Haura

Haura
Sasaran pertama


__ADS_3

Langit sangat pekat. Tak ada bintang atau pun bulan yang menghiasinya. Hujan


turun sedikit lebat. Pemandangan jalan di depan terganggu oleh derasnya hujan


yang menimpa kaca mobil. Rocky menghentikan laju mobilnya di pinggiran hutan


jati yang cukup sepi. Bahkan hanya sedikit sekali kendaraan yang melintas di


jalur ini.


"Ra, kita istirahat di sini dulu ya? Hujan ini mengganggu perjalanan kita.


Apakah kamu tak keberatan jika kita ...?" Rocky menghentikan kata-katanya.


Sepertinya dia agak ragu untuk meminta sesuatu pada Haura.


"Tentu saja. Aku tak masalah. Apa yang kamu inginkan?"


Mendengar lampu hijau dari Haura, Rocky semakin tidak sabar untuk menyentuh


gadis di hadapannya. Dia mulai melepaskan kancing pada pakaiannya dan mulai


mendekatkan wajahnya dengan wajah Haura.


Bersamaan dengan itu, perlahan tangan Haura meraih dasi yang tergeletak di


bawah jok dengan tangan kirinya sementara Rocky yang masih dalam keadaan mabuk


mencoba menyentuh bibir Haura dengan bibirnya. Rocky yang tengah lengah karena


tergoda dengan Haura, tak menyadari tangan gadis itu mulai melil*tkan dasi


untuk mengik*t lehernya. Saat posisi Rocky berada hampir tepat di atas Haura,


Haura mengik*t dasi itu berlawanan arah. Rocky yang dalam posisi tidak siap


untuk mendapat serangan, terduduk kembali pada kursi kemudinya, dan bergantian


kini Haura yang berada di atas pangkuan pria itu, dan menarik dasi dengan


sangat kuat. Mata Rocky memelotot, lidahnya menjulur, terbatuk dan kedua


tangannya berusaha melepaskan dasi yang mengik*t kencang di lehernya itu.


Rocky terbatuk, napasnya naik turun. Haura membuka pintu mobil. Meny*ret pria


di hadapannya itu ke dalam hutan. Menamp*r wajah pria itu berkali-kali,


menend*ng perutnya dengan dengkul beberapa kali hingga sudut bibirnya mulai


berwarna merah, leb*m, persis seperti bibir Raya saat pertama kali dia temukan.


Pria itu terk*par di atas tanah basah. Namun, Haura masih belum puas mengh*j*r


pria di hadapannya. Dia naik di atas tubuhnya dan mem* kul wajah itu


berkali-kali, mengambil bel*ti yang terpasang di paha, mengayunkannya dan


hampir saja menemb*s dada sebelah kanan Rocky, jika Rey tak menahan tangannya.


"Jangan, Ra. Kamu bukan pemb*n*h!" ucap Rey mengingatkan.


Haura berteriak marah. "Serahkan dirimu pada polisi jika kamu masih mau hidup!"


Mereka kemudian menyerahkan Rocky ke kantor polisi.

__ADS_1


***


Target kedua adalah Ari. Dengan pakaian yang masih basah, Haura mendatangi


apartemen Ari. Dia memberi alasan bahwa Rey meninggalkannya di jalan yang


kebetulan dekat dengan apartemennya. Ari terlihat iba melihat Haura. Dia


membuatkan segelas kopi panas, memberinya handuk dan juga baju ganti. Ari


mengizinkan Haura bermalam di tempatnya malam ini.


Kopi panas di tangannya masih tampak mengepulkan asap tipis berwarna putih.


Setelah membersihkan diri di kamar mandi dan mengganti pakaian, Haura


merebahkan diri di atas kasur, sedangkan Ari tidur di atas sofa di sebelahnya.


"Ri, boleh ceritakan bagaimana kalian bisa meng*n*aya seorang gadis dengan


begitu kejam?" tanya Haura.


Ari mendesah mengambil napas dalam-dalam. Dia mengatakan tak ada sedikit pun


niat untuk meng*n*aya gadis itu. Dia hanya pembawa mobil untuk mengantarkan


Jordan mengikuti gadis yang sudah lama diincarnya. Namun sayang, gadis manis


itu menolaknya dengan berbagai alasan.


Jordan terlihat geram melihat gadisnya akrab dengan pria lain tetapi bukan


dirinya. Siang itu mereka mabuk berat. Mereka mendatangi rumah Raya. Tak


disangka gadis itu mempersilahkan masuk, sebab mereka sudah saling mengenal.


Jordan men*mpar gadis itu beberapa kali. Hingga dia terjatuh, merobek


pakaiannya, dan dengan brutal menye**tnya ke dalam kamar. Hampir tiga jam


Jordan menyekap gadis itu di kamarnya.


Sesungguhnya Ari sangat iba mendengar jeritan gadis itu. Jordan menyalakan


musik dengan sangat keras dari peralatan DJ yang ada di kamar Raya. Sehingga


sekeras apa pun Raya berteriak, tak akan ada tetangga dan orang lewat yang akan


dapat mendengar. Apalagi posisi rumah itu berada diantara sawah, sehingga tidak


mudah untuk meminta pertolongan, meski telah menjerit sekeras mungkin. Jeritan


gadis itu sangat menyayat hati. Namun, dia tak bisa berbuat apa pun di hadapan


ketiga temannya. Setelahnya, Jordan pergi meninggalkan rumah itu tanpa menoleh


ke belakang sekali pun. Jordan tidak pernah tahu bahwa gadisnya setelah itu


dilece*kan oleh kedua temannya, Rocky dan Frans. Bahkan, Frans merekam semua


kebej*tan mereka dalam sebuah video untuk mengancam gadis itu agar tutup mulut.


Setelah keduanya pergi, berganti Ari yang mendekati Raya. Dia tak melakukan


apapun selain memberikan air minum padanya. Berbicara dengannya agar segera

__ADS_1


lapor polisi. Namun sayang, gadis itu memilih diam karena tak mau vidio dirinya


menjadi tontonan dan akan lebih memalukan dirinya.


Setelah mendengar semua cerita Ari, Haura memutuskan untuk menghadapi Frans


terlebih dahulu, baru setelah itu menghadapi Jordan. Menurut Ari, Frans adalah


m*niak, sehingga akan jauh lebih mudah untuk mengajaknya bertemu, jika itu


urusan wanita. Sedang Jordan sedingin es. Dia hanya mau menyentuh gadis yang


dia sukai saja.


Ari menelepon Frans, memintanya datang dengan alasan cewek Rey di apartemennya


sendirian, sedang dirinya harus pergi karena ada urusan. Frans yang memang


seorang m*niak, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia segera meluncur


ke apartemen Ari.


Menemani seorang gadis sendirian dalam apartemen adalah sesuatu yang jarang


didapatkannya, apalagi dia tahu gadis Rey tidak akan mungkin gadis sembarangan.


Bukan gadis yang biasa di pak*i oleh siapa pun yang menginginkan.


Frans menekan bel dengan bersemangat. Ternyata pintu itu tidak di kunci dan


Haura bersembunyi di belakang pintu. Setelah Frans masuk, Haura langsung


mengunci pintu. Mengh*nt*m kepala Frans dengan tongk*t. Belum hilang rasa


terkejut Frans, h*nt*man kedua kembali mengenai rahangnya.


Pelipis Frans berd*rah, begitu juga mulut dan hidung*ya. Dalam keadaan duduk


dia mundur. Namun Haura tak peduli. Tanpa ampun dia menen*ang bagian perut,


selangk**gan dan punggung Frans. Dis*r*tnya kepala Frans dan dihan**mkannya


pada tembok. Belum puas membuat makhluk biad*b itu kesakitan, Haura mem*k*lkan


pintu beberapa kali dan membiarkan jari-jari Frans terh*mpit pintu dengan kuat.


Tangan itu adalah tangan yang merekam kebi*daban terhadap Raya. Memaksa Raya


memilih bunuh d*ri karena tidak ingin menanggung malu.


Haura mengambil jerigen berisi bahan bakar. Menyir*mk*nnya pada makhluk tak


berperasaan di hadapannya. Dia mengambil pem*tik dan hampir saja membak*rnya,


seperti ayam pang**ng jika Ari dan Rey tidak menahannya.


"Jangan, Ra!" cegah Rey.


"Kamu yang seharusnya Mat*!!! Bukan Raya!" teriak Haura dengan segala amarah.


Dia menangis sejadinya.


"Bukan aku yang mengirimkan vidio itu kepada Raya. Namun,... Valery." ucap


Frans terbata.

__ADS_1


Kembali jantung Haura seperti ingin meledak, setelah mendengar pengakuan


Frans, bahwa Val adalah alasan Raya mengakhiri hidup.


__ADS_2