saat berjalan, akhirnya mereka sampai di
sebuah pohon beringi besar, di salah satu dahannya, seorang gadis berambut
panjang sedang terayun- ayun pelan dengan tali yang menjerat pada lehernya.
Wajahnya gelap tak terlihat jelas.
“dari body-nya sih perfect pisan.” Odjie memecahkan
kesunyian di antara mereka.
“Tega amat ya laki- laki yang bikin dia sampe bunuh diri.”
“ Lu berdua turunin jasadnya sekarang. “ Perintah Sukun cuek
seakan tak perduli dengan mayat yang tergantung di depannya. “ Neng makasih yah
udah nganterin kita, neng mau pulang?” Si cewek berdaster bunga- bnga hanya
mengangguk.
Sekali lagi gadis itu hanya menjawab dengan anggukan kepala
lalu berbalik badan dan mulai berjalan meninggalkan Sukun yang sedang tersenyum
kesenangan. Tanpa peduli dengan kedua temanya Sukun pun berlari mengejar si
cewek.
Melihat semua tingkah sukun, wajah Odjie menunjukan
kesirikan yang amat sangat. “ Aduh enak banget sih bang Sukun, kita yang kerja,
dia asyk- asyikan sama tuh perempuan.”
Lalu Odjie dan Obeng mulai menurunkan mayat cewek yang
menggantung itu, kini ia bias melihat dengan lebih jelas wajah yang ternyata
taka sing bagi mereka berdua.
“ Ji… odjie.. lu liat nih mukanya” Obeng bicara dengan suara
yang terekat. I…ni cewek yang nganterin kita kesini tadi kan?”
“ Iye! Berarti cewek yang tadi itu….” Odjie tak sempat
menyelesaikan kata-katanya ketika ia melihat Obeng terlebih dahulu menganggukan
kepala. Udara dingin semakin menusuk membuat mereka berdua menggigil.
Di suatu tempat di kebun itu, Sukun sedang berjalan di
samping si gadis berdaster bunga- bunga. Sukun merinding, ada persaan tak enak
yang merasuki dirinya. Tapi ia berusaha menepiskan persaan itu, karena sekarang
ia sedang berjalan di samping seorang cewek cantic yang mau pulang di antarnya,
begitu pikirnya.
“ Rumahnya jauh neng?” Tanya Sukun berusaha terlihat tenang.
Cewek itu mengangguk tanpa sedikit pun menoleh kea rah
Sukun. “ Pegel gak kakinya? Kalo pegel, mau abang urutin kagak?” goda sukun,
sekali lagi coba- coba untuk merayu. Cewek itu pun berhenti tiba- tiba lalu
__ADS_1
mengangguk.
“Asyyeeeeekkkk” begitu kira- kira teriakan Sukun dalam
hatinya. ‘ Ya udah, duduk dulu aja neng disini. Selonjorin kakinya neng.” Ujar
Sukun sambal menatap tubuh si cewek dengan hawa birahi terpancar dari wajahnya.
Begitu cewek itu duduk berselonjoran, senyum mesum langsung
terpampang brutal di wajahnya. Dalam seketika Sukun langsung melancarkan
aksinya. Ia duduk dengan tubuh membelakangi wajah si cewek. Ia tak berani
berhadapan dengan wajahnya. Karena takut ketahuan mupeng. Sukun pun mulai
memijat dari pergelangan kaki, matanya merem melek merem melek merem melek,
seakan- akan dia keenakan di pijat.
“Enak ya neng? Naik lagi ya dikit?” Si cewek diam saja, jadu
Sukun mengambil inisiatif, kalua diam berarti “Iya”. Karena sudah tanggung maka
Sukun bertanya lagi, “Enak neng? Naik lagi ya dikit?”. Kali ini ia langsung
menggerakan tangannya tanpa lagi mengira- ngira jawaban si cewek. “ Gimana?
Masih Enak? Naik lagi dong ya kalo gitu? Gimana sekarang? Enak? Aduh neng.
Abang juga jadi enak neng….”
Air liur sudah mulai menggenangi mulutnya dan celananya
sudah terasa semakin sempit. “ Dikit lagi ya naiknya, tanggung…”
Ketika Sukun menaikan tangannya sampai mendekati batas
************ si cewek, tiba- tiba ia merasakan agak aneh.
“ Kok dingin amat yap aha neng.”
Si cewek tidak menjawab. Tiba- tiba suasana di sekitar kebun
itu menjadi semakin tenang dan menggigil. Anjing melonglong bersahut- sahutan.
Dari belakang Sukun, kepala si cewek muncul. Wajahnya pucat mayat, matanya
melotot seperti akan melahap Sukun. Ia menjulurkan lidahnya yang memanjang
layaknya ular, lalu mulai menjilati leher Sukun.
Masih di kuasai birahi tinggi, Sukun tidak menyadari apa
yang sedang terjadi. “ Aduh neng, geli ah Abang”.
Sekali lagi si cewek menjilati leher Sukun, sekali lagi juga
sukun menjawab dalam kendali hormone testoteronnya yang tinggi dan tidak
terkendali.
“ Aduh neng! Abang kagak tahan kalo gini.”
Sukun langsung berdiri dan menghadap cewek tersebut sambal
berniat untuk membuka celanya. Namun geraknnya tiba- tiba berhenti. Ia terpaku
ketika melihat cewek tersebut berubah menjadi seram dan pucat, duduk dengan
menggerakkan kaki mengangkang, membuka- menutup berulang- ulang sambal menatap
Sukun dengan wajah menggoda.
“Astaga… Waduh! Eneng cakep banget ternyata… abang sampe
kaget!” suaranya dipaksakan untuk tetap tenang. Padahal didalam celananya air
sudah nyaris tumpah.” E… abang lupa, Abang ada urusan dulu di masjid. Mau
tobat! Jadi abang pergi dulu ya neng…. Seperti pepatah neng… kalo ada setan di
lading eh maksud saya sumur di lading boleh lah kita berjumpa lagi, ya neng…
permisi…”
Sukun pun melangkah mundur pelan- pelan sambal terus
memandang wajah si cewek yang jadi pujaannya beberapa menit lalu dan sekarang
sudah berubah menjadi hantu. Lalu dalam sekali gerakan cepat, Sukun berbalik
dan langsung “ Ngibrit: tak karuan sambal berteriak keras sekeras- kerasnya….
“ S E T A N N N N “
Bersamaan dengan itu terdengar suara tawa si hantu cewek itu
melengking ke seluruh kebun.
__ADS_1