
"Aku bukan kau! " ucap Bernie dengan marah.
Sharon menunduk, lalu perlahan-lahan air matanya menetes, namun dia tidak mengeluarkan suara. Rahangnya terasa sakit jika digerakkan juga kepalanya yang terasa nut-nut karna dijambak Ayahnya tadi.
Bernie menyadari jika Sharon menangis.
"Aku mengajakmu kemari bukan untuk menangis"
Buru-buru Sharon mengusap air matanya, dia berusaha keras untuk tidak menangis walaupun air matanya tetap mengalir dengan derasnya, membuat Bernie sedikit iba, dia tau persis perasaan Sharon saat ini.
"Maaf, apa aku bisa pulang sekarang? aku sudah bilang kau bisa menghukumku besok"
"Dan kau mendapat pukulan lagi dari Ayahmu? kau sudah besar kenapa kau tidak melawan sama sekali? tidak pantas seorang Ayah memukul anaknya seberapa besar pun kesalahannya"
Sharon hanya menggeleng, dia justru semakin terisak, dan tak dapat bicara karna nafasnya tersengal-sengal.
Bernie menghela nafas, kenapa jadi dia yang mengalah padahal niatnya menemui gadis ini adalah untuk meminta pertanggung jawaban atas gosip yang sudah beredar dikalangan mahasiswa.
Sekitar setengah jam lebih Bernie menunggu Sharon berhenti menangis, dan kini sudah sedikit reda.
"Kau sudah selesai? aku lelah mendengar tangisanmu"
"Maaf"
"Apa hal yang kau benci? "
Sharon menoleh dengan heran.
"Apa hal yang kau benci? " ulang Bernie
__ADS_1
"Aku... benci tampil didepan umum"
"Lakukan diacara wisuda sebagai tanggung jawabmu atas perbuatanmu yang buruk, akan kuusulkan pada MC nanti"
"Kan aku benci hal itu"
"Aku benci orang lain mengetahui keadaan papaku, dan kau membeberkan hal itu dengan gampangnya jadi besok kau harus melakukannya supaya kita impas! "
"Haruskah? "
"Ya, harus!! "
"Aku harus apa? "
"Terserah, yang penting kau tampil didepan umum! "
Bernie melajukan lagi mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat jantung Sharon terasa ingin lepas.
Mobil direm mendadak diperempatan lampu merah, entah dia akan membawa Sharon kemana.
"Kita mau kemana? "
"Kampus! "
"Nggak!! pakaianku tidak pantas aku malu"
Bernie melihat sekali lagi pakaian Sharon dari atas sampai bawah, tampaknya Sharon memang bukan orang kaya.
Bernie hanya tersenyum sinis. Lampu sudah menyala hijau dia melajukan mobilnya kembali.
__ADS_1
"Bernie kamu tidak dengar? "
"Ya"
Entah ini tadi lewat mana, Sharon tidak tau tiba-tiba saja sudah sampai dihalaman rumahnya, Sharon menoleh dengan lega.
"Baiklah Terima kasih sudah memberi tumpangan"
Sharon membuka pintu mobil.
"Ingat untuk melindungi dirimu sendiri! kau hidup seharusnya tidak bergantung pada orang lain"
Sharon hanya mengangguk, dia turun dan langsung masuk kedalam rumah, Bernie meninggalkan tempat itu dia ingin ke kantor, banyak hal yang harus dia kerjakan disana.
Bertepatan dengan itu, handphonenya berbunyi tanda ada telfon masuk, Bernie mengangkatnya tanpa memberhentikan mobilnya.
"Ya? "
"Nanti malam ada undangan makan malam dari perusahaan Louise BB, mereka sangat berharap anda bisa datang jadi mohon untuk mengosongkan jadwal apapun" Suara Om Cleo.
"Denganmu"
"Ya benar saya akan menemani anda"
"Oke"
Bernie mematikan telfonnya. Sebenarnya Bernie tidak ada niat sedikit pun untuk mendatangi undangan makan malam itu, hanya saja dia menghargai partnernya karna baru-baru ini perusahaannya dan perusahaan Louise BB tengah mengadakan kerja sama.
Tak sengaja Bernie melihat kearah kursi sampingnya, alias tempat Sharon berada disana beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
Diantara sandaran dan tempat duduk terdapat sebuah jepit rambut berwarna biru tua, jepit rambut itu hanya berukuran kecil, Bernie tak ingat Sharon mengenakan itu tapi ini pasti punya Sharon karna dia satu-satunya gadis yang pernah masuk kedalam mobil ini setelah mobil ini jadi miliknya beberapa tahun lalu.