
Bernie datang ke Kampus menjelang wisudanya yang akan digelar minggu depan, karna dia harus mempersiapkan pidato untuk mewakili seluruh mahasiswa semester akhir, mungkin karna dia juga sudah menjadi seorang pemilik perusahaan terbesar dinegaranya jadi semua dosen pun mempercayainya untuk mewakili seluruh mahasiswa.
Entah kenapa dia harus berpidato, karna sebenarnya Bernie tidak suka berbicara didepan umum dan menjadi pusat perhatian.
Bernie baru ingat sesuatu ketika dia melihat seorang gadis yang tengah makan siang dicafeteria kampus, dia harus bernegoisasi dengannya, Bernie pun menghampiri gadis itu, dan sontak saja semua mata tertuju padanya, karna selama kuliah disini Bernie tidak pernah sekalipun berbicara dahulu pada seorang perempuan, kecuali pada dosen.
Gadis itu pun juga heran kenapa seorang Bernie mau menghampirinya, dia sampai berhenti makan dan mengusap bibir nya supaya tidak terlihat berminyak, sementara teman yang ada disampingnya hanya bengong tak berkedip.
"Kau sudah selesai? "
"Apa? "
"Makan, aku punya urusan yang harus diselesaikan denganmu"
Sharon pun mengangguk, dia seperti tersihir dengan pesona Bernie yang tak pernah gagal.
"Ikut! "
Bernie berjalan dahulu, sementara Sharon mengikuti dari belakang, semua yang melihat pun bersorak ramai melihat kejanggalan itu.
Bernie masuk kedalam ruang musik yang tidak ada orang sama sekali, diikuti Sharon.
"Ada apa? "
"Kau masih ingat kejadian kemarin? "
"Yang mana? "
"Papaku! "
Sharon tampak berfikir, lalu kembali menatap Bernie.
"Bapak bapak yang kemarin kah? "
Bernie mengangguk.
"Jangan sampai kau menggosip tentang hal itu, karna kalau sampai satu saja aku dengar ada yang tau tantang keluargaku, Siap-siap kau merasakan akibatnya! "
"Jadi... ini ancaman begitu? "
"Maybe, tapi kalau benar-benar terjadi aku tidak pernah main-main"
Bernie berjalan pergi keluar dari ruangan, dan tampak banyak mahasiswa yang berkumpul diluar ruang musik hanya karna ingin mengetahui percakapan antara Bernie dan Sharon. Tentu saja tidak berhasil, karna entah kenapa ruang musik itu kedap suara.
Setelah Bernie keluar, Jannis yang merupakan teman dekat Sharon dan yang menemani Sharon di cafeteria tadi segera masuk menghampiri Sharon yang masih diam ditempatnya.
"Dia bilang apa Shar? "
"Kamu sudah bilang pada siapa saja Jan? "
"Soal apa? "
Sharon berbisik pada Jannis.
"Soal papa Bernie"
Lalu Sharon dan Jannis hanya saling pandang, mereka takut atau lebih tepatnya Sharon takut akan ancaman Bernie, karna tanpa sengaja Sharon sudah bercerita pada Jannis dan Jannis adalah termasuk orang yang suka sekali bergosip.
"Kalau sampai terjadi sesuatu bagaimana? "
"Semoga saja tidak Shar, karna aku juga takut soalnya tadi mungkin sudah banyak yang dengar apalagi anak-anak kelas kita"
"Mampus aku! "
Sharon menepuk keningnya, mau tidak takut bagaimana, karna tatapan Bernie tidak menunjukan kalau dia main-main dengan ucapannya tadi, dan dia tau kalau Bernie termasuk orang yang serius dan tidak suka bercanda, bagaimana jika Bernie mendengarnya dari orang lain tentang keadaan papanya, pasti yang pertama dia tuju adalah dirinya karna menganggap orang yang pertama tau adalah dirinya.
Sharon dan Jannis berjalan beriringan dengan tubuh kaku, mereka keluar ruangan, semua hanya diam, berkutat dengan pikirannya masing-masing.
****************
Ditengah acara persiapan wisuda, Bernie mengamati anak-anak yang sedang mendekorasi panggung dan menata meja-meja untuk dosen. Tentu saja dia senang atas pencapaiannya sekarang, hanya saja dia merasa hambar, karna tidak ada satu pun keluarga yang mendukungnya, ibunya sudah tidak ada kabar sejak bercerai dari papanya, dan dia tidak memiliki saudara.
"Papanya Bernie gila? "
__ADS_1
Bernie langsung menoleh ketika mendengar kalimat barusan, dua orang gadis sedang berjalan beriringan sambil membicarakannya.
Bernie langsung menghampirinya.
"Apa katamu? "
Dua gadis itu tentu saja terkejut melihat Bernie yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Ti... "
"Sekali lagi kalian membicarakanku kupotong lidahmu"
"Maaf....maaf tidak lagi maaf"
Bernie segera berjalan lagi tujuannya hanya satu, dia ingin bertemu Sharon, rupanya gadis itu ingin main-main dengannya.
Amarah Bernie sudah berapi-api, dia bertanya pada seorang mahasiswa yang sedang membawa bunga.
"Kau kenal Sharon? "
"Ya.. "
"Dimana dia sekarang? "
"Hari ini dia nggak masuk, jadi kemungkinan besar ada dirumah"
"Dimana alamat rumahnya? "
"Ee... nggak tau pasti sih"
"Tolong beri nomornya"
Karna Bernie terlihat marah besar jadi Mahasiswa yang kebetulan sekelas dengan Sharon itu langsung memberi nomor Sharon.
Tanpa mengucapkan Terima kasih Bernie langsung meninggalkannya dan bergegas ke parkiran untuk segera menemui Sharon.
Ditengah perjalanan Bernie menelfon nomor Sharon, dan tak lama kemudian telfonnya diangkat.
"Beri tau dimana alamatmu, aku punya urusan denganmu"
"Siapa ini? " tanya Sharon dengan suara serak yang seperti habis menangis.
"Bernie"
"Oh maaf aku tidak dirumah, besok saja ya dikampus, setelah wisuda bisa"
"Sekarang! "
Entah kenapa Sharon menurut, dia memberitau Bernie alamatnya. Dan dengan bantuan google maps Bernie segera menuju alamat yang dituju.
Setelah hampir setengah jam akhirnya Bernie menemukan alamat itu, dia memarkirkan mobilnya dihalaman rumah bercat hijau, rumah itu tidak besar dan tidak berlantai 2, sangat berbeda sekali dengan rumahnya.
Bernie turun dari mobil dan mengamati rumah itu dengan pandangan yang aneh, baru saja dia ingin menelfon Sharon ternyata gadis itu sudah keluar dari rumah, pakaian gadis itu terbilang cukup santai, hanya kaos oblong kebesaran dan celana training pendek.
Tapi ada yang aneh dari wajah Sharon ketika dia sudah berada di dekat Bernie, matanya sembab dan terdapat luka lebam di rahang kanan dekat leher.
Bernie menatap Sharon, ketika dia ingat tujuannya kesini.
"Kau ingin main-main denganku rupanya"
Sharon menelan ludah, dia tau apa yang terjadi apakah ada yang menanyakannya pada Bernie.
"Kau ingin masuk dulu? "
"Tidak perlu basa-basi, aku sudah bilang kemarin bahwa aku tidak main-main "
"Maaf, aku tidak sengaja sudah melakukannya sebelum kau mengancamku"
"Apa menurutmu keluarga orang itu cukup menarik untuk digosipkan? "
"Tidak, aku tidak berfikir begitu, aku hanya bilang pada Jannis, tidak tau Jannis bilang pada siapa saja"
Barnie tersenyum sinis, dia menatap Sharon dengan tajam, membuat Sharon takut.
__ADS_1
"SHARON DASAR ANAK HARAM!!!! Sini kau!!! "
Sharon menoleh sebentar, Ayahnya datang dari dalam rumah dengan membawa sandal ditangannya.
Bernie menatap dengan bergantian.
"Maaf aku ada urusan, kau pulang saja kau bisa menghukumku besok"
Sharon berlari mendekati Ayahnya, Bernie sudah bisa menebak apa yang terjadi pada keluarga ini, karna mungkin nasib Sharon sama dengan dirinya dulu diwaktu kecil.
Bernie melihat Ayah Sharon yang menjambak rambut Sharon dengan mudahnya, sementara Sharon terlihat begitu menurut tanpa perlawanan. Sebelum masuk Bernie sempat melihat tatapan tajam dari Ayah Sharon lalu pintunya ditutup dengan keras.
Karna Bernie tak Terima dengan tatapan Ayah Sharon, dia berjalan menuju pintu rumah Sharon.
Tok.. tok.. tok...
BRAAAAKKKKK...
Terdengar suara keras dari dalam, Bernie mengetuk lagi pintunya hingga beberapa kali, barulah Ayah Sharon membukanya.
"Ada apa, kau sangat mengganggu waktuku! "
"Aku tidak mencari anda, aku butuh Sharon, mana dia? "
"Anak siapa kau, beraninya dengan orang tua"
"Mana Sharon? "
Ayah Sharon berdehem dan kemudian Sharon berjalan dengan lemas dari belakangnya.
"Kau pulang saja ya kita selesaikan di kampus besok"
Dengan cepat Bernie menarik tangan Sharon hingga hampir saja terjungkal karna terlalu kuat.
"Aku punya urusan dengannya! "
Bernie mengajak Sharon masuk mobil dan mengabaikan panggilan Ayah Sharon yang begitu keras.
"Tolong, kita selesaikan besok saja ya, Ayahku pasti marah"
"Kau tidak lihat dia sudah marah? "
"Tidak dia tidak marah, dia hanya menasehatiku"
Bernie mengemudi dengan kecepatan tinggi, ini kali pertama dia memasukkan seorang gadis kedalam mobilnya.
"Kau sering dipukul? "
Sharon terlihat takut dan terus memainkan jari jemarinya.
"Nggak... "
Bernie berhenti dipinggir jalan, lalu mengunci semua pintu mobil.
Bernie memijit keningnya, merasa pusing dengan apa yang terjadi, kini hampir semua mahasiswa sudah tau tentang keadaan papanya, bagaimana jika karyawan perusahaannya juga tau tentang hal ini.
Bernie menelfon Om Cleo.
"Hallo"
"Bagaimana keadaan perusahaan? "
"Sejauh ini baik-baik saja, ada apa Tuan? "
"Tetap tutup mulut tentang keadaan Papa"
"Baik Tuan"
Bernie menutup telfon, dia menyandarkan kepalanya disetir mobil, sementara Sharon menatap Bernie dengan perasaan campur aduk, sebenarnya dia tidak percaya telah berada di samping sang primadona kampus dan terkenal karna kepintarannya serta ketampanan dan kekayaan, ibarat makanan Bernie sudah paket lengkap.
"Aku minta maaf kalau tidak bisa membersihkan nama baik keluargamu, kau bisa menyebarkan gosip jika Ayahku tidak baik dan aku ini orang miskin"
Bernie bangun dan menatap Sharon dengan tajam.
__ADS_1