Haura

Haura
Tragedi Pernikahan


__ADS_3

Kebisingan yang melanda hidup Haura beberapa minggu ini membuatnya benar-benar


merindukan ketenangan yang menyejukkan. Persiapan untuk berpetualang sudah


lengkap, dan tiket kereta api menuju Wonosobo juga sudah di beli. 'Semoga tidak


hujan,' batinnya.


"Hei, aku saja yang duduk dengan Haura, " ucap Rey.


"Apaan? Haura akan lebih suka duduk denganku," sahut Ari.


Biyan hanya menggeleng melihat tingkah kedua pria di hadapannya yang sudah


seperti anak kecil berebut mainan. Dia lebih memilih duduk di hadapan Haura,


daripada ikut ribut seperti mereka. Tanpa aba-aba Haura bangkit dari tempat


duduknya, berpindah pada kursi di sebelah Biyan hingga Biyan melirikkan ekor


matanya. Lengkungan senyum terpancar di bibir Biyan saat melihat cincin


berlapis emas putih pemberiannya, bertengger dengan manis di jari Haura.


"Ra, kok kamu pindah, sih?" ucap Rey dan Ari bersamaan.


Dengan wajah datar dia memandang ke arah jendela, sambil mengembuskan napas


pelan. "Haura lebih nyaman di sini."


Akhirnya, kedua orang yang saling berebut bangku tadi berubah tenang dan


saling menyikut sebelum duduk di bangku masing-masing.


Gadis itu memegang tengkuknya yang tidak sakit, entah mengapa mendengar


keributan dua teman di hadapannya membuatnya sedikit pusing. Sebuah tangan


menggenggam punggung tangannya erat. Ekor matanya melirik pada sosok pria di


sampingnya yang terlihat semringah dengan senyuman.


***


Ari dan Rey merentangkan tangan, menghirup udara segar di pegunungan Dieng.


Rencananya, mereka tidak langsung menuju Si Kunir, tetapi akan menghabiskan


waktu sejenak untuk berjalan-jalan ke tempat budi daya jamur merang dan membeli


sekotak jamur sebagai oleh-oleh. Suhu daerah ini benar-benar dingin. Hampir


mencapai 12°C.


Tiba di penginapan, mereka meluncur untuk menyaksikan bagaimana jamur merang

__ADS_1


dibudidayakan. Berjalan menyusuri sekitaran kebun kol, sawi, kubis, dan


beberapa tanaman khas pegunungan lainnya.


Hawa dingin makin menusuk, Haura menyedekapkan kedua tangannya sambil sesekali


menggosok-gosokan telapak tangan dan meniupnya. Fabiyan yang melihat gadisnya


kedinginan, memberanikan diri untuk merangkul pundak gadis itu sambil tetap


mengayunkan kaki. Haura melihat ke arah wajah Biyan. Tatapan pria itu lurus ke


depan sembari tetap merangkul Haura.


Mereka tiba di jalan setapak, satu-satunya jalan yang menjangkau tempat tujuan


mereka. Terlihat dua bocah laki-laki asyik bermain skate board dan salah


satunya terjatuh. Bocah itu memegangi lututnya yang berdarah. Haura tersenyum


dan mendekati mereka. Ada dua lembar plester di saku jaketnya. Dia selalu


membawanya saat pergi ke tempat terpencil, juga sebungkus cokelat warna-warni


dengan isi kacang di dalamnya.


Haura berjongkok di depan bocah tadi, mengulurkan tangan berisi plester dan


cokelat ke arah mereka. Tampak kedua bocah itu saling berpandangan. Haura


tadi tidak perlu sungkan untuk mengambil pemberiannya.


Tempat ini berada di ketinggian, sedikit sulit untuk melihat matahari. Meski


siang hari, udara di sana tetaplah sejuk. Setelah ini, mereka akan segera


meluncur ke Si Kunir untuk melihat sunset pada pukul 17.53 nanti, kemudian


berkemah sebentar menunggu pagi untuk menyaksikan golden sunrise pada pukul


05.20.


Tempat itu berada di ketinggian 2.306 mdpl, sekitar 2.350 di atas permukaan


laut dan terletak di desa sembungan. Di saat momen golden Sunrise itulah, Biyan


kembali melamar Haura. Hingga Haura akhirnya mengiyakan dan siap untuk menikah


dua minggu kemudian.


***


Hari pernikahan pun tiba.


[Selamat ya, Ra. Untuk penikahanmu. Semoga bahagia. Maaf, aku tidak bisa

__ADS_1


menghadiri pernikahanmu. Aku menjalankan tugas hari ini.]


Rey mengirimkan pesan singkat untuk Haura sebelum menaiki pesawatnya. Hatinya


sangat hancur. Rencananya, dia yang akan melamar Haura di ketinggian Si Kunir.


Namun, kejutan tak terduga malah menghancurkan semua harapannya. Haura menerima


kembali lamaran Biyan.


Dalam acara nan hikmat, wajah merona Haura terlihat sangat serasi dengan warna


gaun pengantin muslimah berwarna dusty pink di tubuhnya. Fabiyan dengan lancar


mengucapkan ijab kabul, bertepatan dengan itu terdengar suara ledakan senjata


dari arah pintu masuk.


Valery pulang dari Australia setelah mendengar pernikahan kakaknya. Semua


orang terkejut saat melihat Haura ambruk di pelukan Biyan. Ledakan pistol yang


ditemb*kkan Valery tepat di jantung Haura, bertepatan dengan meledaknya pesawat


yang dinaiki oleh Rey yang baru saja mulai mengudara.


Dua nyawa pergi sekaligus pada detik yang sama. Biji besi menancap sempurna,


bertepatan dengan riuh kata sah dari para saksi. Semua mata tertuju kepada Val


yang tanpa belas kasihan berdiri menod*ngkan senjata kepada kakak iparnya.


Tangan Fabiyan bersimbah darah, begitu pula pakaian pengantin yang


dikenakannya. Haura kembali kepada Tuhan sebagai istri Fabiyan, pertalian yang


baru saja disimpulkan, kini langsung terputus atas nama "qadar" sekaligus


memberi gelar baru untuk status Fabiyan.


**Dalang telah mengatur takdir manusia sedemikian rupa. Manusia hanya


wayang-wayang milik Tuhan, berjalan menyelesaikan sisa nyawa menuju peristiwa


terakhirnya. Jodoh adalah milik-Nya. Bahkan wajah ayu yang diperebutkan akan


tetap menjadi mayat yang usang saat nyawa telah terlepas dari jasadnya. Begitu


pula kedudukan tinggi yang telah diusahakan sepanjang usia, hanya berakhir


untuk memenuhi pundi-pundi dan ditinggalkan begitu saja.


Jangan takut untuk menjadi kaya, tetapi jangan sedih ketika menjadi sederhana[


jangan katakan miskin].

__ADS_1


__ADS_2