
Si Senior Tampan itu tampak mengaduk-aduk kertas di atas meja. Ia telah membaca semua formulir pendaftaran anak sekelas.
"Ketemu. Alasan ingin sehat, ya? Hoho..bukannya ini alasan milik si bocah bernama Azra, heh?"
Tidak perlu waktu lama bagi Nina untuk mengolah kalimat yang baru saja dilontarkan Senior Tampan. Matanya menyapu tiap sudut kelas. Ada wanita cantik yang ketika di depan papan pengumuman mengalah demi Si Tampan, ada gadis berkacamata, ada Khun yang baru saja duduk, dan ada.....
"A-Azra?" Nina menutup mulutnya, mengekspresikan seseorang yang sedang kaget.
"Nah sekarang, jelaskan maksud dari alasan 'iseng'mu itu!"
Nina meringin lebar, memamerkan gigi gingsulnya. "Apapun alasannya, saya tetap kena hukuman, kan? Jadi, bolehkah saya duduk saja, Senior? Bukankah sebaiknya kita mulai ospeknya?"
Si Senior Tampan mendengus kesal. Ia menangkap eskpresi tak bersalah gadis di depannya, sedangkan anak-anak yang lain terlihat mulai bosan. Dengan perasaan kesal, Si Senior Tampan mengangguk.
"Baiklah, silahkan duduk di bangku kosong sebelah sana. Mulai saat ini, itu adalah bangkumu. Dan mulai hari ini, kamu harus membersihkan kamar mandi setiap jam satu siang. Mengerti?"
Nina mengangguk tanda mengerti. Ia segera duduk di tempat yang senior itu tunjuk.
"Hei, Gadis Cantik. Suatu keberuntungan kamu duduk di belakangku." Lelaki yang duduk di depannya tidak lain adalah Ran. Nina tersenyum ramah, memperlihatkan lesung pipinya.
"Hai, Gadis Jelek. Sebuah kehormatan bisa duduk di belakangmu." Seseorang yang duduk persis di belakangnya menendang bangku Nina agar ia menoleh.
Nina hendak protes. Bagaimana bisa gadis secantik dirinya dibilang jelek? Tapi niat itu ia urungkan. Ia lebih memilih terus diam dan tak mau ambil pusing meladeni seseorang di belakangnya yang tak lain adalah Azra. Hari ini, baginya sudah cukup menjengkelkan.
****
__ADS_1
Ospek selalu menjadi ajang pencarian teman. Begitulah yang dilakukan teman sekelas Nina. Tak terkecuali dirinya. Nina melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul satu siang.
Nina melangkah pergi, meninggalkan kebisingan di ruang kelas. Ia melangkah mencari 'udara segar'. "Toilet". Ya, waktunya menjalani hukuman.
"Kemana lainnya? Jangan bilang cuma aku yang kena hukuman?"
"Apa kamu lupa aku juga telat?" Seseorang muncul dari arah pintu toilet.
"Ran? Loh bukannya Si Senior Tampan itu bilang kamu tidak perlu dihukum? Yah, walaupun aku tidak tau alasannya. Mungkin dia seorang gay atau sejenisnya." Nina bergidik merinding memikirkan kemungkinan yang terjadi.
Lelaki tampan itu mendekat. Ia menjitak jidat gadis di depannya. "Apa yang kamu pikirkan, gadis bodoh! Dia tau aku cucunya rektor kampus ini. Makanya dia tidak berani."
"Ap-apa? Cucu rektor? Kamu?" Nina memandang Ran dari atas sampai bawah. Memang gaya orang kaya. "Lalu, biarkan aku mengerjakan hukuman ini sendiri. Sekarang, pergilah." Nina melambaikan tangannya.
Nina mengangguk sebagai ganti tanda setuju.
"Terima kasih, Tuan Muda Ran!"
"Hei, jangan panggil aku seperti itu!" Nina tidak peduli. Ia masih asyik cekikikan.
Hari bersih-bersih sedunia. Ya, Nina sudah menetapkan tanggalnya, persis di hari pertama ia menerima hukuman. Satu jam berlalu, suasana di toilet lengang. Hanya ada suara guyuran dan cipratan air.
Bunyi telepon memecahkan keheningan di ruangan berukurang persegi itu.
"Halo, Kakek? Ada apa?" Lelaki yang mengangkat telepon angkat bicara. Dialah Ran. Dari ucapannya, itu pasti dari kakeknya, Sang Rektor Kampus.
__ADS_1
"Dimana kamu? Cepat ke ruangan Kakek!"
"Aduh, Kakek masih cerewet seperti biasa. Aku sekarang sedang di toilet. Aku sedang-" Refleks Nina menutup mulut Ran, menahannya agar tidak membicarakan soal hukuman.
"Sedang apa? Hah? Jangan bilang kamu sedang buang air? Anjirr kenapa teleponnya diangkat? Kamu persis joroknya seperti ibumu, ya?"
"Hei, Kakek Tua! Jaga bicaramu. Aku akan kesana segera dan menyumpal mulutmu dengan kaus kakiku!" Ran mengakhiri panggilan.
Ran menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menatap Nina dengan perasaan bersalah. Ran menangkupkan kedua tangannya. "Maaf, Nina. Sepertinya kamu harus bersih-bersih sendiri. Aku harus menemui kakekku yang galak."
Nina tersenyum tipis. "Pergilah."
Ran mengacak-acak rambut Nina. "Terima kasih. Karena hari ini aku pergi duluan, anggap saja aku tidak membantumu. Jadi, aku pasti akan membantumu lagi besok sebagai penebusannya."
Nina menepis tangan Ran. Bagaimana pun, ini kelewatan. Ia tidak mau jantungnya berdetak lebih dari normal. Lelaki Tuan Muda itu pergi meninggalkan toilet, menyisakan Nina sendirian.
Jarum jam menunjukkan pukul dua lewat. Nina harus bergegas. Ia harus merapikan apartemen barunya, kemudian mencari kerja part time.
Dari arah belakang, Nina mendengar suara pintu terbuka. Seharusnya, tidak ada orang ke sini karena setiap ada hukuman, selalu tercantum tulisan "Toilet tidak digunakan".
" Gakhh... hah.... hah.... hosh... hosh...." Deru napas seseorang seperti sedang kesakitan.
Nina yang sedang fokus membersihkan toilet, terpaksa keluar dari bilik dan memeriksa siapa di sana.
"Azra!"
__ADS_1