
Pagi ini, Haura lari pagi menyusuri sebuah jalan di kompleks perumahan kawasan
elite. Rumah-rumah dengan pagar tinggi dan bangunan-bangunan yang megah. Dia
bersama Rey akan memulai pengintaian terhadap tersangka pertama. Jordan, anak
seorang konglomerat yang memiliki banyak koneksi. Sehingga sebej*t apa pun
kelakuan Jordan, dia tak akan pernah disentuh hukum.
"Pagi, Ra. Kamu cantik," puji Rey pada gadis di hadapannya.
Haura mengenakan kaus putih dan celana hitam pendek. Rambutnya yang bersemu
merah diikatnya ke belakang. Headset terpasang di telinga. Rey tak berhenti
menatap Haura meski gadis itu sama sekali tak memedulikan dirinya.
"Yang mana rumah Jordan, Rey?"
Rey menunjuk sebuah rumah mewah dengan mobil-mobil berjejer rapi di garasi.
Tampak seorang pria berkaus hitam sedang duduk sambil menghisap ro*ok dan
menikmati secangkir kopi di kursi taman berwarna putih. Pria itu seumuran Rey,
dan kebetulan juga sering bertemu Rey di kelab.
"Kamu yakin, Ra? akan masuk ke kandang singa?"Haura mengangguk. Dia sudah
memantapkan niatnya untuk memasukan mereka ke dalam penjara.
Rey menekan bell. Pria itu menoleh ke arah pintu gerbang, dan melambai ke arah
mereka. Seorang wanita paruh baya membukakan pintu, Haura melangkahkan kakinya
memasuki halaman hijau dan asri.
Jordan dan Rey berjabat tangan kemudian berpelukan. Pria itu melirik sekilas
ke arah Haura. Memindai dari ujung kaki hingga kepala, memberi isyarat pada
Rey, seolah bertanya siapa gadis yang dibawanya. "Kenalin. Ini cewek gua." ucap
Rey memperkenalkan Haura.
Seorang wanita paruh baya membawakan dua gelas jus jeruk. Selang beberapa
menit sebuah motor besar terparkir di halaman rumah Jordan. Rey berbisik pada
telinga Haura, memberitahukan bahwa pria itu bernama Ari.
Malam ini mereka berencana untuk merayakan kebebasan mereka dari penjara dua
minggu lalu. Mereka bahkan lupa, pada wajah Haura. Sebab, saat itu Haura
mengenakan masker di persidangan.
Malam ini adalah saatnya mereka menggali kubur mereka sendiri karena telah
mengundang Haura dalam pesta mereka. Rey menjemput Haura tepat pukul tujuh
malam. Haura mengenakan gaun hitam tanpa lengan selutut pemberian Raya di hari
__ADS_1
ulang tahunnya beberapa bulan lalu. Sebuah anting perak panjang terpasang di
telinga, beserta gelang dengan hiasan hati di pergelangan tangan dan sebuah
hell berwarna hitam menjadi pelengkap penampilan Haura malam ini.
Rey terbengong menikmati pemandangan di hadapannya. Ini adalah kali pertama
dia melihat gadis di hadapannya ini dengan pakaian ala gadis anggun, bahkan
menggunakan make up. Haura membuka pintu mobil, duduk di sebelah kemudi di
samping Rey. Sepanjang perjalanan, Rey tak henti-hentinya mencuri pandang
melalui kaca mobil. Meski Haura sadar sedang diperhatikan, dia sama sekali tak
peduli.
Pesta dimulai. Dj memainkan musik dengan sangat keras. Aroma minuman keras
sangat mendominasi. Botol-botol weski dan bir tertata di atas meja. Gadis-gadis
penghibur bergelayut manja di pangkuan. Ciuman dan pelukan seperti pemandangan
yang begitu biasa di sini. 'Menjijikan!' batin Haura.
Rey menautkan tangannya mengisi sela-sela jemari Haura. Membawanya pada sarang
singa. Tempat ini adalah tempat di mana Raya bekerja. Meski bekerja di sini,
tetapi dia bukan gadis nakal. Dia adalah seorang Dj. Penampilan Raya yang
sangat manis benar-benar berbanding terbalik dengan dunianya yang keras.
bekerja di kedai kopi meski uang yang didapatkannya tidak terlalu banyak. Asal
bisa makan dan membiayai sekolah, baginya itu sudah lebih dari cukup.
Di hadapan Haura kini telah berkumpul para manusia biad*b yang telah
mengha*curkan hidup Raya. Tanpa dosa merayakan kemenangan atas kekalahan Raya.
Berpesta dan bergembira.
Rey memesankan segelas soda untuk Haura. Dia tahu, gadis di sebelahnya bukan
peminum alkohol. Ketika mereka sedang mabuk, Haura bertanya bagaimana mereka
melec**kan Raya dan merekam seluruh percakapan itu dengan ponsel milik Rey.
Jantung Haura seperti diremas dengan kuat, saat mendengarkan detail kejadian
yang dijelaskan oleh mereka.
Mata Haura memerah. Napasnya naik turun menahan amarah yang begitu membara di
dada. Tangannya terkepal dengan erat. Bahkan dia hampir bangkit dan melayangkan
puk*lan seandainya Rey tak menahannya. Rey menggenggam tangan Haura agar tak
lepas kontrol sehingga akan membuat semuanya menjadi sia-sia. Rey sangat
mengenal siapa mereka.
__ADS_1
Haura pergi ke toilet untuk menenangkan amarahnya. Dia membasuh wajahnya
dengan air dingin. Menatap dirinya dalam cermin hingga tanpa terasa air matanya
mulai meleleh dan jatuh. Dia mengusap air matanya dengan punggung tangannya,
kemudian kembali berbaur dengan mereka.
Malam semakin larut. Suara musik semakin keras dan para penikmat minuman
semakin mabuk dibuatnya. Pukul 01.15 pesta telah usai.
Kemarah*n dalam hati yang sedari tadi bersemayam di dada Haura, akan dia
lampiaskan pada Rocky sebagai sasaran pertama. Pria tak berperasaan yang dengan
kejamnya merekam perbuatan biada* mereka pada Raya. Haura tahu, bahwa mereka
pasti akan segera mendekam di dalam penjara dengan bukti di tangannya, tetapi
dia ingin sedikit membuat anak-anak itu jera. Agar tak pernah ada lagi
Raya-Raya yang lain.
Dari kejauhan Rey dan Haura memantau Rocky yang masih berjalan sempoyongan
menuju mobilnya, dipapah oleh seorang wanita.
Haura berjalan mendekati mobil Rocky dan mengetuk kacanya.Kaca mobil
diturunkan, tampak pemandangan yang tak layak untuk disaksikan. Sang wanita
sangat berantakan dan sibuk membetulkan pakaiannya. Wanita itu keluar dari
mobil Rocky tanpa perintah.
"Ada apa, Ra?" tanya Rocky.
"Apa boleh aku mengantarmu pulang? Bukankah kamu sedang mabuk?" jawab Haura
dengan senyuman.
"Hh. Masuklah!" ucap Rocky dengan menggunakan isyarat kepala.
Tampak senyum merekah di bibirnya. Sebenarnya dari pertama melihat Haura, dia
sudah tertarik. Namun, karena mengetahui gadis ini adalah milik Rey, maka dia
tak punya nyali untuk mengusiknya. Dia tidak menyangka, gadis yang sedari tadi
diincarnya, malah menghampirinya sendiri.
Rocky melajukan mobilnya menuju sebuah hotel di tengah kota. Dia tidak tahu
bahwa Rey mengikuti mobilnya dari belakang.
Sepanjang jalan, bibir Rocky terus menyunggingkan senyum. Entah apa yang
sekarang di pikirkannya. Tangan Rocky mulai menyentuh paha Haura yang hanya
memakai gaun pendek di atas lutut. Haura melepaskan sentuhan itu tetapi Rocky
malah tertawa melihat Haura merasa risi.
__ADS_1