Hello Autumn

Hello Autumn
Salah Paham


__ADS_3

Kini Nina tak dapat lagi berkeliling mencari lowongan kerja. Ia berniat langsung pulang ke apartemennya dan memanjakan tubuh yang lelah itu dengan air hangat. Langkahnya terhenti ketika ia menyadari, seseorang membuntutinya.


Nina berbalik. "Kenapa kamu mengikutiku?"


"Aku hanya ingin mampir sebentar. Boleh tidak?" Orang yang membuntuti Nina bersedakap, terlihat seperti kedinginan.


"Ran! Kamu tidak sadar ini jam berapa? Sebentar lagi mau malam." Nina berbalik, melangkah pergi meninggalkan Ran sendirian di tengah jalan.


"Nina, aku--aku-"


"Apa?"


"Dompetku hilang. Aku tidak punya uang untuk memanggil taksi. Pinjam sebentar, boleh tidak?"


Gadis berambut hitam itu mulai kesal. Ia merogoh saku celana miliknya, berharap ada uang pas di dalam sana. Tangannya merogoh saku yang satu, bahkan saku kemeja tak luput darinya.


"Sial, uangku habis."


Wajah Ran tertekuk. "Baiklah, mungkin aku harus jalan kaki sejauh sepuluh kilo."


"Sejauh itu?"


Ran mengangguk, sementara Nina balik badan lagi. Ia melambaikan tangannya, memperbolehkan Ran untuk mampir sebentar. "Kamu boleh ikut denganku. Aku akan mengambilkan uang untukmu, lalu kamu bisa pulang."


"Baiklah," balas Ran mematung di tempat seraya memerhatikan punggung Nina yang perlahan menjauh. Ran segera menyusul langkah Nina. Bukan hal yang sulit, mengingat kaki Ran lebih panjang dari gadis itu.


Entah jam berapa sekarang. Lampu-lampu di sepanjang jalan mulai menyala. Beberapa orang mulai meninggalkan daerah kota dan pulang ke rumah masing-masing, menyeruput kopi hangat sembari menonton acara kesayangan.


Nina menghentikan langkahnya di depan mini market yang terletak di pertigaan dekat apartemen Nina. "Kamu tunggu sebentar. Aku mau beli mie instan."


Ran mengangguk. Ia menatap sekeliling. Suasana lengang, tidak seramai saat siang menjelang sore. Pedagang kaki lima turut menghilang bersama senja, menyisakan sampah berserakan merusak mata.


"Apa dia selalu pulang semalam ini? Bukankah ini berbahaya?"


Tidak butuh waktu lama, Nina kembali. Ia membawa dua plastik kresek yang di dalamnya berisi entah apa saja.


"Ayo, jalan lagi."

__ADS_1


"Nina, apa kamu selalu pulang selarut ini?"


"Tidak," balasnya singkat.


"Lalu kenapa hari ini kamu pulang sampai malam? Apa kamu tidak tau di jalan seberbahaya apa? Kamu itu perempuan. Lihat, tidak ada siapapun di sini."


"Aduh, kamu berisik sekali, Ran! Aku itu hanya keluar hari ini, oke? Bukankah sekarang aku pulang dengan kamu? Siapa yang berani mendekitaku jika ada kamu? Berhenti paranoid deh!"


Langkah Ran terhenti. Kalimat Nina berhasil menusuk hati Ran hingga bergeming di dalam sana. "Apa artinya, kamu mengandalkanku?"


"Jika iya kenapa, jika tidak juga kenapa? Hasilnya sama saja, kan? Aku tegaskan sekali lagi. Aku hanya keluar hari ini, dan kebetulan aku pulang dengan kamu. Bukankah itu artinya nyawaku aman sekarang?"


Lelaki dengan setelan baju cokelat itu mendekat, lebih dekat. Ia memeluk Nina dari belakang. "Terima kasih, telah mengandalkanku."


Sementara gadis yang dipeluk secara tiba-tiba itu terkesiap. Ia kaget setengah mati. "Apa yang kamu lakukan? Hei, lepaskan aku! Apa kamu tau, saat ini kamu seperti orang mesum! Lepaskan bodoh!" Nina berusaha melepaskan tangan Ran yang melingkar di lehernya.


Ran melepaskan pelukannya. Kini, tangannya berpindah menggandeng Nina. Jari-jemari mereka saling bertautan. Ran tersenyum tipis. Sungguh, jika gadis normal melihatnya, tentu mereka akan jatuh cinta dengan senyumannya.


"Aku akan menjagamu sampai di rumah. Ayo jalan." Ran mendahului langkah Nina, mengambil jalan kiri.


Ran nyengir. Baiklah sekarang ia mempersilahkan Nina berjalan di sampingnya. Tidak ada istilah saling mendahului. Suasana yang hening di antara siang dan malam itu menambah suasana canggung.


Tidak perlu memakan waktu lama, mereka kini berada di depan apartemen Nina. Jari telunjuk gadis itu memencet beberapa angka, pintu terbuka. Walaupun tidak serapi apartemen Azra, tetap saja apartemen kecil itu nyaman untuk ditinggali.


"Kamu duduk dulu, aku akan masak ramen. Kamu mau?"


Ran mengangguk. Lelaki itu mengambil handphone miliknya dan memainkan game terpopuler saat itu seraya menelentangkan tubuhnya di atas sofa panjang. Satu kali permainan bisa menghabiskan waktu setengah jam. Lebih dari cukup untuk menunggu ramen matang.


Nina masih sibuk di dapur, menyiapkan dua porsi ramen untuk dirinya dan Ran.


Pintu terbuka tanpa permisi. Seorang lelaki membawa dua plastik putih berisi makanan dengan bau harum. Lelaki itu mengusap-usap puncak rambutnya yang agak basah. Ia masuk begitu saja tanpa melihat sekeliling. Sementara lelaki yang terbaring di sofa kaget bukan main.


"Azra? Kok kamu bisa masuk?"


"Hah? Siapa ya?"


"Ini aku, Ran. Bukankah tadi kita baru saja mengobrol di Hole Space Caffe itu. Tapi kenapa kamu bisa masuk? Dan kenapa masuk tiba-tiba seperti pemilik rumah saja."

__ADS_1


Azra diam mematung. Ia masih kaget dengan kehadiran Ran di rumahnya. "Gadis itu benar-benar hebat!" gumam Azra.


"Apa yang kamu gumamkan? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku? Apa kamu stalker?"


"Ha?"


"Siapa, Ran?" Nina muncul dari balik pintu dapur, mengelap tangannya yang basah. Matanya terbelalak melihat sosok yang ada di depannya. Tubuhnya bergerak kesana kemari seperti seseorang yang ketahuan selingkuh.


"Ini, Azra tiba-tiba masuk ke sini. Sebaiknya kamu diam di sana. Aku takut dia seorang stalker atau psikopat."


Tanpa ingin meneruskan kesalahpahaman ini, Nina mulai memikirkan jalan keluar. Tidak perlu banyak waktu bagi seorang Nina mendapatkan sebuah ide. Ia menatap dua kantong plastik yang dibawa Azra.


"Ah, aku lupa. Kamu ingat saat kita mampir di restoran Azra? Tadi aku memesan makanan, tapi tiba-tiba aku ingin cepat pulang. Makanya aku meminta delivery saja. Tidak kusangka ternyata Azra yang mengantarkannya. Benarkan, Azra?"


Nina memelas. Ia mengedipkan sebelah kanan matanya, meminta Azra bekerja sama. Atau rumor di antara mereka yang tinggal serumah akan tersebar.


"Be-benar. Ya, seperti itu. Oh, ini makanannya. Terima kasih sudah memesan." Azra meletakkan makanan itu di atas meja. Ia berbalik badan dan siap keluar.


"Tunggu. Tapi, kenapa kamu bisa masuk? Bukankah pintu itu terkunci? Bahkan menggunakan sandi. Tentunya itu tidak bisa dengan mudah dibobol."


"Apa? A-ah itu, pintunya--pintunya--" Azra mulai gagap. Ia tidak pandai berpikir saat kondisinya tertekan.


"Mungkin tadi aku lupa menutup pintunya. Makanya dia bisa masuk. Tidak mungkin, kan seseorang bisa masuk kalau pintu itu dalam keadaan terkunci?" Nina menyela, sebelum Azra ketahuan bahwa ia sedang berbohong.


"Be-benar. Tadi pintunya tidak tertutup rapat. Aku sudah memanggil, tapi tidak ada yang menyahut. Jadinya aku masuk saja. Maaf jika hal itu tidak sopan." Azra membungkukkan badan. Wah, aktingnya benar-benar tingkat dewa.


"Sudahlah, Ran. Ayo kita makan saja. Kebetulan ramennya juga sudah matang." Nina mengambil dua mangkuk ramen, meletakkan di atas meja. Ia mempersiapkan semuanya.


Tubuh gadis itu bergerak untuk mengambil makanan yang dibawa Azra. Sementara Azra masih berdiri di seberang sana. Mereka saling tatap penuh kebingungan.


"Azra, kenapa kamu masih disini? Apa kamu mau makan ramen juga?"


"Tidak. Silahkan lanjutkan. Semoga dinner kalian berjalan lancar." Suara Azra tampak seperti seseorang yang menahan amarah.


Malam ini akan menjadi malam yang panjang, sejalan dengan kepulangan Ran. Dua anak manusia itu kini saling pandang, menunggu entah siapa yang akan memulai pembicaraan.


"Jadi, sejak kapan kalian pacaran?"

__ADS_1


__ADS_2