Hanya Milikku

Hanya Milikku
Nasehat buruk Ayah


__ADS_3

"Bagaimana hubunganmu dengan Tuan Bernie? " tanya Josue ketika Sharon baru saja tiba dari kampus, sebenarnya Sharon lelah menjawab pertanyaan Ayahnya, tapi Sharon harus bisa menahan jika tidak mau Ayahnya murka.


"Baik-baik saja dia baik Yah"


"Kalau perlu kau harus menggodanya, tidak apa jika kau sampai hamil"


Jlep!


Kalimat itu sangat menyakiti Sharon, selama ini dia terus bertanya-tanya apakah Josue Ayah kandungnya atau bukan? kenapa dia tega sekali dengannya. Sekali lagi Sharon hanya diam meski hatinya sudah sangat sakit.


"Aku mau cari kerja Yah, supaya bisa mengembalikan uangnya"


"Kenapa? dia pasti sudah ikhlas karena mau membantu, kau tidak usah pikirkan hal itu"


"Aku harus mengembalikannya Yah, karna Bernie pun bilang aku bisa mencicil"


"Dia bilang begitu? "


Sharon mengangguk.


"Oke, tidak apa-apa tapi ingat jangan ter buru-buru, kalau dia jatuh cinta denganmu aku pastikan dia tidak ingin kau mengembalikan uangnya"


Sharon hanya tersenyum kecut, lalu dia masuk kedalam kamar, tadi dia melihat ibunya sedang memasak, tapi selama ini Sharon tidak pernah membantu karna ibunya akan langsung pergi jika Sharon kedapur, entahlah kenapa hubungannya sangat jauh dengan ibunya itu, dia tidak ingat sejak kapan hal ini terjadi.


Ibunya terus menghindari Sharon, dan akan bertanya jika memang benar-benar butuh jawaban Sharon.


Handphone Sharon berbunyi, telfon dari Jannis.


"Hallo? "


"Shar aku dapat info nih, lowongan kerja tapi di bar kau mau mencoba? "


"Bar? kerjanya yang bagaimana? "

__ADS_1


"Tenang saja ini hanya menjadi pelayan bukan gadis bar, jadi kau hanya perlu mengantar pesanan pada meja-meja pengunjung"


"Kau yakin aku bisa diterima? "


"Kenapa nggak? aku punya teman disana nanti kukenal kan"


"Baiklah, kapan kau mengantarku kesana? "


"Malam ini gimana? "


"Oke"


"Yaudah nanti aku kerumahmu"


"Oke"


Telfon dimatikan, Sharon menghela nafas, dia akan menjadi sarjana tapi kini dia harus bekerja sebagai pelayan bar, itu bukan cita-cita Sharon bahkan jauh sekali dari cita-cita nya.


Sharon mengambil sebuah kaos panjang berwarna putih juga celana panjang warna hitam, lalu dia segera mandi, mungkin Jannis sebentar lagi akan sampai.


Ini sudah pukul 6 malam tapi dia masih belum selesai.


Tok... tok... tok...


"Masuk! "


Om Cleo masuk sambil membawa beberapa lembar kertas.


"Ada apa Om? "


"Anda belum selesai? "


"Sebentar lagi"

__ADS_1


"Saya membawa berkas yang Anda minta, tentang Emerson"


Bernie langsung mengalihkan pandangannya dari komputer dan beralih memandang kertas yang dibawa Om Cleo, Om Cleo memberikan kertas itu.


"Dia siapa ternyata? "


"Anak dari Tuan Carlos Alberto, pemilik perusahaan Apollonia"


Bernie mengangguk, lalu segera membaca kertas itu, rupanya dia sudah lulus pascasarjana setaun lalu, itu berarti usianya lebih tua dari Bernie. Emerson jarang sekali berada di perusahaan, karna orangnya yang pemalas dan susah untuk dinasehati, dia berandal sejak duduk di bangku SMA, mempunyai 3 saudara kandung, dan dia anak terakhir, dua kakaknya sudah bekerja di perusahaan milik ayahnya, dan yang pertama sudah menikah dan memiliki anak berusia 5 tahun.


Menarik, dia hanyalah beban keluarga, dan hanya bisa menghabiskan uang keluarga.


Bernie semakin yakin jika Emerson tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi untuk menjatuhkan perusahaannya, pasti dia meminta bantuan dari keluarganya, sudah pasti itu.


Bernie mengangguk.


"Terima kasih Om"


"Iya Tuan, saya permisi"


Bernie mengangguk.


"Om, kau bisa ke bar malam ini? "


"Ya tentu, anda mau kesana? "


Bernie mengangguk.


"Baiklah, anda bisa menelfon saya jika sudah selesai "


"Oke"


Om Cleo pun keluar dari ruangan. Bernie menyimpan kertasnya didalam laci mejanya.

__ADS_1


Dia segera menyelesaikan pekerjaannya supaya dia bisa segera ke bar dan merefresh otaknya.


__ADS_2