
Langit sangat pekat. Tak ada bintang atau pun bulan yang menghiasinya. Hujan
turun sedikit lebat. Pemandangan jalan di depan terganggu oleh derasnya hujan
yang menimpa kaca mobil. Rocky menghentikan laju mobilnya di pinggiran hutan
jati yang cukup sepi. Bahkan hanya sedikit sekali kendaraan yang melintas di
jalur ini.
"Ra, kita istirahat di sini dulu ya? Hujan ini mengganggu perjalanan kita.
Apakah kamu tak keberatan jika kita ...?" Rocky menghentikan kata-katanya.
Sepertinya dia agak ragu untuk meminta sesuatu pada Haura.
"Tentu saja. Aku tak masalah. Apa yang kamu inginkan?"
Mendengar lampu hijau dari Haura, Rocky semakin tidak sabar untuk menyentuh
gadis di hadapannya. Dia mulai melepaskan kancing pada pakaiannya dan mulai
mendekatkan wajahnya dengan wajah Haura.
Bersamaan dengan itu, perlahan tangan Haura meraih dasi yang tergeletak di
bawah jok dengan tangan kirinya sementara Rocky yang masih dalam keadaan mabuk
mencoba menyentuh bibir Haura dengan bibirnya. Rocky yang tengah lengah karena
tergoda dengan Haura, tak menyadari tangan gadis itu mulai melil*tkan dasi
untuk mengik*t lehernya. Saat posisi Rocky berada hampir tepat di atas Haura,
Haura mengik*t dasi itu berlawanan arah. Rocky yang dalam posisi tidak siap
untuk mendapat serangan, terduduk kembali pada kursi kemudinya, dan bergantian
kini Haura yang berada di atas pangkuan pria itu, dan menarik dasi dengan
sangat kuat. Mata Rocky memelotot, lidahnya menjulur, terbatuk dan kedua
tangannya berusaha melepaskan dasi yang mengik*t kencang di lehernya itu.
Rocky terbatuk, napasnya naik turun. Haura membuka pintu mobil. Meny*ret pria
di hadapannya itu ke dalam hutan. Menamp*r wajah pria itu berkali-kali,
menend*ng perutnya dengan dengkul beberapa kali hingga sudut bibirnya mulai
berwarna merah, leb*m, persis seperti bibir Raya saat pertama kali dia temukan.
Pria itu terk*par di atas tanah basah. Namun, Haura masih belum puas mengh*j*r
pria di hadapannya. Dia naik di atas tubuhnya dan mem* kul wajah itu
berkali-kali, mengambil bel*ti yang terpasang di paha, mengayunkannya dan
hampir saja menemb*s dada sebelah kanan Rocky, jika Rey tak menahan tangannya.
"Jangan, Ra. Kamu bukan pemb*n*h!" ucap Rey mengingatkan.
Haura berteriak marah. "Serahkan dirimu pada polisi jika kamu masih mau hidup!"
Mereka kemudian menyerahkan Rocky ke kantor polisi.
__ADS_1
***
Target kedua adalah Ari. Dengan pakaian yang masih basah, Haura mendatangi
apartemen Ari. Dia memberi alasan bahwa Rey meninggalkannya di jalan yang
kebetulan dekat dengan apartemennya. Ari terlihat iba melihat Haura. Dia
membuatkan segelas kopi panas, memberinya handuk dan juga baju ganti. Ari
mengizinkan Haura bermalam di tempatnya malam ini.
Kopi panas di tangannya masih tampak mengepulkan asap tipis berwarna putih.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi dan mengganti pakaian, Haura
merebahkan diri di atas kasur, sedangkan Ari tidur di atas sofa di sebelahnya.
"Ri, boleh ceritakan bagaimana kalian bisa meng*n*aya seorang gadis dengan
begitu kejam?" tanya Haura.
Ari mendesah mengambil napas dalam-dalam. Dia mengatakan tak ada sedikit pun
niat untuk meng*n*aya gadis itu. Dia hanya pembawa mobil untuk mengantarkan
Jordan mengikuti gadis yang sudah lama diincarnya. Namun sayang, gadis manis
itu menolaknya dengan berbagai alasan.
Jordan terlihat geram melihat gadisnya akrab dengan pria lain tetapi bukan
dirinya. Siang itu mereka mabuk berat. Mereka mendatangi rumah Raya. Tak
disangka gadis itu mempersilahkan masuk, sebab mereka sudah saling mengenal.
Jordan men*mpar gadis itu beberapa kali. Hingga dia terjatuh, merobek
pakaiannya, dan dengan brutal menye**tnya ke dalam kamar. Hampir tiga jam
Jordan menyekap gadis itu di kamarnya.
Sesungguhnya Ari sangat iba mendengar jeritan gadis itu. Jordan menyalakan
musik dengan sangat keras dari peralatan DJ yang ada di kamar Raya. Sehingga
sekeras apa pun Raya berteriak, tak akan ada tetangga dan orang lewat yang akan
dapat mendengar. Apalagi posisi rumah itu berada diantara sawah, sehingga tidak
mudah untuk meminta pertolongan, meski telah menjerit sekeras mungkin. Jeritan
gadis itu sangat menyayat hati. Namun, dia tak bisa berbuat apa pun di hadapan
ketiga temannya. Setelahnya, Jordan pergi meninggalkan rumah itu tanpa menoleh
ke belakang sekali pun. Jordan tidak pernah tahu bahwa gadisnya setelah itu
dilece*kan oleh kedua temannya, Rocky dan Frans. Bahkan, Frans merekam semua
kebej*tan mereka dalam sebuah video untuk mengancam gadis itu agar tutup mulut.
Setelah keduanya pergi, berganti Ari yang mendekati Raya. Dia tak melakukan
apapun selain memberikan air minum padanya. Berbicara dengannya agar segera
__ADS_1
lapor polisi. Namun sayang, gadis itu memilih diam karena tak mau vidio dirinya
menjadi tontonan dan akan lebih memalukan dirinya.
Setelah mendengar semua cerita Ari, Haura memutuskan untuk menghadapi Frans
terlebih dahulu, baru setelah itu menghadapi Jordan. Menurut Ari, Frans adalah
m*niak, sehingga akan jauh lebih mudah untuk mengajaknya bertemu, jika itu
urusan wanita. Sedang Jordan sedingin es. Dia hanya mau menyentuh gadis yang
dia sukai saja.
Ari menelepon Frans, memintanya datang dengan alasan cewek Rey di apartemennya
sendirian, sedang dirinya harus pergi karena ada urusan. Frans yang memang
seorang m*niak, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia segera meluncur
ke apartemen Ari.
Menemani seorang gadis sendirian dalam apartemen adalah sesuatu yang jarang
didapatkannya, apalagi dia tahu gadis Rey tidak akan mungkin gadis sembarangan.
Bukan gadis yang biasa di pak*i oleh siapa pun yang menginginkan.
Frans menekan bel dengan bersemangat. Ternyata pintu itu tidak di kunci dan
Haura bersembunyi di belakang pintu. Setelah Frans masuk, Haura langsung
mengunci pintu. Mengh*nt*m kepala Frans dengan tongk*t. Belum hilang rasa
terkejut Frans, h*nt*man kedua kembali mengenai rahangnya.
Pelipis Frans berd*rah, begitu juga mulut dan hidung*ya. Dalam keadaan duduk
dia mundur. Namun Haura tak peduli. Tanpa ampun dia menen*ang bagian perut,
selangk**gan dan punggung Frans. Dis*r*tnya kepala Frans dan dihan**mkannya
pada tembok. Belum puas membuat makhluk biad*b itu kesakitan, Haura mem*k*lkan
pintu beberapa kali dan membiarkan jari-jari Frans terh*mpit pintu dengan kuat.
Tangan itu adalah tangan yang merekam kebi*daban terhadap Raya. Memaksa Raya
memilih bunuh d*ri karena tidak ingin menanggung malu.
Haura mengambil jerigen berisi bahan bakar. Menyir*mk*nnya pada makhluk tak
berperasaan di hadapannya. Dia mengambil pem*tik dan hampir saja membak*rnya,
seperti ayam pang**ng jika Ari dan Rey tidak menahannya.
"Jangan, Ra!" cegah Rey.
"Kamu yang seharusnya Mat*!!! Bukan Raya!" teriak Haura dengan segala amarah.
Dia menangis sejadinya.
"Bukan aku yang mengirimkan vidio itu kepada Raya. Namun,... Valery." ucap
Frans terbata.
__ADS_1
Kembali jantung Haura seperti ingin meledak, setelah mendengar pengakuan
Frans, bahwa Val adalah alasan Raya mengakhiri hidup.