Hanya Milikku

Hanya Milikku
Menjual diri?


__ADS_3

Bernie dan Om Cleo datang ke bar prince of heaven setelah Bernie menyelesaikan pekerjaannya.


Mereka menunjukkan kartu membernya dan kemudian masuk, mereka langsung berjalan menuju lantai 3 dimana mereka masuk ke ruang VIP, seperti biasa Lyman ikut nimbrung bersama dua temannya, yaitu Bella dan Rose. Itu semua karna ajakan Om Cleo, Bernie tidak keberatan selama para perempuan itu tidak mengganggu nya.


Mereka memesan Billionaire vodka, dan Bernie teringat terakhir kali minum ini karna pemberian Grizelle, baru hari ini dia dipecat, apa kabar?


"Bagaimana tentang mantan sekretarismu? "


"Oh, aku sudah memberi kompensasi padanya, tapi dia bersikeras tidak mau meninggalkan kota, dia bilang dia janji tidak akan pernah bertemu dengan anda meskipun itu kebetulan"


"Benarkah? apa dia tidak memohon agar tidak dipecat? "


"Tentu saja, tapi aku sudah bilang padanya bahwa anda sudah tidak mau memperkerjakannya"


"Bagus"


Seorang pelayan masuk dengan membawa pesanan Bernie, pakaiannya sexy tapi tidak terlalu terbuka, pakaian yang nampak bukan khas dari pelayan wanita. Awalnya Bernie tidak sadar karna temaram nya lampu, namun setelah mendengar suaranya dia reflek mendongak untuk melihat wajah sangat pelayan.


"Sharon? "


Om Cleo dan ketiga wanita bar itu menoleh dan ikut memperhatikan pelayan yang dipanggil 'Sharon' oleh Bernie.


"Anda mengenalnya Tuan? "


Bernie berdiri dan sekali lagi menatap Sharon dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Kau menjual diri? "


"Apa? " Sharon ikut terkejut dengan pertanyaan spontan dari Bernie, dia yang sebelumnya menunduk jadi mendongak.


"Aku.. "


"Aku pergi dulu Om, nikmati minumannya"


"Baiklah, Hati-hati"


Bernie menarik tangan Sharon dan diajaknya keluar ruangan, Sharon hanya mengikuti, dia baru hari ini bekerja disini dan sudah bertemu dengan Bernie, Sharon sendiri terkejut ketika tadi Jannis mengajaknya kemari, dia pikir bukan bar ini yang dimaksud.


Bernie membawa Sharon ke ruang VIP yang masih kosong, dan mendudukan Sharon disofa.


"Kapan kau mulai? "


"Aku tidak menjual diri, aku hanya mengantar minuman"


"Sama saja, karna kau bekerja di bar, jika ada yang tertarik denganmu maka kau tidak bisa menolak apa lagi ini bar besar yang didatangi para milliarder mustahil jika mereka tidak akan tertarik pada parasmu! "


Sharon menatap Bernie dengan takut, benarkah begitu? bosnya bilang dia hanya pelayan dan tugasnya 'hanya' mengantar pesanan.

__ADS_1


"Tapi bos bilang bukan seperti itu"


"Kau lihat pakaianmu? ini bukan pakaian pelayan, ayo ikut aku dan lepaskan pakaian ini, dimana kau letakkan baju gantimu? "


Sharon menelan saliva dengan susah, apa dia dibohongi tapi kenapa?


Bernie menarik lagi tangan Sharon untuk keluar Sharon hanya mengikuti, sebenarnya kenapa Bernie peduli? Sharon semakin berharap lebih pada orang ini.


Bernie membawa Sharon pada bos yang dimaksud Sharon karna mereka pernah bekerja sama jadi Bernie tau dimana ruangan khusus bos.


"Dia keluar hari ini juga! " ucap Bernie dengan kasar


Seorang pria berjas sedang duduk dikursinya dan mendongak setelah Bernie mengatakan kalimatnya.


"Hai Bernie lama tidak berjumpa"


Bernie hanya diam.


"Kenapa buru-buru sekali? Sharon baru join beberapa jam yang lalu"


"Apa niat yang kau rencanakan? kau bilang padanya jika dia hanya perlu mengantar pesanan tapi kenapa kau memberinya pakaian gadis bar? kau mau menjebaknya? "


"Ayolah Bernie, Sharon punya potensi dia bisa membuat bar ku lebih jaya lagi, kau tidak mau bar ini semakin maju? "


Sharon yang mendengarnya jadi percaya bahwa yang dikatakan Bernie memang benar, dia menatap bosnya dengan penuh pertanyaan.


"Kau kurang bersyukur sekali! cari orang lain, jangan Sharon dia tidak pantas manjadi gadis bar mu! "


"Bernie, dia sendiri yang datang kemari dan melamar pekerjaan, aku sudah cukup baik untuk memberinya pekerjaan, dan kau menuduh ku kurang bersyukur? "


"Oke, tapi kau membohonginya!"


"Dia kekasihmu? "


"Kau tidak perlu tau yang pasti sekarang Sharon resmi keluar! "


Tanpa menunggu jawaban dari Christian, Bernie menarik tangan Sharon dan membawanya pergi dari bar itu. Dia sudah gila karna menunjukkan kepeduliannya pada Sharon.


"Kau kenapa? " tanya Sharon pada Bernie karna melihat Bernie yang terus terusan memukul setir kemudi mobilnya.


Bernie menoleh terkejut.


"Tidak ! "


Bernie semakin malu, apa yang telah dia lakukan barusan, kenapa seolah Bernie marah sekali karna Sharon bekerja di bar. Bernie melajukan mobilnya.


"Bajuku tertinggal disana"

__ADS_1


Bernie mengerem mendadak.


"Kenapa tadi tidak kau ambil? apalagi yang tertinggal? "


"Tidak ada, aku tidak membawa apapun ketika berangkat tadi"


Bernie kembali melajukan mobil.


"Siapa yang memasukkan mu kesana? "


"Jannis tadi dia juga mengantarku"


"Teman macam apa yang ingin memasukkan temannya ke kandang singa? "


"Jannis tidak seperti itu, lagi pula dia tidak tau jika aku akan dibohongi"


Bernie hanya tersenyum sinis. Mobilnya berhenti dihalaman rumahnya, untuk kedua kalinya Bernie membawa Sharon pulang, kali ini permintaan dia sendiri.


"Kau tidak memulangkan ku? "


"Aku tidak menjemputmu jadi aku tidak mengantarmu, kau bisa bermalam disini jika mau kalau tidak kau boleh pesan taxi sendiri"


Bagaimana caranya dia pesan taxi, sementara Handphonenya dirumah. Akhirnya Sharon ikut turun dan masuk kedalam rumah.


"Keluargamu kemana? kenapa aku tidak pernah melihat salah satu dari mereka? bahkan dihari wisudamu"


"Kau pernah memberi makan salah satu dari mereka, jika kau lupa"


"Maksudku yang lain"


"Aku tinggal sendiri dan jangan pernah menanyakan hal itu"


"Maaf"


Mungkin ada sesuatu di keluarga Bernie, makanya dia sensitif jika ditanya masalah keluarga, semua pajangan ditembok adalah foto Bernie sendiri dan beberapa lagi foto Tuan Rosendo tidak ada yang lain.


Bernie memberikan sebuah kaos pendek berwarna hitam dan juga celana pendek pada Sharon.


"Mataku bisa sakit melihat pakaianmu! "


"Kenapa? "


"Kau mau aku kelepasan? "


"Memangnya kau suka perempuan? "


"Kau pikir aku tidak normal? "

__ADS_1


Entah kenapa Sharon berfikir begitu, dia sendiri tidak tau mungkin karna waktu itu Bernie biasa saja ketika melihatnya hampir telanjang, dia pikir Bernie tidak normal.


Sharon segera kekamar mandi untuk berganti pakaian, Lama-lama dia takut dengan tatapan Bernie juga.


__ADS_2