Hello Autumn

Hello Autumn
PROLOG


__ADS_3

Sore diliputi senja yang warnanya memanjakan mata. Sekelompok muda-mudi tengah asyik bercengkerama, tertawa riang gembira sambil menikmati suasana senja. Seorang gadis belia, sepertinya menginjak usia 20 tahun duduk di pinggir danau, di sebuah bangku tua yang reot. Ia memandangi para muda-mudi yang seperti hidup tanpa beban, jauh berbeda dengan kehidupannya.


Tatapan mata gadis itu kosong, hingga perlahan air matanya menggenang.


“Aku ingin mati saja!” teriak gadis itu dalam hati.


Air mata yang dari tadi ia tahan, perlahan mulai mengucur deras. Gadis itu berdiri, kakinya gemetar hebat. Ia menyeka air matanya, lalu memandang mantap ke depan. Perlahan, ia melangkahkan kakinya hingga tepat berdiri di tepi danau. Salah satu pemuda yang ada di sana melihatnya.


“Apa kau gila?” Lelaki itu memegangi bagian perut gadis yang hampir menceburkan diri ke dalam kolam.


“Maaf, kamu siapa?”


Lelaki itu menghela napas panjang. Gadis yang ia temui sungguh aneh. Dilihat dari penampilannya yang lumayan cantik dan pakaian seperti orang kalangan atas, apa yang membuatnya ingin bunuh diri?


“Dengar, walaupun hidup kita sangat merepotkan, tapi jangan pernah memutuskan untuk bunuh diri, dong. Kasihan keluargamu, tahu!”


Gadis bernama Nina itu menunduk. Ada rasa yang meluap-luap di dadanya. Sedih? Marah?


“Tu…tunggu. Bisa lepaskan aku? Seperti ini, kamu seperti laki-laki mesum saja.”


“Ha-hah? Me-mesum? Hei, aku ini penyelamatmu! Pe-nye-la-mat!”


“Hei, aku hanya mau lihat-lihat ikan! Apanya yang perlu diselamatkan? Nina mengibaskan rambut panjangnya. “Oh, kamu hanya berpura-pura, kan? Lalu mau ambil kesempatan memegangku? Iuh, padahal ganteng, tapi mesum!”


“Up to you! Aku akan pergi! Niatku baik, tapi malah dituduh yang tidak-tidak. Kan elu bangke!”


Lelaki yang belum diketahui identitasnya itu pergi meninggalkan Nina yang masih bersungut-sungut. Nina mengelus bagian perutnya yang dipegang lelaki mesum itu. Ada rasa hangat dan ketulusan di sana. Sudah berapa tahun lamanya ia tak pernah merasakan hal itu. Padahal, dulu ia sering dipeluk orang tuanya.


Nina menepis pikirannya jauh-jauh. Hal itu hanya akan membuatnya larut dalam kesedihan dan keterpurukan. Nina melangkah meninggalkan danau. Namun, kakinya tidak sengaja menginjak ‘ular’. Nina kaget setengah mati. Kakinya gontai hingga tak kuat menopang berat badannya.


Byuurr!


“Eh, ada orang jatuh!”


“Biarin lah. Kan Cuma 1,5 meter doang. Nanti juga bisa keluar sendiri.”


Lelaki ‘mesum’ itu mengamati gadis yang tercebur. Apakah dia hanya membodohi dan menipu pengunjung lagi? Ia melangkah pergi, meninggalkan dan tak mempedulikan Nina hingga langkahnya terhenti saat ia mendengar teriakan. “To-tolong! Ak-aku tidak bisa berenang!”


Gadis itu masih berusaha, meronta di danau yang bahkan lebih dangkal dari tinggi badannya. Bagi orang yang melihatnya, itu lebih terlihat seperti lelucon daripada sebuah permintaan tolong. Lelaki itu mengepalkan tangan, menahan emosi. Ia masih kesal dengan perlakukan Nina barusan, tapi di sisi lain ia tak bisa membiarkan seseorang mati begitu saja.

__ADS_1


Ah benar. Lebih baik aku mati seperti ini. Mati dengan tidak sengaja jauh lebih baik daripada bunuh diri. Aku belum sempat membuktikan keberadaanku pada mereka. Tapi, aku bisa apa? Sekuat apapun aku berusaha, mereka tak akan mengakuiku. Adiku, jauh lebih unggul dariku. Aku hanya beban keluarga. Selamat tinggal, dunia yang kejam.


Mata Nina perlahan mulai tertutup. Ia tak sanggup lagi bernapas, dadanya terasa sesak hingga pandangannya mulai menghitam.


Seisi taman mulai panik. Hampir semua pengunjung melihat kejadian itu. Detik-detik seorang gadis muda meninggal dengan cara yang amat konyol. Seorang lelaki dengan tanpa ragu mencebur ke dalam danau dan menyelamatkannya. Denyut nadi melemah, detak jantung hampir lenyap. Bibir gadis itu mulai pucat.


“Cepat hubungi ambulan!”


“Cepat bawa ke rumah sakit!”


“Kalau tidak ada dokter bisa gawat.


Sepertinya nyawanya tidak akan tertolong.”


Lelaki ‘mesum’ itu tertegun. Ia baru ingat bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu, walaupun sebenarnya ia tak mau melakukannya. Dengan ragu, ia mendekatkan wajahnya. Seluruh pengunjung tertegun.


“Apa ini? Lelaki mesum?”


“Ah, sepertinya ia mengambil kesempatan dalam kesempitan.”


“Hoo.. Jiwa mudaku memberontak, jiwa jombloku tersiksa.”


“Tapi dia tampan sekali. Harusnya aku yang tenggelam saja.”


“Sialan kalian, hanya bisa berkomentar! Aku sedang menolongnya! Apa yang bisa kalian lakukan? Nyinyir ga guna? Sebaiknya kalian panggil ambulan!”


“Ba-baik!”


Lelaki tampan itu masih mencoba menolong, memberi napas buatan agar gadis di depannya bisa sadar kembali. Walau bagaimanapun, ia pernah melatih skill ini saat ikut les renang.


“Kau anak tidak berguna! Tidak perlu repot-repot masuk kuliah!”


“Ma, jangan marahi Kakak lagi!”


“Oh, kau memang anak yang baik. Tidak seperti kakakmu ini.”


“Papa tidak di rumah, harusnya kau bantu Mama ngurus rumah!”


“Dasar anak payah!”

__ADS_1


Mata Nina terbelalak. Mimpi yang sangat ia benci. Ia memegangi kepalanya yang masih sedikit sakit. Nina menatap sekeliling. Rumah sakit?


“Kau sudah sadar sekarang, Nina?”


“Ka-kau, si mesum? Ke-kenapa kau bisa tahu namaku? Tu-tunggu! Kau bika stalker, kan?”


Lelaki itu menatap dengan tatapan dingin. Ia seketika teringat pertama kali ia dipanggil si mesum. Bahkan yang lebih mengerikan, saat ia mencoba menyelamatkan gadis bodoh di depannya ini, ia juga harus mendapat gelar yang sama oleh orang asing di seluruh taman.


Lelaki tampan itu menunjuk papan nama di ranjang rumah sakit.


“O-oh.. hahaha, maaf. BTW, te-terima kasih.”


Lelaki itu tersenyum licik. “Sudahlah. Aku akan menghubungi keluargamu.”


“A-anu, bisa jangan hubungi mereka? Aku tidak mau merepotkan mereka.”


“Ha? Kamu yakin? Keluargamu pasti cemas. Kamu sudah seharian pingsan, loh.”


Nina menunduk. Rasanya sedikit menyedihkan, bukan? Hidup susah sendirian, tidak dipedulikan bahkan oleh keluarganya sendiri. Ia membuka HP miliknya. Tidak ada satu pun pesan dari mereka.


Nina menghela napas. “Kamu bisa keluar. Aku akan bersiap pulang. Sekali lagi, terima kasih. Dan, siapa nama kamu?”


Lelaki itu tercekat mendengarnya. Akhirnya setelah beberapa dialog Nina menanyakan namanya. Ia lagi-lagi tersenyum penuh makna.


“Panggil saja aku Lelaki Mesum. Lagian kita tidak mungkin bertemu lagi, kan? Selamat tinggal.”


“Tung-” Pintu rumah sakit telah tertutup.


Nina menatap ambang pintu itu dengan skeptis. Ia menarik tangannya lagi. Benar, mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi bagi Nina, sosok itu adalah sosok yang pertama kali memberi harapan untuk tetap hidup. Dan juga ‘balas dendam’.


Nina adalah gadis yang ceria, tepatnya dulu sebelum ada si adik, anak dari tantenya ikut tinggal di rumahnya karena suatu kondisi. Cemburu dan iri menjadi salah satu penyebab semakin menjauhnya hubungan mereka.


***


Nina, gadis itu menghentikan motor maticnya di depan pintu gerbang kampus. Akhirnya ia akan terbebas dari keluarganya. Ia memutuskan untuk tinggal di apartemen dekat Universitas Fana. Dan untuk kali ini dia harus mau berpisah dengan keluarga yang dulu hangat seperti surga.


Gadis berambut hitam terutai itu ingat, kejadian sehari sebelum ia memutuskan untuk mengasingkan diri. Walaupun kedua orang tuanya ‘tidak menyayanginya’, tapi merasa dikhawatirkan seperti waktu itu adalah bagian dari memori yang tak bisa ia lupakan.


“Apa? Mau tinggal di apartemen? Kamu kan tidak bisa masak, Nina. Apa yang kamu pikirkan?”

__ADS_1


Bahkan, ucapan mamanya masih terngiang sampai saat ini. Tapi ia tak bisa mundur lagi. Nina hanya akan merasa terkekang jika harus di rumah itu.


Sendirian lebih baik dari pada menjadi manusia transparan.


__ADS_2