
Hari itu, Kala mengantarkan pesanan pelanggan kedai, yang ternyata adalah Ray.
Haura tidak tahu bahwa Rey sengaja memesan kue di tempatnya bekerja agar Haura
mengantarkan pesanan itu ke rumahnya. Dia mengadakan pesta dengan
teman-temannya. Bukan pesta biasa, tetapi pesta minuman keras. Mereka sudah
merencanakan itu untuk menjebak Haura. Karena insiden penolakan dua hari yang
lalu.
Tiba di depan pagar, Haura disambut oleh seorang asisten rumah tangga.
"Non Haura sudah ditunggu," kata wanita itu seraya membuka pintu pagar
kemudian menutupnya kembali.
"Bi, boleh aku di sini saja?"
Haura enggan masuk ke dalam rumah Rey. Dia menunggu di teras. Setelah beberapa
menit menunggu, sang asisten rumah tangga itu kembali muncul. "Maaf, non. Kata
den Rey, kalau mau pesaannya dibayar, Non harus masuk. Soalnya Aden lagi sibuk
katanya."
Haura mendesah. Mengembuskan napas panjang. Masuk dalam rumah mewah berlantai
dua, bangunan rumah itu sangat bagus. Tampak dari perabot rumah dan lantai
marmernya. Dia mengikuti langkah asisten rumah tangga yang membawanya pada
halaman belakang yang berhias kolam renang yang cukup besar. Di sana terlihat
banyak sekali teman-teman Rey yang sedang berpesta.
Rey menghampiri Haura yang membawakan kue tart yang dipesannya dari kedai. Ini
adalah hari ulang tahun Rey.
"Aku sudah masuk. Ini pesananmu, dan cepat berikan uangnya!""Santai, Ra. Aku
akan bayar dua kali lipat!" Reyhan berbisik dan mendekatkan tubuhnya pada Haura.
Suasana menjadi riuh dan gaduh karena hal itu. Mereka semua tampak bersorak.
Haura merasa sangat risi karena keadaan itu.
"Denger ya, Rey! Aku ini sedang sibuk. Cepat bayar agar aku bisa segera pergi
dari sini!"
"Kenapa buru-buru? Aku mau mengenalkanmu pada teman-temanku."
"Jangan gila kamu, ya! Aku ini bukan siapa-siapa kamu!"
__ADS_1
"Tadi belum, tapi sekarang akan segera!" Haura menepis tangan Reyhan yang
ingin menyentuh pipinya.
Cekrek
Haura segera pergi meninggalkan kerumunan yang penuh dengan maksiat itu. Dia
tak lagi peduli pada pembayaran pesanannya. Dia memotret wajah Rey untuk
ditunjukkan kepada bosnya. Biar bosnya sendiri nanti yang meminta tagihan.
Haura berjalan cepat menuju halaman. Menstarter motor meninggalkan pelataran
rumah mewah yang jauh lebih mirip neraka daripada rumah.
Hari sudah sangat gelap. Jalanan terasa sepi. Hampir tak ada satu pun mobil
yang berlalu lalang di daerah ini. Kesunyian jalanan ini mengalirkan kesejukan
yang lebih baik setelah tadi terlalu panas oleh ulah Reyhan. Untuk sesaat dia
merasakan ketenangan, terbebas dari tekanan yang sekejap tadi mendera. Dia
mulai mengingat kembali kejadian tadi. Apa yang harus dia katakan besok pada
bosnya?
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti menghalangi jalannya. Terlihat pintu mobil itu
terbuka, kemudian tertutup kembali dengan keras. 'Ah, Reyhan ternyata. Apa sih
Rey menyerahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah, "Ini untuk
pembayaran pesananku tadi. Maaf telah membuatmu kesal!"
Haura menerima uang itu, kemudian melajukan motornya. Rayhan menahan lengan
Haura, kemudian beberapa orang mengambil alih motor miliknya. Tangan Rey
membekap mulutnya, menyeretnya menuju mobil yang terparkir tidak terlalu jauh.
Haura menggigit tangan Rey, lalu menginjak kakinya dengan keras.
Setelah terbebas dari cengkeraman Rey, Haura berusaha melarikan diri. Namun
nahas, teman-teman Rey telah mendapatkannya.
Haura memasang kuda- kuda. Memposisikan diri berada di hadapan kepungan para
berandal. Dia tidak mau terkepung di tengah-tengah, karena itu akan membuatnya
sulit untuk menyerang. Satu orang telah bersiap menyerang. Beruntung dia masih
bisa bertahan dan melayangkan satu pukulan. Lalu orang kedua pun kembali
melayangkan pukulan ke arahnya, dan Haura masih bisa bertahan dengan
__ADS_1
melayangkan tendangan dengan memutar tubuhnya.
Akan tetapi, siapa sangka, Rayhan telah berada di belakangnya dan menyerangnya
di bagian dalam lutut tanpa Haura sadari sehingga dia jatuh di atas aspal dalam
posisi kaki ditekuk dan dikunci dengan kedua tangannya dilipat ke belakang.
Reyhan memerintahkan seseorang untuk meminumkan air ke dalam mulut Haura,
entah apa yang diminumkannya. Karena dia merasakan ada sesuatu yang membuat
dadanya merasa begitu panas dan terbakar. Dalam kepayahan yang sangat, Haura
masih menghadirkan kesadarannya. Dia tidak mau sesuatu yang buruk akan
menimpanya, seandainya dia tidak bisa lolos dari ini semua.
Bugh
Tiba-tiba Reyhan tersungkur. Ada seseorang yang memberikan tendangan di
punggungnya, dan Haura masih bisa mendengar suara dentumannya cukup keras
menghantam tulang iga Rey. Entah siapa orang itu. Dia mengenakan jaket Hoodie
berwarna hitam. Dia memapah Haura dan memboncengnya di atas motor, segera
menarik gas, dan menerobos kerumunan teman-teman Rey.
Saat melintas di sebuah jembatan, Haura meminta orang yang menolongnya untuk
menghentikan laju motornya. Tubuhnya serasa panas sekali, mungkin efek dari
minuman yang diminumnya. 'Mungkinkah ini obat yang seperti itu?' batinnya.
Haura tak ingin ambil resiko, lepas dari iblis, tetapi terperangkap oleh setan.
Byur
Dia menceburkan diri ke sungai, dirinya tak mampu berenang. Namun, dia
berharap inilah hal yang terbaik yang bisa dia pilih saat ini. Mungkin kematian
akan jauh lebih baik, daripada hidup nanti tanpa harga diri seandainya dia
sampai melakukan hal yang salah saat kehilangan kontrol karena obat yang dia
tidak tahu akan seperti apa efeknya.
Perlahan dadanya mulai terdesak, sesak, dia merasa hanyut dan tenggelam
terbawa arus. Haura memejamkan mata, dia membayangkan akan sesakit apa kematian
yang dipilihnya kini.
Sebuah tangan meraih tubuhnya, entah itu milik siapa, yang jelas dirinya sudah
__ADS_1
tak mampu merasakan apa pun selain rasa sesak yang mendesak di tenggorokannya.