
Malam itu, saat Haura berjalan di bawah langit mendung. Pandangannya tertuju
pada bintang-bintang yang bersembunyi di balik awan. Sesekali dia tersenyum
semringah saat menikmati keindahan gumpalan awan yang berarak dan berganti
bentuk. Dia menatap bungkusan di tangannya. Tiramisu kesukaan Raya sahabatnya.
"Assalamualaikum."
Tak ada sahutan. Dia memutar gagang pintu kemudian membukanya.
Ceklek
'Hah, kenapa pintu tidak dikunci?' batinnya.
Sepi, gelap, seolah tak ada kehidupan. Haura meraih saklar lampu dan
menyalakannya. Dadanya berdegup kencang saat mendapati pemandangan rumah yang
tampak berantakan. Seperti habis ada badai besar. Dia semakin khawatir dengan
Raya. Dicarinya sahabatnya itu di kamarnya, di dapur, ruang tengah, dan halaman
belakang. Jantungnya berdegup semakin kencang saat mendengar gemericik air dari
dalam kamar mandi yang sepertinya mengucur ke dalam ember hingga luber. Haura
mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali. "Raya? Kamu di dalam?"
Namun tak ada sahutan dari dalam, dia mencoba memutar knop. Pintu terbuka,
"Astaga!"
Tampak Raya tergeletak di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri.
Sontak Haura berlari ke dalam, mengangkat dan meletakan kepala Raya di atas
pangkuan. Dengan panik dia mengambil ponsel di sakunya, kemudian menekan tombol
di ponsel untuk menghubungi Om Biyan.
"Ada apa, Ra?" tanya Biyan di seberang sana.
"Raya pingsan, Om. Bisakah Om bantu Haura membawanya ke rumah sakit?"
Setelah sepuluh menit, Biyan datang. Karena kebetulan dia tadi datang ke kedai
untuk menemui Haura. Mereka segera membawa Raya. Wajah Raya lebam. Ada cairan
merah di sudut bibirnya. Tangannya penuh dengan cakaran dan berwarna kebiruan
di beberapa bagian.
Dokter segera menangani Raya. Haura menunggu di depan ruang IGD dengan cemas.
Berkali-kali dia mondar-mandir sambil menggigit kukunya. Biyan berusaha
__ADS_1
menenangkannya. Namun, usaha Biyan itu sama sekali tidak mampu menghilangkan
kecemasan di hati Haura. Dokter keluar dari ruangan, Haura dan Biyan segera
mendekat ke arahnya. "Teman anda sepertinya adalah korban kekerasan s*xual."
Jantung Haura seperti di sambar petir. Dia tak bisa membayangkan semenderita
apa temannya itu. Siapa yang tega berbuat sekejam ini pada sahabatnya?
Haura menunggui sahabatnya itu semalaman. Ditatapnya wajah sahabatnya itu
dengan berjuta kesedihan. Dirapikannya anak rambut Raya. Air matanya menetes
membasahi pipi. 'Raya?' bisiknya dalam hati. Namun yang dipanggilnya, masih
juga belum siuman.
Ruangan ini sangat dingin. Aroma obat sangat menyengat. Infus menetes dengan
cepat. Cairan berwarna merah itu berpindah dari selang infus ke tubuh Raya.
Namun, belum ada tanda-tanda bahwa Raya akan segera sadar.
Tepat pukul tiga dini hari, tangan Raya bergerak menyambut genggaman tangan
Haura. Raya berteriak histeris dan memeluk Haura dengan erat. Jeritannya
sungguh menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Ada ketakutan di wajahnya.
Dia hilang kendali dan terus menangis.
'Tuhan, ujian apa yang sedang Engkau timpakan pada sahabatku ini?' ucap Haura
dalam hati.
Kumandang azan subuh bersahutan. Suaranya memecah alam yang sunyi diantara
dinginnya pagi. Haura mengambil wudu dan menunaikan kewajiban. Membaca beberapa
ayat Al quran di samping Raya. Berharap itu akan memberi energi positif untuk
Raya.
Dua hari sudah Raya dirawat di rumah sakit ini. Pagi ini dia terlihat jauh
lebih tenang dari malam tadi. Nanti sore bahkan Raya sudah bisa dibawa pulang.
***
Sepulang dari rumah sakit, Raya menjadi gadis yang sangat pendiam. Seluruh
tawanya hilang tanpa ada yang tersisa. Berhari-hari dia menghibur sahabatnya
itu, memasakkan bubur dan menyuapinya dengan sangat telaten. Raya tak pernah
lagi berbicara. Dia diam seribu bahasa. Hari-hari Raya dihabiskan hanya dengan
__ADS_1
duduk sambil memeluk lututnya di atas kasur. Pandangannya kosong, berkali-kali
dia gelisah dan terlihat ketakutan setiap ada suara pintu yang terbuka.
Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian itu. Setelah memasak bubur, Haura
mengantarkannya ke kamar Raya. Betapa kaget dirinya, saat mendapati Raya
tergeletak di atas lantai dengan pergelangan tangan yang ters*yat. Darah
mengalir di lantai dan hampir kering. Haura meletakkan mangkuk berisi bubur di
atas nakas, kemudian memeluk tubuh sahabatnya itu dengan tangisan. Raya telah
meregang nyawa dengan cara yang paling menyedihkan.
Pemakaman telah selesai. Rumah itu sekarang menjadi sangat sepi. Om Biyan
menemani Haura dan berusaha menenangkannya sejak pagi tadi. Namun Haura tetap
saja tak mampu untuk mengusir kesedihan dalam hatinya. Hujan turun dengan
sangat deras. Petir menyambar dan guruh menggelegar.
Tangan Haura membuka laci di meja belajar Raya. Ditatapnya diary dan posel
Raya yang tersimpan di dalamnya. Tangannya mulai membuka ponsel milik Raya.
Berharap dapat melihat Raya melalui foto yang tersimpan di galeri ponselnya.
Dia sangat terkejut melihat chat yang berisi ancaman terhadap Raya dan sebuah
vidio perbuatan bej*t para penjahat yang mengan*aya Raya. Dengan segera Haura
diantar oleh Biyan ke kantor polisi dan menyerahkan semua bukti-bukti agar
polisi bisa segara menghukum para penjahat itu.
Seminggu kemudian semua pelakunya tertangkap. Namun pengadilan membebaskan
mereka dengan jaminan. Menurut hakim, Haura tidak punya bukti yang cukup.
Karena dalam vidio itu, semua wajah disamarkan, termasuk wajah Raya.
Palu pengadilan memutuskan mereka tidak bersalah. Haura begitu geram
mendengarkan keputusan yang telah ditetapkan. Sungguh, betapa hancur hatinya.
'Keadilan macam apa ini?' bisiknya dalam hati.
Haura menatap wajah-wajah itu dengan geram satu-persatu. Dia berjanji dalam
hatinya akan memberikan keadilan yang tak bisa diberikan oleh pengadilan untuk
Raya.Tangannya terkepal sangat erat di samping paha saat melihat seluruh
baji**an bia**b itu melenggang dengan senyum kemenangan dan meninggalkan ruang
__ADS_1
pengadilan dengan dada yang dibusungkan.