Hello Autumn

Hello Autumn
Tinggal Serumah


__ADS_3

Azra membenamkan wajahnya, menutup matanya dengan lengan tangan bagian kanan. Sementara tangan kirinya, entah bagaimana bisa dijadikan bantal oleh Nina. Semakin lama, ia merasakan pegal yang luar biasa.


Beberapa menit berlalu, Azra masih membiarkan gadis itu tertidur. Hidungnya menciup bau tak sedap.


"Bau apa ini? Seperti---oh my!!"


Azra terkesiap bangun dari rebahannya. Ia mencium bau gosong, semakin lama baunya semakin tercium kuat.


"Anjirr!! Apa yang dilakukan gadis bodoh ini di apartemenku? Minggir! Woy!!" Azra menarik lengan tangannya dengan paksa, membuat Nina terbangun.


Nina menguap lebar. "Ada apa?" Ia mengucek matanya, masih terlihat buram. Ia mengendus, ada bau tercium dari arah dapur. "Oh, sial! Roti panggangku!" Nina berlari ke arah dapur


Gubrak!


Belum mencapai ambang pintu, ia terjatuh. Kakinya terantuk meja.


"Aduh!" Nina mengaduh kesakitan. Lututnya berdarah. Sementara di atas ranjang, Azra masih duduk santai melihat aksi konyol gadis di depannya.


"Sial! Apa yang aku lakukan? Dapurku!!"


"Stop!" Nina melambaikan tangannya, menyuruh Azra tetap di tempat. "Biar aku yang periksa. Kamu istirahat saja, tubuhmu belum pulih."


Dengan bersusah payah, Nina bangkit. Walaupun harus berjalan pincang, ia tetap memeriksa dapur milik Azra. Matanya membelalak seakan melihat kecelakaan mobil secara langsung.


Nina mengambil lap, berusaha mematikan oven yang mulai terbakar. Entah sudah berapa jam roti panggang di dalam sana berubah jadi roti gosong. Tiga jam? Mungkin lebih dari itu, mengingat hari sudah gelap, walaupun ia belum sempat memastikan jam berapa sekarang.


Kain lap itu kering. Bagaimana bisa Nina langsung menggunakannya untuk memadamkan api kompor? Sungguh, otaknya benar-benar dangkal. Mungkin benar kata Azra, ia adalah Si Gadis Bodoh.


Tanpa menunggu waktu, kain lap itu langsung terbakar. Api mulai merembet ke atap apartemen.


Curr!!


Air otomatis keluar dari langit-langit apartemen, memadamkan api di bagian dapur. Begitu menurut Nina. Sementara di bagian apartemen lain, seorang lelaki berambut pirang yang sedang asyik rebahan dikagetkan dengan kedatangan air mancur dari langit-langit.


"Apa-apaan ini?"


Azra beranjak, berniat memeriksa seisi apartemen. Napasnya masih tersengal, badannya pun masih panas. Dibawa berdiri juga terasa ngilu. Badan yang awalnya masih lemas, semakin lemas mendapati seluruh ruangan miliknya tergenang air.

__ADS_1


"Sial! Apa yang dilakukan gadis bodoh itu sebenarnya?"


Azra berjalan perlahan. Kakinya tergenang air sampai ke mata kaki. Terdengar bunyi cipratan tiap ia melangkah. Lelaki itu sampai di bagian dapur, melihat Nina berjongkok di pojok ruangan. Kakinya tertekuk. Bajunya basah sempurna.


Azra mendekat. Jarak mereka kini terpaut satu langkah. Dengan nada marah, Azra membentak gadis yang masih tertunduk rapat itu. "Apa yang kamu lakukan sebenarnya? Kenapa rumahku jadi begini?"


Nina mendongak, wajahnya tertekuk menyedihkan. "Maafkan aku, Azra. Ini semua salahku. Harusnya aku tidak sok tau, harusnya aku tidak datang ke apartemenmu, dan harusnya aku tidak repot-repot melakukan sesuatu. Apapun yang aku lakukan selalu gagal. Karena itulah mereka lebih menyukai---"


Ucapan Nina terhenti saat Azra membelai rambutnya.


"Sudah selesai bicaranya? Kalau kamu merasa bersalah, pikirkan sesuatu! Aku tidak mungkin tinggal di rumah basah ini selamanya! Ah, ini bukan lagi rumah. Ini rawa!"


Azra menghela napas berat. Kepalanya terasa mau meledak. Alat elektronik yang tidak tahan air rusak semua, kamar tidur basah, ditambah, air ini tidak bisa dibuang otomatis. Perlu seorang ahli yang menanganinya dengan benar.


"Aduh! Kepalaku sakit!" Azra memegangi kepalanya.


"Apa kamu belum sembuh? Aduh, bagaimana ini?"


"Hei Gadis Bodoh! Kepalaku sakit bukan karena demam barusan, tapi hampir pecah gara-gara masalah yang kamu buat!"


Nina hendak protes, tapi niat itu ia urungkan. Memang benar, semua ini gara-gara dirinya. Dan tindakannya saat berusaha mematikan oven dengan kain lap benar-benar konyol. Mungkin, gelar Gadis Bodoh memang cocok untuknya.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" Azra menghentikan pukulan-pukulan Nina. "Ini hanya akan membuatmu tambah bodoh, Gadis Bodoh!"


"Berhenti mengataiku bodoh! Kamu yang bodoh! Semua keluargamu bodoh!"


"Apa? Kamu berani bicara bodoh pada keluargaku? Hei! Kamu akan menyesal!" Azra menuding Nina. Matanya melotot. Sementara Nina hanya berkacak pinggang tidak peduli.


Suasana di ruangan itu lengang sejenak, setelah cercaan demi cercaan melayang tidak beraturan. Mereka sadar kembali dengan masalah yang kini dihadapi.


Helaan napas terdengar bersamaan. Nina mencuri pandang, masih memainkan jemarinya. Ciri khas orang malu-malu. Ia memiliki ide yang mungkin bisa menjadi solusi. Tapi ia bingung dan malu mengatakannya.


"Apa? Kamu mau bilang apa? Berhenti bertindak sok bodoh begitu. Membuatku jengkel!"


"Hei! Berhenti mengataiku bodoh, Bodoh!"


"Orang bodoh yang tidak sadar dirinya bodoh, dan justru mengatakan orang lain bodoh. Bukankah itu bodoh namanya?"

__ADS_1


"Terserah kamu! Awalnya aku punya solusi. Tapi sekarang aku tidak peduli padamu! Tinggal saja di genangan air ini seperti buaya! Dasar Buaya Bodoh!"


Nina berdiri hendak meninggalkan apartemen itu. Langkahnya terhenti begitu saja.


"Kenapa kamu menghentikan orang bodoh ini? Hah! Lepaskan tanganku, Azra! Apa kamu berniat membawaku tinggal di rawa ini? Berhentilah memohon. Sampai mati pun aku tidak akan mau!"


Azra memegangi bagian jantungnya. Terasa nyeri di dalam sana. Wajahnya memperlihatkan ekspresi kesakitan. "Tolong, ambilkan obat di lemari tidurku. Laci nomor tiga."


"Hah? Kenapa kamu tidak ambil sendiri?"


"Aku--"


"Sepertinya kamu masih sakit, ya? Baiklah. Kali ini aku akan berbaik hati membantumu. Tapi berhentilah mengataiku bodoh, mengerti?"


Azra mengangguk. Tak ada pilihan lain. Sementara Nina mengambil obat di laci yang ditunjuk Azra. Ia mengaduk-aduk isinya. Bahkan, ada surat dokternya.


"Apa ini?"


"Aku hanya memintamu mengambil obat! Kenapa kamu mengacak-acak laciku? Berikan obatnya. Aku sudah tidak tahan."


Nina mengangguk. Ia mengembalikan kertas yang belum sempat dibaca itu ke dalam laci.


"Ini obatnya."


Azra langsung menyambardan mengunyahnya begitu saja.


"Kamu tidak perlu air?"


Azra menggeleng. Kini ia merasa baikan. Obat itu memang paling manjur sedunia.


"Lalu, kembali ke topik. Ide apa yang mau kamu katakan barusan? Terkait masalah ini. Aku harus menghubungi tukang bangunan untuk menyelesaikan apartemenku. Dan itu biasanya butuh waktu sekitar satu bulan. Sebaiknya idemu itu bagus dan masuk akal. Jangan sampai kamu berpikir bo--"


Azra menghentikan ucapannya. Ia sudah berjanji untuk tidak mengatainya bodoh. Sementara lawan bicaranya melotot geram.


"Jadi, ide apa yang kamu punya, Gadis Cantik? Jujur, otakku buntu. Mungkin karena aku sakit, jadi agak kongslet di dalam sini," Azra membuat alasan, menunjuk otaknya.


"Hmm... Mau tinggal denganku?"

__ADS_1


"Hah?"


__ADS_2