Haura

Haura
Pria Misterius


__ADS_3

Uhuk


Pria dengan jaket hoodie berwarna hitam itu menyelamatkan Haura dari arus


sungai yang hampir membunuhnya. Setelah berada di pinggiran, pria itu duduk di


sampingnya dan memberikan minum. Haura mendorongnya. "Jauhi aku! Aku berada


dalam pengaruh obat. Sebelum aku kehilangan kendali dan menyerangmu, segeralah


pergi!"


"Apa yang kamu rasakan? Panas dan nyeri di bagian dada? Sakit di kepala?


Pandangan kabur?" tanya pria itu memberondong.


"Aku tidak tahu. Sepertinya memang seperti yang kamu katakan."


"Apakah ada hasrat aneh yang kamu rasakan? Seperti rangsangan spontan dan


ga*rah yang berlebih?" tanya pria itu lagi.


Haura mengangguk. "Sepertinya aku mengenali gejala obat ini. Mau mencoba


bertarung denganku? Mungkin itu akan sedikit mengurangi rasa sakitmu."


"Apa hubungannya?" tanya Haura.


"Sudahlah, percayalah padaku. Aku bukan orang jahat."


Entah ide dari mana, pria itu mengajak Haura berkelahi, katanya agar efek obat


yang ada dalam tubuh Haura dapat dikurangi pengaruhnya.


"Ayolah, aku yakin itu dapat menyalurkan andrenalinmu yang meninggi karena


obat itu."


"Namun, mataku sudah mulai buram. Rasanya aku akan terbang. Reaksi obat ini


cepat sekali," jawab Haura dengan suara berat.


"Kendalikanlah, kamu pasti bisa!"


Tanpa aba-aba pria di hadapan Haura mulai menyerangnya. Keduanya saling


melayangkan tendangan dan pukulan. Hampir dua kali sebuah pukulan mendarat di


perut Haura. Ternyata beberapa pukulan yang mengenainya dapat sedikit


mengurangi efek panas di dada.


Haura dikunci dengan lengan dilipat di punggungnya, kemudian dilepaskan


kembali oleh pria itu, lututnya terkena serangan, sehingga dia kembali jatuh


dengan lutut tertekuk. Haura mulai menyerang kedua kaki pria itu, tetapi pria


itu sungguh sangat cekatan.


"Perhatikan lawanmu, Nona. Ini adalah letak kelemahanmu!" ucap pria itu tanpa


berhenti menyerang.


Haura sangat kelelahan. Dia duduk di pinggiran aspal, dan pria itu pun duduk


di sampingnya. "Sekarang sudah jauh lebih baik setelah berkelahi?" tanyanya.


"Um," Haura mengangguk. Haura masih berusaha menata napasnya yang naik turun.


Tiba-tiba pria itu mengangkat tubuh Haura, dan melemparnya dalam sungai,


beruntung Haura masih dapat meraih besi pembatas jembatan. Kedua tangannya


berpegangan dengan sangat erat agar dia tidak jatuh. "Hei! Apa kamu sudah gila?


Aku bisa mati, tau!"


Pria di hadapan Haura hanya tersenyum, "Bukankah tadi kamu sendiri yang ingin


mati? Kenapa sekarang takut?"Pria ini sebenarnya hanya ingin menurunkan kadar


andrenalin Haura dengan memberikan ketakutan padanya.

__ADS_1


'Si*l! Pria ini benar-benar tidak berperasaan!' Tangan Haura mulai lemah, dan


akhirnya tangan kirinya mulai terlepas. Namun, pria s*alan ini masih juga hanya


tersenyum sinis dan melihat tontonan di hadapannya sebagai hiburan yang menarik.


Sudahlah, Haura sudah sangat pasrah dengan keadaannya. Sedikit lagi, tangannya


akan lelah kemudian terlepas, Haura berusaha meraih pembatas besi dengan


kakinya.


Ahhhhh


Hampir saja jatuh, jika pria ini tak meraih tangannya dan menariknya ke atas.


Mereka kehilangan keseimbangan. Yang membuat mereka berdua jatuh di atas aspal.


Dengan posisi Haura terjatuh tepat di atas tubuh pria itu.


Haura bangkit. Rona merah di wajahnya sangat terlihat. Keduanya tampak


sama-sama kikuk. Mereka saling membuang muka ke arah samping. Entah perasaan


apa yang sedang bergejolak di dada Haura, efek panas kembali menyebar saat


bersentuhan dengan tubuh pria di hadapannya ini. Bukan berdesir karena merasa


jatuh cinta pada pandangan pertama, tetapi seperti ada hasrat aneh yang


menyerangnya. 'Mungkinkah efek obat ini masih bekerja? kendalikan Haura,


kendalikan. Jangan sampai ... arghhh.'


"Kenapa? apa efeknya bertambah karena kita bersentuhan tadi?" tanya pria itu.


Haura menggeleng, lalu menunduk. Lalu menggeleng lagi. Dia sadar efeknya


memang bertambah. Lalu Haura menatap pria di hadapannnya dengan tatapan


mengisyaratkan tidak sedang baik-baik saja.


"Mau lomba lari?" tawar pria itu.Lagi-lagi Haura mengangguk. Sebelum aba-aba,


pria itu telah lebih dulu berlari meninggalkannya. Haura berusaha mengejarnya.


Mereka berlari sekitar lima belas menit. Haura merasa sangat lelah sekali hari


Lelah. Kemudian duduk di atas aspal. Pria itu berbalik, mendekat dan duduk di


samping Haura, kemudian merebahkan tubuhnya di atas aspal. Seolah aspal itu


adalah kasur empuk yang sangat nyaman.


12 Feb 2022


JODOH bag V


"Mau coba lomba lari?" tawar pria itu.Lagi-lagi Haura mengangguk. Sebelum


aba-aba, pria itu telah lebih dahulu berlari meninggalkannya dan Haura berusaha


mengejar.


Mereka berlari sekitar lima belas menit. Haura merasa sangat lelah sekali hari


ini. Dia mulai terengah-engah. Haura menekuk punggung dan memegangi lututnya.


Lalu dia duduk di atas aspal. Pria itu berbalik, mendekat, dan duduk di samping


Haura. Merebahkan tubuhnya di atas aspal. Seolah-olah aspal itu adalah kasur


empuk yang sangat nyaman.


Mereka berdua memandangi langit. Bintang-bintang bertaburan di atas sana.


Bulan tersenyum dengan indah. Sedang gumpalan-gumpalan awan di langit seolah


membentuk gajah berwarna putih, terkadang berubah menjadi kelinci yang sangat


manis, dan sesekali menjadi kuda putih yang sangat gagah.


Pria di hadapan Haura bangkit dan duduk. "Kita belum berkenalan. Namaku

__ADS_1


Fabiyan. Panggil saja Om Biyan." Pria ini tersenyum dengan sangat manis.


Menyihir Haura hingga tanpa sadar mengulurkan tangannya. "Hi. Aku Hurun in.


Tapi orang-orang lebih sering memanggilku Haura."


"Kok bisa jauh sekali? Dari Hurun in menjadi Haura?" Biyan tertawa keheranan.


"Ya. Bibiku pernah berkata, aku pernah jatuh ke sungai. Lalu namaku diganti


menjadi Haura. Namun, masih satu makna. Jadi, selain anak-anak sekolahku yang


tahu nama asliku, mereka akan tetap memanggilku Haura. Kata Bibi, dua nama itu


mempunyai arti yang sama. Bidadari bermata jeli."


Biyan dan Haura tertawa dengan sangat lepas. Mengingat tadi saat Haura nekat


menceburkan diri dalam sungai. Fabian tak habis pikir. Bagaimana bisa seorang


anak seumuran Haura bisa berbuat senekat itu tanpa berpikir panjang. "Apa kau


lebih takut kehilangan kehormatanmu? Daripada kehilangan nyawamu?"


Haura mengangguk tanda membenarkan ucapan Biyan. "Om sepertinya juga bukan


pria baik-baik ya?"


Biyan tersentak. Tawanya tertahan. Dia begitu kagum dengan keberanian bocah di


hadapannya. Bicara begitu terus terang tanpa rasa sungkan sedikit pun. "Kalau


aku orang jahat, kamu pasti sudah tak hiih," ucap Biyan gemas. Kedua tangannya


seperti ingin mencekik haura, tetapi hanya pura-pura saja tentunya.


"Boleh minta no. ponsel kamu?" kata Biyan menambahkan.


"Ah! Ponselku. Ponselku?" Haura meraba ponsel di saku belakang. "Yah, udah


keburu mati ... huwaaaa ...."


Biyan memandangi gadis di hadapannya yang terlihat lebih menggemaskan karena


polah konyolnya. Bahkan sudut bibirnya pun melengkung bak bulan sabit.


Sementara itu, Haura yang diperhatikan hanya sibuk mengoceh tidak jelas. Dengan


mulut yang dimonyongkan. Entah mengapa ada debar aneh di dada Biyan. Ingin


sekali dia mencubit kedua pipi gadis di hadapannya ini. Namun urung dia


lakukan. Sebab, dia dan gadis ini baru saja saling mengenal.


Biyan mengambil ponsel di sakunya. Beruntung ponsel Biyan tidak mati meski


terendam, lalu memberikannya pada Haura. "Ambil ini. Agar kita nanti bisa tetap


berkomunikasi setelah hari ini. Kamu harus membayar pertolonganku. Mana


ponselmu? Aku akan memperbaikinya. Nanti setelah jadi, kamu bisa menukarnya


kembali."


"Maaf Om. Aku gak mau berhutang lebih sama Om."


"Baiklah, lalu di mana aku bisa menemuimu? Kamu punya hutang mentraktirku


makan, kan?


Haura menyebutkan nama kedai tempat dia bekerja. Re*'s Coffe.


"Baiklah, mari sekarang kita pulang!" Biyan menarik tangan Haura hingga gadis


itu berdiri. Dia memasukan kunci, kemudian menstarter motornya. Haura naik di


belakang kemudi. Kemudian Biyan menarik gas dan melajukan motor dengan


kecepatan sedang. Dia mengantarkan Haura sampai ke rumahnya.


"Terima kasih, Om."


"Om bawa motor kamu ya? Besok Om antar ke tempat kerja kamu."

__ADS_1


Haura mengangguk tanda setuju. Dia menatap punggung pria itu yang pergi


meninggalkannya.


__ADS_2