
Flashback
Hari Minggu, Nina pergi ke supermarket untuk membeli beberapa bahan dan peralatan yang kiranya dibutuhkan untuk hidup mandiri. Ia membuka pintu kamarnya, bersiap untuk pergi.
“Mau ke mana? Bukannya bantu adikmu masak. Rapi begitu mau keluyuran?”
Nina mengepal. Sepagi ini, dan ia harus mendapat sindiran pedas. Ia menuju ke dapur, berniat membantu adiknya.
“Milly, sini kubantu.”
“Ah, tidak usah, Kak. Ini sudah mau selesai.”
Nina mendekat, berbisik, “terima kasih untuk semuanya, wahai adikku sayang.”
Walau mamanya melirik dengan tatapan sinis, Nina hanya bisa menghela napas berat.
__ADS_1
“Dasar, anak tidak berguna. Kenapa Mama dapat anak kaya kamu, sih? Kenapa dulu bukan Milly saya yang jadi anak Mama.”
Satu kalimat yang tak ia ingin dengar akhirnya keluar dari mulut mamanya sendiri. Air matanya hampir menetes, namun ia tahan sebisa mungkin, hingga ia keluar dari rumah itu.
Nina mengambil ponselnya, memencet beberapa tombol untuk menghubungi kekasihnya, Vino.
“Halo, Vino. Bisa temani aku belanja? Besok aku mau pindah ke apartemen deket sekolah.”
“Harus sekarang banget? Aku lagi sibuk, tidak bisa keluar, Sayang.”
“Oh ya sudah. Maaf, ya.”
Beberapa jam ia mengitari supermall sendirian, membeli beberapa barang yang sekiranya dibutuhkan. Nina duduk sebentar di bangku taman sambil memijit kakinya yang agak pegal.
“Yosh! Sepertinya aku harus segera pulang dan bersiap-siap.”
__ADS_1
“Wah…sepertinya kita memang berjodoh, Nona? Bukankah aku pernah bilang kita tidak mungkin bertemu lagi?”
Suara lelaki itu terasa begitu familiar. Nina menoleh. Ia mendapati sosok lelaki tinggi tampan itu sekilas. Ya, lelaki mesum yang selama ini ingin ia temui. Lelaki yang membantunya ketika tenggelam di danau tempo lalu, sekaligus lelaki yang ingin ia ketahui namanya.
“Hei, apa yang kamu lakukan di sini, Tuan Mesum?”
“Hidoi! Aku di sini tentu belanja dong. Masa ternak sapi.”
“Belanja? Lalu, mana barang bawaanmu?” Tak ada satu plastik pun dipegang lelaki itu, berbeda dengan Nina yang menenteng beberapa belanjaan, dan itu cukup membuat tangannya kesakitan.
Lelaki itu hanya berdecak. “Bukankah sangat mudah memindahkan barang dari sini ke tempat tinggalku? Ha? Jangan bilang kamu membawa banyak barang dengan tangan kecilmu itu. Ayolah, sekarang sudah zamannya antar barang online, loh. Oh, apakah kamu tidak tau caranya? Mau kukasih tau?” Lelaki itu berkacak pinggang menyombongkan diri.
“Heeeh…kukira kamu hanya seorang lelaki mesum yang sederhana dan baik hati mengingat apa yang kamu lakukan waktu itu. Tak disangka kamu adalah lelaki yang mesum dan juga sombong. Perlu kamu tau, suara berisikmu membuatku mual! Ah sudahlah. Aku tak ada waktu berdebat. Sampai jumpa!”
Nina meninggalkannya di sana begitu saja. Entahlah, pandangannya pada lelaki itu berubah 180 derajat. Ia mengira lelaki itu baik, sampai ia memikirkan berbagai cara untuk bertemu dengannya dan apa yang akan ia ucapkan saat mereka bertemu lagi. Siapa sangka sifatnya benar-benar berubah. Nina merasa seperti bertemu orang yang berbeda.
__ADS_1
Kepala Nina berbalik ke arah lelaki itu sejenak sebelum melangkah pergi. Ia melihat lelaki itu tak sendirian lagi. Ada seorang gadis cantik berkacamata di sampingnya. Sepertinya itu adalah pacarnya. Dan itu membuat Nina semakin yakin bahwa ia tak perlu lagi berurusan dengannya.
***