
Nina Aguero terdiam mendengar pemaparan Azra. Ia sama sekali tidak menyangka jika pria yang saat ini masih terbaring lemas ini menjadi tetangga apartemennya. Padahal ia baru saja pindah. Haruskah ia mencari apartemen lain? Pemikiran itu segera ia tepis jauh-jauh. Uang yang ia dapat dari orang tuanya sudah digunakan untuk menyewa apartemen ini selama satu tahun.
Azra beringsut turun dari tempat tidurnya. Jantungnya masih terasa sakit, napasnya pun terasa berat. Ia ingin kembali ke kamarnya.
"Hei, kamu mau kemana? Bukannya tadi mau memesan makanan siap saji?"
"Kamarku ada di sebelah, Gadis Bodoh! Daripada makan makanan cepat saji, lebih baik aku masak sendiri."
"Hei! Siapa yang kamu panggil Gadis Bodoh? Aku hanya peduli sama perutku. Aku lapar, dan aku mau beres-beres kamar. Bukannya kamu tadi mau pesan makanan? Yak! Jika kamu pergi, lalu bagaimana dengan perutku yang sudah berbunyi ini?"
Azra mengusap wajahnya perlahan dan menoleh ke arah Nina. Gadis itu menatapnya dengan tatapan menyala-nyala. Seperti itukah kekuatan rasa lapar?
Lelaki berambut pirang itu menghela napas panjang. "Ikutlah ke apartemenku. Jujur saja, sebenarnya aku tidak boleh makan makanan cepat saji karena---ya, pokoknya begitulah."
"Kenapa?"
"Bawel!" Azra mengacak-acak rambut gadis di depannya. Ada yang salah dengan dirinya. Ia mengerjap, menatap Nina lamat-lamat.
"Kenapa kamu menatapku begitu? Apa gadis jelek tadi pagi sudah berubah jadi Tuan Putri Cantik?"
Azra meletakkan jari telunjuknya di kening Nina. "Mau makan apa tidak? Kalau tidak, aku tinggal, ya."
"Jangan! Kamu tidak tau berapa usaha yang aku lakukan untuk membawa tubuh beratmu itu? Pundakku juga masih sakit, tau!"
"Ayo!" Azra turun dari tempat tidur.
Nina mengangguk, menerima ajakan Azra. Hanya butuh beberapa langkah, kini mereka tepat berdiri di depan pintu apartemen bernomor 108. Azra memencet beberapa kode angka. Pintu terbuka.
Hal yang pertama kali di lihat Nina ketika pintu baru saja terbuka adalah putih. Ruangan itu nampak sangat bersih dan rapi, berbeda jauh dengan apartemennya yang masih kotor dan berantakan. Betapa malunya ia kalah rajin dengan lelaki yang saat ini berdiri membelakanginya.
"Duduklah dimana saja. Hari ini aku akan masak, khusus untuk perut laparmu. Anggap saja balas budi."
__ADS_1
"Tu-tunggu!" Tanpa disadari Nina meraih lengan tangan Azra.
"Ada apa?"
"Bu-bukankah tadi kamu bilang mau---mengajariku masak?" Nina menunduk, mukanya memerah karena malu.
Azra tersenyum kecil dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat mendapati ekspresi Nina. Sepertinya gadis itu malu-malu.
"Kamu tau, ekspresimu ini seperti anak kucing minta makan. Benar-benar menggemaskan!" Azra mencubit ringan batang hidung Nina.
"Hei! Apa yang kamu lakukan? Tidakkah kamu berpikir perlakuanmu ini berlebihan? Seseorang bisa salah paham."
"Seseorang? Siapa? Aku tinggal sendiri disini," jawab Azra polos.
"Seseorang itu adalah--aku." Suara Nina terdengar lirih, sampai tidak terdengar sama sekali.
"Kamu bilang apa? Aku tidak dengar."
Azra mengangguk. Ia kembali menyunggingkan senyumnya. Begitu manis dan tampan. Lelaki itu mengeluarkan beberapa bahan makan dari dalam kulkas. Tangannya begitu cekatan mengambil, memotong, dan membilas bahan makanan.
"Ambilkan daging."
Nina mengangguk.
"Gantikan aku. Pegang ini, aduk-aduk terus." Azra memberikan sebuah spatula pada Nina. Sementara ia menyiapkan beberapa bumbu untuk masakan kedua.
Nina mengamati, pergerakan demi pergerakan Azra tidak ada yang sia-sia. Ia berkeliat kesana kemari seperti seorang koki, padahal ia seorang laki-laki. Nina merasa sangat malu.
"Azra, kenapa kamu hebat sekali?"
Lelaki yang ditanyainya, bukannya menjawab, ia justru mendekat. Nina sontak memundurkan tubuhnya saat ini merasa jarak di antara mereka semakin dekat. Spatula di tangan Nina lepas sempurna. Ia yang tidak tau sama sekali soal masakan yang sedang dibuat tentu tidak tau apa jadinya jika proses itu terhenti.
__ADS_1
"Apa yang mau kamu lakukan? Kita sedang masak." Nina mengalihkan pandangan, mencari celah. "Yak! Makanannya gosong!" Gadis itu tidak peduli lagi dengan lelaki yang masih di depannya. Ia mendorong tubuh Azra, mematikan kompor dengan segera.
Nina menghela napas lega.
"Apa yang kamu lakukan? Tadi itu berbahaya sekali. Bagaimana jika rumah ini---" ucapan Nina terhenti di kerongkongan.
"Azra! Kamu kenapa lagi?" Nina memeriksa tubuh lelaki itu. Tubuhnya masih terasa panas. Wajahnya pucat pasi, persis seperti kejadian di kampus. Bedanya, saat ini Azra tidak pingsan.
Dengan susah payah, Nina menyeret tubuh Azra ke tempat tidur. Berat sekali tubuhnya, bahkan sampai beberapa kali Nina terjatuh, kemudian bangkit lagi, sampai akhirnya ia berhasil membaringkan Azra.
"Apa yang harus aku lakukan? Sial! Aku calon dokter, tapi tidak bisa berbuat apapun! Ada apa dengan ucapanku tadi pagi di depan senior? Kenapa sekarang aku payah sekali?"
Nina menaruh telapak tangannya di kening Azra. Terasa sangat panas. Mungkin jika ia mencipratkan tetesan air, air itu akan menguap seketika.
"Maafkan aku! Aku harus panggil ambulan!" Belum sempat menelepon, lagi-lagi pergerakannya terhenti.
"Jangan. Cukup istirahat saja. Nanti sembuh sendiri. Aku hanya--kelelahan membersihkan apartemen ini sendiri." Bahkan untuk berbicara terlihat kesusahan dan napasnya terdengar tak beraturan. Benarkah tidak apa-apa jika ia tidak segera ditangani?
"Tapi badanmu panas sekali."
Azra tak menjawab. Matanya terpejam sempurna. Nina berpikir sejenak, merencanakan apa yang sebaiknya dilakukan. Dengan tubuh sepanas itu, bahaya sekali jika tidak segera didinginkan.
"Maaf! Aku terpaksa melakukannya!"
Nina membuka 'lagi' kancing baju Azra. Jika kejadian sebelumnya ia belum sempat menuntaskan pekerjaannya, untuk kali ini ia berhasil melepas baju Azra dengan sempurna. Kini di depannya terbaring sosok lelaki tampan bertelanjang dada, dengan dada bidang dan roti sobeknya.
Jika kondisi tidak segawat ini, mungkin Nina akan menikmatinya. Tapi tidak untuk sekarang. Ia bergegas mengambil air dan handuk, lalu mengelap tubuh Azra dengan baik.
Beberapa jam berlalu, matahari di luar sana tidak lagi terlihat. Azra akhirnya sadar, namun tidak dengan gadis di sampingnya. Nina tertidur pulas dengan posisi duduk di samping ranjang Azra.
Azra menatap gadis itu. Bukan ekspresi senang yang diperlihatkan Azra, melainkan ekspresi takut. Ia takut akan terus berhubungan dengan gadis di sampingnya.
__ADS_1
Sejujurnya, Azra tidak ingin berdekatan dengan Nina lebih dari ini. Ia ingin tetap hidup sendiri, tanpa memikirkan orang lain di dekatnya. Begitu lebih baik. Ia tidak mau kejadian di masa lalu terulang. Saat ia harus mengucapkan salam perpisahan pada orang yang selalu berada di dekatnya. Sangat menyakitkan. Belajar dari masa lalu, Azra tidak ingin mengukir kenangan yang akan menghancurkan satu sama lain.