Haura

Haura
Reyhan


__ADS_3

Hari itu, Kala mengantarkan pesanan pelanggan kedai, yang ternyata adalah Ray.


Haura tidak tahu bahwa Rey sengaja memesan kue di tempatnya bekerja agar Haura


mengantarkan pesanan itu ke rumahnya. Dia mengadakan pesta dengan


teman-temannya. Bukan pesta biasa, tetapi pesta minuman keras. Mereka sudah


merencanakan itu untuk menjebak Haura. Karena insiden penolakan dua hari yang


lalu.


Tiba di depan pagar, Haura disambut oleh seorang asisten rumah tangga.


"Non Haura sudah ditunggu," kata wanita itu seraya membuka pintu pagar


kemudian menutupnya kembali.


"Bi, boleh aku di sini saja?"


Haura enggan masuk ke dalam rumah Rey. Dia menunggu di teras. Setelah beberapa


menit menunggu, sang asisten rumah tangga itu kembali muncul. "Maaf, non. Kata


den Rey, kalau mau pesaannya dibayar, Non harus masuk. Soalnya Aden lagi sibuk


katanya."


Haura mendesah. Mengembuskan napas panjang. Masuk dalam rumah mewah berlantai


dua, bangunan rumah itu sangat bagus. Tampak dari perabot rumah dan lantai


marmernya. Dia mengikuti langkah asisten rumah tangga yang membawanya pada


halaman belakang yang berhias kolam renang yang cukup besar. Di sana terlihat


banyak sekali teman-teman Rey yang sedang berpesta.


Rey menghampiri Haura yang membawakan kue tart yang dipesannya dari kedai. Ini


adalah hari ulang tahun Rey.


"Aku sudah masuk. Ini pesananmu, dan cepat berikan uangnya!""Santai, Ra. Aku


akan bayar dua kali lipat!" Reyhan berbisik dan mendekatkan tubuhnya pada Haura.


Suasana menjadi riuh dan gaduh karena hal itu. Mereka semua tampak bersorak.


Haura merasa sangat risi karena keadaan itu.


"Denger ya, Rey! Aku ini sedang sibuk. Cepat bayar agar aku bisa segera pergi


dari sini!"


"Kenapa buru-buru? Aku mau mengenalkanmu pada teman-temanku."


"Jangan gila kamu, ya! Aku ini bukan siapa-siapa kamu!"

__ADS_1


"Tadi belum, tapi sekarang akan segera!" Haura menepis tangan Reyhan yang


ingin menyentuh pipinya.


Cekrek


Haura segera pergi meninggalkan kerumunan yang penuh dengan maksiat itu. Dia


tak lagi peduli pada pembayaran pesanannya. Dia memotret wajah Rey untuk


ditunjukkan kepada bosnya. Biar bosnya sendiri nanti yang meminta tagihan.


Haura berjalan cepat menuju halaman. Menstarter motor meninggalkan pelataran


rumah mewah yang jauh lebih mirip neraka daripada rumah.


Hari sudah sangat gelap. Jalanan terasa sepi. Hampir tak ada satu pun mobil


yang berlalu lalang di daerah ini. Kesunyian jalanan ini mengalirkan kesejukan


yang lebih baik setelah tadi terlalu panas oleh ulah Reyhan. Untuk sesaat dia


merasakan ketenangan, terbebas dari tekanan yang sekejap tadi mendera. Dia


mulai mengingat kembali kejadian tadi. Apa yang harus dia katakan besok pada


bosnya?


Sebuah mobil tiba-tiba berhenti menghalangi jalannya. Terlihat pintu mobil itu


terbuka, kemudian tertutup kembali dengan keras. 'Ah, Reyhan ternyata. Apa sih


Rey menyerahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah, "Ini untuk


pembayaran pesananku tadi. Maaf telah membuatmu kesal!"


Haura menerima uang itu, kemudian melajukan motornya. Rayhan menahan lengan


Haura, kemudian beberapa orang mengambil alih motor miliknya. Tangan Rey


membekap mulutnya, menyeretnya menuju mobil yang terparkir tidak terlalu jauh.


Haura menggigit tangan Rey, lalu menginjak kakinya dengan keras.


Setelah terbebas dari cengkeraman Rey, Haura berusaha melarikan diri. Namun


nahas, teman-teman Rey telah mendapatkannya.


Haura memasang kuda- kuda. Memposisikan diri berada di hadapan kepungan para


berandal. Dia tidak mau terkepung di tengah-tengah, karena itu akan membuatnya


sulit untuk menyerang. Satu orang telah bersiap menyerang. Beruntung dia masih


bisa bertahan dan melayangkan satu pukulan. Lalu orang kedua pun kembali


melayangkan pukulan ke arahnya, dan Haura masih bisa bertahan dengan

__ADS_1


melayangkan tendangan dengan memutar tubuhnya.


Akan tetapi, siapa sangka, Rayhan telah berada di belakangnya dan menyerangnya


di bagian dalam lutut tanpa Haura sadari sehingga dia jatuh di atas aspal dalam


posisi kaki ditekuk dan dikunci dengan kedua tangannya dilipat ke belakang.


Reyhan memerintahkan seseorang untuk meminumkan air ke dalam mulut Haura,


entah apa yang diminumkannya. Karena dia merasakan ada sesuatu yang membuat


dadanya merasa begitu panas dan terbakar. Dalam kepayahan yang sangat, Haura


masih menghadirkan kesadarannya. Dia tidak mau sesuatu yang buruk akan


menimpanya, seandainya dia tidak bisa lolos dari ini semua.


Bugh


Tiba-tiba Reyhan tersungkur. Ada seseorang yang memberikan tendangan di


punggungnya, dan Haura masih bisa mendengar suara dentumannya cukup keras


menghantam tulang iga Rey. Entah siapa orang itu. Dia mengenakan jaket Hoodie


berwarna hitam. Dia memapah Haura dan memboncengnya di atas motor, segera


menarik gas, dan menerobos kerumunan teman-teman Rey.


Saat melintas di sebuah jembatan, Haura meminta orang yang menolongnya untuk


menghentikan laju motornya. Tubuhnya serasa panas sekali, mungkin efek dari


minuman yang diminumnya. 'Mungkinkah ini obat yang seperti itu?' batinnya.


Haura tak ingin ambil resiko, lepas dari iblis, tetapi terperangkap oleh setan.


Byur


Dia menceburkan diri ke sungai, dirinya tak mampu berenang. Namun, dia


berharap inilah hal yang terbaik yang bisa dia pilih saat ini. Mungkin kematian


akan jauh lebih baik, daripada hidup nanti tanpa harga diri seandainya dia


sampai melakukan hal yang salah saat kehilangan kontrol karena obat yang dia


tidak tahu akan seperti apa efeknya.


Perlahan dadanya mulai terdesak, sesak, dia merasa hanyut dan tenggelam


terbawa arus. Haura memejamkan mata, dia membayangkan akan sesakit apa kematian


yang dipilihnya kini.


Sebuah tangan meraih tubuhnya, entah itu milik siapa, yang jelas dirinya sudah

__ADS_1


tak mampu merasakan apa pun selain rasa sesak yang mendesak di tenggorokannya.


__ADS_2