Haura

Haura
Mimpi Buruk


__ADS_3

Sejak hari itu, setiap malam Haura selalu terjaga karena mimpi buruk. Dia


selalu terbangun di jam yang sama, pukul 02.00 dini hari. Keringat selalu


membanjiri wajahnya. Ketakutan demi ketakutan menyelimuti hatinya.


Seperti malam ini, dia pun tak dapat tidur. Dia selalu menghabiskan malam


dengan ketakutan. Bayang-bayang wajah Raya selalu datang dan memberikan wajah


yang penuh kemarahan.


'Hah! Mimpi ini datang lagi, ' batin Haura. Haura membuka matanya. Dadanya


serasa sesak, napasnya pun sedikit tersengal. Dia duduk, kemudian menyibakkan


selimut yang membungkus tubuhnya, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk


membasuh wajahnya. Napasnya masih sedikit memburu.


Dia membuka lemari pendingin, mengeluarkan air dingin dari dalam sana,


kemudian menuangkannya pada gelas panjang. Dia duduk dan meneguk isi gelas itu


hingga tandas. Sekilas dia melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul dua dini


hari.


Haura bangkit dari duduknya. Dia menyalakan shower dan mengguyur tubuh di


bawahnya, mengganti pakaian, kemudian mengenakan mukena berwarna hitam. Kini,


malam yang dia lalui nyaris tidak pernah meninggalkan shalat lail. Dia


melabuhkan segala duka, perih, sakit, dan sesak di dadanya pada Tuhan yang


menciptakannya.


Dia sibukkan dendamnya dengan memasrahkan secara total segala urusan pada


Tuhan. Bersepi-sepi dengan Dia yang selalu ada untuk mendengar dan tak pernah


lelah menjaga.


Terkadang isak tangisnya tak mampu tertahan, hingga bulir-bulir air bening


jatuh membasahi kitab suci yang berada di hadapannya.


"Tuhan ... berat sekali rasa ini? Ringankanlah, dan permudahlah untukku.


Cukuplah bagiku Diri-Mu.Tiada Tuhan selain Diri-Mu. Hanya pada Diri-Mu, hamba


ini bertawakal, dan Diri-Mu adalah Rabbnya Arsy yang Agung."


Tangisnya tak lagi terbendung. Berbaur dengan suara klasik dari deras hujan


yang menimpa atap rumah. Gemerisik lembut memeluk hati yang sangat kesepian


itu. Luluh lantak dalam khusuk rindu pada sang Ilahi dalam sendiri dan sepi.


Pukul tiga dini hari.


Haura menyeduh segelas cokelat, hingga lamunannya membuat air panas di


tangannya tumpah mengenai punggung tangan kiri. Sontak dia segera menariknya,


desis dari mulutnya keluar berserta tarikan napas menahan perih. Haura


mengeluarkan beberapa buah batu es untuk mengompres lukanya dan mengguyur

__ADS_1


tangannya di bawah kran air.


Dia membawa handuk dingin untuk mengompres punggung tangannya, duduk di atas


kursi makan untuk segera menikmati cokelat panas yang tadi diseduhnya. Satu dua


biskuit dia celupkan dalam cokelat panas hingga sedikit lunak, kemudian


menyuapkannya dalam mulut, hingga melumer di dalam sana.


'Tuhan, pegangi aku, dan jangan Engkau lepaskan aku. Jika menyentuh air


mendidih di dunia-Mu saja aku sudah mengaduh, bagaimana aku di sana nanti?


Tuntun aku, Tuhan.' bisik Haura dalam hati.


Setelah melewati ujian akhir, Haura mencoba peruntungan untuk masuk sekolah


kedinasan PKN STAN. Haura sangat beruntung, sebab dari sekian banyak orang,


namanya lolos dan resmi menjadi mahasiswi di sana. Sebuah kebanggaan dapat


mewujudkan impian Ayahnya.


Sebelum Ayahnya pergi karena serangan jantung mendadak, beliau pernah


memberikan brosur tentang sekolah ini. Entah karena Ayahnya memang sudah


memiliki firasat akan pergi, atau itu memang adalah sebuah harapan darinya.


Ayah Haura adalah seorang pengusaha muda, beliau sangat gigih dalam bekerja.


Jarang sekali mereka bertemu. Pagi saat Ayahnya berangkat kerja, Haura


terkadang sibuk dengan kegiatan paginya. Selain dia selalu belajar di pagi


hari, dia selalu membantu Ayahnya mengurus rumah. Mereka hanya bertemu saat


bekal itu dan sarapan di kantor. Maklum, kantor Ayahnya jauh dari rumah.


Sehari sebelum Ayahnya pergi, tak ada tanda-tanda apa pun darinya. Hanya,


beliau menyempatkan sarapan paginya bersama Haura. Dia yang selalu tampan


dengan setelan kemeja berwarna biru dongker dan jaket kulitnya yang khas itu,


memberikan senyum terakhir saat motor besarnya melaju meninggalkan rumah.


Kata karyawan Ayah Haura, beliau hari ini sangat berbeda. Sebelum pulang,


beliau merapikan tempat kerjanya sendiri. File-file sudah tertata dengan sangat


rapi. Berkas-berkas sudah ditandatangani dan jaket kesayangannya sudah


diberikan kepada sahabat tersayangnya. Sebelum pulang, Ayahnya menyempatkan


datang ke gereja. Kata teman Ayah Haura, beliau sempat menangis di sana. Entah


apa yang beliau pikirkan saat itu.


Sejenak, setelah Ayahnya menyalakan mesin motor, terdengar deru mesin motor


yang menarik gas tanpa kendali. Seluruh karyawan merasa bingung. Sebab,


pimpinan mereka tak pernah menarik gas sekencang itu, apalagi tanpa terhenti.


Maklum, suara Triumph Tunderbird Strom memang sangat menggelegar. Sontak para


karyawan Ayah haura mendekati beliau yang tertidur di atas motornya. Mereka

__ADS_1


mematikan mesin dan memapah Ayahnya yang katanya sudah tidak bernyawa saat itu.


Para karyawan Ayah Haura segera menelepon ambulans. Karena mereka masih belum


percaya pimpinan mereka sudah meninggal. Hingga tiba di rumah sakit, Ayahnya


memang sudah dinyatakan meninggal sekitar satu setengah jam yang lalu. Sahabat


Ayah Haura memberikan kabar duka Itu pada Haura tepat pukul sepuluh malam. Yah,


seharusnya Ayah pulang pada jam itu. Namun, hari ini adalah kepulangan beliau


untuk selamanya.


Hari berlalu sejak hari menyedihkan itu. Haura kehilangan segalanya. Bahkan


perusahaan Ayah disita oleh Bank, mobil, dan motor kesayangan Ayahnya pun ikut


diambil. Sejak hari itu, Haura menjadi sebatang kara. Hanya seorang gadis


seumuran Haura yang Ayah ambil dari panti asuhan yang membersamai kepedihan


Haura. "Raya".


Haura tak memiliki uang sepeser pun saat itu. Hanya pihak Asuransi yang


mencairkan dana sebagai bekal Haura Hidup bersama Raya, membeli sebuah rumah


kecil di area persawahan yang sangatlah sederhana. Bukan menjadi jatuh seperti


ini yang Haura sedihkan. Namun, semasa dia hidup, jarang sekali mereka berdua


bertemu, jika bukan di hari Natal dan tahun baru.


Waktu yang telah berlalu tak akan pernah kembali. Hanya tanah merah bertabur


bunga mawar yang menjadi kenangan terakhir.


Bunda dan Ayah Haura menikah tanpa restu orang tua. Ayahnya adalah seorang


Nasrani yang saat taat, dan Bundanya pun adalah Muslimah yang sangat taat.


Latar belakang mereka sangat berbeda. Kedua orang tua Ayah dan Bunda Haura


adalah pemuka agama. Sehingga mereka berdua sama-sama tidak diakui oleh


keluarga masing-masing. Hingga kedua keluarga itu mengalami kecelakaan beruntun


dan hanya tersisa Ayah dan Bunda Haura.


Nasib yang hampir sama, menyatukan mereka. Meski dengan keyakinan yang


berbeda, mereka bersatu dalam tali pernikahan. Bunda Haura meninggal saat


melahirkan Haura. Hanya Ayahnya orang tua tunggal. Berjuang sendirian demi


putri tercinta. Ayah Haura memasukan Haura di sekolah Islam. Walaupun Ayahnya


sendiri masih Nasrani. Bukan tanpa alasan Ayahnya melakukan itu. Beliau sangat


mencintai Bunda Haura, dan menginginkan Haura juga seperti Bundanya. Ayahnya


sangat mengagumi Bunda Haura yang taat beragama dan benar-benar agama itu yang


membuat Bundanya menjadi wanita yang hampir sempurna di mata Ayah.


Toleransi dalam keluarga sangat dijunjung tinggi. Kata Bundanya pada Ayah


Haura ' Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. Aku tak akan menyembah apa yang

__ADS_1


kamu sembah, dan kamu tak akan menyembah apa yang aku sembah.' Entah prinsip


itu benar atau tidak, tetapi Ayahnya menerapkannya pada Haura dan dirinya.


__ADS_2