
Pagi ini hujan masih turun. Jalan setapak yang dilewati Haura tampak basah.
Air menggenang memenuhi lubang-lubang jalanan. Pagi yang masih sama. Basah
diguyur oleh hujan tipis-tipis. Tak sekali dua kali cipratan air dari genangan
yang ada pada retakan aspal mengenainya disebabkan pengendara motor yang
melintas.
Tangannya menggenggam payung kecil berwarna hitam. Pohon-pohon beringin yang
berjajar di pinggir jalan menari dengan gemulai saat air hujan menyentuh
daun-daun.
Setelah satu tikungan di perempatan ini. Maka Haura akan segera sampai di
kedai. Sudah terlihat pohon bambu kuning yang ditata dengan rapi pada pinggiran
pagar pembatas kedai. Dia merasakan ketenangan saat aroma hangat kopi yang
telah dipanggang memasuki penciumannya.
Haura membuka pintu kedai bercat hitam yang terbuat dari kaca tebal dengan
warna senada berbingkai baja ringan.
Dari hidupnya dia belajar menjadi sabar dan peduli dengan keadaan sendiri.
Sebuah alasan yang membuatnya terus kuat menikmati hidup. Dalam mengarungi
dunia yang berputar tanpa kendali. Seperti ucapan seorang teman. 'Kita ini
wayang-wayang milik Tuhan. Cukuplah dijalani dan dinikmati.'
Ini adalah hari Minggu. Dia bekerja untuk menambah upah lembur, "Pagi Kak Bos
yang cantik," sapa Haura yang disambut senyum ramah wanita di hadapannya.
"Pagi, Ra."
Haura memasang Apron berwarna hitam pada tubuhnya. Hari ini tugasnya pasti
akan sangat banyak. Biasanya kedai akan sangat ramai oleh muda-mudi yang
mencari tempat nongkrong untuk menghabiskan akhir pekan.
Sesekali Haura melirik Bosnya yang sedang sibuk membaca kitab suci di
tangannya. Kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa, Ra? Kok dari tadi kamu liatin Kakak diam-diam? Ada yang aneh?" ucap
Kak bos tanpa mengalihkan pandangannya dari kitab suci di hadapannya.
"Engga. Suka aja Haura melihat Kakak bahagia hari ini."
Wanita di hadapan Haura menutup kitab sucinya, meletakkannya di atas meja
tepat di hadapannya. " Kemarin kamu kemana? Dihubungi gak aktiv?"
"Hehe, maaf Kak, ponsel aku ma-ti. Terendam dalam air."
"Lalu, kamu gak pegang ponsel sekarang?"
Haura menggelengkan kepalanya, tanpa menjawab pertanyaan Bosnya itu.
"Kamu suka menulis, Kan? Lalu, kalau kamu gak punya ponsel, hobi kamu
terhenti?"
Haura mengembuskan napas pelan dan mengendikan bahunya.
"Pake ponsel Kakak aja. Boleh pakai komputer juga, kalau kamu mau."
"Umm, Kak. Boleh gak, aku tulis cerita hidup Kakak untuk aku jadiin cerita?"
Dia mengangguk. Mengambil sebuah buku bersampul hitam dari dalam laci
"Kakak serius?" Wanita di hadapan Haura menganggukkan kepalanya di sertai
senyum.
Haura menerima hadiah itu dengan mata berbinar-binar. Semoga suatu saat nanti,
ceritanya bisa dibaca banyak orang. Agar banyak yang bisa mengambil pelajaran.
Bahwa musibah yang diberikan pada seorang hamba, bukan tanda bahwa Allah
membencinya.
***
Seorang pria dengan baju olahraga berwarna biru masuk ke dalam kedai. Haura
masih ingat, dia adalah pria yang semalam menolongnya. Terlihat berbeda. Dia
menguncir rambutnya ke belakang. Rambutnya sepanjang bahu, berwarna sedikit
pirang dan beraroma menthol yang lembut.
"Hi. Masih ingat aku?" sapanya. Haura hanya menanggapinya dengan tersenyum dan
__ADS_1
mengangguk.
"Tentu Om. Bagaimana aku bisa lupa, dengan wajah orang yang sudah melemparku
ke sungai dan membuatku hampir mati?"
"Tapi kamu masih hidup kan? Btw kamu mau traktir aku apa?"
"Umm, bagaimana kalau secangkir americano dan sepotong tiramisu?" Haura
memberi rekomendasi menu.
"Boleh."
"Bentar ya Om, aku ambilkan pesanan Om."
Haura menuju dapur kedai. Membuatkan pesanan untuk teman baru yang semalam
dikenalnya.
"Husttt, siapa itu, Ra?" tanya Kak bos lirih hampir tak terdengar.
"Teman Kak!" Bosnya mengangguk dan terdengar suara tawa kecil yang sangat
lirih.
Haura meletakan pesanan pada meja di hadapan pria bernama Biyan itu, kemudian
duduk dan menemaninya. "Ke sini jalan kaki lagi? Udah kaya hantu gentayangan
aja. Berkeliaran malam-malam jalan kaki."
Pria itu menggeleng, memberi isyarat dengan bibirnya ke arah halaman.
Terparkir motor matic warna hitam di luar sana. " Ah, iya. Terima kasih sudah
menyelamatkan motor aku dan aku juga. Nanti Om pulang naik apa?"
"Pake motor di sebalah motor kamu. Tuh!" jawabnya sambil menyeruput kopi pekat
di tangannya. Dia masih dengan menggunakkan isyarat dengan dagunya. Tampak
sebuah Triumph street twin terpampang gagah di sana.
"Tadi aku suruh orang buat bawa motor kamu. Ya, sebenarnya aku berharap kamu
nanti nganterin aku sih, tapi aku urungkan. Takut kamunya nolak.
" Makasih ya, Om."
Mereka menikmati obrolan santai yang sangat menyenangkan. Mereka sepakat
__ADS_1
setelah Haura pulang kerja nanti, mereka akan nonton di bioskop malam ini.