Haura

Haura
kehilangan


__ADS_3

Haura kembali ke sekolah. Kematian Raya tak serta merta membuatnya patah


semangat. Dia harus tetap hidup untuk memasukkan para penjahat bia*dab itu


dalam tahanan. Atau kalau perlu, dia sendiri yang akan mengantarkan mereka


langsung menemui Tuhan.


Langit mendung dan berkabut. Awan hitam bergulung-gulung di atas langit. Haura


melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah. Pikirannya mengulang kembali saat


dirinya dan Raya pertama kali masuk sekolah ini. Seluruh bayangan keceriaan


Raya, tawanya, kekonyolannya, seperti bayang-bayang yang mengikuti langkah


Haura. Kemudian menghilang tanpa bekas.


Bangku di sampingnya kini kosong. Dia mengusap meja yang biasa digunakan Raya


hingga tanpa sadar setetes air bening lolos dari sudut matanya, Jatuh.


Rey mendekati bangku Raya. Kemudian duduk di bangku yang biasa raya gunakan.


Haura membuang muka dan menghapus air matanya dengan punggung tangan. Suara


anak-anak tiba-tiba gaduh, saat guru akuntansi memasuki kelas.


Guru memberitakan kabar duka atas kematian Raya, dan meminta seluruh murid


untuk membacakan doa beberapa menit untuk Raya. Air matanya tak kuasa ditahan.


Isak mulai terdengar di sela doa.


Pelajaran dimulai. Haura tak memedulikan Rey yang kini duduk di sampingnya.


Dia sedang tidak ingin bertengkar dengan siapa pun. Rey pun hanya tampak diam,


fokus memandang ke depan dan mencatat penjelasan dari guru.


Bel istirahat berbunyi.Haura pergi menuju kantin untuk membeli segelas lemon

__ADS_1


tea. Tampak geng Valery berkumpul mengerubunginya. Haura meletakkan minuman


yang tadi disedotnya di atas meja di hadapannya. Duduk dengan tenang dan


menunggu apa yang ingin dilakukan Valery terhadapnya.


Valery mengambil sesuatu dari kantung sakunya, mengeluarkan kecoa mati dari


dalam plastik kecil kemudian menaruhnya dalam gelas lemon tea milik Haura.


Haura mengangkat satu ujung bibirnya, tangannya bergerak mengambil es kopi


milik Valery yang ada di atas meja. Kemudian dia bangkit dari kursi,


meninggalkan Valery dan gengnya yang terlihat kesal sambil menyeruput es kopi


tersebut.


Haura duduk di koridor sambil meminum es kopi di tangannya, menyaksikan


anak-anak kelas 12 bermain basket di lapangan. Rey mendekati Haura. Dia


menawarkan persahabatan dan mengucapkan maaf atas perlakuannya selama ini pada


Haura.


dan tulus , serta tak menampakkan tanda-tanda tipu muslihat.


Tatapan Ray lurus ke depan tanpa melihat Haura. Tangannya saling bertaut dan


sikunya sejajar dengan pahanya. Haura cukup merasa ajaib, pria breng*ek di


hadapannya kini telah berubah menjadi pria kalem yang berperasaan. Haura tak


pernah memperhatikan seorang pria dengan sedetail ini sebelumnya.


"Aku mau menerimamu menjadi temanku, tapi aku punya syarat," ucap Haura


tiba-tiba.


"Apa?"

__ADS_1


"Bantu aku menemukan orang-orang yang menjadi penyebab kepergian Raya!"Rey


menerima syarat Haura, dan mengulurkan tangan tanda persahabatan. Haura yakin


dengan bantuan Rey, dia bisa menemukan mereka semua. Karena Rey punya akses


untuk mencari orang-orang yang berada di dunia hitam.


Kedekatan Rey dengan Haura membuka sebuah perang dengan Valery. Namun, Haura


tidak lagi peduli dengan apa pun yang akan didapatkannya nanti karena berani


mengusik seorang Valery.


Sepulang sekolah, Haura menuju kedai. Sekarang dia hanya bekerja sampai pukul


tujuh malam. Bosnya memahami itu karena sebentar lagi Haura akan ujian dan


harus belajar. Setiap pulang dari kedai, Rey selalu menjemputnya. Selain untuk


belajar bersama, juga untuk membahas masalah pencarian bukti-bukti kekerasan


pada Raya. Mereka belajar hanya satu jam, selebihnya adalah mencari alamat dan


identitas pelaku.


Haura tidak menceritakan apa pun pada Om Bi. Hubungannya masih berjalan dengan


sangat baik. Pada hari Minggu, Haura tidak belajar kelompok bersama Rey karena


setelah kerja dia biasanya pergi bersama Om Biyan.


Om Biyan sudah melamar Haura. Mereka sepakat akan menikah setelah Haura nanti


menyelesaikan pendidikan sampai D3 serta Om Biyan sudah Lulus S2 dan bekerja.


Sementara itu, Valery masih belum tahu seperti apa wajah calon Kakak iparnya


sebab sampai saat ini Om Biyan masih merahasiakannya. Hanya Papa Om Bi yang


mengetahui wajah Haura, sebab saat bertunangan, hanya Papa Om Biyan yang

__ADS_1


menemaninya.


__ADS_2