
Awan hitam menggantung di atas langit. Warnanya bukan biru seperti biasanya,
tetapi abu-abu, saat seorang gadis menyaksikan gerimis perlahan turun
membasahi rumput dan bunga-bunga dari jendela kamarnya.
Gadis itu terbangun dengan malas. Menatap ke luar jendela. Suara deras hujan
masih begitu ramai di luar sana. Dia menatap jam di dinding bercat putih "Masih
pukul enam lebih sepuluh menit."
Hujan masih turun dengan sedikit petir dan guruh. Berganti dengan gerimis
tipis-tipis. Dia telah berseragam putih abu-abu lengkap dengan hijab berwarna
putih. Dia menyantap roti isi di hadapannya, mengunyahnya dengan malas. Entah
apa yang berbeda darinya hari ini, ada badai yang bersembunyi di dadanya yang
membuat rasa bahagia seolah pergi begitu saja dari bilik kecil berwarna merah
muda yang tersembunyi di balik daging.
Tadinya dia adalah gadis yang sangat riang dan ceria. Entah apakah karena
suara petir yang menyambar? Ataukah karena hujan yang turun dengan semakin
deras yang membuat keceriaannya hilang dan lenyap. Atau ada hal lain yang
menyelimuti hatinya. Segelas susu cokelat telah diteguknya hingga tandas. Namun
rasa haus di tenggorokannya tak juga hilang.
Raya. Sahabat gadis itu datang dari belakang. Membuyarkan lamunan si gadis
dengan tepukan di pundaknya, "Haura, jangan bengong, nanti kesambet lho!"
Gadis itu hanya menanggapinya dengan senyuman. Temannya ini adalah
satu-satunya sahabat baiknya, dia selalu ada di saat apapun. Sedih, bahagia
selalu mereka jalani bersama.
"Enggak, aku gak melamun. Hanya sedang rindu Om Biyan."
"Ah, temen baru kamu itu?" Raya memutari kursi yang diduduki oleh temannya.
Menarik kursi dan meletakan bok*ngnya.
Haura hanya mengangguk, kemudian mengembuskan napas sedikit kasar.
"Udah, ayo berangkat sekolah. Nanti telat!" ucap gadis itu seraya meletakkan
tas di punggungnya.
"Tunggu!"
Haura berlalu meninggalkan Raya begitu saja. Raya mengambil gelas berisi susu
cokelat, meminumnya dan menghabiskannya dengan tergesa-gesa. Menyambar roti isi
selai kacang. Kemudian berlari mengejar Haura yang sudah sedikit menjauh.
***
"Ra, bukannya itu Om Biyan temen baru kamu? dia sama Valery? Mereka pacaran?"
Haura hanya diam. Memandangi tontonan di hadapannya, dia menanggapi pertanyaan
Raya dengan dingin, "Om Bi itu kakak Valery." Haura mendesah menghela napas
dalam-dalam.
"Sudahlah. Kita masuk kelas saja." Mulutnya memang diam. Tetapi dia merasa ada
sesak yang mendesak di dadanya. Kemarin, seusai dia dan Om Biyan nonton di
__ADS_1
bioskop. Dia baru mengetahui, bahwa Valery adalah adik Om Biyan.
"Eh. Aku masih penasaran. Gimana bisa temen kamu itu adalah Kakak Valery?""Ya
bisa lah.""Sekarang hubungan kamu sama Om Biyan gimana?""Ya gak gimana-gimana."
"Valery itu menyebalkan sekali, Ra. Dia tak akan menyetujui hubunganmu dengan
Om Biyanmu itu. Biar nanti aku yang bilang sama dia ya!""Jangan, Raya! Nanti
malah urusannya tambah runyam dan hubunganku dengan Om Biyan jadi berantakan.
Yang penting inget, jangan ceritakan ini sama siapa pun."
Pelajaran hari ini masih sama. Hampir selalu di jam pertama dihadapkan dengan
angka-angka. Haura mengambil jurusan akuntansi. Dia memiliki cita-cinta untuk
bisa masuk STAN setelah lulus. Ingin bekerja di bea cukai atau di manapun
setelahnya. Asal menjadi pegawai pemerintah. Dia ingin hidup lebih baik.
Walaupun dia anak yatim piatu, dia tidak ingin menerima nasibnya begitu saja
tanpa berusaha. Dia telah bersusah payah dan berjuang keras mengukir prestasi
selama ini agar bisa mengangkat derajat dirinya sendiri. Dia bekerja paruh
waktu, agar bisa membiayai hidupnya dan pendidikannya agar tidak merepotkan
orang lain. Dia tidak ingin menjadi beban untuk siapapun. Termasuk Bibinya yang
merawatnya semenjak kedua orang tuanya telah pergi meninggalkannya untuk
selamanya.
Usai pulang sekolah, Haura pergi ke kedai tempatnya bekerja. Dia mengganti
seragamnya dengan kaus dan celana jeans. Gadis yang terlihat kalem saat di
sekolah, tak pernah banyak bicara, dan penyendiri, setelah keluar dari area
datang tepat waktu. Bos tempat dia bekerja terlalu baik untuk membuatnya layak
untuk melakukan kesalahan.
Hujan kembali turun. Daun-daun menari saling bergesekan karena tertiup angin.
Bahkan rumput juga meringkuk kedinginan. Haura berjalan di bawah hujan bersama
payung kecil berwarna hitam. Jalanan jauh lebih sepi dari biasanya. Mungkin
karena hujan turun, yang membuat orang-orang malas untuk beraktivitas.
Dalam guyuran hujan, toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan ini, tampak
lebih sepi dari biasanya. Hanya terlihat beberapa pengendara motor hilir mudik
dengan jas hujan berwarna abu-abu. Aroma aspal basah menguar menusuk hidung.
Haura menatap jalan yang dia lewati. Toko-toko kecil berjejer rapi di sepanjang
pinggiran jalan. Hujan telah reda. Tapi semua tampak masih basah, seperti
perasaannya. Dingin, tanpa hangat mentari.
Haura telah sampai di depan kedai. Masih terlihat sisa-sisa tetesan air hujan
dari genting jatuh menimpa paving block. Dia melipat payung, kemudian memasuki
kedai. Kedai tetap ramai, meski hujan membuat orang-orang bertahan dalam
rumah-rumah mereka. Aroma kopi yang menenangkan langsung menusuk ke dalam
penciuman. Membuat hati menjadi hangat dan nyaman.
"Kamu sudah datang, Ra?"
__ADS_1
"Iya, Kak. Maaf terlambat."
"Tidak apa-apa. Kamu sudah shalat?"
"Sudah. Tadi di sekolah."
Bosnya adalah wanita yang sangat baik dan perhatian. Suaminya meninggal karena
serangan jantung mendadak. Dia kehilangan putranya yang masih dalam kandungan
karena depresi pasca ditinggalkan oleh suaminya. Mungkin, karena dia tidak
punya anak dan sanak keluarga, sehingga dia begitu penyayang pada semua
karyawannya.
***
Haura mulai sibuk dengan tugas-tugasnya di kedai. Seperti biasa, tiap hari
rabu sejak dari pukul 03.30 akan ada acara musik. Semua pengunjung kedai bebas
menyanyi diiringi Haura sebagai penabuh drum, Arka sebagai gitaris, dan Bayu
sebagi kibord.
Setiap hari rabu, kedai akan lebih ramai oleh anak-anak muda seusia dirinya.
Pendapatan kedai akan jauh lebih meningkat dari biasanya.
"He! Anak cupu! Aku akan membayarmu lebih, jika kamu bersedia mengiringi
kekasihku ini bernyanyi."
Tampak Valery berdiri di depan panggung bersama Rayhan. Dia meletakkan
lengannya di pundak Rayhan. Kemudian memberikan tiga lembar uang kertas
berwarna merah kepada Haura.
'Hh. Sungguh pasangan arogan yang sangat serasi. Tapi apa peduliku. Yang
penting dia telah memberikanku upah, lalu apa salahnya menghibur dua anak
menyebalkan yang memang hanya tahu menghamburkan uang tanpa berpikir.'
Otak Haura akan lebih banyak digunakan daripada perasaannya, jika harus
berhadapan dengan orang-orang seperti Valery. Rasanya sayang, jika suaranya
terbuang sia-sia untuk berdebat dengan gadis yang sangat banyak bicara dan
arogan seperti Valery. 'Buang-buang tenaga saja.'
Jika bukan karena menghormati Om Biyan, Haura tidak akan pernah mau
berbasa-basi dengan Valery. Di sekolah, Haura dan Val selalu bersaing ketat.
Valery selalu menganggapnya sebagai rival yang harus dikalahkan. hampir tiga
tahun, mereka bersaing untuk mendapatkan ranking terbaik. Di awal tahun, Valery
selalu mengalahkannya, mendaat ranking terbaik di sekolah, selebihnya Haura
yang mengalahkan Valery. Menjadi juara umum.
Sepertinya Valery sangat tidak puas karena menjadi nomor dua. Sehingga dia
begitu membenci Haura. Apalagi setelah dia tahu, Rayhan, pria yang diincarnya
menyukai Haura. Tapi tentu saja Haura menolaknya. Haura sangat tahu seperti apa
sifat Ray. Dia berpikir jika seluruh wanita bisa dengan gampang didapatkannya
hanya dengan uang di kantongnya.
Hari itu, jika bukan karena pertolongan dari Om Biyan. Mungkin Haura sudah
__ADS_1
dilecehkan oleh Ray dan teman-temannya.