
Nina dan Ran tampak ssaling bertatapan. Mau tidak mau mereka terpaksa masuk ke ruang B7. Terlihat beberapa pasang mata menatapi mereka seraya menahan tawa. Baiklah, Nina akui, hari ini adalah hari tersial dalam hidupnya.
“Seperti ada sesuatu yang menarik. Nama kalian siapa?” Senior dengan tampang galak itu mulai berbasa-basi.
“Nina Aguero Agnes.”
“Khun Ran.”
“Sebentar, aku cari biodata kalian.”
Mereka menunduk, tak berani membalas tatapan para mahasiswa di depannya, apalagi tatapan senior. Kini mereka bagai seorang tersangka yang menunggu untuk diadili. Semua salah Ran. Awalnya, Nina berniat kabur saja. Lebih baik mendapat hukuman di akhir pertemuan daripada harus mendapat rasa malu.
“Baiklah, Nina dan Ran, kalian adalah dua mahasiswa baru, tapi sudah berani terlambat! Apa waktu satu jam tidak lebih dari cukup untuk mencari nama kalian? Baru hari pertama sudah mau cari sensasi, ya?”
Nina tak menjawab. Ia sedang tak ingin bersuara apa pun. Ran mengusap wajahnya secara perlahan dan menoleh ke arah Nina yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Maaf, senior. Ini semua salahku. Tadi aku menjahili gadis ini supaya dia telat. Sebenarnya, ini semua salahku. Harusnya dia datang 10 menit yang lalu, tapi tadi aku pura-pura sakit jadi terpaksa dia memapahku.”
Senior itu tersenyum. “Kamu?”
Ran mengangguk. Menjijikkan! Nina sangat paham arti senyuman itu. Sebuah penghinaan! Tak bisa dipungkiri, Ran sangat bodoh dan ceroboh. Bagaimana bisa ia beralasan sakit padahal mau dilihat dari mana pun ia terlihat sehat walafiat.
Nina menginjak kaki Ran agar lelaki bodoh di sampingnya tidak mengatakan lebih jauh hal yang tak masuk akal. Ran menoleh. Wajahnya terlihat tengah menahan sakit.
__ADS_1
“Ran, kau boleh duduk.”
“Ya, terima kasih, senior.”
Nina menghela napas kasar. Kini, seluruh tatapan terfokus padanya. Bagi senior, ini adalah kesempatan menunjukkan wibawanya sebagai teladan. Aku ingin menggali lubang dan memasukinya!
“Ran, kamu terbebas dari hukuman. Setiap kelas hanya akan mengambil satu orang yang dihukum. Dan karena Ran telah berani bersuara, kuanggap itu sebagai keberanian. Seorang mahasiswa harus punya keberanian, jangan malu di depan umum, apalagi kita adalah calon dokter masa depan. Seorang dokter harus memancarkan wibawa yang kuat, sehingga pasien kita menaruh kepercayaan pada kita. Dan untuk Nina, dari awal kamu hanya diam saja. Sebenarnya apa alasanmu mengambil jurusan ini?”
“Saya ingin sehat.”
Lagi-lagi, seisi ruangan menertawakannya. Alasan konyol. Ya, Nina juga berpikir demikian. Alasan yang dibuat oleh lelaki yang sempat viral beberapa menit yang lalu hanya karena wajah tampannya.
“Sungguh? Bukankah menjadi sehat tidak harus menjadi dokter? Berikan alasanmu.”
Semua orang tertegun, tak terkecuali senior muda yang masih memegang kertas biodata Nina. Belum ada perkataan maupun pergerakan yang dilakukan oleh beberapa orang yang ada di tempat itu, selain seorang lelaki yang duduk di pojok paling belakang.
“Alasanmu memang masuk akal.”
“Terima kasih.”
“Tapi, ada satu hal yang janggal.”
Ekspresi Nina tampak berbeda dari sebelumnya. Kalimat yang dilontarkan senior membuatnya bertanya-tanya. Hal janggal apa?
__ADS_1
“Kau lihat ini?” Senior menunjukkan biodata Nina, mulai dari nama lengkap, tanggal lahir, alamat, dan lain sebagainya.
Nina mengangguk.
Senior itu tersenyum licik. “Alasanmu memang bagus, sangat memotivasi para dokter. Tapi entah kenapa, apa yang kamu ucapkan berbeda jauh dengan yang ada di sini. Sebentar, kita lihat alasan kamu sesungguhnya.” Ia mulai seperti seorang dramator. “Waw, di sini tertulis, alasan kamu mengambil jurusan kedokteran adalah karena….iseng? Tunggu dulu, apa ini salah ketik? Oh tidak, ini kan ditulis tangan. Apa tanganmu kram saat menulisnya?”
Bagaikan petir yang menyambar, ungkapan si senior membuat tubuh Nina kaku seketika. Semua yang hadir di kelas itu seketika menatap Nina dengan pandangan yang berbeda.
“Apa itu? Alasannya beda sekali.”
“Aku sih tidak peduli.”
“Mungkin dia mau cari perhatian senior? Secara, senior itu kan tampan.”
“Semua lelaki kedokteran memang tampan. Kalau dokternya jelek, pasiennya kabur.”
“Hahaha…”
Mereka mulai ribut melontarkan pendapat mereka. Nina mengepal, menahan rasa malu.
“Dek, beralasan bagus memang baik, apalagi untuk mendapat kesan pertama. Tapi, sebagus apa pun alasanmu, seharusnya kamu tidak mengambil alasan orang lain. Itu namanya pelanggaran hak cipta. Dan untuk memakainya, kamu harus meminta izin kepada yang bersangkutan terlebih dulu.”
Nina menatap senior dengan tatapan heran. Apa maksud ucapannya? Bagaimana ia bisa tahu Nina menggunakan alasan orang lain?
__ADS_1