
Haura kembali ke sekolah. Kematian Raya tak serta merta membuatnya patah
semangat. Dia harus tetap hidup untuk memasukkan para penjahat bia*dab itu
dalam tahanan. Atau kalau perlu, dia sendiri yang akan mengantarkan mereka
langsung menemui Tuhan.
Langit mendung dan berkabut. Awan hitam bergulung-gulung di atas langit. Haura
melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah. Pikirannya mengulang kembali saat
dirinya dan Raya pertama kali masuk sekolah ini. Seluruh bayangan keceriaan
Raya, tawanya, kekonyolannya, seperti bayang-bayang yang mengikuti langkah
Haura. Kemudian menghilang tanpa bekas.
Bangku di sampingnya kini kosong. Dia mengusap meja yang biasa digunakan Raya
hingga tanpa sadar setetes air bening lolos dari sudut matanya, Jatuh.
Rey mendekati bangku Raya. Kemudian duduk di bangku yang biasa raya gunakan.
Haura membuang muka dan menghapus air matanya dengan punggung tangan. Suara
anak-anak tiba-tiba gaduh, saat guru akuntansi memasuki kelas.
Guru memberitakan kabar duka atas kematian Raya, dan meminta seluruh murid
untuk membacakan doa beberapa menit untuk Raya. Air matanya tak kuasa ditahan.
Isak mulai terdengar di sela doa.
Pelajaran dimulai. Haura tak memedulikan Rey yang kini duduk di sampingnya.
Dia sedang tidak ingin bertengkar dengan siapa pun. Rey pun hanya tampak diam,
fokus memandang ke depan dan mencatat penjelasan dari guru.
Bel istirahat berbunyi.Haura pergi menuju kantin untuk membeli segelas lemon
__ADS_1
tea. Tampak geng Valery berkumpul mengerubunginya. Haura meletakkan minuman
yang tadi disedotnya di atas meja di hadapannya. Duduk dengan tenang dan
menunggu apa yang ingin dilakukan Valery terhadapnya.
Valery mengambil sesuatu dari kantung sakunya, mengeluarkan kecoa mati dari
dalam plastik kecil kemudian menaruhnya dalam gelas lemon tea milik Haura.
Haura mengangkat satu ujung bibirnya, tangannya bergerak mengambil es kopi
milik Valery yang ada di atas meja. Kemudian dia bangkit dari kursi,
meninggalkan Valery dan gengnya yang terlihat kesal sambil menyeruput es kopi
tersebut.
Haura duduk di koridor sambil meminum es kopi di tangannya, menyaksikan
anak-anak kelas 12 bermain basket di lapangan. Rey mendekati Haura. Dia
menawarkan persahabatan dan mengucapkan maaf atas perlakuannya selama ini pada
Haura.
dan tulus , serta tak menampakkan tanda-tanda tipu muslihat.
Tatapan Ray lurus ke depan tanpa melihat Haura. Tangannya saling bertaut dan
sikunya sejajar dengan pahanya. Haura cukup merasa ajaib, pria breng*ek di
hadapannya kini telah berubah menjadi pria kalem yang berperasaan. Haura tak
pernah memperhatikan seorang pria dengan sedetail ini sebelumnya.
"Aku mau menerimamu menjadi temanku, tapi aku punya syarat," ucap Haura
tiba-tiba.
"Apa?"
__ADS_1
"Bantu aku menemukan orang-orang yang menjadi penyebab kepergian Raya!"Rey
menerima syarat Haura, dan mengulurkan tangan tanda persahabatan. Haura yakin
dengan bantuan Rey, dia bisa menemukan mereka semua. Karena Rey punya akses
untuk mencari orang-orang yang berada di dunia hitam.
Kedekatan Rey dengan Haura membuka sebuah perang dengan Valery. Namun, Haura
tidak lagi peduli dengan apa pun yang akan didapatkannya nanti karena berani
mengusik seorang Valery.
Sepulang sekolah, Haura menuju kedai. Sekarang dia hanya bekerja sampai pukul
tujuh malam. Bosnya memahami itu karena sebentar lagi Haura akan ujian dan
harus belajar. Setiap pulang dari kedai, Rey selalu menjemputnya. Selain untuk
belajar bersama, juga untuk membahas masalah pencarian bukti-bukti kekerasan
pada Raya. Mereka belajar hanya satu jam, selebihnya adalah mencari alamat dan
identitas pelaku.
Haura tidak menceritakan apa pun pada Om Bi. Hubungannya masih berjalan dengan
sangat baik. Pada hari Minggu, Haura tidak belajar kelompok bersama Rey karena
setelah kerja dia biasanya pergi bersama Om Biyan.
Om Biyan sudah melamar Haura. Mereka sepakat akan menikah setelah Haura nanti
menyelesaikan pendidikan sampai D3 serta Om Biyan sudah Lulus S2 dan bekerja.
Sementara itu, Valery masih belum tahu seperti apa wajah calon Kakak iparnya
sebab sampai saat ini Om Biyan masih merahasiakannya. Hanya Papa Om Bi yang
mengetahui wajah Haura, sebab saat bertunangan, hanya Papa Om Biyan yang
__ADS_1
menemaninya.