
Hari ini, Bulan November. Murid kelas dua belas mengadakan tur studi ke puncak
sebelum ujian. Sekolah ingin menghilangkan ketegangan agar anak-anak tidak
stres karena ujian.
Haura dan Raya telah mempersiapkan bekal sejak semalam. Ransel besar berwarna
hitam telah penuh dengan perlengkapan yang akan mereka bawa. Raya terlihat
sangat cantik dengan kaus pink dan celana jins, sedangkan Haura mengenakan kaus
hitam dengan kemeja kotak-kotak berwarna abu-abu, dan celana cargo panjang
berwarna abu-abu pula.
Seluruh siswa masuk dalam bus. Menikmati perjalanan di pagi yang dingin
disertai gerimis tipis-tipis. Katanya, hari ini puncak akan dingin. Berkisar
antara 12°C-13°C.
Pukul 12 siang bus telah sampai di bumi perkemahan. Setelah mendirikan kemah,
mereka berkumpul untuk makan siang.
Udara di puncak sangat segar. Jalan setapak dibuat berundak-undak agar
memudahkan para pecinta alam melintasinya. Di kanan kiri setapak, tumbuh
pohon-pohon cemara dan pinus. Aroma daun-daunnya sangat segar setelah diguyur
gerimis. Haura berjalan sendirian, memisahkan diri dari rombongan. Dia sudah
hafal benar daerah ini. Sehingga, dia tahu jalan mana yang harus dilewati untuk
menuju air terjun.
Setelah agak menjauh, tiba-tiba dia mendengar suara orang meminta tolong.
Suaranya berasal dari arah semak-semak yang tumbuh lebat di sisi jurang. Bulu
kuduknya mulai meremang. Gerimis yang turun satu-satu ini menambah kesan
mencekam. Tak ada satu pun orang yang melintas.
Dengan jantung berdebar, Haura memberanikan diri untuk mencari tahu sumber
suara, dan ternyata ada sebuah lubang yang sedikit dalam di kaki-kaki pohon.
Dia melihat ada Reyhan di dalam sana dengan kaki dan tangan yang terluka.
Haura hampir saja meninggalkan Rey. Jika saja rasa kemanusiaan tidak muncul
__ADS_1
dalam dirinya saat itu. Gerimis tipis-tipis kembali turun. Dengan susah payah
Haura membantu Reyhan keluar dari dalam lubang. Dia menggunakan akar untuk
menarik Rey ke permukaan.
Haura membalut luka pria di hadapannya dengan sapu tangan. Meminjamkan topi
putihnya untuk melindungi kepala Rey dari rinai gerimis. Setelah melepas sepatu
Rey dan menyingkapkan kaus kakinya, tangannya terampil memijat pergelangan kaki
pria di hadapannya itu. Dia mengetahui cara itu dari pelatih jujitsu di dojo
tempatnya berlatih bela diri.
"Terima kasih, Ra," ucap Rey.
Haura memandang pria di hadapannya penuh keheranan. Ucapan mustahil itu keluar
dari mulut seorang Rey yang angkuh dan sombong. Hampir membuat Haura tak
percaya.
Haura memapah Rey untuk kembali ke perkemahan. Setelah sampai di sana, seluruh
mata tertuju kepada mereka berdua. Bagi mereka, pemandangan itu adalah
pemandangan yang sangat mustahil. Seorang Rey, dipapah oleh Haura? Hampir
Jerry.
Teman-teman Rey langsung menghampiri Rey dan membawanya masuk dalam tenda.
Sementara itu, Haura kembali ke tendanya sendiri. Tatapan penuh tanya
dilasatkan oleh Raya. Pertanyaan demi pertanyaan berkumpul dalam benaknya.
Haura menyeduh secangkir kopi dan meminumnya. Badannya sedikit menggigil dan
bibirnya biru. Hujan tadi, sungguh hampir membekukan tubuhnya.
Haura menghirup aroma kopi dari dalam cangkir stainles itu dalam-dskam. Asap
tipis masih tampak mengepul dari kopinya. Kemudian dia meneguknya sedikit demi
sedikit.
"Ra! Kamu hutang satu penjelasan padaku!" serang Raya.
"Apa? Kamu gak lihat aku kedinginan begini? Masih juga ditanya-tanya!"
"Haura ... cepat jelaskan, gimana kamu bisa bareng sama Rey?" ucap Raya
__ADS_1
sembari menggoyang-goyangkan pundak Haura.
"Apaan siiih, Raya? Jangan heboh gini deh. Tadi, dia jatuh dalam lubang dan
terluka. Kebetulan aku lewat, jadi aku tolong."
"Aaah, sudah seperti dalam sinetron. Habis ini akan ada kisah manis benci jadi
cinta."
Raya tertawa sangat keras. Matanya berbinar-binar dengan tangan menangkup pipi
dan memandang ke atas. Jika dalam film animasi, pasti akan keluar lope-lope
berwarna merah dari matanya.
Mereka tidak pernah tahu, tawa itu adalah tawa terakhir Raya yang masih mampu
untuk Haura lihat. Karena dua minggu setelah hari ini, Raya akan mengalami hal
yang sangat mengenaskan dan membuat dirinya mengakhiri hidup untuk selamanya.
Sore ini pemandangan gunung sangatlah indah. Meski mendung masih menggantung
di atas langit, panorama matahari yang tenggelam terlihat begitu indah dari
sela-sela pepohonan. Aroma sengatan matahari yang menimpa daun-daun basah itu
adalah aroma yang sangat disukainya.
Hari berganti malam. Api unggun siap dinyalakan. Ada yang bernyanyi,
deklamasi, bahkan ada yang stand up komedi.Acaranya cukup menyenangkan. Dalam
keriuhan pesta api unggun ini, Reyhan mendekati Haura, saat semua sibuk dan
fokus pada acara. Rey menarik tangan Haura, hingga dia terpaksa berdiri
kemudian berjalan mengikuti Ray dari belakang. "Kamu mau apa sih Rey? Mau jebak
aku lagi?"
"Aku ingin minta maaf, Ra."
"Kamu tahu Rey? Perbuatan kamu kemarin itu adalah kriminal! Kamu tahu kenapa
aku tak lapor polisi? Karena kamu anak orang kaya yang bisa mengendalikan
apapun dengan uangmu! Aku malas melaporkan orang sepertimu yang sulit disentuh
hukum!"
Rey menunduk, sedangkan Haura kembali ke perkemahan. Dia malas berbicara
__ADS_1
dengan orang seperti Rey. Suasana hatinya menjadi tiba-tiba berubah karena
pembicaraan dengan pria itu.