Haura

Haura
Pengintaian


__ADS_3

Pagi ini, Haura lari pagi menyusuri sebuah jalan di kompleks perumahan kawasan


elite. Rumah-rumah dengan pagar tinggi dan bangunan-bangunan yang megah. Dia


bersama Rey akan memulai pengintaian terhadap tersangka pertama. Jordan, anak


seorang konglomerat yang memiliki banyak koneksi. Sehingga sebej*t apa pun


kelakuan Jordan, dia tak akan pernah disentuh hukum.


"Pagi, Ra. Kamu cantik," puji Rey pada gadis di hadapannya.


Haura mengenakan kaus putih dan celana hitam pendek. Rambutnya yang bersemu


merah diikatnya ke belakang. Headset terpasang di telinga. Rey tak berhenti


menatap Haura meski gadis itu sama sekali tak memedulikan dirinya.


"Yang mana rumah Jordan, Rey?"


Rey menunjuk sebuah rumah mewah dengan mobil-mobil berjejer rapi di garasi.


Tampak seorang pria berkaus hitam sedang duduk sambil menghisap ro*ok dan


menikmati secangkir kopi di kursi taman berwarna putih. Pria itu seumuran Rey,


dan kebetulan juga sering bertemu Rey di kelab.


"Kamu yakin, Ra? akan masuk ke kandang singa?"Haura mengangguk. Dia sudah


memantapkan niatnya untuk memasukan mereka ke dalam penjara.


Rey menekan bell. Pria itu menoleh ke arah pintu gerbang, dan melambai ke arah


mereka. Seorang wanita paruh baya membukakan pintu, Haura melangkahkan kakinya


memasuki halaman hijau dan asri.


Jordan dan Rey berjabat tangan kemudian berpelukan. Pria itu melirik sekilas


ke arah Haura. Memindai dari ujung kaki hingga kepala, memberi isyarat pada


Rey, seolah bertanya siapa gadis yang dibawanya. "Kenalin. Ini cewek gua." ucap


Rey memperkenalkan Haura.


Seorang wanita paruh baya membawakan dua gelas jus jeruk. Selang beberapa


menit sebuah motor besar terparkir di halaman rumah Jordan. Rey berbisik pada


telinga Haura, memberitahukan bahwa pria itu bernama Ari.


Malam ini mereka berencana untuk merayakan kebebasan mereka dari penjara dua


minggu lalu. Mereka bahkan lupa, pada wajah Haura. Sebab, saat itu Haura


mengenakan masker di persidangan.


Malam ini adalah saatnya mereka menggali kubur mereka sendiri karena telah


mengundang Haura dalam pesta mereka. Rey menjemput Haura tepat pukul tujuh


malam. Haura mengenakan gaun hitam tanpa lengan selutut pemberian Raya di hari

__ADS_1


ulang tahunnya beberapa bulan lalu. Sebuah anting perak panjang terpasang di


telinga, beserta gelang dengan hiasan hati di pergelangan tangan dan sebuah


hell berwarna hitam menjadi pelengkap penampilan Haura malam ini.


Rey terbengong menikmati pemandangan di hadapannya. Ini adalah kali pertama


dia melihat gadis di hadapannya ini dengan pakaian ala gadis anggun, bahkan


menggunakan make up. Haura membuka pintu mobil, duduk di sebelah kemudi di


samping Rey. Sepanjang perjalanan, Rey tak henti-hentinya mencuri pandang


melalui kaca mobil. Meski Haura sadar sedang diperhatikan, dia sama sekali tak


peduli.


Pesta dimulai. Dj memainkan musik dengan sangat keras. Aroma minuman keras


sangat mendominasi. Botol-botol weski dan bir tertata di atas meja. Gadis-gadis


penghibur bergelayut manja di pangkuan. Ciuman dan pelukan seperti pemandangan


yang begitu biasa di sini. 'Menjijikan!' batin Haura.


Rey menautkan tangannya mengisi sela-sela jemari Haura. Membawanya pada sarang


singa. Tempat ini adalah tempat di mana Raya bekerja. Meski bekerja di sini,


tetapi dia bukan gadis nakal. Dia adalah seorang Dj. Penampilan Raya yang


sangat manis benar-benar berbanding terbalik dengan dunianya yang keras.


bekerja di kedai kopi meski uang yang didapatkannya tidak terlalu banyak. Asal


bisa makan dan membiayai sekolah, baginya itu sudah lebih dari cukup.


Di hadapan Haura kini telah berkumpul para manusia biad*b yang telah


mengha*curkan hidup Raya. Tanpa dosa merayakan kemenangan atas kekalahan Raya.


Berpesta dan bergembira.


Rey memesankan segelas soda untuk Haura. Dia tahu, gadis di sebelahnya bukan


peminum alkohol. Ketika mereka sedang mabuk, Haura bertanya bagaimana mereka


melec**kan Raya dan merekam seluruh percakapan itu dengan ponsel milik Rey.


Jantung Haura seperti diremas dengan kuat, saat mendengarkan detail kejadian


yang dijelaskan oleh mereka.


Mata Haura memerah. Napasnya naik turun menahan amarah yang begitu membara di


dada. Tangannya terkepal dengan erat. Bahkan dia hampir bangkit dan melayangkan


puk*lan seandainya Rey tak menahannya. Rey menggenggam tangan Haura agar tak


lepas kontrol sehingga akan membuat semuanya menjadi sia-sia. Rey sangat


mengenal siapa mereka.

__ADS_1


Haura pergi ke toilet untuk menenangkan amarahnya. Dia membasuh wajahnya


dengan air dingin. Menatap dirinya dalam cermin hingga tanpa terasa air matanya


mulai meleleh dan jatuh. Dia mengusap air matanya dengan punggung tangannya,


kemudian kembali berbaur dengan mereka.


Malam semakin larut. Suara musik semakin keras dan para penikmat minuman


semakin mabuk dibuatnya. Pukul 01.15 pesta telah usai.


Kemarah*n dalam hati yang sedari tadi bersemayam di dada Haura, akan dia


lampiaskan pada Rocky sebagai sasaran pertama. Pria tak berperasaan yang dengan


kejamnya merekam perbuatan biada* mereka pada Raya. Haura tahu, bahwa mereka


pasti akan segera mendekam di dalam penjara dengan bukti di tangannya, tetapi


dia ingin sedikit membuat anak-anak itu jera. Agar tak pernah ada lagi


Raya-Raya yang lain.


Dari kejauhan Rey dan Haura memantau Rocky yang masih berjalan sempoyongan


menuju mobilnya, dipapah oleh seorang wanita.


Haura berjalan mendekati mobil Rocky dan mengetuk kacanya.Kaca mobil


diturunkan, tampak pemandangan yang tak layak untuk disaksikan. Sang wanita


sangat berantakan dan sibuk membetulkan pakaiannya. Wanita itu keluar dari


mobil Rocky tanpa perintah.


"Ada apa, Ra?" tanya Rocky.


"Apa boleh aku mengantarmu pulang? Bukankah kamu sedang mabuk?" jawab Haura


dengan senyuman.


"Hh. Masuklah!" ucap Rocky dengan menggunakan isyarat kepala.


Tampak senyum merekah di bibirnya. Sebenarnya dari pertama melihat Haura, dia


sudah tertarik. Namun, karena mengetahui gadis ini adalah milik Rey, maka dia


tak punya nyali untuk mengusiknya. Dia tidak menyangka, gadis yang sedari tadi


diincarnya, malah menghampirinya sendiri.


Rocky melajukan mobilnya menuju sebuah hotel di tengah kota. Dia tidak tahu


bahwa Rey mengikuti mobilnya dari belakang.


Sepanjang jalan, bibir Rocky terus menyunggingkan senyum. Entah apa yang


sekarang di pikirkannya. Tangan Rocky mulai menyentuh paha Haura yang hanya


memakai gaun pendek di atas lutut. Haura melepaskan sentuhan itu tetapi Rocky


malah tertawa melihat Haura merasa risi.

__ADS_1


__ADS_2