
Setelah kelasnya selesai, Sharon dan Jannis langsung menuju kafeteria karna perutnya sudah keroncongan, mereka berencana membantu persiapan wisuda s2 setelah mereka selesai makan siang.
"Aku dengar dari Nathan kalau kemarin Bernie minta nomor handphone kamu ya trus dia nyariin kamu, emangnya kalian ada hubungan apa sih, aku iri"
"Nggak ada, dia cuma buat perhitungan gara-gara dia pikir aku yang nyebarin gosip soal keluarganya"
"Waduhh, trus kamu diapain nih critanya? "
"Nggak lah, eh kayaknya belum, nanti waktu hari H aku disuruh tampil di panggung"
"Kamu kan nggak suka didepan umum Shar? "
"Maka dari itu, awalnya dia nanya apa yang nggak aku suka dan kebetulan kujawab itu malah dia nyuruh buat melakukannya, aku jadi bingung mau ngapain "
Jannis menepuk keningnya.
"Ya udah lah nyanyi aja lagian suaramu juga merdu banget, kan dulu waktu SMA kamu pernah ikut paduan suara"
"Gak tau ah, belum mikirin"
"Eh tinggal 5 hari lagi loh Shar, kamu nggak butuh latihan?"
Sharon hanya diam, pikirannya sedang buruk kalau mengingat apa yang dikatakan Ayahnya tadi, kalau seandainya dia tidak berhasil melakukan itu, apa yang akan terjadi padanya, Ayahnya pasti sangat marah dan mungkin saja dia bisa memukul Sharon lagi atau bahkan lebih parah dari sebelumnya.
Memikirkan saja Sharon tak sanggup, apalagi kalau melaluinya, lagipula bagaimana caranya untuk mendekati Bernie, tantu saja dia gengsi, secara dia terlahir sebagai perempuan tidak sepantasnya dia mengemis cinta pada lawan jenisnya.
Handphone Sharon berbunyi, tumben ada yang menelfon, siapa? Sharon melihatnya, nomor baru??
Karna penasaran Sharon mengangkatnya.
"Hallo"
"Temui aku di perpustakaan"
"Siapa ini? "
"Kau tidak menyimpan nomorku kemarin? "
Sharon berfikir keras, menyimpan nomornya kemarin, ohh jangan-jangan ini Bernie.
__ADS_1
"Bernie? "
"Cepat temui aku"
"Bai.... "
Tut... tut... tut...
Belum Sharon selesai bicara, Bernie sudah mengakhiri panggilannya. Sharon menatap steak yang ada dihadapannya.
"Siapa Shar? "
"Aku ke perpustakaan dulu ya, ada hal penting yang harus aku urus, nanti kalau kamu sudah selesai tolong bungkus kan ini untukku sayang uangnya "
"Baiklah hati-hati, hubungi aku jika terjadi sesuatu"
Sharon mengangguk, dia segera berjalan menuju perpustakaan, kesempatannya untuk mendekati Bernie. Tapi ada apa kira-kira sampai Bernie ingin bertemu, apakan dia akan menghukum Sharon dengan cara lain?
Sharon masuk ke perpustakaan, disini tampak sangat sepi, mungkin karna anak-anak tengah sibuk mempersiapkan acara wisuda.
Sharon melihat Bernie yang sedang berdiri diantara rak buku, dia sedang membolak-balikkan sebuah buku tebal, Sharon mendekatinya.
Bernie menutup bukunya lalu menatap Sharon.
"Jangan lupa untuk tampil, aku sudah mendaftarkanmu pada MC jadi segeralah bersiap"
Sharon hanya menatap dengan heran.
"Hanya itu? "
"Memangnya kau berharap apa? "
"Tidak ada"
Bernie merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah jepit rambut yang kemarin tertinggal di mobilnya lalu dia berikan pada Sharon.
"Ini punyamu kan"
"Kenapa bisa ada padamu? "
__ADS_1
"Kau meninggalkannya dimobil kemarin"
Sharon mengambilnya, dia tidak ingat jika kemarin dia memakai jepit rambut ini tapi ini memang punya dia yang dicarinya tadi pagi.
"Sebenarnya keluargamu itu siapa? kenapa Ayahku kaget ketika mendengar namamu? "
Bernie hanya melirik, lalu mengembalikan bukunya ke rak yang paling atas.
"Kau ingin mencoba mengorek informasi lagi demi topik gosipmu? "
"Tidak! kali ini aku benar-benar ingin tau karna Ayah telah menjanjikan sesuatu padaku jika aku bisa melakukannya"
"Melakukan apa? "
"Kali ini aku menghilangkan rasa maluku demi Ayah, maka aku akan bilang"
"Bicaralah yang jelas! "
Sharon menunduk, dia malu sekali jika harus bicara sambil menatap mata Bernie, entah kenapa dia ingin berterus terang, seandainya Bernie menolak pun Sharon tidak apa-apa mungkin dia memang harus segera kabur dari rumah supaya dia bisa selamat dari kemurkaan Josue.
"Jangan dimasukkan dalam hati ya, Ayah bilang jika kamu bisa jatuh cinta padaku dan menikahiku maka dia akan bersikap baik layaknya Ayah pada anak perempuannya"
Bernie hanya diam sambil masih menatap Sharon, dia mencerna setiap kata yang diucapkan Sharon, apa berarti kali ini Sharon menyatakan cinta padanya? Seumur hidup Bernie tidak pernah mendengar yang seperti ini karna dia sangat menjaga jarak dengan perempuan.
"Aku tidak pernah berharap lebih, aku mengagumimu tapi kau berhak memilih, jadi jangan pernah memikirkan ucapanku barusan"
Sharon segera pergi, dia sudah sangat malu berada di hadapan Bernie, ini pun pengalaman pertamanya mengutarakan perasaan, dulu waktu dia duduk di bangku SMA dia yang sering mendapat pangakuan cinta dari para murid laki-laki, baik itu dari kakak kelasnya, teman seangkatan atau bahkan adik kelasnya.
Sharon pun hanya sekali menerima salah satu dari mereka, namanya Ray. Dan rupanya dia taruhan dengan teman-temannya hanya karna Sharon cantik. Siapa yang berhasil mendapatkan Sharon maka dia mendapat uang sebesar 20 jt dari para laki-laki yang ikut taruhan.
Dan itu membuat Sharon tersakiti, padahal dia sudah begitu percaya pada Ray, tapi justru itu kenyataannya.
Sharon mencari Jannis di kafeteria, rupanya dia sudah tidak ada disana. Sharon pun menelfon Jannis.
"Dimana kau? makananku kau bawa? "
"Ya, aku didekat panggung terbuka kemarilah, mungkin kau harus latihan juga"
"Oke"
__ADS_1
Sharon membeli jus mangga sebelum dia datang ke panggung terbuka, karna tadi dia hanya membeli steak tanpa membeli minumnya.