Haura

Haura
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Haura berjalan di bawah derasnya hujan. Sesekali kilatan petir membelah langit


dan suara gemuruh terus menggelegar memekakkan telinga. Dia berjalan tanpa alas


kaki. Hatinya remuk redam setelah mendengar bahwa Val adalah alasan di balik


kepergian Raya. Adik dari pria yang kini telah mengikat hidupnya.


Haura berjalan tak tentu arah hingga tanpa sadar dia telah sampai di pelataran


rumah Valery. Kakinya gontai, apakah dia mampu menghukum adik dari pria yang


kini telah mengikat janji dengannya. Haura menekan bel rumah. Seorang wanita


paruh baya membukakan pintu untuknya. Dia berjalan memasuki rumah Om Biyan


dengan pakaian dan tubuh yang masih basah.


Papa Om Bi terkejut melihat calon menantunya datang dalam keadaan yang seperti


itu.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Papa Om Bi cemas.


"Mana Val, Pah?"


"Papa mengirim Val ke Australia kemarin," jawab Papa Om Bi.


"Apa Papa tahu, Val adalah alasan Raya pergi meninggalkan dunia ini, Pa?"


Papa Om Bi tampak sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Haura. Dia


terdiam dan tersirat kegelisahan di wajahnya. Dia seperti mengalihkan


pembicaraan dengan memerintahkan asisten rumah tangga untuk mengambilkan Haura


handuk dan membuatkan teh hangat.


"Pah, apakah Papa memang sudah mengetahuinya? Tunggu, bukankah Papa adalah


hakim dalam persidangan Raya, hari itu?"


Haura mulai mengingat-ingat wajah pria di hadapannya ini. Wajah yang sama yang


mengetuk palu di persidangan.


Tiba-tiba Papa bersimpuh di hadapan Haura. " Ampuni putri Papa, Haura! Maafkan


Papa!"


Tubuh Haura merosot hingga terduduk di atas lantai. Hatinya luluhlantak

__ADS_1


mendengar pengakuan pria di hadapannya itu. 'Inikah alasannya, mengapa para


pelaku itu bisa bebas begitu saja?' Ternyata, semua adalah untuk menyelamatkan


Val. Haura sudah tak mampu lagi untuk menangis. Kejutan ini sungguh telah


meluluhlantakkan perasaannya.


"Papa mohon, maafkan Papa dan Val." pria di hadapannya ini, benar-benar


memohon.


"Ra, meskipun Val dipenjara, itu tidak akan mengembalikan Raya, bukan? Papa


mohon, lepaskan Val. Papa janji, akan menjaga Val, agar dia tidak akan


mengulangi kesalahan yang sama."


"Ra, Papa tidak akan menyalahkanmu jika kamu marah dan benci kepada Papa dan


Val. Namun, Biyan sama sekali tak tahu apa-apa tentang ini. Papa mohon jangan


tinggalkan Biyan."


Haura bangun, kemudian pergi meninggalkan rumah Biyan. Dia berjalan tak tentu


arah. Hingga Biyan telah berada di belakangnya, menarik tangannya dan merangkul


luka, rasa sakit, di dalam dadanya. Meluapkan segala yang dia rasakan dalam


pelukan pria yang keluarganya telah menjadi alasan penderitaannya.


Haura menyaksikan kegelapan mengitari. Tak ada sedikit pun secercah cahaya


yang bisa dia temukan. Pada akhirnya dia sendiri yang harus merangkul


musuh-musuhnya untuk dia jadikan berkah tersembunyi yang datang untuk meredam


semua dendam, semua amarah, semua luka, dan semua masa lalu yang ingin segera


dihapusnya dari ingatan.


Lelah, sakit, dan kegelapan di dadanya kini dia luapkan dalam tangis di


pelukan pria yang selalu menjaganya tanpa lelah itu. Air matanya bercampur


dengan air suci Tuhan. Membasuh setiap luka yang selalu mengucurkan darah


setiap menitnya. Luka menganga yang tidak tahu ke mana mencari penambalnya.


"Ra, aku sudah dengar semuanya dari Papa. Aku mengerti perasaanmu."

__ADS_1


Saat tadi Papa Om Bi melihat Haura keluar dari rumahnya, dia langsung


menelepon Biyan agar segera mencari Haura. Di bawah guyuran hujan yang sangat


deras Haura menangis sejadi-jadinya di pelukan Biyan.


Biyan membawa Haura berteduh di kursi halte.


"Ra, aku tak mampu menghilangkan kemarahan dalam hatimu. Sebab, itu adalah


sebuah naluri di mana kamu tidak akan membiarkan hal-hal seperti itu terjadi


pada dirimu atau pun wanita mana pun. Aku juga tak mampu untuk memintamu


menghilangkan rasa sedih dalam hatimu, sebab hanya cara itulah yang membuatmu


mampu melepaskan kesedihan dan belajar untuk mengikhlaskan. Jika ada rasa


ketakutan dalam dirimu karena hidup dalam kesepian dan kesendirian, yakinlah,


itu akan membuatmu memiliki keberanian untuk mengatasi masa sulit yang


sebelumnya tidak pernah berani kamu taklukan dan untuk semua itu, aku akan ada


di sisimu selama kamu inginkan. Aku. Tak akan mampu memaksa dirimu melupakan


kebencian terhadap keluargaku. Namun, untuk itu aku selalu bersedia untuk


membersamaimu melewati semuanya. Kamu bisa pegang janji dan perkataanku."


Kata-kata Biyan seperti air dingin di kala api berkobar dalam hatinya. Dia


seolah-olah menjadi penyemangat hidup bagi Haura yang sudah sangat lelah


melangkah.


Hujan mulai mereda, berganti dengan gerimis tipis yang jatuh satu per satu.


Mereka berjalan kembali menuju rumah gadis itu. Setelah beberapa lama berjalan,


mereka akhirnya sampai di rumah mungil di tengah persawahan. Biyan membuatkan


secangkir teh hangat untuk menghangatkan tubuh Haura yang sudah sangat


kedinginan dan dengan bibir telah membiru itu. Terlebih hatinya, sekarang pasti


kutub utara dan selatan telah bersatu dan berpindah dalam bilik kecil berwarna


merah muda di balik dadanya. Entah, kapan es itu akan mencair dan mengalirkan


air terjun yang indah dan mendamaikan.

__ADS_1


__ADS_2