Hello Autumn

Hello Autumn
Satu Kamar


__ADS_3

"Azra!"


Nina mendekat, memeriksa keadaan Azra. Wajah lelaki di depannya pucat pasi. Peluhnya menetes, memenuhi gurat wajahnya yang tampan. Sementara napasnya masih terdengar berat.


"Kamu kenapa? Aku harus hubungi rumah sakit!" Nina mengambil telepon genggamnya, menghubungi rumah sakit. Azra langsung menyambar telepon Nina, mencegahnya menelepon.


"Jangan! Bawa saja aku ke apartemenku. Kumohon!"


Wajah Azra masih terasa panas, tapi ia tau, yang Azra rasakan di dalam pasti sangat dingin. Apalagi ia harus terkulai lemas di lantai toilet seperti ini.


"Dimana apartemenmu?"


Tak ada jawaban. Apakah Azra pingsan?


"Hei!"


Nina menepuk-nepuk wajah lelaki berambut pirang itu. Percuma. Ia tidak membuka matanya sama sekali. Nina menaruh jari telunjuknya di bawah lubang hidup Azra. Masih terasa napas keluar.


"Aduh, bagaimana ini? Apa aku hubungi Ran buat bantu, ya?" Nina mengambil teleponnya yang berada di tangan Azra, memencet beberapa bagian. "Oh, sial! Aku belum punya nomornya!"


Dengan langkah terseok-seok, terpaksa Nina membawa lelaki tampan itu keluar dari toilet. Memapahnya membutuhkan tenaga besar. Sesekali, terdengar suara Azra mengaduh kesakitan. Hal itu membuat Nina semakin khawatir.


"Sial! Kenapa dia tidak mau dibawa ke rumah sakit, sih! Lalu kamu harus kubawa ke mana? Jawab woy! Jangan pingsan terus!"


Walaupun dengan nada marah, tetap saja Nina tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Wajahnya turut pucat. Dengan keadaan begini, ia tidak bisa membawa motor miliknya. Terpaksa Nina memanggil taksi online.


Tak ada ekspresi lain dipancarkan di wajahnya, selain wajah kekhawatiran. Nina menunggu taksi online dengan cemas di depan gerbang sekolah. Memapah lelaki tampan yang lebih tinggi darinya terlihat mencurigakan. Begitulah tatapan orang-orang yang melihatnya.


Sepuluh menit berlalu dengan memalukan, hingga akhirnya taksi pun datang. Ia membuka pintu mobil biru, menidurkan Azra di belakang. Kemudian ia menyusul di sampingnya.


"Jalan Archives nomor 07, Pak. Ngebut, ya!"


"Baik, Nona!"


Nina menggenggam tangan Azra, tulus. Tubuhnya bergetar mendapati Azra masih dengan wajah pucat dan napasnya yang terdengar berat.


"Lebih cepat, Pak!"


Pak supir menambah kecepatan. Lima belas menit, akhirnya mereka sampai. Nina mengambil selembar uang. "Ambil kembaliannya."


Nina segera membawa Azra masuk. Ia membuka pintu kamar apartemen nomor 18 itu dan menelentangkan Azra di atas kasur. Tubuhnya terasa sangat panas. Mungkin, sekitar 42°C.


Dengan terpaksa, Nina membuka kancing baju Azra. Jika dilihat orang lain, mereka pasti berpikir ini adalah tindakan pelecehan, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi, bisa apa? Lelaki ini tidak mau dibawa ke rumah sakit. Jadi Nina harus 'merawatnya' dengan baik.

__ADS_1


Nina menatap Azra sejenak. Lelaki ini sebenarnya sangat tampan. Walaupun tingkahnya menyebalkan. Lebih sering membuatnya jengkel. Ia masih terus melepas kancing baju Azra.


Tiba-tiba pergerakannya terhenti saat pergelangan tangannya digenggam. "Apa yang kamu lakukan?"


"Eh? Ah, tadi kamu pingsan. Karena kamu tidak mau dibawa ke rumah sakit, dan kamu tidak memberitahuku dimana apartemenmu, makanya aku membawamu kemari."


"Maksudku, kenapa kamu membuka kancing bajuku?"


"Hah?" Nina melirik tangannya. Oh sial! Ia persis sedang meraba dada bidang milik Azra. "Yah, badanmu panas sekali. Jadi kupikir harus mendinginkannya, kan?"


Si Lelaki Mesum itu menatap curiga, seakan tidak percaya. "Hah, dulu kamu memanggilku lelaki mesum. Bukankah kamu sendiri yang gadis mesum? Otak udang? Bodoh?"


Nina hendak protes. Tapi ia memilih diam. Ruangan yang beberapa menit lalu begitu lengang tak lagi terasa. Sebenarnya, ia merasa lega.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa karena wajahku begitu tampan?"


"Apa? Hah! Apa narsismu level maksimal? Lebih baik kamu diam seperti barusan. Kenapa kamu harus sadar? Membuat orang jengkel saja!" Nina mengipas-kipas wajahnya yang mulai memerah.


"Terima kasih."


"Apa?"


"Aku bilang terima kasih. Kamu sudah menolongku. Bagaimana caraku membalasmu?" Azra terlihat malu mengatakannya.


"Mau jadi kacungku?"


Nina menahan tawa. "Sudahlah. Lagi pula dulu kamu juga pernah membantuku. Anggap saja kita impas. Apa kamu sudah merasa baikan? Jika sudah, kamu bisa pulang sekarang. Ah, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Motorku tertinggal di parkiran kampus gara-gara kamu."


Azra menarik selimut, bersiap tidur.


"Hei, kubilang pulang! Kenapa kamu malah tidur?"


"Aku masih sedikit pusing. Bukankah sebaiknya kamu masak sesuatu untukku? Sungguh, aku butuh banyak tenaga sebelum pergi."


"A-aku"


"Hmm?"


"Aku tidak bisa masak." Nina menunduk. Ia siap diolok-olok.


"Hah? Serius?"


Nina mengangguk pelan. Ia menunduk, merasa tidak berguna saat dibutuhkan. Azra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Ada bahan-bahannya?"


Nina kembali mengangguk. Kali ini ia lebih semangat.


"Kenapa ada bahannya, tapi tidak bisa mengolahnya? Apa kamu berniat makan makanan gosong, atau asin? Atau justru makan makanan hambar yang tidak layak makan?


" Aku ... hanya ingin mencoba. Kau tau, aku pergi dari rumah, memilih kampus yang jauh, mencari apartemen, memberanikan hidup sendiri, sebenarnya aku ingin jadi orang berguna. Setidaknya, aku ingin bisa masak sendiri."


Azra menghela napas. Ia merasa bersalah mengatainya. "Baiklah. Aku akan masak untukmu. Dan tugasmu, adalah jadi asistenku. Mengerti?"


Nina memandang Azra dengan tatapan tak percaya.


"Kamu bisa memasak? Tunggu! Kamu kan masih sakit. Sebaiknya kita beli makanan di luar saja. Aku akan pergi ke restoran di depan."


Azra menarik baju Nina, mencegahnya pergi.


"Aku akan masak. Anggap saja ini pelajaran tambahan dariku. Dan bukankah sebaiknya kamu perhatikan baik-baik cara memasak. Jadi, besok kamu bisa membuat masakan enak untukku."


Senyum Nina merekah. Bahagia. Lelaki berambut pirang itu hanya bisa terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Betapa cantiknya Nina dengan senyum simpulnya.


"Ya-yah, sebaiknya kamu segera siapkan bahan-bahannya.


"Baik!"


Belum beranjak dari tempat tidur, Nina terpaksa menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Azra sembari cengar-cengir.


"Ada apa?" Azra menatapnya bingung.


"Kamu tau, aku baru pindahan hari ini. Jadi, aku belum beres-beres. Jangankan dapur. Lihat, koperku masih di sana." Nina menunjuk koper yang masih teronggok di pojok ruangan. "Aku baru pindahan tadi pagi, terus langsung ke kampus."


Azra menepuk jidat, lagi. "Baiklah. Aku akan pesan makanan. Sebaiknya kamu segera beres-beres. Benar, setelah diamati baik-baik, kamar ini seperti habis perang dunia saja!"


"Aku tau! Maklum lah namanya juga baru pindahan! Tidak perlu ngejek begitu, dong!"


"Ya,ya." Azra bersikap tidak peduli, memilih mengorek lubang telinganya.


Ia mengambil telepon genggamnya, membuka aplikasi yang menerima antar makanan. "Alamatnya?"


"Apartemen Primary, jalan Archives nomor 07, kamar nomor 107."


"Apa? Apa ini alamatmu? Sungguh?"


"Iya! Kenapa memangnya? Apa gedung ini termasuk warisan dunia? Kenapa kamu harus kaget begitu?"

__ADS_1


"Alamatku, juga di sini. Nomor kamar 108. Berarti kita ... tetangga."


"Hah?"


__ADS_2