
Uhuk
Pria dengan jaket hoodie berwarna hitam itu menyelamatkan Haura dari arus
sungai yang hampir membunuhnya. Setelah berada di pinggiran, pria itu duduk di
sampingnya dan memberikan minum. Haura mendorongnya. "Jauhi aku! Aku berada
dalam pengaruh obat. Sebelum aku kehilangan kendali dan menyerangmu, segeralah
pergi!"
"Apa yang kamu rasakan? Panas dan nyeri di bagian dada? Sakit di kepala?
Pandangan kabur?" tanya pria itu memberondong.
"Aku tidak tahu. Sepertinya memang seperti yang kamu katakan."
"Apakah ada hasrat aneh yang kamu rasakan? Seperti rangsangan spontan dan
ga*rah yang berlebih?" tanya pria itu lagi.
Haura mengangguk. "Sepertinya aku mengenali gejala obat ini. Mau mencoba
bertarung denganku? Mungkin itu akan sedikit mengurangi rasa sakitmu."
"Apa hubungannya?" tanya Haura.
"Sudahlah, percayalah padaku. Aku bukan orang jahat."
Entah ide dari mana, pria itu mengajak Haura berkelahi, katanya agar efek obat
yang ada dalam tubuh Haura dapat dikurangi pengaruhnya.
"Ayolah, aku yakin itu dapat menyalurkan andrenalinmu yang meninggi karena
obat itu."
"Namun, mataku sudah mulai buram. Rasanya aku akan terbang. Reaksi obat ini
cepat sekali," jawab Haura dengan suara berat.
"Kendalikanlah, kamu pasti bisa!"
Tanpa aba-aba pria di hadapan Haura mulai menyerangnya. Keduanya saling
melayangkan tendangan dan pukulan. Hampir dua kali sebuah pukulan mendarat di
perut Haura. Ternyata beberapa pukulan yang mengenainya dapat sedikit
mengurangi efek panas di dada.
Haura dikunci dengan lengan dilipat di punggungnya, kemudian dilepaskan
kembali oleh pria itu, lututnya terkena serangan, sehingga dia kembali jatuh
dengan lutut tertekuk. Haura mulai menyerang kedua kaki pria itu, tetapi pria
itu sungguh sangat cekatan.
"Perhatikan lawanmu, Nona. Ini adalah letak kelemahanmu!" ucap pria itu tanpa
berhenti menyerang.
Haura sangat kelelahan. Dia duduk di pinggiran aspal, dan pria itu pun duduk
di sampingnya. "Sekarang sudah jauh lebih baik setelah berkelahi?" tanyanya.
"Um," Haura mengangguk. Haura masih berusaha menata napasnya yang naik turun.
Tiba-tiba pria itu mengangkat tubuh Haura, dan melemparnya dalam sungai,
beruntung Haura masih dapat meraih besi pembatas jembatan. Kedua tangannya
berpegangan dengan sangat erat agar dia tidak jatuh. "Hei! Apa kamu sudah gila?
Aku bisa mati, tau!"
Pria di hadapan Haura hanya tersenyum, "Bukankah tadi kamu sendiri yang ingin
mati? Kenapa sekarang takut?"Pria ini sebenarnya hanya ingin menurunkan kadar
andrenalin Haura dengan memberikan ketakutan padanya.
__ADS_1
'Si*l! Pria ini benar-benar tidak berperasaan!' Tangan Haura mulai lemah, dan
akhirnya tangan kirinya mulai terlepas. Namun, pria s*alan ini masih juga hanya
tersenyum sinis dan melihat tontonan di hadapannya sebagai hiburan yang menarik.
Sudahlah, Haura sudah sangat pasrah dengan keadaannya. Sedikit lagi, tangannya
akan lelah kemudian terlepas, Haura berusaha meraih pembatas besi dengan
kakinya.
Ahhhhh
Hampir saja jatuh, jika pria ini tak meraih tangannya dan menariknya ke atas.
Mereka kehilangan keseimbangan. Yang membuat mereka berdua jatuh di atas aspal.
Dengan posisi Haura terjatuh tepat di atas tubuh pria itu.
Haura bangkit. Rona merah di wajahnya sangat terlihat. Keduanya tampak
sama-sama kikuk. Mereka saling membuang muka ke arah samping. Entah perasaan
apa yang sedang bergejolak di dada Haura, efek panas kembali menyebar saat
bersentuhan dengan tubuh pria di hadapannya ini. Bukan berdesir karena merasa
jatuh cinta pada pandangan pertama, tetapi seperti ada hasrat aneh yang
menyerangnya. 'Mungkinkah efek obat ini masih bekerja? kendalikan Haura,
kendalikan. Jangan sampai ... arghhh.'
"Kenapa? apa efeknya bertambah karena kita bersentuhan tadi?" tanya pria itu.
Haura menggeleng, lalu menunduk. Lalu menggeleng lagi. Dia sadar efeknya
memang bertambah. Lalu Haura menatap pria di hadapannnya dengan tatapan
mengisyaratkan tidak sedang baik-baik saja.
"Mau lomba lari?" tawar pria itu.Lagi-lagi Haura mengangguk. Sebelum aba-aba,
pria itu telah lebih dulu berlari meninggalkannya. Haura berusaha mengejarnya.
Mereka berlari sekitar lima belas menit. Haura merasa sangat lelah sekali hari
Lelah. Kemudian duduk di atas aspal. Pria itu berbalik, mendekat dan duduk di
samping Haura, kemudian merebahkan tubuhnya di atas aspal. Seolah aspal itu
adalah kasur empuk yang sangat nyaman.
12 Feb 2022
JODOH bag V
"Mau coba lomba lari?" tawar pria itu.Lagi-lagi Haura mengangguk. Sebelum
aba-aba, pria itu telah lebih dahulu berlari meninggalkannya dan Haura berusaha
mengejar.
Mereka berlari sekitar lima belas menit. Haura merasa sangat lelah sekali hari
ini. Dia mulai terengah-engah. Haura menekuk punggung dan memegangi lututnya.
Lalu dia duduk di atas aspal. Pria itu berbalik, mendekat, dan duduk di samping
Haura. Merebahkan tubuhnya di atas aspal. Seolah-olah aspal itu adalah kasur
empuk yang sangat nyaman.
Mereka berdua memandangi langit. Bintang-bintang bertaburan di atas sana.
Bulan tersenyum dengan indah. Sedang gumpalan-gumpalan awan di langit seolah
membentuk gajah berwarna putih, terkadang berubah menjadi kelinci yang sangat
manis, dan sesekali menjadi kuda putih yang sangat gagah.
Pria di hadapan Haura bangkit dan duduk. "Kita belum berkenalan. Namaku
__ADS_1
Fabiyan. Panggil saja Om Biyan." Pria ini tersenyum dengan sangat manis.
Menyihir Haura hingga tanpa sadar mengulurkan tangannya. "Hi. Aku Hurun in.
Tapi orang-orang lebih sering memanggilku Haura."
"Kok bisa jauh sekali? Dari Hurun in menjadi Haura?" Biyan tertawa keheranan.
"Ya. Bibiku pernah berkata, aku pernah jatuh ke sungai. Lalu namaku diganti
menjadi Haura. Namun, masih satu makna. Jadi, selain anak-anak sekolahku yang
tahu nama asliku, mereka akan tetap memanggilku Haura. Kata Bibi, dua nama itu
mempunyai arti yang sama. Bidadari bermata jeli."
Biyan dan Haura tertawa dengan sangat lepas. Mengingat tadi saat Haura nekat
menceburkan diri dalam sungai. Fabian tak habis pikir. Bagaimana bisa seorang
anak seumuran Haura bisa berbuat senekat itu tanpa berpikir panjang. "Apa kau
lebih takut kehilangan kehormatanmu? Daripada kehilangan nyawamu?"
Haura mengangguk tanda membenarkan ucapan Biyan. "Om sepertinya juga bukan
pria baik-baik ya?"
Biyan tersentak. Tawanya tertahan. Dia begitu kagum dengan keberanian bocah di
hadapannya. Bicara begitu terus terang tanpa rasa sungkan sedikit pun. "Kalau
aku orang jahat, kamu pasti sudah tak hiih," ucap Biyan gemas. Kedua tangannya
seperti ingin mencekik haura, tetapi hanya pura-pura saja tentunya.
"Boleh minta no. ponsel kamu?" kata Biyan menambahkan.
"Ah! Ponselku. Ponselku?" Haura meraba ponsel di saku belakang. "Yah, udah
keburu mati ... huwaaaa ...."
Biyan memandangi gadis di hadapannya yang terlihat lebih menggemaskan karena
polah konyolnya. Bahkan sudut bibirnya pun melengkung bak bulan sabit.
Sementara itu, Haura yang diperhatikan hanya sibuk mengoceh tidak jelas. Dengan
mulut yang dimonyongkan. Entah mengapa ada debar aneh di dada Biyan. Ingin
sekali dia mencubit kedua pipi gadis di hadapannya ini. Namun urung dia
lakukan. Sebab, dia dan gadis ini baru saja saling mengenal.
Biyan mengambil ponsel di sakunya. Beruntung ponsel Biyan tidak mati meski
terendam, lalu memberikannya pada Haura. "Ambil ini. Agar kita nanti bisa tetap
berkomunikasi setelah hari ini. Kamu harus membayar pertolonganku. Mana
ponselmu? Aku akan memperbaikinya. Nanti setelah jadi, kamu bisa menukarnya
kembali."
"Maaf Om. Aku gak mau berhutang lebih sama Om."
"Baiklah, lalu di mana aku bisa menemuimu? Kamu punya hutang mentraktirku
makan, kan?
Haura menyebutkan nama kedai tempat dia bekerja. Re*'s Coffe.
"Baiklah, mari sekarang kita pulang!" Biyan menarik tangan Haura hingga gadis
itu berdiri. Dia memasukan kunci, kemudian menstarter motornya. Haura naik di
belakang kemudi. Kemudian Biyan menarik gas dan melajukan motor dengan
kecepatan sedang. Dia mengantarkan Haura sampai ke rumahnya.
"Terima kasih, Om."
"Om bawa motor kamu ya? Besok Om antar ke tempat kerja kamu."
__ADS_1
Haura mengangguk tanda setuju. Dia menatap punggung pria itu yang pergi
meninggalkannya.