Haura

Haura
Cincin Emas


__ADS_3

Suara lembut tetesan air hujan yang jatuh menimpa atap gedung terdengar merdu


dan menenangkan. Dari kaca jendela ruangan ini terlihat daun-daun menari dengan


gemulai saat tertiup angin. 'Ruang ini semakin terasa dingin,' bisik gadis itu


dalam hati. Haura duduk membisu di ruangan kelas barunya. Dalam guyuran hujan,


ruangan ini terasa jauh lebih tenang. Tak ada keriuhan seperti hari sebelumnya.


Pikirannya menerawang ke masa kecilnya. Menatap ke luar sana. Membayangkan


saat dia berlari-lari bermain-main dengan hujan di halaman rumah bersama


Ayahnya.Saat itu Ayahnya mengejar dirinya yang masih berusia tujuh tahun dengan


gemas sambil berusaha menangkap. Namun sayang, Haura kecil sangat gesit ketika


berlari.


"Ra, sudah cukup ya, hujan-hujanannya. Nanti Haura Flu!"


Bukannya mendengar imbauan dari sang ayah, dia malah semakin tidak


menghiraukan sama sekali. Dia cekikikan sambil tersenyum dan tertawa. Hujan


semakin deras. Hingga Haura akhirnya tertangkap kemudian meronta dari


cengkeraman sang Ayah. Masa-masa bahagia itu telah berlalu cukup lama. Namun


kenangannya masih melekat erat dalam ingatan.


Drrrt drrrt tring


[Assalamu'alaikum,]


Sudah hampir dua bulan lalu Haura mengabaikan chat dari Om Biyan. Sejak


kejadian hari itu, hari di mana dia mengetahui kebenaran soal Val. Dia


sebenarnya juga sangat rindu, tetapi entah mengapa dia malah mengabaikan


perasaannya.


[Haura, kamu mengapa mengabaikan chat dariku?]


Lagi-lagi, Haura diam. Sekilas dia menatap layar ponsel, lalu mengembalikannya


lagi dalam ke dalam saku.


[Ra ]


[Baiklah, aku akan tetap menunggu hingga kamu mau menjawab chat dariku.]


Mata Haura mulai berkaca-kaca. Sejenak pesan itu memecah konsentrasinya. Detak


jantungnya mulai sekarat, sakit dan mendesak. Dia pun ingin kembali mengikat


erat simpul rasa yang telah terikat antara Biyan dan dirinya. Otaknya


benar-benar mulai tumpul, benar-benar tak ingin mengingat bahwa Om Bi adalah


Kakak dari Valery. Namun, bayangan chat yang Val kirimkan dalam ponsel Raya


kembali melintas. Dia tak memungkiri tentunya, bahwa pria itu masih bertahta


dengan sempurna di singgasana hatinya.


[Haura, besok aku akan menemuimu. Aku harap dirimu tak lagi menghindariku. Ku


mohon.]


Tumbang sudah pertahanannya. Jarinya bergerak mengetik balasan untuk pesan


pria di seberang sana.


[Iya ]


Ah, pria itu memang tetap mampu menguasai kewarasannya. Sikapnya yang selalu

__ADS_1


lembut, membuat dirinya tetap terpesona. Pria itu memang sangat piawai dalam


membuatnya bahagia meski itu hanya dengan sebuah lengkungan senyum di bibirnya.


Akhirnya, kelas pun usai. Haura berjalan sambil menatap langit biru. Birunya


tampak sangat jernih, menyuguhkan keindahan yang tak berkesudahan.


"Ra," panggil seorang pria yang sangat dikenalnya.


Senyumnya masih begitu menawan seperti biasa. Sekilas Haura melirik jari manis


pria di hadapannya. 'Ternyata cincin itu masih berada di sana.' batinnya.


Meskipun cincin di jari manis Haura kini telah berpindah pada kotak yang


tersimpan rapi dalam laci kamarnya, pria ini masih tetap setia menunggu


sentuhan rasa itu kembali di hati Haura. Tanpa lelah dan tanpa mengeluh.


Suara pantofel begitu nyaring memasuki sebuah ruangan luas bercat kuning


gading. Gadis berkerudung hitam dengan wajah sedikit kemerahan itu duduk


terpaku di meja yang belum pernah dijamahnya.


Internet dari layar pipih di hadapannya telah terkoneki. Beberapa e-mail dari


orang-orang terdekat telah masuk dan membuat lengkungan indah serupa bulan


sabit menghiasi senyumannya.


[Selamat, ya, Ra. Sekarang kamu sudah meraih mimpi kamu.]


E-mail itu adalah dari Reyhan. Yang sekarang sudah menjadi squadron angkatan


udara.


[Selamat, Ra. Semoga sukses bersama mimpimu.]


Ari mengirimkan email yang mendoakan kesuksesannya.


Terpampang foto profil seorang pria berkaus biru di tepian pantai, Fabiyan. Dia


telah menjadi seorang hakim mengikuti jejak papahnya. Gadis itu mulai menggeser


gambar telepon berwarna hijau dari sana.


"GANBATE KUDASAI!" suara itu terdengar sangat semangat dari seberang sana.


Menciptakan lengkungan indah yang lebih baik dari lengkungan biasanya.


"Ya," jawab gadis itu.


Beberapa obrolan hangat yang hampir sepanjang lima menit itu telah memberi


semangat baru bagi hari gadis itu.


Bumi masih berputar pada porosnya. Ini adalah hari saat gadis itu mulai


mengejar nasibnya. Mimpi sang ayah telah diwujudkannya dengan semangat dan


penuh cinta. Hanya sayang pada hari ini, tak ada satu pun orang yang


membersamainya. Tidak ayahnya, tidak juga Raya.


Hari-hari berlalu tanpa ada yang berbeda. Semua sama, pagi berangkat dan sore


pulang, berulang dan berulang kembali. Bahkan terkadang lembur sampai tak punya


waktu untuk bersosialisasi. Ada perasaan kesepian di hatinya. Dia tak tahu apa


yang dia rasakan. Yang pasti itu bukan perasaan bahagia. Rasa sepi menghinggapi


berkali-kali. Pada hari kemarin, sang atasan meminta Haura untuk menikah siri


dengannya. Sang atasan merupakan pria beristri dengan gelar eselon satu.


Ah, betapa tersiksa, jika Haura menerima tawaran menjadi istri simpanan pria

__ADS_1


tua yang bisa dikatakan lebih mirip buaya daripada manusia. Pemikiran gadis itu


ortodoks; satu pria, satu wanita sehingga tidak akan pernah ada kata "Madu"


dalam kosakata buku hidupnya. Pikirannya hari ini menjadi kacau balau. Ada


beberapa perusahaan besar yang memberikan dia tawaran untuk memanipulasi pajak


dengan imbalan yang tak sedikit tentunya.


Ah, ternyata pekerjaannya ini adalah pusatnya pertambangan emas dan berlian.


Satu kesiapan darinya, akan ada nominal yang sangat banyak sekali angka nol di


belakangnya memasuki rekening tabungan. Seketika ingatannya kembali pada


perkataan sang ayah. " Nak, ingatlah. Satu suap yang kamu masukan dalam perutmu


halal atau haram itu akan membawamu pada pilihanmu, 'Syurga' atau 'neraka'.


Ayahnya mengatakan itu adalah pesan yang pernah dititipkan dari sang bunda


untuknya.


Hampir saja dia ingin resign dari pekerjaannya. Namun, dia tak bisa


melakukannya. Itu adalah konsekuensi karena telah memilih sekolah di kedinasan


dan menjadi abdi negara. Mungkin memang sudah menjadi sebuah takdir untuknya,


dia duduk di posisi ini. Mungkin menurut Tuhan, jika orang lain yang berada di


posisinya, maka lebih banyak lagi kemudharatan yang akan terjadi di dunia.


'Ah, mengapa semuanya menjadi seberat ini?' batinnya. Hidupnya tadinya tenang


dan damai, berisi kesepian yang tiada berujung. Namun, kini semuanya berubah


menjadi kebisingan yang benar-benar riuh dan memekakan telinga.


Setelah menyejukkan diri di bawah guyuran air dingin, dia duduk sambil meneguk


segelas cokelat panas yang tadi di buatnya. Biskuit kesukaannya tak lupa dia


sandingkan di atas meja. Rambutnya yang masih basah di lapnya dengan handuk


kecil yang bertengger mesra di bahunya.


Baru saja dia menyalakan layar di hadapannya, sudah ada teror yang sangat


mengejutkan. Dia tersentak geram. Sebuah ancaman kini sedang dibidikkan ke


arahnya. Dia tak punya senjata apa pun selain diamnya. Menanggapi orang dungu


itu tandanya dia juga dungu. Menanggapi kegilaan seseorang itu jelas akan


membuat dirinya menjadi sama gilanya dengan dia.


E-mail datang dari Reyhan yang mengajaknya berlibur ke "Si Kunir" bulan depan


cukup membuatnya memecah kesemerawutan yang akhir-akhir ini melanda pikirannya.


Yah, menghirup segarnya hawa pegunungan pasti akan memberinya energi baru untuk


menghadapi masalah yang pasti kedepannya nanti akan lebih banyak. Apalagi ada


Ari dan Fabiyan yang juga akan ikut.


Haura mengirimkan balasan tanda dia juga setuju untuk ikut. Untuk pertama


kalinya dia memberi nomor ponselnya pada pria lain selain Fabiyan.


Gadis itu membuka laci, tampak sebuah kotak pemberian Biyan di sana. Dia


mengambil dan membukanya, sebuah cincin emas putih masih tersimpan dengan


rapih. 'Apakah ini saatnya dia kembali mengenakannya? Bukankah tawaran itu


selamanya masih berlaku untuknya sebelum Fabiyan memutuskannya?' ucapnya dalam

__ADS_1


hati.


__ADS_2