Haura

Haura
Bioskop


__ADS_3

Pada pukul tujuh malam, Haura telah menyelesaikan tugasnya di kedai. Dia


langsung pamit dengan pemilik kedai. Kemudian berjalan menuju halaman kedai,


dimana pria berjaket Hoodie hitam itu sudah menunggu. "Kita naik ini?" tanya


Haura sambil menunjuk motor besar di hadapannya. Sebuah motor Triumph street


twin berwarna hitam yang terparkir di halaman.


"Yup!" jawab pria itu singkat.


"Gimana, kalau kita naik busway aja? Lebih nyaman, dan kalau hujan kita gak


kebasahan?"


"Ok!" pria itu menyetujui saran Haura tanpa protes sedikit pun.


Mereka berjalan menaiki tangga khusus pengguna busway, kemudian keduanya


memasukan kartu pada tempatnya. Di sela menunggu, keduanya saling bercerita.


Tentang cita-cita Haura dan tentang siapa Biyan. Selang beberapa menit, bus


yang mereka tunggu akhirnya datang. Bus ini tampaknya masih lega, tak ada yang


berdesakkan sehingga mereka bisa duduk dengan nyaman.


Bioskop 21 di sekitaran taman kota. Tempat ini cukup ramai oleh anak-anak muda


seusianya. Sebelum masuk, Biyan membeli dua cup besar cola dan satu cup popcorn


ukuran jumbo. Banyak muda-mudi menunggu, film yang akan mereka tonton beberapa


menit lagi diputar. Haura dan Biyan duduk di deretan bangku ketiga dan film pun


dimulai.


"Om, kok film horor?" tanya Haura.


"Aku pikir, cewek preman seperti kamu akan suka film seperti ini?"


"Apaan sih, Om?" Haura menoleh ke arah Biyan karena kesal dengan olokan yang


dilontarkan. Tatapan mereka saling bertemu dan mereka saling berpandangan cukup


lama, hingga tersadar dan saling membuang muka.


Adegan di layar menampakkan ocong yang tiba-tiba nongol gak pake salam. Reflek


tangan Haura mencengkram lengan Biyan dengan sedikit keras. Matanya terpejam.


Dia paling takut dengan sosok ini. Karena itu adalah hantu paling masuk akal


yang ada di Indonesia. Identik dengan balutan kain putih dengan lima ikatan.


Bermata hitam dan mahal banget senyum, wajahnya putih dengan bedak tebal dan


lingkaran hitam di sekitar mata.


Dalam hati Haura sangat menyesal karena mau diajak nonton hari ini. Nanti


malam, pasti dia tidak akan bisa tidur gara-gara nonton film seperti ini.


Apalagi durasinya masih cukup lama. Bisa-bisa lengan Biyan pulang dengan lebam


berwarna biru, karena dicengkeram berkali-kali olehnya.

__ADS_1


Biyan hanya tertawa kecil melihat ekspesi Haura yang sedari tadi memejamkan


mata karena ketakutan. "Preman kok takut liat film setan?"


Haura yang mendengar ejekan Biyan langsung melepaskan lengan pria di


sampingnya. Ada raut wajah kesal di sana. Setelah hampir satu jam, film pun


akhirnya usai.


Masih ada kikuk di wajah Haura. Dia merasa tidak enak karena telah membuat


tanda biru di lengan Biyan. Mereka berjalan mengikuti jalan setapak di taman


kota. Hingga tiba-tiba ada seorang pengendara motor yang hampir oleng. Reflek


Biyan menarik Haura dalam pelukannya.


Deg Deg Deg


Jantung Haura berdetak sedikit lebih keras, saat kepalanya menempel di dada


Biyan. Tangan kiri pria itu melingkar di badannya, dan tangan kanannya berada


di kepala Haura untuk melindunginya.Selang beberapa menit, Biyan melepas


pelukannya. Wajah mereka berdua memerah seperti udang rebus. Keduanya terlihat


kikuk dan berusaha menetralkan keadaan. Mereka kembali berjalan menyusuri


setapak taman kota yang lenggang.


"Emm, kamu tinggal di mana?" tanya Biyan tiba-tiba.


"Tak jauh dari kedai. Satu tikungan dan hanya butuh sekitar lima belas menit


"Kamu tinggal sendiri?" tanyanya sambil terus berjalan dan sesekali menendang


kerikil yang dilewati.


"Bersama Raya. Kalau Om?"


"Bersama adikku. Papa tak pernah pulang ke rumah, dia selalu sibuk dengan


urusannya." jawabnya seraya mendesah dan mengembuskan napas dalam.


"Lalu Ibu Om?"


"Telah lama meninggal."


"Sorry, Haura gak tahu."


"Its Ok. Gak masalah. Lalu, apa yang kamu sukai, Ra?"


"Uang."


"Wow. Kamu sangat terus terang, ya? Kamu tak khawatir aku menganggap kamu


matrealistis?"


Haura menggeleng. Memang dia menyukai punya banyak uang. Dia ingin sekolah


tinggi agar bisa merubah nasibnya. Biyan tersenyum mendapatkan kejujuran dari


gadis di hadapannya ini.


Cekrek

__ADS_1


Biyan memotret Haura. Haura kaget dan matanya membelalak. "Om pencuri! Hapus


gak!" ucap Haura sambil berusaha merebut ponsel Biyan.


Mereka saling berebut dan berlarian. Saat Haura hampir mendapatkan ponsel itu,


dia oleng dan membuatnya jatuh dalam pelukan Biyan. Untuk sesaat mereka saling


memandang. Hingga suasana terlihat canggung. Haura merebut ponsel itu saat


Biyan lengah dan saat menyalakan ponsel, sebuah foto gadis berambut panjang nan


sangat cantik menghias layar. Dia kaget bukan karena cemburu, tapi karena foto


itu adalah Valery. Teman sekelasnya.


"Ini?" tanya Haura dengan memperlihatkan foto yang dimaksudnya.


"Itu adiku. Valery."


'Ah, mengapa ada kebetulan yang sangat tidak menguntungkan ini sih?' batin


Haura. Pria ini ternyata adalah Kakak dari orang yang sangat membencinya. Haura


mengembalikan ponsel Biyan tanpa menghapus foto dirinya dari sana.


"Kita sudah sampai Om, dan Om ambil motor Om di kedai sendiri ya? Haura


sedikit lelah."Biyan mengangguk tanda setuju.


Biyan meninggalkan Haura dan melambaikan tangan. Haura memutar gagang pintu


dan mendorongnya.


Hampir saja jantungnya copot, saat dia sudah disambut oleh Raya yang


menunggunya dengan tangan dilipat di dada, dan bersandar pada tepian pintu.


Sudah seperti polisi yang siap mengintrogasi penjahat karena telah tertangkap


basah.


Sebelum Raya membuka suara, Haura langsung menjelaskan. "Dia itu Om Biyan.


Temen baru aku."


"Bos tajir ya? Keren gitu?"


"Bukan. Masih kuliah di Universitas xxx, Bokapnya yang tajir. Bukan dia!"


jawab Haura sambil berjalan menuju dapur, kemudian mengambil gelas dan


menuangkan air dingin dari kulkas ke dalamnya. Dia duduk di kursi ruang makan


kemudian meminum airnya hingga tersisa setengah. Sedangkan Raya terus saja


mengikutinya dan terus bertanya seperti polisi. Sungguh sangat menyebalkan!


Haura merebahkan diri di atas kasur dengan bedcover berwarna peach. Menyalakan


kipas angin dan berusaha memejamkan matanya. Pikirannya menerawang,


membayangkan apa yang akan terjadi nanti, jika sampai Valery tahu Kakaknya


berteman dengan rivalnya. Hingga tanpa sadar matanya terpejam dan memasuki alam


mimpi.

__ADS_1


__ADS_2