
Haura berjalan di bawah derasnya hujan. Sesekali kilatan petir membelah langit
dan suara gemuruh terus menggelegar memekakkan telinga. Dia berjalan tanpa alas
kaki. Hatinya remuk redam setelah mendengar bahwa Val adalah alasan di balik
kepergian Raya. Adik dari pria yang kini telah mengikat hidupnya.
Haura berjalan tak tentu arah hingga tanpa sadar dia telah sampai di pelataran
rumah Valery. Kakinya gontai, apakah dia mampu menghukum adik dari pria yang
kini telah mengikat janji dengannya. Haura menekan bel rumah. Seorang wanita
paruh baya membukakan pintu untuknya. Dia berjalan memasuki rumah Om Biyan
dengan pakaian dan tubuh yang masih basah.
Papa Om Bi terkejut melihat calon menantunya datang dalam keadaan yang seperti
itu.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Papa Om Bi cemas.
"Mana Val, Pah?"
"Papa mengirim Val ke Australia kemarin," jawab Papa Om Bi.
"Apa Papa tahu, Val adalah alasan Raya pergi meninggalkan dunia ini, Pa?"
Papa Om Bi tampak sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Haura. Dia
terdiam dan tersirat kegelisahan di wajahnya. Dia seperti mengalihkan
pembicaraan dengan memerintahkan asisten rumah tangga untuk mengambilkan Haura
handuk dan membuatkan teh hangat.
"Pah, apakah Papa memang sudah mengetahuinya? Tunggu, bukankah Papa adalah
hakim dalam persidangan Raya, hari itu?"
Haura mulai mengingat-ingat wajah pria di hadapannya ini. Wajah yang sama yang
mengetuk palu di persidangan.
Tiba-tiba Papa bersimpuh di hadapan Haura. " Ampuni putri Papa, Haura! Maafkan
Papa!"
Tubuh Haura merosot hingga terduduk di atas lantai. Hatinya luluhlantak
__ADS_1
mendengar pengakuan pria di hadapannya itu. 'Inikah alasannya, mengapa para
pelaku itu bisa bebas begitu saja?' Ternyata, semua adalah untuk menyelamatkan
Val. Haura sudah tak mampu lagi untuk menangis. Kejutan ini sungguh telah
meluluhlantakkan perasaannya.
"Papa mohon, maafkan Papa dan Val." pria di hadapannya ini, benar-benar
memohon.
"Ra, meskipun Val dipenjara, itu tidak akan mengembalikan Raya, bukan? Papa
mohon, lepaskan Val. Papa janji, akan menjaga Val, agar dia tidak akan
mengulangi kesalahan yang sama."
"Ra, Papa tidak akan menyalahkanmu jika kamu marah dan benci kepada Papa dan
Val. Namun, Biyan sama sekali tak tahu apa-apa tentang ini. Papa mohon jangan
tinggalkan Biyan."
Haura bangun, kemudian pergi meninggalkan rumah Biyan. Dia berjalan tak tentu
arah. Hingga Biyan telah berada di belakangnya, menarik tangannya dan merangkul
luka, rasa sakit, di dalam dadanya. Meluapkan segala yang dia rasakan dalam
pelukan pria yang keluarganya telah menjadi alasan penderitaannya.
Haura menyaksikan kegelapan mengitari. Tak ada sedikit pun secercah cahaya
yang bisa dia temukan. Pada akhirnya dia sendiri yang harus merangkul
musuh-musuhnya untuk dia jadikan berkah tersembunyi yang datang untuk meredam
semua dendam, semua amarah, semua luka, dan semua masa lalu yang ingin segera
dihapusnya dari ingatan.
Lelah, sakit, dan kegelapan di dadanya kini dia luapkan dalam tangis di
pelukan pria yang selalu menjaganya tanpa lelah itu. Air matanya bercampur
dengan air suci Tuhan. Membasuh setiap luka yang selalu mengucurkan darah
setiap menitnya. Luka menganga yang tidak tahu ke mana mencari penambalnya.
"Ra, aku sudah dengar semuanya dari Papa. Aku mengerti perasaanmu."
__ADS_1
Saat tadi Papa Om Bi melihat Haura keluar dari rumahnya, dia langsung
menelepon Biyan agar segera mencari Haura. Di bawah guyuran hujan yang sangat
deras Haura menangis sejadi-jadinya di pelukan Biyan.
Biyan membawa Haura berteduh di kursi halte.
"Ra, aku tak mampu menghilangkan kemarahan dalam hatimu. Sebab, itu adalah
sebuah naluri di mana kamu tidak akan membiarkan hal-hal seperti itu terjadi
pada dirimu atau pun wanita mana pun. Aku juga tak mampu untuk memintamu
menghilangkan rasa sedih dalam hatimu, sebab hanya cara itulah yang membuatmu
mampu melepaskan kesedihan dan belajar untuk mengikhlaskan. Jika ada rasa
ketakutan dalam dirimu karena hidup dalam kesepian dan kesendirian, yakinlah,
itu akan membuatmu memiliki keberanian untuk mengatasi masa sulit yang
sebelumnya tidak pernah berani kamu taklukan dan untuk semua itu, aku akan ada
di sisimu selama kamu inginkan. Aku. Tak akan mampu memaksa dirimu melupakan
kebencian terhadap keluargaku. Namun, untuk itu aku selalu bersedia untuk
membersamaimu melewati semuanya. Kamu bisa pegang janji dan perkataanku."
Kata-kata Biyan seperti air dingin di kala api berkobar dalam hatinya. Dia
seolah-olah menjadi penyemangat hidup bagi Haura yang sudah sangat lelah
melangkah.
Hujan mulai mereda, berganti dengan gerimis tipis yang jatuh satu per satu.
Mereka berjalan kembali menuju rumah gadis itu. Setelah beberapa lama berjalan,
mereka akhirnya sampai di rumah mungil di tengah persawahan. Biyan membuatkan
secangkir teh hangat untuk menghangatkan tubuh Haura yang sudah sangat
kedinginan dan dengan bibir telah membiru itu. Terlebih hatinya, sekarang pasti
kutub utara dan selatan telah bersatu dan berpindah dalam bilik kecil berwarna
merah muda di balik dadanya. Entah, kapan es itu akan mencair dan mengalirkan
air terjun yang indah dan mendamaikan.
__ADS_1