
Kebisingan yang melanda hidup Haura beberapa minggu ini membuatnya benar-benar
merindukan ketenangan yang menyejukkan. Persiapan untuk berpetualang sudah
lengkap, dan tiket kereta api menuju Wonosobo juga sudah di beli. 'Semoga tidak
hujan,' batinnya.
"Hei, aku saja yang duduk dengan Haura, " ucap Rey.
"Apaan? Haura akan lebih suka duduk denganku," sahut Ari.
Biyan hanya menggeleng melihat tingkah kedua pria di hadapannya yang sudah
seperti anak kecil berebut mainan. Dia lebih memilih duduk di hadapan Haura,
daripada ikut ribut seperti mereka. Tanpa aba-aba Haura bangkit dari tempat
duduknya, berpindah pada kursi di sebelah Biyan hingga Biyan melirikkan ekor
matanya. Lengkungan senyum terpancar di bibir Biyan saat melihat cincin
berlapis emas putih pemberiannya, bertengger dengan manis di jari Haura.
"Ra, kok kamu pindah, sih?" ucap Rey dan Ari bersamaan.
Dengan wajah datar dia memandang ke arah jendela, sambil mengembuskan napas
pelan. "Haura lebih nyaman di sini."
Akhirnya, kedua orang yang saling berebut bangku tadi berubah tenang dan
saling menyikut sebelum duduk di bangku masing-masing.
Gadis itu memegang tengkuknya yang tidak sakit, entah mengapa mendengar
keributan dua teman di hadapannya membuatnya sedikit pusing. Sebuah tangan
menggenggam punggung tangannya erat. Ekor matanya melirik pada sosok pria di
sampingnya yang terlihat semringah dengan senyuman.
***
Ari dan Rey merentangkan tangan, menghirup udara segar di pegunungan Dieng.
Rencananya, mereka tidak langsung menuju Si Kunir, tetapi akan menghabiskan
waktu sejenak untuk berjalan-jalan ke tempat budi daya jamur merang dan membeli
sekotak jamur sebagai oleh-oleh. Suhu daerah ini benar-benar dingin. Hampir
mencapai 12°C.
Tiba di penginapan, mereka meluncur untuk menyaksikan bagaimana jamur merang
__ADS_1
dibudidayakan. Berjalan menyusuri sekitaran kebun kol, sawi, kubis, dan
beberapa tanaman khas pegunungan lainnya.
Hawa dingin makin menusuk, Haura menyedekapkan kedua tangannya sambil sesekali
menggosok-gosokan telapak tangan dan meniupnya. Fabiyan yang melihat gadisnya
kedinginan, memberanikan diri untuk merangkul pundak gadis itu sambil tetap
mengayunkan kaki. Haura melihat ke arah wajah Biyan. Tatapan pria itu lurus ke
depan sembari tetap merangkul Haura.
Mereka tiba di jalan setapak, satu-satunya jalan yang menjangkau tempat tujuan
mereka. Terlihat dua bocah laki-laki asyik bermain skate board dan salah
satunya terjatuh. Bocah itu memegangi lututnya yang berdarah. Haura tersenyum
dan mendekati mereka. Ada dua lembar plester di saku jaketnya. Dia selalu
membawanya saat pergi ke tempat terpencil, juga sebungkus cokelat warna-warni
dengan isi kacang di dalamnya.
Haura berjongkok di depan bocah tadi, mengulurkan tangan berisi plester dan
cokelat ke arah mereka. Tampak kedua bocah itu saling berpandangan. Haura
tadi tidak perlu sungkan untuk mengambil pemberiannya.
Tempat ini berada di ketinggian, sedikit sulit untuk melihat matahari. Meski
siang hari, udara di sana tetaplah sejuk. Setelah ini, mereka akan segera
meluncur ke Si Kunir untuk melihat sunset pada pukul 17.53 nanti, kemudian
berkemah sebentar menunggu pagi untuk menyaksikan golden sunrise pada pukul
05.20.
Tempat itu berada di ketinggian 2.306 mdpl, sekitar 2.350 di atas permukaan
laut dan terletak di desa sembungan. Di saat momen golden Sunrise itulah, Biyan
kembali melamar Haura. Hingga Haura akhirnya mengiyakan dan siap untuk menikah
dua minggu kemudian.
***
Hari pernikahan pun tiba.
[Selamat ya, Ra. Untuk penikahanmu. Semoga bahagia. Maaf, aku tidak bisa
__ADS_1
menghadiri pernikahanmu. Aku menjalankan tugas hari ini.]
Rey mengirimkan pesan singkat untuk Haura sebelum menaiki pesawatnya. Hatinya
sangat hancur. Rencananya, dia yang akan melamar Haura di ketinggian Si Kunir.
Namun, kejutan tak terduga malah menghancurkan semua harapannya. Haura menerima
kembali lamaran Biyan.
Dalam acara nan hikmat, wajah merona Haura terlihat sangat serasi dengan warna
gaun pengantin muslimah berwarna dusty pink di tubuhnya. Fabiyan dengan lancar
mengucapkan ijab kabul, bertepatan dengan itu terdengar suara ledakan senjata
dari arah pintu masuk.
Valery pulang dari Australia setelah mendengar pernikahan kakaknya. Semua
orang terkejut saat melihat Haura ambruk di pelukan Biyan. Ledakan pistol yang
ditemb*kkan Valery tepat di jantung Haura, bertepatan dengan meledaknya pesawat
yang dinaiki oleh Rey yang baru saja mulai mengudara.
Dua nyawa pergi sekaligus pada detik yang sama. Biji besi menancap sempurna,
bertepatan dengan riuh kata sah dari para saksi. Semua mata tertuju kepada Val
yang tanpa belas kasihan berdiri menod*ngkan senjata kepada kakak iparnya.
Tangan Fabiyan bersimbah darah, begitu pula pakaian pengantin yang
dikenakannya. Haura kembali kepada Tuhan sebagai istri Fabiyan, pertalian yang
baru saja disimpulkan, kini langsung terputus atas nama "qadar" sekaligus
memberi gelar baru untuk status Fabiyan.
**Dalang telah mengatur takdir manusia sedemikian rupa. Manusia hanya
wayang-wayang milik Tuhan, berjalan menyelesaikan sisa nyawa menuju peristiwa
terakhirnya. Jodoh adalah milik-Nya. Bahkan wajah ayu yang diperebutkan akan
tetap menjadi mayat yang usang saat nyawa telah terlepas dari jasadnya. Begitu
pula kedudukan tinggi yang telah diusahakan sepanjang usia, hanya berakhir
untuk memenuhi pundi-pundi dan ditinggalkan begitu saja.
Jangan takut untuk menjadi kaya, tetapi jangan sedih ketika menjadi sederhana[
jangan katakan miskin].
__ADS_1