Hantu Dara

Hantu Dara
Dua


__ADS_3

Mayat si gadis bisu yang sudah terkoyak- koyak kini terkulai


tak bernyawa di pinggir rel kereta api. Sebagian isi perutnya tumpah berantakan


dari luka menganga di dekat lambungnya, dan bagian belakang kepalanya pecah


hingga mengeluarkan cairan kental berwarna putih, tempat memori kenangan


hidupnya tersimpan. Amis darah menguap di hirup malam. Si pria berponco itu


kini berada di samping mayat si gadis bisu. Apa yang dilihatnya sungguh


memuakkan. Nafasnya memburu, badannya gemeter. Jelas terlihat kalua ia


ketakutan. Secepat mungkin ia berbalik dan pergi, sebelum ada orang yang


melihatnya.


Tak lama setelah lelaki berponco itu pergi, dari balik


semak-semak seorang nenek berambut putih panjang berantakan dengan hidung


bengkok yang menyeramkan, muncul. Ia memandang sejenak tanpa ekspresi mayat


hancur si gadis bisu. Lalu ia memalingkan pandangannya pada si pria berponco


yang sedang berjalan menjauh dengan terburu- buru. Sebuah kegelapan bersinar


dari mata tuanya, sebuag kegelapan yang mampu membangkitkan sebuah kematian.


Dan malam pun bertambah sunyi, hanya tetes darah si gadis bisu yang terdengar


menetes dari bagian tubuhnya yang sobek.


Tiga orang mengendap- endap dalam sebuah kebun rimbun yang


luas. Semak- semak menghalangi langkah dan pandangan mereka, seakan-akan


berusaha untuk mencegah mereka masuk lebih dalam. Udara malam menggigit setiap


jengkal kulit, tapi demi beberapa lembar lembar uang rupiah dan juga keinginan


untuk sebuag petualangan baru, mereka bertiga terus maju. Mereka menyebut diri


mereka adalah pemburu mayat.


“ Mana yang gantung diri bang?” Tanya Odjie, seorang laki-


laki gemuk yang ketakutan.


“ Ya kagak tahu. Yang jelas kita kudu nyari tuh pohon


beringin, “ jawab Sukun, seorang pria kurus pemberani yang berjalan paling


depan.


“O… rumahnya deket situ ya bang?” Tanya Odjie lagi.


“ Bukan beleguk… stupid.\ pisan sih lo! Tuh cewek mau


gantung diri di pohon beringin!”


Odjie bergidik ketakutan mendengar jawaban Sukun. “ Hiii….


Serem, kata buku primbon setan pegangan aye…..” Odjie menunjuk buku primbon


yang di pegangnya. “ Orang yang gantung diri di pohon beringin bakalan


gentanyangan terus arwahnya.”


“ Kumaha sih you? Katanya you mau jadi pemburu mayat kok


malah ketakutan?” Celutuk Obeng, anggota pemburu mayat yang tergila-gila dengan


dunia barat.


Dari balik pohon manga besar tak jauh dari mereka, seorang


cewek berdaster bunga- bunga jalan sendirian. “ Hei, jangan berisik lo berdua!”


Sukun melihat kearah kedua temannya di belakang. “ tuh ada cewek, kita Tanya


aja sama dia!”


Ketika Sukun kembali melihat ke depan, si cewek yang yang


memakai baju daster bunga- bunga tadi itu sudah berdiri di depan mereka.


Spontan ia melompat sedikit ke belakang karna terkejut.


“ Eh neng, minta maaf mengganggu sebentar. Kita ini pemburu


mayat. Nama aye Sukun. “ Sulun memperkenalkan diri dengan gelapan entah karena


kaget atau tersihir kecantikan si cewek ini.


“ Me Obeng, neng.” Singkat ia memperkenalkan diri akibat


kagetnya masih tersisa.

__ADS_1


“ aye Odjie, aye masih baru….” Ia menelan ludah sebelum


melanjutkan kalimatnya, “ baru sebulan kerja jadi pemburu mayat.”


“ kita di suruh ngambil mayat cewek yang gantung diri di


pohon beringin, ada dimana ya lokasinya?” Tanya Sukun kemudian pada cewek yang


ada di hadapan mereka sekarang.


“ Oh kebutulan banget saya juga dari sana, ayo saya


anterin”. Jawab si cewek tersebut tanpa ekspresi, ringan. Lalu ia berjalan


berbalik dan mulai melangkah, sedangkan ketiga pemburu mayat itu mengikutinya


dari belakang.


Mereka berjalan semakin dalam di kebun itu, melewati semak-


semak rimbun. Malam begitu hitam, hanya sedikitsinar rembulan yang menerangi


langkah mereka. Udara malam bertiup dingin bersama kabut yang menebal. Melewati


tengkuk mereka. Odjie meraba lehernya, bulu kuduknya berdiri tegak. Tak jauh


dari sana, lolongan anjing terdengar mengaung, menyiutkan nyali orang yang


paling berani sekalipun.


Setelah beberpa saat berjalan, akhirnya mereka sampai di


sebuah pohon beringi besar, di salah satu dahannya, seorang gadis berambut


panjang sedang terayun- ayun pelan dengan tali yang menjerat pada lehernya.


Wajahnya gelap tak terlihat jelas.


“dari body-nya sih perfect pisan.” Odjie memecahkan


kesunyian di antara mereka.


“Tega amat ya laki- laki yang bikin dia sampe bunuh diri.”


“ Lu berdua turunin jasadnya sekarang. “ Perintah Sukun cuek


seakan tak perduli dengan mayat yang tergantung di depannya. “ Neng makasih yah


udah nganterin kita, neng mau pulang?” Si cewek berdaster bunga- bnga hanya


mengangguk.


Sekali lagi gadis itu hanya menjawab dengan anggukan kepala


lalu berbalik badan dan mulai berjalan meninggalkan Sukun yang sedang tersenyum


kesenangan. Tanpa peduli dengan kedua temanya Sukun pun berlari mengejar si


cewek.


Melihat semua tingkah sukun, wajah Odjie menunjukan


kesirikan yang amat sangat. “ Aduh enak banget sih bang Sukun, kita yang kerja,


dia asyk- asyikan sama tuh perempuan.”


Lalu Odjie dan Obeng mulai menurunkan mayat cewek yang


menggantung itu, kini ia bias melihat dengan lebih jelas wajah yang ternyata


taka sing bagi mereka berdua.


“ Ji… odjie.. lu liat nih mukanya” Obeng bicara dengan suara


yang terekat. I…ni cewek yang nganterin kita kesini tadi kan?”


“ Iye! Berarti cewek yang tadi itu….” Odjie tak sempat


menyelesaikan kata-katanya ketika ia melihat Obeng terlebih dahulu menganggukan


kepala. Udara dingin semakin menusuk membuat mereka berdua menggigil.


Di suatu tempat di kebun itu, Sukun sedang berjalan di


samping si gadis berdaster bunga- bunga. Sukun merinding, ada persaan tak enak


yang merasuki dirinya. Tapi ia berusaha menepiskan persaan itu, karena sekarang


ia sedang berjalan di samping seorang cewek cantic yang mau pulang di antarnya,


begitu pikirnya.


“ Rumahnya jauh neng?” Tanya Sukun berusaha terlihat tenang.


Cewek itu mengangguk tanpa sedikit pun menoleh kea rah


Sukun. “ Pegel gak kakinya? Kalo pegel, mau abang urutin kagak?” goda sukun,


sekali lagi coba- coba untuk merayu. Cewek itu pun berhenti tiba- tiba lalu

__ADS_1


mengangguk.


“Asyyeeeeekkkk” begitu kira- kira teriakan Sukun dalam


hatinya. ‘ Ya udah, duduk dulu aja neng disini. Selonjorin kakinya neng.” Ujar


Sukun sambal menatap tubuh si cewek dengan hawa birahi terpancar dari wajahnya.


Begitu cewek itu duduk berselonjoran, senyum mesum langsung


terpampang brutal di wajahnya. Dalam seketika Sukun langsung melancarkan


aksinya. Ia duduk dengan tubuh membelakangi wajah si cewek. Ia tak berani


berhadapan dengan wajahnya. Karena takut ketahuan mupeng. Sukun pun mulai


memijat dari pergelangan kaki, matanya merem melek merem melek merem melek,


seakan- akan dia keenakan di pijat.


“Enak ya neng? Naik lagi ya dikit?” Si cewek diam saja, jadu


Sukun mengambil inisiatif, kalua diam berarti “Iya”. Karena sudah tanggung maka


Sukun bertanya lagi, “Enak neng? Naik lagi ya dikit?”. Kali ini ia langsung


menggerakan tangannya tanpa lagi mengira- ngira jawaban si cewek. “ Gimana?


Masih Enak? Naik lagi dong ya kalo gitu? Gimana sekarang? Enak? Aduh neng.


Abang juga jadi enak neng….”


Air liur sudah mulai menggenangi mulutnya dan celananya


sudah terasa semakin sempit. “ Dikit lagi ya naiknya, tanggung…”


Ketika Sukun menaikan tangannya sampai mendekati batas


************ si cewek, tiba- tiba ia merasakan agak aneh.


“ Kok dingin amat yap aha neng.”


Si cewek tidak menjawab. Tiba- tiba suasana di sekitar kebun


itu menjadi semakin tenang dan menggigil. Anjing melonglong bersahut- sahutan.


Dari belakang Sukun, kepala si cewek muncul. Wajahnya pucat mayat, matanya


melotot seperti akan melahap Sukun. Ia menjulurkan lidahnya yang memanjang


layaknya ular, lalu mulai menjilati leher Sukun.


Masih di kuasai birahi tinggi, Sukun tidak menyadari apa


yang sedang terjadi. “ Aduh neng, geli ah Abang”.


Sekali lagi si cewek menjilati leher Sukun, sekali lagi juga


sukun menjawab dalam kendali hormone testoteronnya yang tinggi dan tidak


terkendali.


“ Aduh neng! Abang kagak tahan kalo gini.”


Sukun langsung berdiri dan menghadap cewek tersebut sambal


berniat untuk membuka celanya. Namun geraknnya tiba- tiba berhenti. Ia terpaku


ketika melihat cewek tersebut berubah menjadi seram dan pucat, duduk dengan


menggerakkan kaki mengangkang, membuka- menutup berulang- ulang sambal menatap


Sukun dengan wajah menggoda.


“Astaga… Waduh! Eneng cakep banget ternyata… abang sampe


kaget!” suaranya dipaksakan untuk tetap tenang. Padahal didalam celananya air


sudah nyaris tumpah.” E… abang lupa, Abang ada urusan dulu di masjid. Mau


tobat! Jadi abang pergi dulu ya neng…. Seperti pepatah neng… kalo ada setan di


lading eh maksud saya sumur di lading boleh lah kita berjumpa lagi, ya neng…


permisi…”


Sukun pun melangkah mundur pelan- pelan sambal terus


memandang wajah si cewek yang jadi pujaannya beberapa menit lalu dan sekarang


sudah berubah menjadi hantu. Lalu dalam sekali gerakan cepat, Sukun berbalik


dan langsung “ Ngibrit: tak karuan sambal berteriak keras sekeras- kerasnya….


“ S E T A N N N N “


Bersamaan dengan itu terdengar suara tawa si hantu cewek itu


melengking ke seluruh kebun.

__ADS_1


__ADS_2